Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.
Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.
Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.
Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gradasi Warna dan Gestur Mikro
Ruang kerja CEO Al-Maktoum Group berada dalam kondisi hening yang mencekam. Di balik meja kaca berukuran besar, Shanum sibuk menata ulang tumpukan berkas proyek Senayan. Jemarinya yang lentik menggeser map-map tebal itu dengan presisi milimeter. Map merah tua di sebelah kiri, diikuti merah muda, oranye, hingga kuning pucat di ujung kanan—sebuah susunan berdasarkan gradasi warna yang mutlak.
Di sebelah kanan keyboard laptopnya, sebuah cangkir kaca berisi teh pahit dingin dengan dua bongkah es batu berdiri tepat sejajar dengan garis meja.
Aran berdiri tegap tepat dua meter di belakang sisi kiri kursi Shanum. Pria itu mengenakan kemeja baru berukuran lebih pas yang dikirim sekretaris pagi tadi. Matanya yang kelam mengamati setiap gerakan jemari Shanum—ketukan pulpen yang terlalu cepat, bahu yang sedikit terangkat kaku, serta napas pendek yang ditahan.
"Mbak Shanum," panggil Aran pelan. Suaranya berat, santai, dan amat teratur.
Shanum tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop. "Saya bilang apa di perjanjian Poin Pertama? Jarak dua meter. Dan Poin Ketiga, jangan mengganggu konsentrasi saya."
"Jarak saya tepat dua ratus sepuluh sentimeter dari kursi Anda, Mbak," sahut Aran datar tanpa mengubah posisi berdirinya. "Saya hanya ingin menginfokan, es batu di teh Anda sudah mencair sepenuhnya. Dilusi airnya sudah mengubah kadar kepahitan teh tersebut."
Shanum menghentikan ketukan pulpennya. Ia menoleh ke samping, menatap Aran dengan pandangan menilai yang tajam. "Kamu memantau es batu di cangkir saya?"
"Saya memantau segala hal di ruangan ini, Mbak. Termasuk fakta bahwa Anda merapikan map berdasarkan spektrum warna setiap kali grafik potensi risiko proyek naik," jawab Aran tenang, matanya menatap lurus ke depan. "Secara taktis, itu bentuk kompensasi atas rasa cemas. Anda berusaha mengontrol hal-hal kecil di meja karena ada hal besar di luar sana yang merasa tidak bisa Anda kendalikan."
Kalimat itu meluncur begitu mulus dari mulut Aran, tanpa nada menghakimi, murni seperti laporan cuaca. Namun dampaknya membuat Shanum membeku di tempat.
Pipi Shanum memerah halus. Ia merasa privasi mentalnya baru saja ditelanjangi oleh pria yang baru dua hari bekerja sebagai asistennya. Shanum berdehem keras, berusaha memulihkan wibawa pimpinannya.
"Saya menyusun berkas berdasarkan skala prioritas visual, Ardebaran. Jangan bertindak seolah kamu psikolog korporat," sembur Shanum kaku. Ia berdiri seraya merapikan blazernya. "Rapat direksi dimulai dua menit lagi. Bawa dokumen gradasi kuning itu dan ikuti saya. Ingat... dua meter."
"Siap, Mbak Shanum," sahut Aran seraya mengambil map kuning dengan gerakan tangan yang cekatan dan tegap.
Ruang rapat utama Al-Maktoum Group di lantai 28 didominasi dinding kaca transparan yang memperlihatkan lanskap pencakar langit Jakarta. Di sekeliling meja oval kayu mahoni, para direksi dan kepala divisi telah duduk rapi.
Di ujung meja, Devan Sastro—Vice President Al-Maktoum Group—berdiri memimpin presentasi. Pria berusia awal tiga puluhan itu tampil sangat impresif. Setelan jas buatan penjahit Italia membalut tubuhnya yang proporsional, disempurnakan dengan senyuman hangat dan intonasi suara yang begitu karismatik.
"Proyek Senayan adalah pertaruhan terbesar Al-Maktoum Group kuartal ini," pemaparan Devan mengalir lancar, didukung grafik presentasi yang memukau di layar proyektor. "Saya pribadi telah memastikan seluruh dokumen legal, proteksi anggaran, hingga sistem enkripsi server cadangan berada dalam kondisi seratus persen aman dari peretasan pihak luar."
Tepuk tangan halus terdengar dari beberapa direksi senior. Shanum menyunggingkan senyum tipis penuh kepuasan. Devan adalah orang kepercayaannya selama lima tahun terakhir, sosok yang selalu menyelesaikan tugas tanpa celah.
Namun di sudut belakang ruangan, bersandar santai dekat pintu keluar, Aran tidak melihat ke arah layar proyektor. Pandangan mata Viper-1 miliknya terkunci sepenuhnya pada tubuh Devan Sastro.
Setiap kali Devan mengucapkan frasa "enkripsi server cadangan" dan "keamanan data", Aran menangkap pergerakan mikroskopis yang luput dari perhatian orang awam. Kedipan mata Devan bertambah dari rata-rata empat kali menjadi delapan kali per lima detik. Ibu jari tangan kirinya yang tersembunyi di bawah mimbar mengetuk-ngetuk telapak tangannya secara konstan—sebuah respons vegetatif dari sistem saraf saat seseorang menyampaikan kebohongan yang telah dihafalkan.
Aran menarik napas pendek yang teratur, mencatat setiap detail itu dalam memori analitisnya.
Sepuluh menit setelah rapat dibubarkan, Shanum berjalan kembali ke ruang kerjanya dengan langkah ringan.
"Devan benar-benar luar biasa," ujar Shanum tanpa menoleh ke belakang, menyampaikan kepuasannya pada udara kosong di belakangnya. "Persiapannya tanpa cela. Surya Wijaya tidak akan punya celah untuk menjatuhkan Al-Maktoum Group di persidangan tender besok."
Aran yang berjalan mematuhi jarak dua meter di belakang Shanum merespons dengan nada santai namun amat sopan.
"Pemaparan yang sangat bagus, Mbak Shanum. Tapi jika boleh memberi masukan, Anda sebaiknya menyuruh tim IT independen untuk melakukan audit ulang pada server cadangan sore ini."
Langkah Shanum terhenti mendadak. Ia membalikkan badan, menatap Aran dengan dahi berkerut dalam. "Maksudmu apa? Kamu meragukan laporan Devan?"
"Saya tidak meragukan laporannya, Mbak. Saya meragukan gesturnya," jawab Aran tenang. Ia berdiri tegap, kedua tangannya terlipat rapi di belakang pinggang. "Saat membicarakan server cadangan, frekuensi kedipan mata Pak Devan meningkat dua ratus persen, dan ada tremor halus di ibu jarinya. Dalam analisis perilaku, itu indikasi kuat adanya stres akibat manipulasi informasi."
Shanum menatap Aran dengan pandangan tak percaya. Rasa tidak terimanya mencuat seketika. Bagi Shanum, Devan adalah simbol loyalitas perusahaan, sedangkan Aran baru saja masuk dua hari lalu membawa intuisi orang luar.
"Ardebaran," suara Shanum mengeras, bernada dingin dan menekan. "Devan Sastro sudah bekerja di sini sejak perusahaan ini merintis jalur baru. Dia mendedikasikan lima tahun hidupnya untuk Al-Maktoum Group. Dan kamu, yang baru bekerja dua hari sebagai pengawal, berani menuduhnya berbohong hanya karena dia... berkedip?"
"Kedipan yang tidak wajar, Mbak," koreksi Aran santai, suaranya tetap terjaga sopan dan teratur. "Ancamannya sering kali bukan datang dari musuh di luar dinding, tapi dari pintu yang dibukakan oleh orang dalam."
"Cukup!" potong Shanum kaku, egonya merasa dilangkahi secara terang-terangan. "Tugasmu di sini adalah menjaga keselamatan fisik saya dari ancaman tembakan atau penyergapan, bukan menebar fitnah dan kecurigaan tanpa bukti valid pada jajaran direksi saya!"
Shanum mendorong pintu ruang kerjanya dengan hembusan napas kesal. "Masuk!"
Aran melangkah masuk tanpa membantah, mengambil posisi berdiri dua meter di depan meja kerja Shanum.
Shanum duduk di kursinya, menyilangkan tangan di dada dan menatap Aran dengan kejengkolan yang membara. "Saya minta kamu fokus pada tugas pokokmu. Jangan mencampuri urusan manajemen internal!"
Aran menatap Shanum. Bukannya takut atau merasa bersalah, wajah pria itu justru menampilkan ketenangan mutlak yang teramat menyejukkan sekaligus memancing emosi.
"Instruksi diterima dengan jelas, Mbak Shanum," ujar Aran pelan seraya menganggukkan kepalanya dengan sangat santun. "Saya tidak akan mencampuri urusan manajemen. Namun sebagai asisten pribadi, tugas saya adalah memastikan Mbak tidak terkejut saat kenyataan membuktikan sebaliknya."
Aran jeda sejenak, matanya yang kelam menatap lurus pada tumpukan map gradasi warna di meja Shanum.
"Dan untuk teh pahit dingin Anda..." lanjut Aran dengan nada santai yang amat sopan, "saya sudah meminta sekretaris menggantinya dengan yang baru. Suhu dan tingkat kepahitannya sudah disesuaikan agar rasa cemas Mbak Shanum sedikit berkurang sore ini."
Shanum melotot, siap melontarkan omelan balasan. Namun sebelum sebaris kata pun keluar dari mulutnya, Aran sudah membungkukkan badan secara tegap dan formal.
"Saya permisi berpatroli di area koridor luar, Mbak. Jarak dua meter tetap terjaga dari pintu," ucap Aran tenang, lalu berbalik dan melangkah keluar ruangan dengan ritme yang teratur.
Pintu kaca tertutup rapat. Shanum bersandar di kursinya dengan napas memburu, memandangi cangkir teh baru yang uap dinginnya mengepul di atas meja. Mukanya memerah padam antara kesal, gengsi, dan kejengkelan mendalam pada pria dingin bersuara sopan yang baru saja membaca pikirannya dengan begitu mudah.
saling support sabi kali thor🤭