Warning!! bijaklah dalam memilih bacaan.
Anggara hanya ingin terbebas dari belenggu keluarganya. Dia ingin menjalani hidupnya sesuka hati, tanpa aturan apalagi kekangan dari sang ayah yang sangat di bencinya.
Persahabatan dengan Andra membuatnya terjun pada pekerjaan yang yang tak pernah dia bayangkan.
Hingga suatu hari mereka bertemu dengan Maharani, dalam sebuah insiden yang membuat Angga terluka, yang tanpa sadar membuat mereka semakin dekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beast
*
*
Angga menyodorkan sebotol air mineral kepada Maharani, gadis itu tengah menikmati makan siangnya di kursi taman kampus.
Dia mendongak.
Sebuah senyuman terbit di sudut bibir Angga. Lalu ia duduk disampingnya Maharani.
"Buat aku mana?" Angga memulai pembicaraan.
"Kirain kamu nggak mau. Waktu itu juga nggak dimakan, Kan sayang kalau nggak dimakan, ibu aku yang bikin."
"Oh ya?"
Maharani mengangguk.
"Pasti enak." Angga mencondongkan tubuhnya melihat kotak makan di pangkuan Maharani. Berisi nasi putih, ayam geprek dan sedikit sayuran hijau.
Gadis itu mengangguk.
"Mau, ..." Angga menatap Maharani penuh harap.
Gadis itu menyerahkan kotak makan tersebut, namun Angga menggelengkan kepalanya. "Suapin," katanya sambil tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya yang putih berderet rapi.
"Kamu bukan anak kecil, Ga. Makan sendiri lah." ucap Maharani.
"Aku kalau deket kamu rasanya pengen jadi anak kecil," Angga masih dengan senyumannya. "Suapin!" sambungnya.
"Ish, ... manja deh!" keluh Maharani.
"Iya, aku deket kamu jadi pengen dimanja." ucap Angga lagi.
Maharani memutar bola matanya, namun tak urung juga menuruti kemauan pemuda disampingnya. Menyendok nasi dan lauknya, lalu menyuapkannya ke mulut pemuda itu. Yang kemudian dikunyahnya dengan ekspresi riang.
Ting!
Bunyi notifikasi pesan di ponsel Angga. Pemuda itu merogoh ponsel di saku jaketnya, lalu mengusap layar untuk melihat pesan.
[Ga, lu di panggil pak Abdul.] pesan dari Andra.
"Apaan lagi?" gumam pemuda itu.
"Apa?" Maharani mendongak, lalu menyuapkan nasi terakhir yang ada di kotak makannya kepada kekasih yang kini dalam keadaan manja mode on.
"Aku dipanggil pak Abdul lagi." jawab Angga, memasukkan kembali ponsel ke saku jaketnya.
"Kenapa? bukannya seminggu ini kamu nggak bolos?" Maharani terkekeh.
Angga menggendikkan bahu, sambil menenggak air dari botol mineral yang dibawanya.
"Ya udah, sana. Mungkin ada yang penting."
"Kamu masih mau disini atau ke kelas lagi?" Angga bangkit, meraih tas yang letakkan di sisi lain kursi.
"Aku ke perpustakaan sebentar, ada buku yang harus aku pinjam untuk beresin tugas nanti."
"Ya udah, nanti kita ketemu lagi di kelas?"
Maharani mengangguk.
***
Abdul menerima kedatangan mahasiswa yang satu ini dengan ekspresi seperti biasanya. Cemberut. Mengingat beberapa laporan dari dosen yang lagi-lagi mengeluh tantang kelakuan pemuda satu ini kepadanya.
"Apa sih pak?" Angga duduk di kursi di depan sahabat ayahnya ini.
"Yang sopan," memukul kepala pemuda itu dengan koran yang dia gulung. "Saya ini dekan, sepertinya dikampus ini hanya kamu yang bersikap buruk begini kepada saya, juga kepada dosen lainnya.?"
Angga menyeringai.
"Kalau orang lain mungkin sudah saya DO kamu? sudah sering bolos, nggak sopan sama dosen, pecicilan juga!" Abdul menggerutu.
Angga terkekeh.
"Lagian bapak, masih betah aja pertahanin saya disini, bukannya DO aja sekalian."
Abdul menghela napasnya, "Saya kalau nggak lihat ayah sama kakak kamu, sudah saya DO dari dulu, seperti permintaan dosen lain."
"Wah, si bapak KKN ini, mentang-mentang kenal sama keluarga saya, jadi belain saya terus?"
"Bukan begitu!" pria 50 tahun itu kembali memukul kepala Angga dengan gulungan koran di tangannya.
"Terus apa dong?"
"Kamu tidak akan mengerti walau saya jelaskan. Kamu kan kepala batu!"
Angga memutar bola matanya, "Terus mau apa dong bapak manggil saya, hari ini saya nggak bolos lho, pak."
Abdul menghela napasnya pelan, "Tolong lah Angga, ini hanya satu setengah tahun lagi. Jangan bersikap buruk. Bertahanlah sampai lulus."
"Bapak ngomong apa sih, pak?"
"Jaga sikap kamu, jangan membuat masalah lagi. apalagi memancing kericuhan dengan dosen dengan membuat berita tidak benar."
"Maksud bapak?" Angga mengerutkan dahi.
"Apa yang kamu katakan waktu mata kuliah dosen Irwan membuat beberapa orang berspekulasi berlebihan, sebagian besar malah menganggap hal itu benar terjadi."
"Memangnya apa yang saya bilang?" Angga merubah posisi duduknya.
"Tentang ide kamu di kelasnya dosen Irwan, ..."
"Hah, itu kan cuma contoh, pak." Angga tergelak.
"Juga tentang tuduhan kamu, tentang melecehkan mahasiswi, ..."
Angga semakin mengerutkan dahi, kini dia mengerti kemana arah pembicaraan ini. Rupanya Irwan sengaja mengadukan tentang peristiwa tempo hari saat dirinya menyindir telak pria itu.
"Saya nggak nuduh, saya bicara yang sebenarnya kok soal pelecehan itu." sekalian saja dia buka suara.
"Jangan bicara omong kosong, kamu. Itu bisa jadi fitnah. Kamu bisa dituntut."
"Tuntut aja kalau saya bohong, saya nggak takut. Lagian buktinya juga ada."
Abdul menghela napas lagi.
"Bapak nggak percaya?"
Abdul terdiam.
"Serah bapak deh,"
Abdul melihat jam di pergelangan tangannya. "Ya sudah, sana kembali ke kelas, saya akan menyelidiki ini dulu."
"Jangan lama-lama, pak. Tar korban bertambah banyak." Angga bangkit dari duduknya.
Abdul tertegun.
"Oh iya, pak, ..." Angga ketika dia sampai di ambang pintu. "Salah satu korbannya udah hamil lho. Fikka, mahasiswi tingkat akhir yang sekarang kandungannya udah berumur dua bulan." ucapnya lalu pergi dari ruangan itu.
*
*
*
*
"Kamu kenapa? tadi pak Abdul ngomong apa?" Maharani yang mendapati kekasihnya lebih pendiam setelah pemuda itu keluar dari ruangan dekan. Sepanjang jam kuliah terakhir siang itu Angga tak bicara sedikitpun.
"Nggak. Masalah biasa aja."
"Ditegur lagi?" Maharani masih penasaran.
Angga mengangguk. Pikirannya kini berputar mencari cara agar mendapatkan bukti perbuatan tak senonoh sang dosen. Orang-orang tak mungkin percaya jika hanya dengan kata-kata bahwa dirinya secara langsung pernah melihat pria itu melakukannya di ruangannya kepada Maharani.
"Ran?" Angga kini bicara.
"Ya?" Maharani menoleh.
"Kamu mau nggak bilang ke pak Abdul kalau kamu pernah di lecehkan sama pak Irwan?"
Maharani tertegun, mata bulatnya bergerak-gerak menyusuri wajah pemuda disampingnya.
"Aku yakin korbannya bukan cuma kamu." ucap Angga.
"Nggak akan ada yang percaya, Ga." Maharani menjawab.
"Coba dulu."
"Aku yakin nggak ada yang akan percaya."
"Kita nggak akan tahu kalau belum dicoba."
"Aku pernah mencobanya, dan hasilnya seperti yang aku bilang. Nggak ada seorangpun yang percaya. Kamu tahu kenapa? karena sikap sehari-hari mereka nggak mencerminkan perbuatan kotor mereka dibelakang. Wajah dan perbuatan mereka baik dimata umum, tapi perbuatan buruk mereka tersembunyi dan hanya dilakukan didepan korbannya. Percayalah, aku pernah mengalaminya sendiri. Dan apa hasil yang aku dapat dari itu? semua tudingan berbalik arah kepada ku." Maharani bangkit dari kursinya, lalu berjalan menghambur keluar bersamaan dengan mahasiswa lainnya setelah mata kuliah hari itu berakhir.
Angga mengerutkan dahi. Lalu dia juga bangkit, setengah berlari mengejar gadis itu yang sudah ditelan kerumunan.
"Ran, ..." Angga meraih lengan gadis itu sehingga dia berhenti melangkah. "Maksud kamu apa?" lalu dia bertanya.
Maharani terdiam, menatap ke arah lain.
"Apa dia melakukannya sama kamu lebih dari satu kali? apa yang kemarin itu bukan yang pertama kali dia lakukan? jadi sebelumnya dia pernah juga melakukannya sama kamu?" pertanyaan itu keluar bertubi-tubi.
Maharani tak menjawab.
"Rani! jawab!"
Maharani menggigit bibir bawahnya dengan keras.
"Kamu tahu, orang-orang seperti pak Irwan itu pandai menyimpan kebusukan. Apapun akan mereka lakukan untuk menutup rapat hal hina yang mereka lakukan. Agar mereka tetap terlihat baik di mata umum."
Angga mengerutkan dahi.
"Mereka? mereka siapa? maksud kamu bukan cuma pak Irwan yang begitu? Apa ada orang lainnya yang melakukan hal itu sama kamu?" Angga mencengkeram lengan gadis itu semakin kuat. Hatinya merasa tak terima.
Maharani meringis, dia merasakan lengannya akan segera hancur sebentar lagi dalam genggaman pemuda itu.
"Rani, ..."
"Aku harus kerja sebentar lagi." Maharani menyentakkan tangannya, menghindar. Dia segera pergi meninggalkan Angga yang pikirannya masih menerka-nerka.
*
*
*
Fikka duduk dengan tidak nyaman, ruangan itu terasa sangat mencekam baginya. Pandangan Irwan yang seolah menghunus kedalam jantungnya terasa mengerikan.
"Jadi, kamu mengadu kepada berandalan itu?" katanya, dibarengi geraman mengerikan ditelinga Fikka.
Gadis itu mendongak.
"Kamu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa."
Fikka merasakan tubuhnya bergetar ketika tangan pria itu mulai menyentuh punggung lalu merayap ke lehernya.
"Sudah kamu gugurkan?" Irwan berbisik ditelinga gadis itu.
Fikka menggeleng.
"Kenapa? kamu sengaja mau mempertahankannya agar semua orang tahu?" Irwan mencengkeram rahang gadis itu dengan keras, Fikka merintih. Kepalanya menggeleng perlahan.
"Sa-saya takut, pak!"
"Takut?" cengkeramannya di rahang gadis itu semakin menguat.
"Apa yang lebih kamu takutkan? menggugurkan kandungan atau foto dan video itu tersebar di internet?" Irwan mengancam.
Fikka terhenyak, kedua mata indahnya membulat sempurna.
"Fo-foto? video?" Fikka mencicit. Mencoba menatap wajah mempesona dosen didepannya yang kini terlihat bagaikan iblis.
Irwan merogoh ponsel di saku celananya, membuka aplikasi, lalu menyentuh tombol- tombol.
Sedetik kemudian terdengar suara notifikasi masuk di ponsel Fikka.
Mata gadis itu semakin membulat ketika melihat pesan yang masuk. Beberapa foto dirinya dalam keadaan telanjang disusul sebuah video ketika dirinya tengah digauli seseorang. Yang dia tahu siapa yang tengah menggauli dan mengambil gambarnya dalam keadaan seperti itu.
"Pak?"
Irwan menyeringai. "Kamu tinggal pilih. sayang sekali jika kamu membangkang apa yang saya perintahkan. Headline dunia Maya akan dipenuhi dengan wajah cantik ini dengan segera." pria itu membelai wajah Fikka yang memucat. Bibir gadis itu bergetar.
"Sekali lagi kamu mengadukan masalah ini kepada orang lain, maka tamatlah riwayat kamu!" Irwan menggeram.
Lalu dengan sekali dorongan, dia menjatuhkan tubuh semampai Fikka keatas meja, menyingkap rok mini yang dipakainya, lalu menurunkan celana yang melapisi pusat tubuh gadis itu.
"Jangan pak!" Fikka menolak, ketika dia menyadari pria itu telah melepaskan pakaiannya.
Namun Irwan kemudian menerjangnya tanpa ampun, lalu menghentakkan tubuh bagian bawahnya secara kasar dan membabi buta.
Fikka hampir menjerit merasakan inti tubuhnya diterobos tanpa peringatan. Namun segera, tangan pria diatasnya membungkamnya dengan erat, sehingga hanya rintihan tertahan saja yang keluar.
Hingga setelah beberapa menit, pria itu mempercepat hentakannya, dan di detik berikutnya dia menghujamkan miliknya dengan begitu keras. Melepaskan hasrat yang telah menguasainya selama beberapa hari ketika tak mendapatkan mangsa yang sepadan. Lalu melepaskan dirinya dari tubuh lemah Fikka yang terlentang di atas meja.
Gadis itu terisak.
"Cepat pergi dan lakukan apa yang aku perintahkan jika kamu ingin selamat!" Irwan membenahi penampilannya, lalu keluar dari ruangannya meninggalkan mahasiswi tingkat akhir yang sedang tergugu. Antara merasa ketakutan dan kesakitan.
*
*
*
Bersambung ...
lope lope sekebon