NovelToon NovelToon
Blazing Asura: The Untamed God

Blazing Asura: The Untamed God

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: fandy syahputra

Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Panah Sagitarius dan Gema Kemenangan Pertama

Pagi itu, Akademi Langit Biru terbangun dua jam lebih awal dari biasanya.

Bukan karena gong atau lonceng—tidak ada yang membunyikan apa pun. Ia terbangun karena ribuan orang secara kolektif tidak bisa tidur, dan energi yang dihasilkan oleh ribuan orang yang terjaga dalam antisipasi sudah cukup untuk membuat udara di seluruh kompleks akademi terasa berbeda dari biasanya—lebih hidup, lebih padat, seperti udara sebelum hujan lebat namun tanpa awan.

Yu Fan sudah bangun sejak sebelum fajar.

Ia duduk di atas atap asramanya—tempat yang sudah menjadi semacam kantor tidak resminya untuk berpikir—dengan teh hangat di tangan kanan dan pandangan ke arah timur di mana langit mulai berubah dari hitam ke ungu gelap ke biru tua ke oranye yang sangat tipis di paling pinggir. Di dalam tubuhnya, energi Tingkat 4 yang sudah dua bulan ia haluskan mengalir dalam ritme yang sudah sangat terlatih—tidak perlu diperhatikan untuk tetap berputar, seperti napas yang tidak perlu diperintah untuk terus ada.

Di cincin dimensinya, telur emas-putih-biru berdenyut dalam ritme yang ia sudah hafal. Dua bulan terakhir telur itu sudah berubah sedikit—warna emas di bagian atasnya sedikit lebih intens, dan denyutannya lebih cepat dari saat pertama ia temukan. Sesuatu di dalamnya sedang bersiap, meski untuk apa belum bisa ia identifikasi.

Hari ini, pikirnya. Bukan dengan kecemasan—lebih dengan cara seseorang yang sudah menyelesaikan persiapan yang bisa dilakukan dan sekarang menunggu bagian yang tidak bisa dipersiapkan lebih lanjut.

Langit di timur berubah menjadi oranye penuh.

Dari bawah, suara-suara akademi yang mulai hidup.

Lapangan besar di pusat akademi sudah tidak bisa disebut lapangan lagi pada jam ketiga pagi.

Tim dekorasi—gabungan dari murid senior yang tidak mendapat tugas pertempuran dan staf akademi yang sudah tidak tidur semalaman—sudah bekerja sejak dua hari lalu. Tribun batu permanen yang biasanya mengelilingi arena latihan utama diperluas dengan platform-platform kayu yang diperkuat formasi, menambah kapasitas yang sudah besar menjadi dua kali lipat. Di setiap sudut tribun, tiang-tiang tinggi dengan bendera berwarna biru akademi berkibar—namun malam ini ditambah dengan bendera-bendera lain yang warnanya lebih hangat, lebih emas, warna yang tidak ada dalam koleksi bendera akademi sebelumnya dan yang disiapkan khusus untuk hari ini sebagai simbol keseimbangan antara tuan rumah dan tamu.

Di tengah semua itu, arena pertarungannya sendiri sudah dimodifikasi—lantai batu biasa yang sudah tertandai dari ribuan sesi latihan sebelumnya sekarang dilapisi dengan formasi yang, saat diaktifkan nanti, akan memancarkan cahaya biru tipis dan membatasi area pertarungan secara visual. Di empat sudut arena, kolom-kolom kristal setinggi tiga meter berdiri—pencatat energi yang akan mendokumentasikan setiap teknik yang digunakan dalam pertandingan hari ini untuk arsip akademi.

Ketika Dekan Shen Mingzhi berjalan ke panggung kehormatan pada jam satu siang, dengan jubah kebesaran biru langitnya yang hanya dikenakan pada acara-acara tertentu—bahan yang terasa berbeda dari jubah sehari-harinya, lebih berat, lebih formal, dengan sulaman awan dan naga di tepinya yang mengandung formasi penguatan wibawa yang sangat tipis—ribuan orang sudah ada di tribun.

Wajahnya yang biasanya terlihat seperti enam puluh tahun yang tidak terpengaruh waktu hari ini terlihat sedikit lebih bersemangat dari biasanya—sesuatu di sudut matanya yang tidak selalu ada. Ia melangkah ke tepi panggung dan menatap kerumunan yang sudah sangat tidak sabar itu.

Ia belum mengucapkan satu kata pun, namun kebisingan ribuan orang sudah mulai mereda—bukan karena memerintahkan, melainkan karena kehadiran yang memancar dari seseorang yang sudah sangat lama terbiasa berdiri di depan banyak orang.

"Hari ini," ucap Dekan, dan suaranya—yang dikuatkan oleh Qi bersih yang mengalirkannya ke udara tanpa alat pengeras apa pun—mencapai setiap sudut tribun dengan kualitas yang sama, "bukan tentang siapa yang menang." Jeda yang tidak terlalu panjang. "Namun tentang apa yang bisa kita pelajari dari seseorang yang berdiri di seberang kita dengan cara yang berbeda dari cara kita berdiri."

Sederhana. Tidak ada elaborasi panjang. Dekan Shen selalu percaya bahwa kata-kata yang paling penting tidak perlu banyak teman.

Wakil Dekan Ruan Jing mengambil satu langkah maju.

Ia tidak berbicara. Tangannya bergerak—jari-jarinya membentuk serangkaian segel dengan kecepatan yang membuat gerakan itu terlihat seperti satu gerakan panjang daripada banyak gerakan kecil. Dari telapak tangannya, energi biru keluar bukan sebagai proyektil atau serangan melainkan sebagai bentuk—pertama tidak jelas, kemudian semakin padat, semakin terstruktur, semakin tak bisa disalahartikan.

Formasi Naga Langit.

Naga air yang muncul dari tangannya memiliki panjang yang melampaui ukuran arena pertarungan—badannya meliuk ke atas dalam spiral yang semakin mengecil, kepalanya mencapai ketinggian yang membuat orang di tribun bagian atas harus mendongak untuk melihatnya. Sisik-sisiknya tersusun dari energi yang padat hingga cahaya matahari siang memantulkannya dalam warna-warna yang tidak stabil—biru, kemudian hijau, kemudian hampir putih di titik-titik tertentu.

Tekanan yang memancar dari naga itu terasa bahkan di tribun paling jauh—bukan tekanan yang mengancam, melainkan tekanan yang mengakui bahwa ini adalah sesuatu yang sangat nyata dan sangat besar.

Master Tingkat 6.

Bisik-bisikan yang menyebar di tribun dalam hitungan detik—angka yang, bagi sebagian besar murid yang hadir, sudah melampaui apa yang bisa mereka bayangkan sendiri dengan cara yang hampir abstrak.

Naga itu naik semakin tinggi, kemudian—dengan cara yang terasa sangat disengaja dan sangat terkontrol—meledak di ketinggian yang aman, mekar menjadi ribuan titik cahaya berwarna-warni yang turun perlahan seperti salju yang memilih warnanya sendiri.

Sorak-sorai yang pecah saat itu terasa seperti sesuatu yang memiliki massa fisik.

Dalam kebisingan itu, di pintu gerbang barat arena yang baru dibuka, rombongan dari Akademi Saint-Aurelius masuk.

Sir Alaric von Westmark masuk pertama, dan cara ia masuk sudah mengandung pernyataan tersendiri.

Kuda Sleipnir-nya—yang namanya dalam bahasa Barat kuno artinya yang meluncur dengan lancar, dan nama itu sangat tepat—bukan kuda yang dinaiki melainkan kuda yang bekerja sama dengan penunggangnya. Badannya putih dengan kilauan perak di ujung setiap bulu, dan dari punggungnya dua sayap terlipat rapi—tidak dibuka, dipamerkan, atau didemonstrasikan. Hanya ada, tertutup, sebagai sesuatu yang tidak perlu diperlihatkan untuk diakui keberadaannya. Tingginya hampir dua kali kuda biasa, namun cara ia bergerak tidak membawa beban ukurannya—setiap langkah sangat presisi, seperti setiap kaki diletakkan di titik yang sudah diputuskan sebelum kaki itu diangkat.

Sir Alaric sendiri adalah pria yang usianya di sekitar tiga puluh lima tahun—terlalu muda untuk tampak setua pengalamannya, terlalu berpengalaman untuk tampak semuda usianya. Tingginya di atas rata-rata dengan tubuh yang dibangun bukan untuk tampak mengesankan melainkan untuk berfungsi—tidak ada otot yang ada hanya untuk tampilan, setiap bagian tubuhnya ada karena dibutuhkan untuk sesuatu. Rambutnya cokelat tua dipotong pendek, tidak ada ornamen. Wajahnya simetris dengan cara yang membuat fitur-fiturnya terlihat seperti disusun oleh seseorang yang memprioritaskan fungsi—rahang yang tegas, hidung yang lurus, mata yang berwarna abu-abu kebiruan dan mengandung kualitas yang dikenali Yu Fan dari jarak jauh sebagai kualitas seorang pengamat profesional.

Jubah putihnya—bukan putih suci seperti milik Xueru, melainkan putih yang lebih hangat, putih yang dikenakan di lapangan dan mengandung noda-noda yang sudah sangat sulit dihilangkan meskipun sudah dicuci berkali-kali—dilapisi baja ringan di bahu dan siku. Di pinggang kirinya, pedang dengan sarung biru gelap. Di pinggang kanannya, tidak ada senjata—hanya sabuk dengan beberapa kantong yang isinya tidak terlihat.

Di dadanya, sebuah lambang yang disulam dengan benang emas: lingkaran dengan bintang delapan di tengahnya.

Aura Master Tingkat 4 Tahap Akhir. Satu langkah di bawah Tingkat 5, dengan cara yang terasa sangat stabil—bukan energi yang sedang berjuang untuk mencapai langkah berikutnya, melainkan energi yang sudah sangat nyaman di level ini dan sudah sangat lama mengoptimalkan setiap aspek dari level itu.

Di belakangnya, Garrick—pria dengan tubuh yang terlihat seperti dua orang yang dipadatkan menjadi satu, lehernya lebih lebar dari kepala kebanyakan orang, dan cara ia berjalan yang membuat tanah terasa lebih padat di setiap langkahnya. Perisai bajanya tidak disandang di punggung melainkan dipegang di tangan kiri sebagai aksesoris yang bisa kapan saja menjadi alat. Rambutnya merah tua, dipotong sangat pendek. Wajahnya penuh dengan ekspresi yang tidak berubah banyak dari situasi ke situasi—tenang dengan cara seseorang yang sudah terlalu banyak melihat hal-hal yang mengubah tenang orang lain menjadi tidak tenang.

Seraphina berjalan di sisi kanan dengan jubah biru tua yang memiliki ritme pergerakan sendiri—tidak berkibar biasa, melainkan bergerak sedikit sebelum gerakan tubuhnya seolah mengantisipasi. Di tangannya, tongkat kristal setinggi dadanya dengan kristal merah muda di ujungnya yang berdenyut sangat pelan. Rambutnya merah—merah yang lebih cerah dari rambut Garrick, hampir oranye di ujung-ujungnya—dikepang dua. Wajahnya penuh dengan freckles yang tersebar di hidung dan pipinya, dan matanya hijau dengan ekspresi yang selalu terlihat seperti sedang mencari sesuatu yang menarik untuk diperhatikan.

Caelum berjalan di belakang—pria dengan tubuh yang paling ramping di antara semua orang di rombongan itu, dengan cara bergerak yang lebih ringan dari orang lain, seperti setiap langkahnya didesain untuk meninggalkan jejak sesedikit mungkin. Rambutnya hitam dengan satu garis perak di atasnya dari dahi ke tengkuk—bukan karena usia, warnanya terlalu merata untuk uban. Busur peraknya disandang di punggung dengan tali yang terlihat seperti tali biasa namun mengandung formasi penyimpan yang bisa melepas dan menarik busur itu ke tangan dengan satu gerakan tertentu. Matanya—tajam dengan cara yang tidak hanya visual melainkan terasa seperti kualitas fisik dari perhatiannya—menyapu tribun dengan sangat cepat saat ia masuk, mencatat dan mengkategorikan tanpa berhenti untuk mengkagumi.

Dan kemudian, satu langkah di belakang Caelum—

Jubah biru dengan tepi putih yang lebih ringan dari jubah Sir Alaric, desain yang memadukan estetika Barat dengan sentuhan yang sangat jelas berasal dari tradisi yang berbeda. Di pinggang kanan dan kirinya, sepasang pedang melengkung yang bilahnya berkilauan bahkan sebelum matahari menyentuh permukaannya secara langsung—bilah yang menunjukkan proses penempaan yang sangat lama dan sangat sabar.

Wajah yang sudah berbeda dari malam di panggung pasar beberapa bulan lalu. Sama cantiknya—lebih dari itu, karena sesuatu tentang cara ia berdiri sekarang menambahkan dimensi yang tidak ada saat ia berdiri di atas panggung itu dengan jubah yang lebih lusuh dan mata yang lebih lelah. Rambutnya hitam panjang dikuncir setengah ke atas dengan cara yang fungsional namun tidak mengorbankan estetika. Kulitnya lebih sehat. Dan matanya—yang tadi mengandung kelelahan berlapis-lapis—sekarang mengandung sesuatu yang berbeda: tekad yang sudah menemukan arahnya.

Yan Er.

Yu Fan berdiri di jalur masuk timur bersama rombongan Akademi Langit Biru—Senior Han, Mo Han, Lin Xueru, Fa Hai, dan beberapa murid senior lain yang akan bertugas sebagai cadangan atau saksi teknis.

Senior Han di sampingnya—jubah biru gelap yang sama, wajah yang sama yang tidak banyak berubah ekspresinya dari situasi ke situasi. Mo Han di sisi lain dengan pedang besar Remukan Jiwa-nya yang sudah dicabut setengah dari sarungnya karena refleks—ia memasukkannya kembali saat tersadar. Lin Xueru berdiri dengan postur yang sangat teratur, tangan di sisi tubuh, Pedang Teratai Putih tersimpan rapi. Fa Hai dengan jubah abu-abu dan tasbih merah di tangannya yang sudah berputar pelan sejak ia berdiri di sini.

Dekan menyebut nama mereka satu per satu.

"—dan Yu Fan!"

Dari tribun VIP yang letaknya di sisi selatan panggung kehormatan—tempat duduk yang disediakan untuk tamu kehormatan dan perwakilan kerajaan—sebuah suara membelah semua suara lain dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh satu orang di seluruh akademi ini.

"YU FAAAAANNN!!!"

Jin Yuexin berdiri dari kursinya—kursi yang sudah dinaiki setengah sehingga ia terlihat lebih tinggi—dengan jubah kuning-merahnya yang sangat mencolok di antara pakaian-pakaian yang lebih formal di sekitarnya. Tangannya melambai bukan dengan sekali-dua kali melainkan dengan cara yang mengindikasikan tidak ada niat untuk berhenti dalam waktu dekat. "HABISI MEREKA! JANGAN BERANI-BERANI KALAH ATAU AKU YANG AKAN—"

Tamu kehormatan di sebelah kirinya—seorang tetua dari sekte yang diundang sebagai pengamat—menatapnya dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya bisa memutuskan antara terkejut atau terhibur.

Yu Fan menatap ke depan.

Langkahnya berhenti.

Di sisi yang berlawanan, dari dalam rombongan Akademi Saint-Aurelius, seseorang bergerak ke depan. Langkahnya tidak terburu-buru—terukur, dengan tujuan yang sangat jelas tentang ke mana menuju. Wajahnya mengandung ekspresi yang tidak mudah dikategorikan oleh orang yang belum menghabiskan waktu yang cukup untuk mempelajarinya: sesuatu antara sangat fokus dan sangat tenang, seperti seseorang yang sudah memutuskan sesuatu yang penting jauh sebelum momen ini.

Jarak antara dua rombongan itu—yang seharusnya diisi oleh pertukaran formal antara pemimpin delegasi—dimasuki oleh Yan Er.

Ia berhenti dua langkah dari Yu Fan.

Membungkuk. Bukan membungkuk hormat biasa—membungkuk dalam cara yang sangat spesifik, cara yang memiliki arti dalam tradisi praktisi Timur kuno yang sudah jarang dipraktikkan karena terlalu formal untuk situasi sehari-hari, cara yang mengandung penyerahan penghormatan kepada seseorang yang dianggap memiliki kedudukan lebih tinggi bukan secara hierarkis melainkan secara personal.

"Suamiku." Suaranya cukup keras untuk didengar oleh dua rombongan dan seluruh tribun yang kebetulan sudah sangat sunyi karena semua orang memperhatikan gerakan ini. "Tidak kusangka kita bertemu di sini."

Sunyi total selama dua atau tiga detik penuh.

Kemudian pecah—dalam berbagai bentuk sekaligus.

Di tribun, bisik-bisikan yang awalnya kecil berkembang menjadi percakapan yang berkembang menjadi teriakan-teriakan pertanyaan dari berbagai sudut.

Di tribun VIP, Jin Yuexin yang tadi masih melambai-lambaikan tangannya membeku dalam posisi tangan terangkat. Wajahnya menjalani perubahan yang bisa diamati secara real-time dari satu ekspresi ke ekspresi lain—bangga ke terkejut ke membingungkan ke sesuatu yang merah dan tidak bisa sepenuhnya dikategorikan sebagai satu emosi. "APA?!" Suaranya menembus semua suara lain. "ISTRI?! SEJAK KAPAN ADA ISTRI?!"

Di barisan Akademi Langit Biru, Lin Xueru tidak bersuara. Tangan kanannya yang tadinya rileks di sisi tubuh bergerak sangat perlahan ke arah gagang Pedang Teratai Putih—tidak mencabut, tidak mengancam, hanya menyentuhnya. Buku-buku jarinya memutih sangat sedikit. Wajahnya tidak berubah dari ekspresi yang sangat terkontrol yang selalu ia pilih, namun di sudut matanya yang biru pucat ada sesuatu yang sangat kecil yang bergerak seperti riak di permukaan danau yang tadinya sangat tenang.

Mo Han menatap situasi ini dan membuat keputusan eksekutif bahwa ini bukan sesuatu yang perlu ia komentari secara verbal.

Fa Hai mengatupkan tangannya. "Amitabha."

Senior Han menatap ke depan dengan cara yang menunjukkan ia sudah mengkategorikan situasi ini sebagai tidak relevan dengan misi hari ini dan sudah memindahkan perhatiannya ke hal yang lebih penting.

Yu Fan menatap Yan Er dari jarak dua langkah.

Di wajahnya—di bawah semua observasi dari semua arah yang ia rasakan sebagai tekanan yang sangat nyata meski tidak berbentuk fisik—ada satu ekspresi yang tidak berubah: ekspresi seseorang yang tidak terkejut oleh situasi yang terkejutkan semua orang lain, namun belum memutuskan dengan tepat apa yang harus dikatakan tentangnya dalam waktu tiga detik.

"Yan Er," ucapnya akhirnya. Suaranya sangat tenang—terlalu tenang, dengan cara yang seseorang yang mengenalnya sudah dua tahun akan kenali sebagai cara seseorang yang memilih sangat hati-hati setiap suku kata yang akan keluar. "Kau sudah berlatih."

Yan Er mengangkat kepalanya dari bungkuknya. Di matanya ada sesuatu yang, jika dilihat dari jauh oleh seseorang yang tidak tahu ceritanya, akan terlihat seperti kepuasan sederhana. Namun dari jarak dua langkah, ada lapisan lain di bawah kepuasan itu—tekad yang sudah sangat lama menunggu untuk dibuktikan. "Dua bulan di akademi mereka cukup untuk membuktikan bahwa teknikku bisa berbicara di level yang lebih tinggi dari panggung pasar." Kemudian, dengan sudut bibirnya yang bergerak sangat sedikit namun sangat disengaja: "Di arena ini aku adalah lawanmu. Aku tidak akan mengalah."

"Aku tidak mengharapkan yang lain."

Dari belakang Yan Er, Sir Alaric yang mengamati pertukaran ini dari atas punggung Sleipnir-nya mengerutkan alisnya sedikit—bukan dengan ketidaksetujuan, melainkan dengan ketertarikan yang tidak ia harapkan ada di awal hari seperti ini. Di sampingnya, Seraphina berbisik sesuatu kepada Caelum yang membalasnya dengan ekspresi yang tidak bisa memutuskan antara bingung atau terhibur.

Dekan Shen, yang mengamati semua ini dari panggung kehormatan dengan ekspresi yang sangat netral, menoleh sangat sedikit ke arah Wakil Dekan Ruan di sampingnya. Ruan Jing menoleh sedikit kembali. Tidak ada kata-kata.

Kemudian Dekan kembali menghadap arena dan mengangkat suaranya. "Mari kita mulai."

Aturan pertandingan disampaikan oleh seorang referee—murid senior paling tua yang pernah ada di akademi, seseorang yang sudah memutuskan bahwa peran terbaiknya bagi institusi ini adalah memastikan pertarungan-pertarungan penting berlangsung dengan adil. Suaranya datar dan sangat jelas, tanpa dramaturgi.

Lima ronde. Masing-masing ronde satu lawan satu. Pemenang adalah yang memenangkan tiga dari lima ronde, atau yang secara kumulatif menunjukkan superioritas yang tidak bisa diperdebatkan. Dilarang membunuh. Dilarang menggunakan senjata atau teknik yang sengaja dirancang untuk merusak permanen. Formasi pelindung arena akan aktif jika energi yang dilepaskan melampaui ambang batas tertentu untuk melindungi penonton.

"Ronde pertama. Perwakilan Akademi Langit Biru: Yu Fan. Perwakilan Akademi Saint-Aurelius: Caelum."

Caelum masuk ke arena dengan cara seseorang yang sudah sangat terbiasa dengan arena—langkah yang tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, memberi tahu bahwa ia tidak terburu-buru namun juga tidak meremehkan. Busur peraknya sudah di tangan kanannya, jemari kirinya membuka dan menutup beberapa kali dalam gerakan yang sudah sangat terlatih—cara seseorang yang mempersiapkan otot-otot tangannya sebelum digunakan secara serius.

Dari dekat, Caelum lebih menarik dari yang terlihat dari jauh. Ada asimetri kecil di bahunya—bahu kanan sedikit lebih tinggi dari kiri, perbedaan yang hampir tidak terlihat namun yang menunjukkan seseorang yang sudah sejak sangat muda menghabiskan lebih banyak waktu dengan satu sisi tubuh dari yang lain. Matanya yang tajam seperti elang bergerak ke Yu Fan dengan cara seorang pemanah melihat target—bukan dengan merendahkan, melainkan dengan menganalisis. Mengukur. Mencari titik paling efisien.

"Jadi kau yang membuat Yan Er terobsesi selama dua bulan ini," ucapnya. Bahasa Timurnya sangat baik untuk seseorang dari wilayah Barat—ada aksen yang tidak bisa sepenuhnya dihilangkan, namun pemilihan kata dan strukturnya sempurna. "Di akademi kami, ia tidak banyak berbicara. Hanya berlatih. Namun setiap kali ia berbicara, namamu yang keluar." Ia memutar busurnya dalam gerakan melingkar yang sangat cepat—bukan untuk efek visual, melainkan pemanasan sendi pergelangan tangan. "Aku penasaran apa yang membuatnya begitu yakin."

Yu Fan menghunus pedangnya. Bilah hitam-perak yang sudah dua tahun bersamanya memancarkan aura Tingkat 4 yang stabil—tidak dramatis, tidak berlebihan, hanya ada dan sangat nyata. "Kalau kau terus berbicara, aku khawatir kau tidak akan punya waktu untuk menarik tali busurmu."

Sesuatu di mata Caelum berubah. Bukan marah—lebih seperti ia mengubah kategori evaluasinya tentang Yu Fan dari target ke lawan yang perlu diperhatikan lebih serius. "Mulai sekarang, aku tidak akan berbicara lagi."

Gong berbunyi.

Caelum tidak bergerak ke belakang untuk menciptakan jarak—ia bergerak ke samping, spiral yang semakin melebar sambil menarik tali busurnya dalam satu gerakan yang sangat fluid. Tiga anak panah dilepaskan sekaligus dari tangan yang sama—bukan satu per satu, melainkan tiga di antara jari-jarinya yang dilepaskan dalam urutan yang berbeda dari satu gerakan menarik tunggal, menghasilkan tiga jalur yang berbeda namun semua menuju ke area vital yang berbeda dari satu target.

Yu Fan membacanya.

Teknik Langkah Awan versi yang sudah sangat dimodifikasi—tubuhnya bergerak dalam kurva yang memotong ketiga jalur panah itu dari sudut yang membuat ketiga-tiganya melewatinya dalam fraksi detik berurutan, masing-masing melewati ruang yang ia tinggalkan tepat saat panah itu tiba. Tidak ada satu pun yang beradu dengan tubuhnya. Tidak ada tangkisan, tidak ada defleksi—hanya menghilang dari jalur-jalurnya.

Di tribun, seseorang dari murid senior berbisik kepada kawannya: "Lihat cara ia bergerak. Bukan menghindar dari panah—ia menghindari jalur yang akan ditempuh panah sebelum panah itu ada di sana."

Caelum menarik napas. Melepaskan lima panah berikutnya dalam pola yang berbeda—kali ini bukan semua menuju ke titik yang sama, melainkan menyebar untuk menutup sudut-sudut penghindaran yang digunakan Yu Fan tadi.

Ia belajar dari tiga panah pertama. Dalam satu putaran.

Yu Fan mempercepat langkahnya—tidak menjauhi Caelum melainkan mendekat, mengurangi jarak yang menjadi keuntungan utama pemanah. Pada jarak yang lebih dekat, sudut penembakan menjadi lebih sempit, dan dengan setiap langkah yang berkurang di antara mereka, satu jalur penghindaran tambahan terbuka yang tidak bisa ditutup oleh panah tambahan karena sudut geometrisnya tidak mengizinkan.

Caelum mundur sambil menembak—tiga, empat, tujuh anak panah dalam gerakan mundur yang tidak kehilangan stabilitas posturnya. Di tangannya, anak panah muncul dari kantong-kantong kecil di sabuknya dengan cara yang sangat mekanis—setiap panah sudah ada di posisi yang tepat sebelum tangan yang membutuhkannya tiba di sana.

"Berhenti menghindar!" suaranya keluar—Caelum yang tadi berjanji tidak akan berbicara lagi, berbicara juga, dengan cara seseorang yang frustrasinya lebih kuat dari rencananya.

Yu Fan berhenti melangkah. Berdiri di titik tengah arena.

"Cukup pemanasannya," ucapnya. "Keluarkan semua yang kau punya, atau pertandingan ini akan selesai sekarang."

Di sisi barat arena, Sir Alaric yang mengamati dari luar dengan Sleipnir di sampingnya mengerutkan alisnya sangat sedikit. Di sampingnya, Garrick tidak bergerak namun matanya sudah sedikit lebih terbuka dari sebelumnya.

Caelum menatap Yu Fan dari jarak dua puluh meter. Kemudian ia menutup matanya selama tiga detik.

Saat dibuka, irisnya sudah berubah—dari hitam tajam biasa ke putih perak yang memancar dari dalam, seperti bulan yang naik di dalam matanya. Dari bahunya, dari punggungnya, dari setiap titik di permukaan tubuhnya—cahaya putih perak merembes keluar dan mengumpul di sekelilingnya dalam lapisan yang sangat tipis namun sangat nyata.

Berkat Sagitarius.

Retakan cahaya muncul di sepanjang lengan dan wajahnya—bukan retakan yang rusak, melainkan retakan yang membuka, seperti cangkang yang membiarkan sesuatu yang ada di dalam keluar sedikit. Dari retakan-retakan itu mengalir cahaya yang sama dengan yang ada di matanya.

"Energi apa itu?" bisik seseorang di tribun.

"Bukan Qi," jawab seseorang lain. "Sesuatu yang berbeda. Lebih seperti... koneksi. Dengan sesuatu di luar tubuhnya."

Caelum melesat.

Kecepatannya sudah berbeda—ini bukan kecepatan yang hanya berasal dari tubuh fisiknya melainkan kecepatan yang diberdayakan oleh sesuatu yang lebih besar dari tubuhnya, seperti perbedaan antara berlari dan ditembakkan. Ia berpindah posisi dalam interval yang lebih pendek dari yang bisa diikuti mata—di sini, kemudian di sana, kemudian di tempat ketiga yang tidak logis dari dua posisi sebelumnya.

Anak panah yang ia lepaskan dari kondisi ini tidak hanya cepat—mereka mengikuti. Bukan dengan cara proyektil yang diarahkan, melainkan dengan cara sesuatu yang memiliki niat. Mereka berbelok di udara mengikuti pergerakan Yu Fan dengan sudut yang tidak seharusnya bisa dieksekusi oleh benda yang tidak punya kendali atas dirinya sendiri.

Teknik Saint-Aurelius : Panah Pengejar Jiwa.

Yu Fan memutar pedangnya. Bukan untuk menyerang—untuk menciptakan pola energi yang berbeda dari pola gerakannya sendiri, mengecoh sistem pelacakan anak panah-anak panah itu yang mengikuti energi, bukan fisik. Setiap putaran pedangnya melepaskan titik energi Yin yang sangat kecil ke berbagai arah—umpan yang membagi perhatian pelacak anak panah itu antara target asli dan titik-titik palsu.

Namun ini menguras energi dua arah sekaligus—melindungi diri sambil menciptakan umpan—dan Caelum dalam kondisi Berkat Sagitarius-nya menembak lebih cepat dari yang bisa diimbangi oleh umpan-umpan Yu Fan secara berkelanjutan.

Sebuah anak panah melintas di pipinya—cukup dekat untuk meninggalkan garis merah tipis namun tidak menembus. Satu lagi mengenai lengan bajunya—merobek kain namun tidak menembus kulit karena lapisan Qi yang ada di permukaan kulitnya menyerap sisa energi yang ada.

Ada, Yu Fan mencatat ini. Celah di antara ritme tembakan pada interval keempat—ketika Caelum berpindah posisi setelah seri ketiga, ada jeda sangat singkat saat ia mengkonfirmasi posisi baru sebelum menembak lagi.

Ia menunggu.

Seri pertama. Seri kedua. Seri ketiga. Caelum berpindah posisi—

Yu Fan melepaskan selapis sangat tipis energi Yin. Bukan dari telapak tangannya, bukan dari ujung pedangnya. Dari telapak kakinya, ke tanah di bawahnya, menyebar ke segala arah di bawah permukaan arena dalam pola yang tidak terlihat dari atas.

Caelum mendarat di posisi barunya.

Dan di bawah kedua kakinya—tanpa ia tahu—lantai arena sudah mengandung lapisan energi Yin yang mengubah konduksi Qi di permukaan tersebut. Saat ia mencoba mengkonfirmasi posisi barunya menggunakan koneksi dengan roh Sagitarius-nya yang bekerja melalui tanah di bawahnya—ia merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang menggangu.

Jeda yang Yu Fan tunggu menjadi satu detik lebih panjang dari biasanya.

Satu detik penuh.

Yu Fan melesat.

Teknik Pedang Yin : Garis Tunggal Membelah Bintang.

Tidak ada elaborasi—satu langkah ke depan yang memanfaatkan seluruh energi Tingkat 4 sebagai dorongan, tubuhnya bergerak dalam garis lurus yang menembus jarak dua puluh meter dengan cara yang melampaui kecepatan normal Tingkat 4 karena tidak ada gerakan sia-sia di dalamnya, tidak ada persiapan yang terlihat, tidak ada telegraphing. Pedangnya terangkat bukan untuk tebasan melainkan untuk defleksi—tepat saat anak panah pertama dari seri berikutnya Caelum dilepaskan, pedang Yu Fan menyentuh batang panah itu dari sudut yang mengubah jalurnya sembilan puluh derajat.

Dan Yu Fan sudah di belakang Caelum.

Ujung pedangnya berhenti dua sentimeter dari titik di bawah telinga kanan Caelum—titik yang dalam anatomi energi manusia adalah titik paling efisien untuk menghentikan aliran Qi ke seluruh sistem dengan tekanan minimal.

Cahaya putih perak yang melapisi Caelum berkedip—kemudian perlahan mulai mengendur, seperti cengkeraman yang melemah saat tenaga di belakangnya tidak lagi memadai. Retakan-retakan cahaya di wajah dan lengannya menutup satu per satu.

Caelum berdiri sangat diam dengan ujung pedang dua sentimeter dari telinganya, selama beberapa detik yang terasa jauh lebih panjang dari hitungannya.

Kemudian, sangat perlahan, busurnya turun.

Langkah-langkah kakinya goyah—bukan karena luka fisik, melainkan karena Berkat Sagitarius yang sudah menguras cadangan energinya yang tersisa di atas kapasitas normal tubuhnya. Ia duduk ke tanah dengan satu lutut, napasnya bukan memburu melainkan sangat pelan dan sangat terkontrol—cara seseorang yang sudah sangat terlatih untuk tidak memperlihatkan lebih dari yang diperlukan bahkan dalam kondisi kelelahan.

"Pemenang," ucap referee, "Yu Fan."

Sorak-sorai tribun pecah dalam gelombang yang berbeda-beda—paling keras dari sisi timur tempat murid akademi duduk, lebih tenang namun tidak absen dari sisi barat tempat pengamat netral duduk.

Di pinggir arena sisi barat, Sir Alaric menatap Yu Fan yang berdiri di tengah arena dengan aura yang sudah kembali ke stabilitas biasanya—tidak pamer, tidak dramatis, hanya berdiri. Tangan kanannya yang memegang tali Sleipnir sedikit mengendur. Di sisinya, Garrick bergeser sedikit dengan cara yang tidak banyak artinya namun yang dari seseorang yang sudah sangat lama mengenal Garrick artinya: ini menarik.

Seraphina berbisik sesuatu. Sir Alaric mengangguk sangat sedikit tanpa mengalihkan pandangannya dari arena.

Di sisi timur, Yan Er menatap pertarungan yang baru saja selesai dari posisinya di pinggir arena sisi barat. Di matanya tidak ada ekspresi yang mudah dibaca—ada terlalu banyak hal yang ada di sana sekaligus. Kemudian ia mengalihkan pandangannya dari arena ke sisi berlawanan tempat Yuexin sudah berdiri dari kursinya dan bersorak dengan cara yang tidak memerlukan deskripsi lebih lanjut, dan sesuatu di sudut bibir Yan Er bergerak sangat kecil.

Di tribun VIP, Yuexin yang tadi sudah berteriak berhenti berteriak. Masih berdiri, masih menatap arena, namun sesuatu di dalam ekspresinya sudah berubah dari kemarahan tentang istri ke sesuatu yang lebih kompleks yang ia tidak beri nama karena memberinya nama berarti memutuskan sesuatu tentangnya.

Yu Fan meninggalkan arena.

Saat berpapasan dengan Caelum yang berjalan ke pinggir arena didampingi Seraphina, pemanah itu menghentikan langkahnya.

"Teknik mengirim energi melalui tanah itu," ucap Caelum. Suaranya tidak mengandung kecewa—mengandung sesuatu yang lebih mirip dengan keinginan untuk mengerti yang tadi ia sembunyikan di awal pertarungan. "Itu bukan teknik dari sekte mana pun yang ada dalam referensi kami."

"Tidak," jawab Yu Fan. "Bukan dari sekte mana pun."

Caelum mengangguk satu kali—sangat kecil, namun sangat tulus. Kemudian ia melanjutkan langkahnya.

Yu Fan melanjutkan langkahnya ke arah yang berlawanan—ke arah rombongan Akademi Langit Biru yang sudah menunggunya.

Dari kejauhan, suara Yuexin sudah mulai lagi—kali ini campuran antara memuji kemenangan dan menuntut penjelasan tentang hal lain yang sudah ia simpan sejak awal acara dan sepertinya sudah tidak bisa disimpan lebih lama lagi.

Yu Fan menarik napas panjang.

Pertarungan yang paling berbahaya hari ini mungkin bukan di arena.

1
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
🫰
Xiao
eumm
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 2 replies
Muo
semangat thor/Determined//Determined/
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 2 replies
F.S
hai Pembaca sekalian kalau kalian suka dengan novel ini jangan lupa kasi rating 5 ya
WER
semangat author 👍👍👍👍
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya ". zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 3 replies
F.S
hehehe🤭 support terus
T28J
cocok sama saya Thor... 👍
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!