NovelToon NovelToon
Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia
Popularitas:418
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.

**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.

Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:

*"Om… aku mencintaimu."*

*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*

Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?

Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.

Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9

Pembalikan

Sore itu, ponselku tidak berhenti bergetar.

Mira mengirim pesan pertama.

`Sekar, tim sekolah memanggil semua yang ada di kantin. Mereka benar-benar memeriksa rekaman.`

Lima menit kemudian pesan lain masuk.

`Aku sudah bilang Reno yang mulai. Maaf kemarin aku takut.`

Aku membaca kata maaf itu berkali-kali. Ada rasa lega, tetapi juga nyeri yang belum hilang. Saat aku duduk sendirian di kantin, Mira memilih pergi. Sekarang dia berani bicara karena tahu seseorang yang berkuasa berdiri di belakangku.

Aku mengetik, `Terima kasih sudah jujur.`

Tidak kutulis bahwa kejujuran itu datang terlambat.

Keesokan paginya, aku kembali ke sekolah. Om Bram menawarkan untuk ikut, tetapi aku menolak.

“Om sudah membantuku berdiri,” kataku. “Sekarang aku mau masuk sendiri.”

Dia memandang perban di lututku, lalu mengangguk. “Telepon kalau perlu.”

Selama perjalanan, pesan-pesan dari teman seangkatan terus masuk. Ternyata setelah rapat darurat, sekolah memanggil siswa satu per satu, bukan dalam kelompok. Cara itu membuat mereka tidak bisa saling melihat jawaban atau ditekan oleh teman Reno.

Mira menceritakan bahwa Reno sempat menghapus pesan dari ponselnya dan mengatakan akunnya dipakai orang lain. Tim teknologi informasi mencocokkan waktu unggahan dengan rekaman CCTV koridor. Pada saat pesan pertama dikirim, Reno terlihat sedang memegang ponselnya dan menunjukkan layar kepada dua teman sambil tertawa.

Seorang siswa lain menyerahkan foto kertas yang pernah ditempel di mejaku. Aku sudah membuang kertas aslinya, tetapi dia memotretnya karena menganggap tulisan itu lucu. Foto yang dulu dibuat untuk bahan ejekan berubah menjadi bukti.

Bu Ratna juga diperiksa. Catatan ruang BK menunjukkan aku datang dua kali pada tanggal yang kusebutkan, meskipun kolom keluhannya dibiarkan kosong. Petugas administrasi mengaku pernah menyampaikan bahwa berkas perlindunganku sudah lengkap, tetapi Bu Ratna tidak pernah meminta salinannya.

Setiap fakta terasa seperti potongan kaca yang dikumpulkan dari lantai. Tidak satu pun cukup sendirian, tetapi ketika disusun bersama, orang akhirnya bisa melihat bentuk kejadian yang sebenarnya.

Di gerbang, bisik-bisik kembali terdengar. Bedanya, kali ini orang-orang tidak langsung berpaling saat aku melihat mereka.

Pak Suryo mengumpulkan seluruh siswa angkatanku di aula. Bu Ratna duduk di baris depan tanpa mengenakan lencana wali kelas. Wajahnya pucat. Reno datang dengan plester di hidung dan didampingi kerabatnya.

Pak Suryo berdiri di podium.

“Sekolah telah menyelesaikan pemeriksaan awal atas penyebaran fitnah dan perkelahian yang terjadi Jumat lalu.”

Layar besar menampilkan surat resmi yayasan.

“Berdasarkan bukti digital, rekaman, serta keterangan saksi, Reno terbukti menjadi penyebar pertama tuduhan palsu terhadap Sekar dan melakukan provokasi berulang.”

Reno bangkit. “Itu cuma bercanda!”

“Duduk,” kata Pak Suryo tegas.

Kerabat Reno mencoba menyela, tetapi dua pengurus yayasan memintanya menunggu sampai pengumuman selesai.

“Sekolah menyatakan informasi yang menyebut Sekar sebagai simpanan pria dewasa adalah tidak benar. Sekar berada dalam penempatan perlindungan yang sah dan sedang menjalani proses pengangkatan anak. Penyebaran ulang tuduhan tersebut setelah pengumuman ini akan dikenai sanksi.”

Kalimat itu muncul pula di grup WhatsApp angkatan dan papan pengumuman elektronik.

Di sekelilingku, ponsel menyala bersamaan. Unggahan yang selama seminggu membuatku menunduk kini dibalas dengan surat berkop sekolah.

Satu per satu IG Story lama menghilang. Beberapa orang mengirim tangkapan layar penghapusan kepadaku seolah itu hadiah. Aku tidak membalas. Menghapus unggahan hanya memerlukan satu sentuhan, sedangkan menghapus suara siulan dari kepalaku tidak semudah itu.

Pak Suryo memerintahkan admin grup menutup kolom komentar selama dua puluh empat jam dan menyimpan arsip percakapan. Kali ini sekolah tidak menyuruhku melupakan. Mereka menjaga bukti agar kejadian serupa tidak bisa disangkal lagi.

Pak Suryo melanjutkan, “Karena pelanggaran berat, intimidasi berulang, dan riwayat disiplin sebelumnya, Reno dikeluarkan dari SMA Tunas Bangsa.”

Suasana aula pecah oleh bisik-bisik.

Reno menatapku seolah aku yang mengucapkan keputusan itu.

“Sementara itu,” kata Pak Suryo, “Bu Ratna dibebastugaskan sementara dari tanggung jawab mengajar dan wali kelas selama pemeriksaan yayasan. Surat skors terhadap Sekar dibatalkan.”

Bu Ratna menunduk.

“Sekar tetap mengikuti konseling dan evaluasi perilaku karena menggunakan kekerasan berlebihan setelah lawannya jatuh. Sekolah juga menanggung biaya konseling serta memperbaiki mekanisme pelaporan perundungan.”

Aku menerima bagian itu tanpa marah. Untuk pertama kali, kesalahanku disebut tanpa menghapus kesalahan orang lain.

Setelah aula dibubarkan, beberapa teman mendatangiku.

“Maaf, Kar,” kata Mira. “Aku lihat tulisan di mejamu, tapi aku pura-pura nggak tahu.”

Seorang anak laki-laki yang pernah bersiul di koridor ikut menunduk. “Gue juga minta maaf.”

Aku menatap mereka. Aku ingin berkata bahwa maaf tidak menghapus malam ketika aku mempertanyakan apakah hidupku memang kotor. Namun aku juga tahu diam hanya membuat luka itu tinggal di dalamku.

“Aku dengar permintaan maaf kalian,” kataku. “Tapi aku belum bisa langsung biasa saja.”

Mira mengangguk. “Nggak apa-apa.”

“Kalau nanti ada orang lain diperlakukan seperti aku, jangan tunggu sampai keluarganya datang membawa pengacara.”

Tidak ada yang membantah.

Bu Ratna memanggilku di koridor. Dia memegang kardus kecil berisi barang dari meja kerjanya.

“Sekar, Ibu minta maaf karena terlalu cepat menyimpulkan.”

“Ibu tidak terlalu cepat. Ibu tidak mau memeriksa.”

Wajahnya menegang, tetapi kali ini dia tidak menyuruhku menjaga bicara.

“Kamu benar,” katanya setelah beberapa detik. “Saya seharusnya mendengar.”

Aku tidak memeluk atau menghiburnya. Aku hanya mengangguk dan membiarkannya pergi.

Menjelang siang, konselor sekolah memanggilku. Kami membicarakan perkelahian, rasa takut ditinggalkan, dan apa yang bisa kulakukan jika amarah kembali naik. Aku menandatangani kesepakatan untuk melanjutkan konseling dan latihan silat hanya sebagai pertahanan diri.

Pak Bara mengirim pesan setelah mendengar hasilnya.

`Menang bukan berarti lawan jatuh. Menang berarti kamu tahu kapan berhenti.`

Aku menyimpan pesan itu.

Di gerbang sekolah, Reno berdiri di samping sebuah mobil tua. Kardus berisi buku dan seragam ada di dekat kakinya. Plester di hidung membuat suaranya sengau ketika dia melihatku.

“Puas lo?”

“Aku tidak meminta kamu menyebarkan bohong.”

“Kalau bukan karena om kaya lo, sekolah nggak akan berani begini.”

“Bukti yang membuat mereka berani.”

Reno tertawa tanpa humor. “Jangan sok bersih. Lo tetap anak yang dibuang keluarga.”

Kalimat itu menusuk, tetapi tidak lagi membuat kakiku ingin lari.

“Iya,” kataku. “Aku pernah dibuang. Tapi sekarang aku punya rumah.”

Kerabatnya memanggil dari dalam mobil. Reno mengangkat kardus dengan kasar. Sebelum masuk, dia menoleh dan menatapku penuh kebencian.

“Ini belum selesai.”

Mobil itu pergi meninggalkan gerbang. Aku tetap berdiri sampai bayangannya hilang, membawa ancaman yang belum benar-benar mati.

Namun kali ini, ancaman itu tidak lagi sanggup membuatku kabur meninggalkan sekolah atau meragukan rumahku sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!