NovelToon NovelToon
Sang Antagonis Cantik

Sang Antagonis Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Ketos
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sunflower_Rose

Kata orang, dia manipulatif. Jahat. Perusak.
Katanya, dia menghancurkan cinta dan kepercayaan dari dua lelaki yang tulus padanya.
Dia dituduh memecah tiga bersaudara.
Dibilang merusak hubungan orang lain tanpa rasa bersalah.

Tapi hanya dia yang tahu bagaimana rasanya menjadi Bianca.
Tak seorang pun benar-benar paham bagaimana luka, keadaan, dan dunia yang kejam perlahan membentuknya menjadi seorang antagonis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sunflower_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11

Malam itu, suasana di dalam apartemen Bianca terasa jauh lebih sempit dan penuh tekanan dibandingkan hari-hari biasa. Bukan semata-mata karena ruangan yang memang berukuran kecil dan sederhana, melainkan karena suasana hati yang dibawa oleh kedua tamu yang baru saja tiba. Rebecca duduk santai di kursi tunggal dengan kaki disilangkan sementara Isabella sibuk membongkar isi tas berisi peralatan elektronik di atas meja makan yang berukuran kecil.

Bianca sendiri baru saja selesai membersihkan diri, berusaha keras menghapus dan meninggalkan segala kesan serta suasana mewah dari kediaman keluarga Anderson yang masih terasa melekat di ingatan dan kulitnya. Ia kini mengenakan kaus santai yang agak kebesaran, tampil sangat sederhana dan jauh berbeda dibandingkan saat mengenakan gaun mahal yang sempat ia pakai di kamar Kiyo kemarin.

"Lo lama banget mandinya. Keenakan ya ngerasain air hangat di rumah orang kaya?" celetuk Rebecca tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel yang sedang ia lihat.

Bianca mendengus pelan lalu menarik kursi kayu kosong dan duduk tepat di hadapan Isabella. "Berisik, Bec. Gue butuh waktu buat nenangin diri dan mengatur pikiran lagi setelah seharian penuh berpura-pura jadi gadis lembut dan baik hati di depan Kiyo dan ibunya."

Isabella terkekeh kecil sambil memasang sambungan kabel ke laptop yang ada di depannya. "Tapi kemampuan lo meniru peran itu emang luar biasa banget sih, Bi. Gue lihat dari kejauhan pas Kiyo nganter lo balik tadi... sungguh, cowok itu kayak pengawal pribadi yang rela melakukan apa aja. Bawa mobilnya aja pelan banget, seolah takut lo bakal luka atau nggak nyaman sedikit aja."

"Dia emang berubah banget kelakuannya hari ini. Tiba-tiba jadi banyak tanya, terus sempat-sempatnya ngajak beli es krim juga," jawab Bianca dengan nada datar, meski jauh di lubuk hatinya ada rasa kecil yang bergetar saat mengingat kembali rasa manis es krim cokelat itu.

"Es krim?" Rebecca langsung menoleh dan menatap Bianca dengan pandangan yang tajam dan waspada. "Jangan bilang lo jadi lupa tujuan kita cuma gara-gara dikasih makanan manis, Bi. Inget baik-baik, satu cup es krim itu nggak bakal bisa menebus atau bayar apa yang ayah mereka udah lakuin ke ayah kita dulu."

"Gue nggak lupa sama sekali, Bec! Nggak perlu lo ingetin terus setiap saat," potong Bianca dengan suara yang sedikit meninggi. "Mending fokus ke hasil rekaman tadi aja. Isa, gimana keadaan datanya? Udah bisa dibuka dan didengerin belum?"

Isabella mengangguk cepat sebagai jawaban. Jari-jemarinya bergerak lincah dan cekatan di atas papan ketik laptop. "Lagi gue urus biar suaranya makin jelas. Alat kecil yang lo pasang di ruang kerja Maxwell itu kualitasnya bagus banget dalam menangkap suara. Untung juga lo naro deket meja kerjanya, jadi apa pun yang dibicarakan di sana terdengar jernih banget tanpa gangguan."

Di layar laptop Isabella mulai terlihat grafik gelombang suara yang naik turun menandakan rekaman sudah siap diputar. Ruangan sempit itu mendadak menjadi hening sepenuhnya. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah bunyi ketikan tombol yang pelan dan dengungan halus kipas angin tua yang ada di sudut ruangan.

"Oke, dengerin baik-baik ini. Ini rekaman sekitar satu jam yang lalu, pas Maxwell baru aja pulang ke rumah," ucap Isabella lalu menekan tombol putar.

Suara berat dan berwibawa milik Maxwell Anderson terdengar jelas memenuhi seluruh ruangan apartemen itu.

"...Pastikan proyek di pelabuhan itu lancar. Saya tidak mau ada campur tangan dari pihak audit. Kalau mereka tanya soal aliran dana dari yayasan sekolah, bilang itu untuk renovasi lab. Padahal kita tahu itu masuk ke rekening konsorsium kita."

Bianca mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. "Dasar manusia tidak punya hati. Dia beneran nekat mengambil uang dana yayasan sekolah buat kepentingan bisnis pribadinya sendiri."

"...Dan soal anak itu, siapa tadi? Bianca? Darman bilang dia keluyuran di depan ruang kerja saya tadi pagi. Kiyo memang keras kepala, tapi kalau perempuan itu sampai berani macam-macam, saya sendiri yang akan menyingkirkannya. Saya tidak peduli meskipun Kiyo menyukainya."

Saat mendengar kalimat terakhir itu, seluruh bulu kuduk Bianca meremang seketika. Ia sadar betul bahwa Maxwell bukan tipe orang yang main-main atau sekadar mengancam tanpa tindakan nyata.

"Lo denger kan, Bi?" Rebecca menyeringai tipis tapi sorot matanya memancarkan kemarahan yang sama besarnya. "Dia berniat menyingkirkan lo kalau lo mengganggu urusan kotornya. Dia sama sekali nggak berubah dari dulu. Tetap sosok kejam yang sama persis seperti waktu menghancurkan keluarga kita."

'Gue emang tau dia sosok yang jahat, tapi denger dia ngomong begitu secara langsung bikin gue makin sadar kalau gue sekarang emang lagi berada di tempat yang paling berbahaya, persis di depan mulut singa,' batin Bianca. Ada rasa takut yang sempat menyelinap masuk ke dalam hati, namun rasa dendam yang sudah lama terpendam itu jauh lebih besar dan kuat dibandingkan rasa takut apa pun.

"Gue nggak takut sama dia," ucap Bianca dengan nada tegas dan rendah. "Justru ini kabar bagus buat kita. Kalau kita bisa dapet bukti nyata perpindahan dana dari yayasan itu ke rekening pribadinya, nama baik Maxwell bakal hancur seketika. Reputasinya sebagai penyumbang besar dan pengusaha jujur yang dia bangun bertahun-tahun bakal lenyap sama sekali."

Isabella kembali memutar rekaman-rekaman percakapan lain yang tersimpan. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam lamanya hanya untuk mendengarkan, mencatat, dan memilah-milah informasi penting yang berguna. Isabella yang memang berencana menginap di sana sudah menyiapkan kasur lipat kecil di samping tempat tidur Bianca.

"Oh iya, Bi," Isabella menghentikan putaran rekaman sejenak. "Gimana soal Gwen tadi? Lo sempat cerita kalau dia juga masuk ke kamar Kiyo pas lo masih ada di sana kan?"

Bianca menghela napas panjang mengingat kejadian dan keributan antara dua kakak beradik itu. "Gwen itu sifatnya lebih berani dan bertindak tanpa pikir panjang dibandingkan Kiyo. Dia sepertinya nggak suka banget liat gue ada di dekat adiknya sendiri. Tadi dia datang bawain makanan, terus langsung berdebat dan bertukar kata-kata tajam sama Kiyo tepat di depan gue. Jujur aja, kejadian itu malah bikin rencana gue makin gampang jalan buat memisahkan mereka berdua."

"Lo beneran mau terus jalanin rencana bikin mereka saling bermusuhan?" tanya Isabella sambil menguap lelah.

"Kenapa nggak? Keluarga Anderson itu terlihat kuat dan berkuasa cuma karena mereka bersatu dan saling dukung. Kalau Gwen sama Kiyo jadi saling benci dan curiga cuma gara-gara keberadaan gue, Maxwell bakal pusing sendiri mengurus pertengkaran anak-anaknya. Perhatian dan pikiran dia bakal terbagi, dan itu jadi celah besar buat kita masuk lebih dalem lagi cari kelemahan mereka," jelas Bianca dengan nada bicara yang tenang dan penuh keyakinan.

Rebecca berdiri dari duduknya lalu merapikan jaket yang ia pakai. "Gue mau keluar dulu, ada urusan. Isa, lo jagain dia di sini sampe besok. Bi, inget pesan gue, besok lo berangkat sekolah bareng Kiyo kan? Jangan sampe lo kelihatan aneh atau bikin dia curiga sedikit pun. Lo harus tetap tampil jadi Bianca yang lemah, penakut, dan butuh perlindungan dia kayak biasanya."

"Gue tau apa yang harus gue lakuin, Bec. Lo tenang aja," jawab Bianca singkat dan mantap.

Setelah kepergian Rebecca, suasana di dalam apartemen jadi sedikit lebih longgar dan tenang meski rasa tegang masih terasa menggantung di udara. Isabella berbaring di kasur lipatnya sambil menatap langit-langit kamar yang terlihat agak kusam dan ada bercak-bercak bekas air hujan.

"Bi... lo beneran baik-baik aja kan sama semua ini?" tanya Isabella tiba-tiba memecah keheningan.

Bianca yang sedang membereskan gelas dan botol minum bekas mereka menoleh. "Maksud lo apa?"

"Maksud gue... hubungan lo sama Kiyo. Dia kelihatan tulus banget sama lo dan perhatiannya itu bukan main-main. Gue tau tujuan kita buat balas dendam itu benar, tapi gue cuma takut nanti lo sendiri yang malah terluka kalau terlalu dalem masuk ke dalam kehidupan mereka. Gue liat jelas banget tatapan mata Kiyo pas dia mandang lo tadi... itu bukan pandangan orang jahat atau orang yang punya niat buruk, Bi."

Bianca terdiam diam tak mampu menjawab seketika. Kata-kata Isabella itu seolah menusuk tepat ke bagian hati yang paling dalam dan paling rawan dalam dirinya. Ia kembali teringat betapa sabarnya Kiyo mengantre demi es krim, betapa lembutnya dia mengemudi agar nyaman, dan betapa beraninya dia membela Bianca di depan ayahnya sendiri.

'Kiyo emang bukan orang jahat, Isa. Yang jahat dan salah itu ayahnya. Tapi masalahnya, Kiyo itu tetap bagian dari keluarga Anderson. Dan di rencana hidup gue, nggak ada tempat buat siapapun yang berhubungan sama nama itu,' batin Bianca dengan rasa perih yang pelan menyebar di dada.

"Gue nggak punya pilihan lain, Sa. Hidup dan masa depan gue udah hancur sejak ayah gue meninggal di penjara akibat fitnah kejam Maxwell. Gue nggak punya waktu dan kesempatan buat mikirin perasaan Kiyo atau perasaan gue sendiri," jawab Bianca dengan suara yang sedikit bergetar namun ia berusaha tetap tegar.

Isabella menghela napas panjang lalu mengangguk pelan. "Ya udah kalau itu keputusan lo. Gue cuma pengen lo hati-hati aja sama diri sendiri. Jangan sampe lo berubah jadi sosok jahat yang sama persis cuma demi menghancurkan orang jahat lain."

Waktu makin larut malam. Isabella sudah terlelap pulas terdengar dari suara napasnya yang teratur dan halus. Namun keadaan berbeda dengan Bianca yang sama sekali belum bisa memejamkan mata. Ia duduk diam di meja kecilnya sambil menatap layar ponsel di tangannya. Ada satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun ia hafal betul siapa pengirimnya.

[00.15] Unknown: Jangan lupa minum obatnya. Tidur yang nyenyak, Bi. Sampai ketemu besok pagi.

Bianca menatap pesan sederhana itu cukup lama. Jarinya sempat ragu dan terhenti di atas tombol ketik untuk membalas, tapi akhirnya ia hanya meletakkan kembali ponsel itu dengan posisi layar menghadap ke bawah.

'Maafin gue, Kiyo. Gue beneran berharap banget kita bisa ketemu dan kenalan di situasi yang jauh beda. Tapi sekarang, gue adalah badai besar yang datang buat ngancurin rumah dan kehidupan lo. Dan gue nggak boleh berhenti atau mundur cuma gara-gara pesan singkat atau sepotong kebaikan kecil kayak es krim cokelat kemarin itu.'

Bianca menarik selimut tipisnya lalu berbaring berusaha mencari rasa hangat di tengah dinginnya udara malam dan dinginnya rencana yang sedang ia susun rapi. Di luar jendela, angin malam berhembus cukup kencang seolah membawa pertanda bahwa kedamaian yang selama ini dirasakan keluarga Anderson tinggal menunggu waktu saja untuk berakhir.

Malam itu Bianca menyadari satu hal penting: bahwa memikul rasa dendam dan membalas kejahatan ternyata jauh lebih berat dan melelahkan dibandingkan apa yang pernah ia bayangkan, terlebih lagi saat perasaan hati mulai ikut campur dalam urusan yang seharusnya hanya dijalankan dengan logika dan kebencian semata. Namun setiap kali bayangan wajah ayahnya yang sakit dan sedih di balik jeruji penjara melintas di ingatannya, tekadnya kembali mengeras dan membatu.

'Besok. Besok gue harus lebih kuat, lebih dan lebih fokus lagi,' gumamnya pelan sebelum akhirnya rasa kantuk mulai menariknya masuk ke dalam mimpi.

1
Tab Adrian
nexttt lahhh... aku kasian sma semuanyaaa
Tab Adrian
dag dig duggg antara apa nihhhh🔥🔥
Tab Adrian
biii.. bales dendam itu sakitt lohhh.. 🥺😐
Tab Adrian
kerasaa bgt centill nya si tuan putri Anderson ituu
Tab Adrian
nyesekk.. semuanya nyesekk.. jiejie ini kalok bikin cerita gk pernah gagal.. selalu bisa bikin pembacaannya masuk ke dalam ceritaaa😍😍😍
Tab Adrian
banyak bgt ya, peluang Bianca buat hancurin keluarga itu
Tab Adrian
jdi semuanya nyakittttt😭
Tab Adrian
😍sakit bgt jdi Bianca banyak beban yg dy tanggung.. pdhl dy cuma pengen bebas hidup kyk remaja biasa pada umumnya tanpa memikirkan dendam dendam dn dendam.. tp aku juga pendendam sihh😅
Tab Adrian
hati hati bi..
Tab Adrian
tuan muda Anderson yg malang ututuru~
Tab Adrian
klok kiyo tau kebenarannya akankah dy terus berjuang demi cintanya atau malah milih untuk berperang
paijo londo
kurang ajar si Jo itu membuat trauma dan dendam banget ayo bec ancurin si Jon tor itu
Reva Reva nia wirlyana putri
wihhh udh lanjut
Reva Reva nia wirlyana putri
bagus kaliii
Reva Reva nia wirlyana putri
kasian biancaaa
Reva Reva nia wirlyana putri
joy tukeran tempet tok atau enggak kan cjm yg jadi pemeran joy, joy nya jdi cwo aja biar pasangan nya sama aku🤭
Reva Reva nia wirlyana putri
agak kasihan sama joy
Kalief Handaru
baru kali ini baca mlnya antagonis khusus ngancurin musuh👍👍 damage banget jos jis
Kalief Handaru
mampir thor kyaknya seru nih
Awe Jaya
lanjut jie
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!