NovelToon NovelToon
SUKSESNYA ISTRI YANG TERSAKITI

SUKSESNYA ISTRI YANG TERSAKITI

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Selingkuh / Cerai / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Menjadi istri Ferdiansyah adalah ujian kesabaran tanpa batas bagi Sekar. Di rumah mertuanya, ia tak lebih dari babu yang harus melayani keluarga suaminya dengan jatah uang belanja hanya 25 ribu rupiah sehari. Ferdi selalu berdalih ekonomi sulit dan menuntut Sekar untuk terus berhemat, bahkan hanya untuk membeli bedak seharga 30 ribu pun Sekar harus menerima hinaan menyakitkan.
Ferdi ternyata menyimpan rahasia besar. Ia naik jabatan dengan gaji fantastis yang ia sembunyikan rapat-rapat. Tak hanya pelit pada istri sah, Ferdi ternyata berselingkuh dengan bawahannya di kantor. Tak mau hancur, Sekar mulai bangkit secara diam-diam. Lewat bantuan Amelia, ia belajar menjadi penulis novel sukses yang menghasilkan pundi-pundi rupiah dari balik layar ponselnya. Saat suaminya sibuk berkhianat dan mertuanya terus menghina, Sekar justru sedang membangun kerajaan hartanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memaksa Menikah

"Gak bisa gitu dong, Mas! Masa tiba-tiba dibatalin? Aku udah ngomong sama ibuku kalau minggu depan bakal ada yang datang melamar.” protes Manda dengan wajah kesal.

Ferdia yahyang sedari tadi duduk di ruang gudang belakang pabrik langsung mengacak rambutnya frustasi. Kepalanya sudah terasa berat sejak pagi, ditambah lagi Manda terus mendesaknya tanpa henti.

“Ya terus kenapa kamu buru-buru ngomong ke ibumu sih?” bentak Ferdiansyah akhirnya. “Ini baru rencana, Manda! Aku aja baru ngomong sama ibuku. Belum tentu semuanya lancar!”

Manda langsung terdiam sesaat. Selama mereka pacaran diam-diam, baru kali ini Ferdiansyah membentaknya seperti itu.

“Memang salah kalau aku ngomong sama ibuku?” balas Manda gak terima. “Kemarin kita udah sepakat mau nikah, kan? Kamu minta restu ibumu, aku juga minta restu ibuku. Salahnya di mana?”

Ferdiansyah menghembuskan napas kasar.

Masalahnya bukan di situ.

Masalahnya sekarang dia mulai takut semuanya ketahuan Sekar.

“Aku gak mau tahu pokoknya.” lanjut Manda sambil melipat tangan di dada. “Minggu depan kamu harus datang ke rumah. Walaupun aku cuma jadi istri kedua, aku tetap mau dilamar secara baik-baik. Aku juga mau pesta.”

Mata Ferdiansyah langsung melotot.

“Pesta?”

“Iya! Emang kenapa? Ini nikahan pertamaku!”

Ferdiansyah sampai memejamkan mata menahan emosi. Kepalanya rasanya makin cenat-cenut mendengar permintaan itu.

Dia langsung berdiri lalu menatap Manda tajam.

“Kamu masih ingat syarat awal waktu mau jadi istri keduaku gak?”

Manda mengangguk santai. “Ingat.”

“Apa?”

“Nikah diam-diam. Jangan sampai Sekar tahu.”

“Nah terus kalau kamu minta pesta, itu namanya apa?” suara Ferdiansyah mulai meninggi. “Kamu mau semua orang tahu aku nikah lagi?”

Manda mulai mengerucutkan bibir.

“Rumahku jauh dari rumah kalian, Mas. Mana mungkin Sekar tahu?”

“Kamu polos atau gimana sih?” Ferdiansyah mulai kesal. “Di desamu itu kalau ada yang kerja di pabrik gimana? Semua orang di tempat kerja tahu aku udah punya istri!”

Ferdiansyah sebenarnya punya alasan lain yang lebih besar.

Uang.

Dia gak punya uang sebanyak itu buat bikin pesta.

Belum lagi uang dua puluh juta yang hilang beberapa waktu lalu sampai sekarang belum ketemu. Dia masih pusing memikirkan itu. Kalau harus bikin pesta lagi, dari mana biayanya?

Baginya, menikah dengan Manda cukup sah di agama saja. Tidak perlu ribet. Yang penting dia bisa memiliki Manda sepenuhnya tanpa takut dosa.

“Pokoknya gak ada pesta.” tegas Ferdiansyah. “Nikah sederhana aja. Ada penghulu, saksi, selesai.”

“Tapi aku pengen jadi pengantin kayak orang-orang…” rengek Manda dengan mata mulai berkaca-kaca.

Ferdi malah makin tidak sabar.

“Kalau kamu masih mau jadi istriku, ya ikuti aturan aku. Kalau gak mau ya udah. Banyak perempuan lain yang mau jadi istri simpananku.”

Ucapan itu langsung membuat Manda terdiam.

Dadanya sesak mendengarnya.

Namun karena terlalu cinta, dia tetap bertahan meski diperlakukan seenaknya.

“Sekarang keluar sana.” usir Ferdiansyah dingin. “Sebentar lagi jam istirahat habis.”

“Mas… kamu jahat banget…”

Air mata Manda akhirnya jatuh. Tapi Ferdiansyah malah membuang muka.

Manda pun pergi sambil menangis.

Begitu pintu tertutup, Ferdiansyah langsung menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Paling males sama cewek yang banyak maunya.” gumamnya kesal.

Padahal dia sendiri tidak sadar, yang dia cari hanya perempuan yang mau diatur tanpa banyak protes.

**

Sementara itu di rumah, Sekar Sari masih bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

Padahal diam-diam dia sudah berhasil mengamankan uang Ferdiansyah yang hilang itu.

Semua uang sudah masuk ke rekening baru yang hanya dia pegang sendiri. Buku tabungan dan ATM pun dia sembunyikan di tempat aman.

Sedangkan kartu ATM lama?

Sudah dihancurkan Sekar sampai patah dua.

Barang bukti harus dilenyapkan.

Sekar sampai tersenyum sendiri mengingatnya.

“Pinter juga aku ternyata.” gumamnya puas.

Tiba-tiba….

“Belum masak kamu?!”

Suara Bu Nimas yang muncul mendadak membuat Sekar kaget setengah mati.

“Ya ampun! Ibu bikin kaget aja!” pekik Sekar sambil memegang dada.

Bu Nimas langsung melotot.

“Heh. Berani-beraninya kamu ngomel sama mertua.”

Sekar langsung mendecakkan lidah kesal.

“Ya salah sendiri muncul tiba-tiba kayak ninja.”

Plak!!!

Bu Nimas menoyor kepala Sekar pelan.

Seketika wajah Sekar berubah.

“Ibu jangan noyor kepala Sekar sembarangan ya.” katanya sambil menatap tajam. “Kalau Sekar emosi, nanti Sekar bales beneran.”

Bu Nimas langsung salah tingkah walau tetap berusaha galak.

“Halah, mantu aneh. Durhaka!”

“Yang aneh itu ibu.” balas Sekar cepat. “Datang-datang nyuruh masak, tapi uang belanja gak ada.”

Bu Nimas langsung berhenti melangkah.

“Memangnya Ferdi gak kasih uang?”

“Gak ada.”

“Bohong. Kalau nggak kenapa kita sarapan tadi pagi?”

Sekar langsung menunjuk meja makan.

“Tadi pagi Sekar cuma goreng telur ayam punya ibu buat sarapan.”

“Apa??? Kamu ambil telur ayam ibu?” pekik Bu Nimas heboh.

“Ya mau gimana lagi? Masa makan nasi doang?”

Bu Nimas langsung mengomel panjang lebar sampai Sekar memutar mata malas.

“Yaudah nih!” Bu Nimas akhirnya menyerahkan uang sepuluh ribu. “Belanja sana!”

Sekar melongo.

“Sepuluh ribu?”

“Iya! Emang kurang?”

Sekar sampai ingin ketawa.

“Hari gini sepuluh ribu dapat apa, Bu?”

“Terserah kamu pokoknya masak yang enak!”

Setelah berkata begitu, Bu Nimas langsung pergi.

Sekar cuma bisa geleng-geleng kepala.

Akhirnya dia pergi ke warung kecil dekat rumah membeli tahu dan tempe. Sayur bayam bahkan dia petik sendiri di belakang rumah.

Sambil memasak, mulut Sekar terus mengomel sendiri.

“Suami gaji jutaan tapi makan tiap hari tahu tempe. Hidup macam apaan ini…”

Makin dipikir, makin kesal.

Untung sekarang dia punya uang sendiri hasil merampok uang suaminya dan juga hasil menulis novelnya.

Begitu masakan selesai, Sekar langsung mandi lalu pergi keluar.

Dia sudah muak makan seadanya terus.

Hari itu Sekar sengaja pergi ke pusat kota. Dia membeli ayam crispy, kebab, es kopi, bahkan duduk santai di mall sendirian.

Rasanya jauh lebih tenang daripada di rumah mertuanya sendiri.

Malam hari saat pulang, seluruh keluarga Ferdiansyah ternyata sedang makan bersama.

Bu Nimas langsung melihat kantong belanja di tangan Sekar.

“Kamu bawa apa?”

“Oh ini?” Sekar mengangkat kantong makanan sambil tersenyum tipis. “Tadi Amelia beliin Sekar kebab sama martabak telur.”

Padahal bohong.

Dia beli sendiri.

Tapi sengaja menyebut nama Amelia supaya tidak ditanya macam-macam.

“Yaudah ya Bu, Sekar mau ke kamar. Tadi Sekar udah masak buat kalian dari uang belanja 10 ribu ibu.”

Bu Nimas langsung menelan ludah melihat aroma martabak yang menggoda.

“Eh… Sekar… ibu mau…..”

Namun Sekar sudah keburu masuk kamar dan mengunci pintu.

Di dalam kamar, dia langsung tertawa puas.

“Huh! Rasain!”

Sementara di luar, wajah Bu Nimas langsung manyun.

Risal sampai menahan tawa melihat ibunya gagal minta makanan.

Sedangkan Ferdiansyah yang baru pulang kerja hanya memandangi pintu kamar dengan tatapan tajam.

Entah kenapa akhir-akhir ini dia merasa Sekar berubah.

Tidak penurut lagi.

Tidak gampang ditindas lagi.

Dan perubahan itu… mulai membuat Ferdiansyah merasa kehilangan kendali di rumahnya sendiri.

1
Dini Hidayani
makin seru nih lanjut ya
Ma Em
Nah mati kamu Ferdi karena kaget karena uang di ATM nya sdh kosong , Sekar hati hati kamu sekarang Ferdi sdh tau uang nya hilang jgn sampai ketahuan Ferdi bahwa Sekar yg ambil uang nya .
💝F&N💝
sukuriiiiiiiiiin
kapoooooooook
Ma Em
Bagus ada orang yg sayang sama Sekar , adik ipar Sekar yg baik mau belain Sekar dan memberitahukan pada Sekar bahwa Ferdi mau nikah lagi sama Manda .
Ma Em
Emang Sekar yg terbaik berani melawan mertua dan suami yg selalu menyiksanya , semangat Sekar maju terus pantang mundur 💪👍.
Ma Em
Sekar hebat berani melawan mertua julid nya juga Ferdi yg tukang selingkuh , semoga Sekar jadi sukses dgn hasil usahanya sendiri .
Ma Em
Bagus Sekar lelaki macam Ferdy mah kalau dibiarin malah ngelunjak kasih uang belanja dus puluh lima ribu mau dipotong lagi emang sinting , lbh baik Sekar ambil saja ATM Ferdy lalu kuras isinya .
Ma Em
Sekar berani melawan suami pelitnya dan mertua yg bawel cuma sayang cuma berani doang tapi bodoh mau saja diperbudak sama suami dan mertuanya .
Jumi
KK, seru bgt ceritanya... semangat trs y k
Noona Rara: Iyaaa....Makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!