Tiga puluh tahun Liana Liem mengabdikan hidupnya untuk keluarga suaminya. Memasak, merawat mertua lumpuh, membesarkan anak — sampai tubuhnya aus dan hatinya kering.
Di usia lima puluh, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan: suaminya, Albert Phua, telah berselingkuh selama sebelas tahun. Ada wanita lain. Ada anak lain.
Liana memilih cerai.
Tanpa uang, tanpa pengalaman kerja, tanpa tempat tinggal — Liana memulai hidup dari nol. Tapi takdir punya rencana lain. Sebuah kebaikan kecil membawanya masuk ke dunia Loh Group, konglomerat terbesar di Jakarta. Dan di sana, ia bertemu bosnya: Edwin Loh — pria yang ternyata sudah menunggunya selama tiga puluh tahun.
Tapi rahasia terbesar bukan soal cinta.Kevin, anak angkat Edwin yang selama ini memanggil Liana "Bu" — mungkinkah dia adalah. Lele, putra kandung Liana yang hilang dua puluh tahun lalu?
Siapa yang mencuri anaknya? Siapa yang merusak jodohnya? Dan apakah di usia lima puluh, takdir masih bisa memberikan keadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14: Wakil Rektor yang Gagal
Senin pagi minggu ketiga, Albert datang ke kampus UI dengan jas abu-abu yang biasanya membuatnya terlihat tenang dan terhormat.
Hari itu, jas itu tidak menolong apa pun.
Begitu ia memasuki gedung fakultas, dua dosen muda yang sedang berdiri di dekat papan pengumuman langsung berhenti bicara. Salah satu dari mereka menunduk ke ponsel, yang lain pura-pura membaca poster seminar. Albert melewati mereka dengan dagu terangkat, tetapi telinganya menangkap potongan bisik-bisik yang gagal disembunyikan.
"Katanya istrinya yang gugat..."
"Sudah sebelas tahun, loh..."
"Pantas saja komite..."
Langkah Albert berhenti setengah detik.
Komite.
Kata itu seperti kuku yang menggores kaca.
Di ruang rapat lantai dua, surat resmi sudah menunggunya. Bukan undangan lanjutan, bukan jadwal presentasi visi misi, melainkan pemberitahuan bahwa namanya ditarik dari daftar kandidat Wakil Rektor. Alasannya ditulis dengan bahasa rapi dan dingin: pertimbangan integritas, etika akademik, serta reputasi institusi.
Albert membaca satu kalimat yang sama sampai tiga kali.
Ruang rapat terasa sunyi, padahal beberapa orang masih duduk di sana. Ketua komite berbicara dengan nada hati-hati.
"Pak Albert, keputusan ini bukan vonis personal. Universitas hanya perlu menjaga proses tetap bersih dari isu yang bisa berkembang."
"Isu?" Albert menahan suaranya agar tidak naik. "Kehidupan pribadi saya dijadikan alasan membatalkan proses akademik?"
Seorang anggota komite melipat tangan. "Ketika isu pribadi sudah masuk grup dosen, grup alumni, dan dibicarakan mahasiswa, kampus tidak bisa berpura-pura tidak mendengar."
Panas naik ke wajah Albert.
"Saya sudah mengabdi puluhan tahun di sini."
"Kami menghargai itu."
Kalimat sopan itu terdengar seperti pintu yang ditutup pelan, tetapi tetap terkunci.
Tidak ada perdebatan lagi. Semua sudah diputuskan sebelum ia masuk ruangan. Surat itu hanya cara resmi untuk memintanya menerima kekalahan.
Saat Albert keluar, koridor terasa lebih panjang dari biasanya. Beberapa mahasiswa menunduk sopan, tetapi setelah ia lewat, suara tawa kecil pecah di belakang. Mungkin bukan tentang dirinya. Mungkin hanya kebetulan. Tetapi hari itu, semua suara terdengar seperti penghinaan.
Di ruang kerjanya, Albert membanting map ke meja.
"Liana," gumamnya.
Nama itu keluar bukan sebagai rasa kehilangan, melainkan tuduhan.
Kalau Liana tidak pergi. Kalau Liana tidak menggugat cerai. Kalau Liana tidak membiarkan masalah keluarga bocor ke orang luar. Kalau ia tetap seperti tiga puluh tahun terakhir, diam, memasak, menyiapkan kemeja, menutup semua kebusukan rumah, maka Albert masih akan duduk di daftar kandidat itu.
Ia tidak pernah bertanya mengapa kebusukan itu ada.
Ia hanya marah karena penutupnya hilang.
Ponselnya bergetar. Yuni menelepon dari Apartemen Golden Crown. Di layar, foto profilnya menunjukkan wajah tersenyum dengan lipstik merah muda dan anting berkilau.
Albert mengangkat dengan rahang mengeras. "Apa?"
"Ko Albert, kamu sudah makan?" Suara Yuni dibuat lembut, terlalu lembut untuk pagi yang buruk.
"Namaku dicoret."
Ada jeda pendek. "Dicoret dari apa?"
"Wakil Rektor."
"Oh." Yuni menarik napas, lalu cepat-cepat menambahkan, "Sayang, jangan sedih. Yang penting kita bersama. Wakil Rektor itu kan bisa diusahakan lagi."
Albert menutup mata.
Bisa diusahakan lagi.
Untuk Yuni, jabatan itu hanya hiasan di kartu nama. Ia tidak tahu berapa banyak rapat, jam mengajar, publikasi, jaringan, dan penghinaan halus yang Albert lalui untuk sampai ke pintu itu. Atau mungkin ia tahu, tetapi tidak peduli selama pernikahan mereka segera terjadi.
"Kamu tidak mengerti," kata Albert.
"Aku mengerti kamu capek." Nada Yuni berubah sedikit manja. "Makanya cepat selesaikan cerainya. Kalau kita resmi, orang juga akan berhenti bicara."
Albert tertawa pendek tanpa gembira. "Kamu pikir setelah aku menikah dengan perempuan yang selama ini jadi selingkuhanku, orang akan berhenti bicara?"
Di seberang sana, Yuni diam.
Lalu suaranya menjadi dingin. "Jadi sekarang aku yang salah?"
"Aku tidak bilang begitu."
"Ko Albert, aku menunggu sebelas tahun. Aku membesarkan Jayden hampir sendirian. Kamu selalu bilang waktunya belum tepat. Sekarang kalau kariermu bermasalah, jangan jadikan aku alasan."
Albert ingin menjawab, tetapi pintu ruang kerjanya diketuk.
"Nanti aku telepon lagi."
Ia memutus panggilan tanpa menunggu balasan.
Hendra Png berdiri di depan pintu dengan dua gelas kopi dari kantin. Ia teman lama di fakultas, bukan sahabat dekat, tetapi cukup lama mengenal Liana dari beberapa acara kampus dan kebaktian keluarga dosen.
"Masuk," kata Albert kaku.
Hendra meletakkan satu gelas kopi di meja. "Aku dengar soal komite."
"Semua orang sudah dengar, rupanya."
"Albert, ini kampus. Tidak ada kabar yang benar-benar pelan."
Albert mengambil kopi, tetapi tidak meminumnya. "Kalau kamu datang untuk menghibur, tidak perlu."
"Aku datang bukan untuk itu."
Nada Hendra membuat Albert mendongak.
Pria itu berdiri tegak, wajahnya serius. "Albert, ini keterlaluan. Liana orang baik."
Udara di ruang itu langsung mengeras.
"Kamu tidak tahu urusan rumah tangga kami."
"Aku tahu cukup banyak untuk melihat siapa yang selama ini menutup malu keluarga kamu." Hendra menatapnya tanpa senyum. "Di setiap acara fakultas, Liana datang paling awal, bantu istri dosen lain, ingat alergi makanan orang, pulang paling akhir. Kamu berdiri di depan menerima pujian. Dia di belakang membersihkan semuanya."
"Jangan sok mengenal istriku."
"Mantan istrimu, kalau proses pengadilan selesai."
Kata itu membuat wajah Albert memerah.
Hendra tidak mundur. "Aku bukan orang suci. Tapi kalau kamu masih punya sedikit rasa malu, jangan seret dia lebih jauh."
"Keluar."
Hendra mengangguk pelan. "Baik. Tapi ingat, reputasi tidak hancur karena orang lain bicara. Reputasi hancur karena perbuatan sendiri akhirnya terlihat."
Pintu tertutup.
Albert berdiri lama di ruang kerja yang terasa semakin sempit. Gelas kopi dari Hendra masih hangat, tetapi ia mendorongnya ke samping seolah benda itu kotor.
Sore harinya, ia pulang ke rumah Phua di BSD City. Rumah itu masih berantakan. Jason belum pulang. Di wastafel, piring pagi sudah bertambah dengan gelas bekas minum kopi. Tidak ada aroma sup. Tidak ada suara Liana dari dapur. Tidak ada orang yang bertanya apakah ia sudah makan.
Albert naik ke ruang kerja lamanya, mencari dokumen lama yang mungkin bisa membantu membuktikan bahwa penghasilannya selama menikah tidak sebesar yang dipikirkan Liana. Kalau Liana berani menggugatnya, ia juga bisa membuatnya pulang tanpa membawa apa pun.
Di laci bawah, di bawah tumpukan sertifikat seminar, tangannya menemukan sebuah buku catatan kulit cokelat.
Jantungnya berhenti sesaat.
Ia tidak membuka buku itu selama bertahun-tahun.
Halaman-halamannya menguning. Tulisan tangannya yang muda terlihat lebih tajam, lebih ambisius, dan lebih ceroboh. Ia membuka secara acak, lalu menemukan tanggal yang membuat seluruh tubuhnya kaku.
Tiga puluh tahun lalu.
Di halaman itu tertulis beberapa baris pendek: jadwal pertemuan, nama seorang perantara, rencana mengalihkan perhatian Liana sebelum ia bertemu laki-laki pilihan Profesor Linus. Ada catatan tentang "kejadian kecil" di dekat kampus yang harus terlihat seperti kebetulan.
Albert menutup buku itu dengan cepat.
Napasnya terdengar berat di ruangan kosong.
Ia kalah dari komite hari ini. Ia kehilangan Liana beberapa minggu lalu. Tetapi jika halaman itu keluar, ia bukan hanya kehilangan jabatan.
Ia bisa kehilangan semua cerita yang selama ini ia pakai untuk menyebut dirinya penyelamat Liana.
Albert memasukkan buku catatan itu ke laci paling dalam, lalu menguncinya.
"Hal itu," bisiknya, "tidak boleh diketahui siapa pun."
Halo kakak2, jangan lupa mampir dikarya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
Temen2, dukung dan baca karya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
/Pray/