Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Jaga Jarak
Namun, melihat reaksi Lova yang berubah drastis, membuat Arnold menghela napas panjang.
'Nanti, setelah dia sembuh ... Aku tak perlu repot karena mungkin, dia yang akan pergi sendiri dariku,' lanjut Arnold dalam batin menarik bubur itu dan menyuapnya sendiri.
Lova pun memilih memutar badan dan keluar dari kamar Arnold. Tangannya masih menggenggam erat mangkok bubur itu dan tersandar pada daun pintu kamar suaminya.
'Aku pikir, ini pasti akan seru,' batin Lova menatap bubur itu.
"Loh? Kok keluar lagi? Masih ada yang kurang?"
Lamunan Lova dibuyarkan oleh kehadiran sang ibu. Ekspresi putrinya kali ini terlihat sangat berbeda dibanding saat ia memasukan bubur tadi ke dalam mangkok.
Lova menggeleng pelan. "Sepertinya aku lebih nyaman makan sendiri," ucapnya sendu dan berlalu menuju ruang makan.
Sang ibu hanya bisa menatap punggung putrinya dengan tatapan bingung sekaligus cemas. Ia menghela napas pelan, menyadari ada ketegangan yang tidak biasa di antara sepasang suami istri baru itu.
Sementara itu, di dalam kamar, Arnold menghabiskan buburnya dalam keheningan. Sendok besi itu berdenting pelan bergesekan dengan mangkuk, namun pikirannya melayang jauh. Kata-kata Teddy masih berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Arnold meyakinkan dirinya bahwa jarak ini adalah hal terbaik. Warisan Papanya yang telah berhasil diamankan dari Nenek Sihir, Tania, dan tentu saja ia merasa hubungan ini harus segera berakhir.
Tak beberapa lama, tampak Arnold telah rapi dengan kemeja, dan jas putih tergantung di lengannya. "Ma, saya berangkat ke klinik dulu. Mungkin nanti saat pulang, terapi Zarisha akan kita laksanakan," ucapnya pamit pada sang mertua.
"Bukan kah Nak Arnold sedang sakit? Lebih baik istirahat saja di rumah, dan terapinya bisa dilanjutkan nanti di saat kondisi kalian benar-benar tepat," terang mertuanya itu.
Arnold tersenyum tipis. "Saya sudah sehat, dan kemarin juga sudah off. Saya takut, klinik akan kacau jika saya tidak hadir lagi hari ini." Lalu, kepala Arnold sedikit liar menoleh ke setiap sudut rumah.
"Dimana Zarisha, Ma? Saya ingin dia menyiapkan peralatan lukis sebelum saya kembali."
Mata sang mertua sedikit berputar. "Ah, dia sedang mengerjakan sesuatu di belakang," ucap ibunya menahan sesuatu dalam pikiran.
Namun, sang mertua lupa siapa lawan bicaranya hari ini. Seorang yang dengan mudah membaca isi pikiran manusia hanya lewat mata dan gerak gerik. Arnold melirik ke sebuah pojok, tampak sebuah kaki yang bergerak cepat lalu menghilang.
'Dia sengaja bersembunyi dariku,' batin Arnold.
Arnold menahan napas dan tersenyum kepada mertuanya. "Baik, Ma. Saya rasa nanti semua alat lukis Zarisha telah siap untuk terapi hari ini. Saya berangkat, dan tolong sampaikan kepadanya," ucap Arnold sedetik kembali melirik ke arah bayangan Lova berada.
Arnold pun berlalu, sekejap kemudian Lova muncul dengan tangan mengepal di dada. 'Dia kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa dia berubah?'
...****************...
Sore harinya, setelah kepulangannya, sesi terapi yang tertunda akhirnya dimulai.
Ruang tengah penthouse yang luas telah berubah menjadi studio mini. Sebuah kanvas kosong berukuran besar berdiri di atas easel, lengkap dengan palet dan belasan tabung cat minyak di dekatnya.
Semenjak awal Arnold tahu, Lova adalah seorang pelukis, dan bagi Arnold, art therapy (terapi seni) adalah cara terbaik untuk membaca isi kepala istrinya.
Arnold memilih duduk di sofa tunggal yang terletak agak jauh di belakang kursi Lova. Ia memegang sebuah papan klip dan pena, dengan kacamata baca yang bertengger di hidungnya. Ini membuat citra seorang psikiater profesional yang sedang mengobservasi pasien, jelas terlihat. Jarak fisik yang sengaja ia buat itu terasa begitu nyata dan dingin.
"Tema hari ini adalah katarsis, Zarisha. Tuangkan apa pun yang mengganjal atau berputar di dalam kepalamu ke atas kanvas ini," ujar Arnold. Suaranya terdengar formal, datar, tanpa intonasi manja atau rengekan seperti biasanya.
Lova tidak menyahut. Sejenak ia melirik dan akhirnya mengangguk. Ia berdiri diam di depan kanvas kosong, membelakangi Arnold. Jemari lenturnya perlahan mengambil sebuah kuas, lalu mencelupkannya ke dalam cat.
Selama ini, Arnold begitu hapal dengan isi kepala Lova jika diwujudkan dalam bentuk karya. Di dalam file rekam medis yang ia simpan, lukisan-lukisan Lova sebelumnya selalu didominasi oleh warna-warna mati yang mencekam. Hitam legam, abu-abu pekat, dan merah marun tua.
Lukisannya selalu bertema gelap, seolah figur manusia tanpa wajah yang tenggelam di lautan hitam, atau labirin berduri tanpa jalan keluar. Itu adalah cerminan dari jiwanya yang hancur akibat trauma masa kecilnya yang mendalam.
Arnold sudah bersiap untuk mencatat pola kegelapan yang sama sore ini.
Namun, begitu goresan pertama kuas Lova menyentuh kanvas, gerakan tangan Arnold yang hendak menulis di papan klip mendadak terhenti. Sepasang mata di balik kacamata baca itu sedikit melebar.
Bukan warna hitam pekat yang Lova torehkan kali ini.
Melainkan sebuah sapuan warna kuning mustard yang hangat di bagian tengah, disusul dengan warna biru langit yang lembut di sudut lain. Perlahan, jemari Lova terus bergerak.
Warna-warna gelap yang biasanya mendominasi seperti penjara, kini mulai terusik. Lova mulai berani mencampur warna-warna pastel yang lebih cerah, seolah-olah ada secercah cahaya yang mencoba mendobrak kegelapan di kepalanya.
Jiwanya ... sebenarnya perlahan-lahan mulai berubah dan merespons kehadiran Arnold, meskipun trauma itu belum sepenuhnya sembuh.
Arnold terpaku menatap punggung Lova yang sedang fokus menggoreskan kuas. Dadanya mendadak berdenyut nyeri, dihantam rasa bersalah yang aneh.
Di satu sisi, ia tahu terapinya mulai menunjukkan titik terang. Namun di sisi lain, ego dan penyangkalannya kembali berbisik kejam di dalam kepala.
'Dia telah mengalami banyak perubahan ... itu artinya hubungan medis ini berjalan lancar. Setelah semua urusan warisan ini selesai, tugasmu selesai. Cukup membuatnya pergi saja, Arnold. Jangan terikat.'
*bersambung*
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
judulnya terapi cantik ku yg rupawan
itu aja Thor
gemulai mah... terlalu klise😍😍
jadi bayangin
aduuh ternoda dah pikiran aye cyiiin🤣🤣🫣
lova si udah mulai sembuh
ga terlalu perlu lu juga si...
tapi gimana yaaa???
keplak kali palanya biar balik normal🤣🤣
cyiin nya diilangin🫣🤣🤣
geplak lagi ninpake anduk
vote otw ka😍
kyk korban pelecehan
🫣🤣🤣🤣