Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.
Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.
Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.
Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
"Tunggu! Saya mohon, tunggu!"
Suara Alvaro pecah, bergema di antara pilar-pilar ballroom yang kini terasa seperti kuburan bagi harga dirinya. Ia berlari, menerjang kerumunan tamu yang masih terpaku, mengabaikan tatapan sinis dan bisik-bisik yang menghujam punggungnya. Langkahnya limbung, hampir menabrak beberapa kursi, hingga ia berhasil mencegat langkah asisten keluarga Galaksi tepat di ambang pintu besar.
"Di mana dia? Di mana Aira sekarang?" Alvaro mencengkeram lengan asisten itu dengan tangan yang gemetar hebat. Matanya merah, bukan karena amarah, melainkan karena rasa sakit yang baru saja menghantam fondasi jiwanya.
Asisten berbaju safari itu berhenti. Ia menatap tangan Alvaro yang mencengkeram jasnya, lalu beralih menatap wajah Alvaro dengan ekspresi datar yang sangat dingin. "Tuan Pratama, tolong lepaskan tangan Anda. Saya memiliki jadwal yang padat."
"Saya nggak peduli soal jadwal kamu! Di mana Aira?!" Alvaro berteriak, suaranya parau, hampir hilang di ujung kerongkongan. "Bara membawanya ke mana? Katakan padaku! Aku harus menemuinya! Aku harus minta maaf... aku... aku harus bilang kalau aku sudah tahu semuanya!"
Asisten itu hanya diam. Keheningan itu justru membuat gejolak di dada Alvaro semakin menggila. Rasa rindu yang selama ini ia tekan, rasa sayang yang ia alihkan secara paksa kepada Airin, kini meledak seperti bom waktu yang meluluhlantakkan logikanya. Ia merutuki dirinya sendiri. Ia membenci setiap detik di mana ia mengabaikan instingnya yang selalu mengatakan bahwa mata sayu Aira adalah rumah yang selama ini ia cari.
Gubrak!
Tanpa mempedulikan statusnya sebagai pewaris tunggal keluarga Pratama, Alvaro menjatuhkan kedua lututnya di atas lantai marmer. Ia bersimpuh di depan asisten itu, kepalanya tertunduk dalam.
"Tolong... saya memohon..." bisik Alvaro, air matanya menetes jatuh ke lantai. "Katakan ke mana Bara membawanya. Saya melakukan kesalahan besar. Saya sudah menyakitinya... saya sudah membiarkan dia menderita sendirian. Katakan padaku, tolong..."
Hadirin di ballroom menarik napas serentak. Sang Pangeran SMA Garuda, yang selama ini dipuja karena keangkuhan dan ketampanannya, kini bersujud di kaki seorang asisten demi seorang gadis yang baru saja ia buang.
Asisten itu menunduk sedikit, menatap Alvaro dengan pandangan meremehkan. "Itu bukan kuasa saya untuk menjawab, Tuan Pratama. Nona Aira bukan lagi urusan Anda. Beliau sudah berada di tangan yang jauh lebih tepat."
"Tapi aku sahabatnya! Aku ksatria yang dia cari!" Alvaro mendongak, matanya penuh permohonan yang menyayat hati.
"Ksatria?" Asisten itu tertawa hambar, sebuah suara yang terdengar seperti ejekan. "Ksatria tidak mendorong putrinya ke lantai. Ksatria tidak menyebut sahabatnya sendiri gila. Jika Anda benar-benar ingin tahu di mana dia... cari tahu sendiri. Itu jika Anda merasa masih memiliki kelayakan untuk berdiri di depannya lagi."
Asisten itu menarik lengannya dari cengkeraman Alvaro, lalu berbalik dan berjalan cepat menuju pintu keluar gedung.
"Tunggu! JANGAN PERGI!"
Alvaro bangkit dengan sisa tenaganya. Ia berlari mengejar asisten itu keluar dari gedung. Tepat saat ia menginjakkan kaki di pelataran luas SMA Garuda, langit seolah ikut menangis. Hujan turun dengan sangat deras, seolah-olah tumpah dari langit untuk membasuh dosa-dosa yang baru saja terungkap.
"AIRA! TUNGGU!"
Alvaro melihat mobil Rolls-Royce hitam itu mulai melaju pelan meninggalkan lobi. Tanpa payung, tanpa pelindung, ia berlari menembus guyuran hujan yang sangat lebat. Bajunya yang mahal kini basah kuyup dalam sekejap, menempel di tubuhnya yang menggigil.
"AIRA! MAAFKAN AKU! JANGAN PERGI!"
Ia terus berlari, kakinya membelah genangan air di aspal. Namun, aspal yang licin karena hujan deras membuatnya kehilangan keseimbangan.
Srakkk!
Alvaro jatuh tersungkur. Lututnya menghantam aspal dengan keras, membuat kain jasnya robek dan kulitnya terkoyak hingga mengeluarkan darah yang langsung tersapu air hujan. Ia merayap, mencoba bangkit, namun tubuhnya seolah sudah mencapai batasnya.
"AIRAAAAA!" Alvaro berteriak histeris, suaranya bersaing dengan gemuruh guntur. Ia menangis tersedu-sedu di tengah jalan, membiarkan wajah tampannya kotor oleh lumpur dan air mata yang menyatu. Ia merutuki kebodohannya. Ia merutuki betapa ia baru sadar bahwa 'Ai' kecilnya ada di depannya selama ini, sedang ia justru menjadi algojo bagi gadis itu.
Beberapa murid yang menyusul keluar berdiri di bawah teras gedung. Mereka menatap Alvaro dengan pandangan campur aduk. Ada yang iba melihat kehancuran pria itu, namun banyak juga yang merasa kesal.
"Baru sekarang dia nangis? Ke mana aja waktu Aira dikunci di gudang?" bisik seorang siswi dengan nada sinis.
"Alvaro! Hentikan kegilaan ini!"
Suara tegas dan berwibawa muncul dari arah pintu gedung. Kakek Alvaro berjalan keluar dengan wajah yang mengeras karena malu. Di belakangnya, beberapa pengawal pribadi berseragam rapi segera bergerak maju membawa payung besar.
"Bawa dia pulang! Sekarang!" perintah Kakek Alvaro dengan suara menggelegar.
Dua pengawal segera menarik lengan Alvaro, mencoba membantunya berdiri. Namun Alvaro memberontak liar. Ia mengibaskan tangan mereka dengan kasar, tubuhnya gemetar hebat.
"Nggak! Lepasin gue! Gue mau cari Aira! Gue harus ketemu dia!" teriak Alvaro, ia menoleh ke arah orang tua Airin yang berdiri tidak jauh dari Kakeknya.
Tatapan Alvaro mendadak berubah menjadi sangat tajam dan penuh kebencian. Ia menunjuk ke arah Airin yang masih menangis ketakutan di pelukan ibunya.
"Loe... loe jalang licik, Airin!" umpat Alvaro dengan nada suara yang begitu rendah namun mematikan. "Loe sudah curi hidup Aira! Loe sudah racuni otak gue dengan kebohongan loe! Gue benci pernah menyentuh tangan kotor loe!"
"Al... aku..." Airin mencoba bicara namun suaranya tercekat.
Alvaro beralih menatap Prasetya dan Ratna yang masih mencoba menjaga sisa harga diri mereka. "Dan kalian berdua... kalian bukan orang tua! Kalian biadab! Kalian tega nyiksa darah daging kalian sendiri demi duit dan nama baik?! Kalian monster!"
Prasetya, yang tadinya diam, akhirnya tidak tahan lagi dengan hinaan anak muda di depannya. Ia melangkah maju sedikit, membiarkan ujung sepatunya basah oleh air hujan. Ia menatap Alvaro dengan tatapan dingin dan menusuk.
"Jangan sok jadi pahlawan sekarang, Alvaro," desis Prasetya, suaranya tenang namun sarat akan racun. "Memang kami yang menempatkan dia di gudang. Memang kami yang mengambil karyanya. Tapi siapa yang setiap hari menghina dia di sekolah? Siapa yang membuang dia saat dia memohon perlindungan?"
Prasetya menyeringai tipis, sebuah seringai yang membuat Alvaro merasa seperti ditusuk di jantung. "Salah kamu sendiri yang tidak peka. Salah kamu sendiri yang tidak bisa mengenali siapa sahabat masa kecilmu. Kamu punya ribuan kesempatan buat nyelamatin dia, tapi kamu lebih milih percaya sama 'cahaya palsu' yang kami tunjukkan. Jadi jangan cuma salahkan kami... salahkan juga mata kamu yang buta itu."
Alvaro membeku. Kata-kata Prasetya menghujamnya lebih dalam daripada dinginnya hujan. Benar. Prasetya benar. Ia memiliki ribuan kesempatan, namun ia membuangnya demi egonya sendiri.
"Arghhhhhhh!"
Alvaro berteriak sekali lagi, suara teriakan yang penuh dengan rasa frustrasi dan keputusasaan. Ia memukul-mukul aspal dengan tangannya yang sudah terluka hingga air di sekitarnya berubah menjadi kemerahan.
"Bawa dia!" Kakek Alvaro memberi tanda lebih tegas.
Kali ini, empat pengawal langsung mengunci tubuh Alvaro. Mereka mengangkatnya secara paksa meskipun Alvaro terus memberontak dan memanggil nama Aira dengan suara yang semakin melemah. Ia diseret masuk ke dalam mobil limusin keluarga Pratama.
Sepanjang jalan keluar gerbang sekolah, Alvaro menempelkan wajahnya di kaca jendela yang buram karena embun dan air hujan. Ia menatap ke arah jalanan yang kosong, berharap ada keajaiban yang membawa Aira kembali. Namun yang ia lihat hanyalah bayangan dirinya yang hancur, ditinggalkan sendirian di tengah badai penyesalan yang ia ciptakan sendiri.
Malam itu, SMA Garuda menjadi saksi runtuhnya dua dinasti besar. Keluarga Maheswari yang kehilangan segalanya, dan Alvaro Pratama yang kehilangan jiwanya. Penyesalan itu datang, mengalir bersama derasnya hujan, namun ia tahu... tak ada lagi pita merah yang akan membebat lukanya kali ini.
si cewe ending nya sama yg lama yg baru hempas