NovelToon NovelToon
Aku Melepaskanmu Bukan Melupakanmu

Aku Melepaskanmu Bukan Melupakanmu

Status: tamat
Genre:Single Mom / Dokter / Menikah Karena Anak / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Saga Mahendra percaya satu hal, pengkhianatan tidak pernah memiliki alasan. Itulah yang ia yakini sejak hari ia melihat Sahira, wanita yang ia cintai, berpelukan dengan sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Saga memilih pergi. Meninggalkan cinta, mimpi, dan masa lalu yang terlalu menyakitkan.

Lima tahun kemudian, ia kembali. Bukan lagi remaja yang rapuh, tapi seorang dokter dengan hati yang telah membeku. Namun, takdir mempermainkannya. Sahira muncul kembali bersama seorang anak berusia empat tahun.

Waktu tidak pernah berbohong. Lalu, siapa ayah dari anak itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Malam turun perlahan, menyelimuti Rumah Sakit Kasih Ibu dengan suasana yang lebih tenang, namun tidak bagi beberapa orang di dalamnya.

Di salah satu kamar rawat inap, lampu temaram menyala lembut. Suara alat medis terdengar pelan, berpadu dengan napas kecil seorang anak yang masih terbaring lemah di atas ranjang.

Sahir Arayan akhirnya tertidur setelah obat mulai bekerja. Demamnya belum sepenuhnya turun, tapi setidaknya tubuhnya tidak lagi bergetar seperti sebelumnya.

Di samping ranjang, Sahira duduk diam.

Tangannya masih menggenggam tangan kecil anaknya, seolah takut melepaskannya walau hanya sesaat. Matanya tampak lelah namun bukan hanya karena hari yang panjang.

Melainkan karena pertemuan yang tak pernah ia siapkan. Saga, nama itu kembali hadir bukan lagi sebagai kenangan, melainkan kenyataan yang berdiri tepat di hadapannya.

Sahira menunduk, menarik napas panjang.

“Kenapa harus sekarang…” bisiknya lirih.

Air matanya jatuh perlahan, namun cepat ia hapus. Ia tidak ingin terlihat lemah, terutama di tempat seperti ini.

Pintu kamar tiba-tiba diketuk pelan.

Tok! tok!

Sahira segera mengangkat wajahnya.

“Masuk…”

Pintu terbuka.

Saga berdiri di sana, masih dengan jas dokternya, masih dengan sikap tenangnya… namun ada jarak yang begitu terasa.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Saga, suaranya datar. Ia melangkah masuk tanpa menunggu jawaban, matanya langsung tertuju pada Sahir.

“Sudah tidur…” jawab Sahira pelan. “Demamnya masih ada, tapi tadi tidak kejang lagi…”

Saga mengangguk kecil.

Ia mendekat, memeriksa suhu tubuh Sahir dengan punggung tangannya, lalu melihat catatan medis di ujung ranjang.

“Observasi kita lanjutkan malam ini,” ucapnya singkat. “Kalau tidak ada kejang ulang dan suhu turun, besok bisa dipertimbangkan pulang.”

“Terima kasih … Dok…” kata Sahira, ragu.

Kata itu kembali menggantung di udara, membuat suasana semakin canggung. Saga berhenti sejenak, lalu menutup berkas di tangannya.

Beberapa detik berlalu tanpa suara. Hingga akhirnya,

“Empat tahun?” tanya Saga tiba-tiba.

Sahira tertegun, pertanyaan itu datang tanpa peringatan.

“Umurnya…” lanjut Saga, kali ini menatap langsung ke arah Sahira. “Empat tahun, kan?”

Jantung Sahira berdegup kencang.

“Iya…” jawabnya singkat.

Saga mengangguk pelan, namun sorot matanya berubah.

“Namanya … Sahir Arayan,” ucapnya lagi, seolah mengulang untuk memastikan.

Sahira menggenggam tangannya sendiri di atas pangkuan.

“Iya…”

Saga terdiam. Lalu, tanpa ia sadari, tatapannya kembali jatuh pada wajah kecil yang tertidur itu.

“Bapaknya dimana?” tanya Saga akhirnya. Seolah ia tidak ingin memberi waktu bagi Sahira untuk bersembunyi.

Sahira membeku.

Pertanyaan itu terasa jauh lebih berat dari yang ia bayangkan. Bibirnya terbuka, namun tak ada suara yang keluar.

Beberapa detik berlalu.

“Dia … tidak ada,” jawabnya akhirnya, pelan.

Saga mengernyit.

“Tidak ada, atau tidak datang?” Nada suaranya berubah sedikit.

Sahira menunduk.

“Memang tidak ada…” ulangnya, kali ini lebih pelan. Hening kembali memenuhi ruangan, Saga menatapnya lama. Seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak diucapkan.

Namun Sahira tetap diam, menutup dirinya rapat-rapat. Saga menarik napas panjang. Ia tahu percakapan ini tidak akan membawa ke mana-mana.

“Kalau ada apa-apa, panggil perawat,” ucapnya akhirnya, kembali ke nada profesional. “Saya masih di ruangan sampai malam ini.”

Sahira mengangguk.

“Iya…”

Saga berbalik, melangkah menuju pintu. Namun, sebelum tangannya menyentuh gagang,

“Saga…”

Langkahnya terhenti, Sahira menggigit bibirnya, ragu. Tapi akhirnya ia tetap melanjutkan,

“Terima kasih…”

Saga tidak langsung menoleh, beberapa detik ia hanya berdiri diam. Lalu, tanpa berbalik, ia menjawab singkat,

“Itu tugas saya.”

Pintu terbuka dan tertutup kembali.

Menyisakan Sahira dalam diam, dia menatap pintu itu lama.

Sementara di luar kamar, Saga berdiri sejenak di koridor yang sepi, tangannya mengepal.

Pintu kamar kembali terbuka beberapa menit setelah Saga pergi. Seorang perawat masuk sambil mendorong tiang infus, langkahnya pelan agar tidak mengganggu Sahir yang sedang tertidur.

“Permisi, Bu. Saya ganti infusnya, ya,” ucapnya ramah.

Sahira mengangguk pelan, sedikit bergeser memberi ruang. Perawat itu mulai menyiapkan alat, lalu sekilas melirik ke arah pintu yang tadi tertutup.

“Tumben, ya … Dokter Saga belum pulang,” katanya ringan, seolah hanya berbasa-basi. “Padahal jam kerjanya sudah habis dari siang tadi.”

Tangan Sahira yang semula menggenggam selimut Sahir langsung menegang.

“Begitu, ya…” jawabnya pelan, berusaha terdengar biasa.

Namun, jantungnya berdegup jauh lebih cepat dari seharusnya. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya. Ada sesuatu yang berdesir di dalam dadanya. Rasa yang seharusnya sudah lama hilang tapi ternyata masih ada. Rindu yang tidak pernah benar-benar pergi. Namun, Sahira tahu, ia tidak punya hak untuk merasakannya lagi.

Lima tahun lalu, ia sendiri yang menghancurkan segalanya. Dan ia tahu betul bagaimana Saga menatapnya tadi, dingin, jauh, tanpa sisa kehangatan seperti dulu.

Perawat itu selesai memasang infus, lalu merapikan selang dengan hati-hati.

“Kalau ada apa-apa, tekan bel saja, Bu,” katanya.

“Iya, terima kasih…” sahut Sahira pelan.

Perawat itu tersenyum singkat, lalu keluar dari kamar.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sahira tersentak kecil, segera meraih tasnya dan mengambil ponsel itu.

Satu pesan masuk dari Revano.

[Bagaimana kondisi Sahir? Sudah ditangani dokter?]

Jari Sahira sempat menggantung di atas layar, belum sempat membalas, ponselnya kembali berdering. Nama yang sama muncul di layar, Revano.

Sahira menarik napas, lalu mengangkat panggilan itu.

“Halo…”

[Sahira?] suara Revano terdengar jelas dari seberang. [Gimana kondisi Sahir? Kamu sudah sampai rumah sakit, kan?]

“Iya … sudah,” jawab Sahira pelan. “Dia sudah ditangani. Sekarang sudah lebih tenang … tadi sempat kejang, tapi sudah dikasih obat."

Revano terdiam sejenak, terdengar menghela napas lega.

[Syukurlah … Aku khawatir banget dari tadi.]

Sahira melirik ke arah Sahir, memastikan anak itu masih tertidur.

“Sekarang dia harus dirawat inap semalam,” lanjutnya. “Dokternya bilang harus diobservasi dulu.”

[Baik itu,] jawab Revano cepat. [Kamu jangan sendirian, Ra. Perlu aku pulang sekarang?]

Sahira langsung menggeleng, meskipun ia tahu Revano tidak bisa melihatnya.

“Nggak usah,” ucapnya lembut. “Kamu fokus saja sama kerjaan kamu di Singapura. Di sini aku masih bisa handle.”

[Yakin?] suara Revano terdengar ragu.

“Iya,” jawab Sahira, kali ini lebih tegas. “Sahir juga sudah lebih baik. Kamu nggak perlu khawatir.”

Hening sejenak, seolah ada hal lain yang ingin dikatakan, tapi tertahan.

[Kalau ada apa-apa, langsung kabarin aku,] ujar Revano akhirnya.

“Iya … pasti.”

[Jaga diri kamu juga."

Sahira menunduk.

“Iya…”

Panggilan terputus.

Perlahan, Sahira menurunkan ponselnya, tatapannya kosong beberapa detik. Lalu tanpa sadar, matanya kembali mengarah ke pintu kamar. Ke arah di mana Saga tadi pergi, dadanya terasa sesak. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan. Begitu banyak yang ingin ia jelaskan. Namun, ia tahu tidak semua kebenaran bisa diungkapkan.

“Maaf…” bisiknya lirih, entah untuk siapa, utuk anaknya atau untuk seseorang yang masih ia cintai, tapi tak lagi bisa ia miliki.

1
Mamah Dini11
sukurlah kmu udh. nyampe semoga kedatanganmu bisa mengubah khidupan sahira dn sahir menjadi lbh baik dn mengakhiri penderitaan mereka ,makasih saga udh datang
Mamah Dini11
semoga si aldi gk menemukan saga. jelas kalau si aldi pasti saga di perdaya lgi lindungi saga thor pliisss 🙏
Mamah Dini11
aldi di percaya dia jahat nyonya sm kayak nyonya
Mamah Dini11
ohhhh jadi dalang. di blk itu semua ternyta si aldi dn si clarA manusia busuk itu , kalau saga tau dia gk akan mau sm si clara. gk tau diri itu , klau. kmu suka sm saga kenapa. bkn kmu aja yg melayani si saga bkn nya orng lain di korbanin dasar jalang , awas aja tunggu pembalasan saga, baru tau rasa kmu. clara
Mamah Dini11
semoga aldi. gk jahat
Mamah Dini11
itu keputusan bagus sahira bkb menghindari. saga tpi lbh baiknya menjauh dari ke 2 manusia pengacau itu , kalau saga gk bisa di hindari ke manapun kmu pergi pasti dia mencarimu karna setelah tau semuanya saga tak kan diam terlbh ada anaknya bersamamu,dn semoga ke depan nya kmu bisa bersama menjadi. kluarga bahagia , dn sahir butuh sosok seorang ayah ,moga kluarga saga bisa menerima pelan2, semangat sahira kmu. harus kuat jgn lemah apalagi. lembek. 💪💪💪💪💪
Amiera Syaqilla
hello author😁
Mamah Dini11
dua kali salahpaham si saga, pasti tunangan sm so ririn di percepat , kmu vano main peluk2 man ada kekasihmu do Sana gk takut dia cemburu
Mamah Dini11
jadi doktr nya agak lemot kmu mh ,gk gesit dn gk cepat peka begitu Ada yg ganjil Dari anak itu lgsung yg lain mh ngambil tindakan ,INI banyak berbelit2 Dan banyak mikir si saga mh
park jum
jadi curiga, jangan² sahira ma revano kembar
Mamah Dini11
kmu ITU lupa apa pikun saga apa ngeles atau per nah ngelus NASA sahira Hamil beg it u Saja, pantesan gk penasaran tes dna
park jum
in saga i betulan dokter?? tapi otak nya sangat lemot
Mamah Dini11
revano km jujur Aja ke saga Kalau ketemu , biar gak Ada salahpaham lgi, biar kmu bisa tenang ,apalagi kmu udh punya kekasih, biar jelas semuanya ITU lbh baik kayak nya,
Mamah Dini11
jujur aja sahira daripada di sangka yg bkn2
Wayan Sucani
Sepertinya Sahir anaknya Saga dech
Mamah Dini11
boleh jujur gk sahira anal siapa ITU. Kalau sahir anak saga bicaralah baik2 pd saga siapa tau Dia menerima nya dgn baik pula dan mungkin hidup kmu juga lbh baij kedepan ny demi anakmu
Mamah Dini11
APA gk penasaran kmu saga sm anak ITU mirip kamu gk. cobra tes DNA siapa tau cocok dgnmu
Mamah Dini11
asalamualaikum Ku mampir ni ikut nimbrung moga céritany bagus. dn menarik
Endang Sulistia
keren
Endang Sulistia
anak Sahir 🤔🤔🤔
Aisyah Alfatih: Anakku Sahir tepatnya 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!