NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pelayan Terbuang

Bangkitnya Pelayan Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

"Wajah bak dewa, namun nasib bak debu."
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng hanyalah seorang pelayan rendahan tanpa bakat kultivasi. Ia dihina, disiksa, dan dibuang ke hutan kematian hanya karena ketampanannya dianggap sebagai penghinaan bagi para tuan muda sekte yang sombong.
Namun, maut justru menjadi gerbang kebangkitannya.
Di ambang kematian, sebuah pusaka terlarang yang telah lama hilang—Sutra Dewa yang Terbuang—memilihnya sebagai wadah. Kitab itu hancur, menyatu ke dalam nadinya, merekonstruksi tubuhnya menjadi sempurna, dan menanamkan ribuan tahun pengetahuan dewa langsung ke dalam benaknya.
Kini, Han Feng kembali bukan untuk melayani, melainkan untuk menagih hutang darah. Dengan otak yang mampu membedah kelemahan lawan dan tubuh yang menyimpan kekuatan surgawi, ia akan membuktikan bahwa mereka yang dulu mengabaikannya akan berlutut di bawah kakinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LANGKAH NAGA, DEBU YANG TERPENCAR

​Sinar mentari pagi menyelinap malu-malu melalui celah atap barak pelayan yang bocor, menyinari partikel debu yang menari di udara. Bagi penghuni Sekte Pedang Langit lainnya, ini adalah pagi yang biasa, penuh dengan rutinitas yang menjemukan. Namun bagi Han Feng, udara hari ini memiliki aroma yang berbeda—aroma kebebasan yang tajam dan murni.

​Ia berdiri di depan sebuah cermin tembaga retak yang selama tiga tahun terakhir memantulkan wajah seorang pecundang. Namun hari ini, bayangan itu telah berubah. Pemuda di dalam cermin itu memiliki garis rahang yang tegas, mata hitam yang menyimpan kedalaman samudera, dan ketenangan yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah melewati gerbang kematian. Han Feng tidak lagi melihat seorang pelayan; ia melihat seorang kultivator yang siap mengguncang langit.

​Kamar itu kosong. Han Feng hanya memiliki satu buntelan kain kecil yang tersampir di bahunya. Isinya sangat sederhana: dua pasang pakaian abu-abu yang bersih, beberapa botol obat penyembuh luka ringan, dan harta paling krusial yang ia miliki saat ini—selembar kupon taruhan dari Rumah Judi Angin Langit. Kupon itu tipis, namun di baliknya tersimpan angka fantastis: 100.000 koin emas.

​"Tiga tahun," bisik Han Feng pelan, suaranya parau namun penuh makna. "Tempat ini memberiku rasa sakit, dan rasa sakit itu adalah guru terbaik yang pernah kumiliki. Tapi sekarang, kolam ini sudah terlalu dangkal. Naga tidak bisa berenang di selokan selamanya."

​Ia melangkah keluar, mengaktifkan Teknik Pernapasan Kura-Kura Emas hingga ke titik di mana keberadaannya hampir tidak terasa. Ia melewati barak pelayan yang mulai riuh dengan suara tawa dan makian, namun tak ada satu pun pasang mata yang menyadari bahwa sosok yang baru saja menggegerkan sekte kemarin sedang berjalan keluar dengan tenang.

​Han Feng sengaja mengambil jalur belakang yang sunyi, mendaki melalui lereng berbatu yang berbatasan langsung dengan Hutan Kematian. Ini adalah jalur yang sama tempat ia hampir mati tiga tahun lalu, dan jalur yang sama tempat ia menemukan takdirnya. Namun, langkahnya terhenti saat ia mencapai sebuah pohon plum tua yang meranggas di batas luar formasi perlindungan sekte.

​Di sana, berdiri seorang wanita dengan jubah sutra putih yang tampak kontras dengan latar belakang hutan yang gelap. Su Yan.

​Wajahnya yang seputih salju tampak lebih pucat dari biasanya. Matanya yang dingin kini menyimpan guncangan yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. Sejak kejadian di gerbang kemarin, Su Yan tidak bisa menutup mata. Bayangan Han Feng yang menghancurkan pedang tingkat Bumi dengan dua jari terus menghantui setiap detik meditasinya.

​"Kau benar-benar berniat pergi tanpa berpamitan pada siapa pun?" suara Su Yan memecah keheningan, dingin namun ada nada getar yang terselip di sana.

​Han Feng berhenti, namun ia tidak membungkuk. Ia berdiri dengan punggung tegak, memberikan kesan seorang ahli yang sedang berbicara dengan junior. "Apa perlunya pamitan? Di mata sekte ini, aku hanyalah debu. Debu tidak perlu meminta izin pada lantai sebelum ditiup angin."

​Su Yan melangkah maju, tangannya meremas ujung jubahnya. "Keluarga Li telah mengirim pesan ke seluruh kota sekitar. Mereka menaruh harga tinggi untuk kepalamu. Jika kau keluar dari sini sendirian, kau hanya akan menjadi mangsa bagi para pemburu hadiah dan pembunuh bayaran mereka. Ikutlah denganku. Aku telah berbicara dengan Guru, aku bisa menjamin statusmu sebagai pengawal pribadiku di Paviliun Salju. Bahkan Utusan dari Sekte Langit Abadi akan menghormatiku."

​Han Feng menatap Su Yan selama beberapa detik, lalu tawa pendek pecah dari bibirnya. Itu bukan tawa penuh kebencian, melainkan tawa murni karena menganggap tawaran itu lucu.

​"Menjadi pengawalmu, Su Yan? Kau masih saja melihat dunia melalui lubang jarum kesombonganmu," ucap Han Feng. Ia melangkah mendekat, membuat Su Yan secara naluriah mundur selangkah karena tekanan aura yang tiba-tiba terasa berat.

​Han Feng merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil yang sampulnya sudah menguning. Ia melemparnya, dan dengan gerakan anggun, Su Yan menangkapnya.

​"Itu adalah esensi dari teknik Hati Salju Abadi yang kau pelajari, tapi ini adalah versi yang murni. Anggap saja ini bayaran atas koin perak yang kau berikan kemarin. Aku tidak suka berhutang, terutama pada seorang wanita," Han Feng tersenyum licik. "Tapi ingat satu hal: teknik ini membutuhkan pemurnian Qi yang luar biasa. Jika kau terlalu bernafsu mencapainya tanpa fondasi yang benar, kau hanya akan menghancurkan nadimu sendiri."

​Su Yan tertegun, menatap buku di tangannya. Ia ingin membantah, ingin marah karena dianggap remeh, namun ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari punggung Han Feng yang sudah mulai menjauh. Dadanya terasa sesak, seolah-olah ada sesuatu yang berharga yang baru saja tergelincir dari jemarinya, dan ia tahu ia tidak akan pernah bisa mengambilnya kembali.

​Setelah menuruni jalur pegunungan, Han Feng tiba di kota bawah. Kota ini sedang gempar karena berita tentang seorang pelayan yang mengalahkan ahli Pondasi Dasar. Han Feng menutupi wajahnya dengan topi bambu lebar, bergerak lincah menuju pasar gelap yang tersembunyi di balik sebuah kedai arak tua yang kumuh.

​Masalah terbesarnya saat ini adalah logistik. Membawa 100.000 koin emas secara fisik adalah kegilaan. Emas sebanyak itu akan membutuhkan setidaknya sepuluh kereta kuda dan pasukan pengawal. Itu sama saja dengan memasang tanda "Rampok Aku" di punggungnya.

​Ia masuk ke toko artefak bernama "Paviliun Harta Karun Terlupakan". Toko itu bau debu dan kayu tua, namun Han Feng tahu pemiliknya adalah seorang ahli penilai barang yang tidak banyak tanya.

​"Aku butuh cincin penyimpanan. Kapasitas besar, minimal seratus meter kubik," kata Han Feng dingin, meletakkan sepuluh koin emas di atas meja sebagai biaya 'pembukaan mulut'.

​Lelaki tua pemilik toko itu mengangkat alisnya, matanya yang kuyu tiba-tiba berbinar. "Seratus meter kubik? Anak muda, itu adalah artefak tingkat menengah yang langka. Harganya tidak main-main. Aku punya satu 'Cincin Awan Perak' sisa lelang bulan lalu. Harganya dua belas ribu koin emas."

​Han Feng tidak menawar. Ia merogoh kantong penyimpanan sementara yang ia miliki dan membayarnya tunai. Setelah cincin perak sederhana itu melingkar di jarinya, ia segera menuju kantor cabang Rumah Judi Angin Langit di pasar gelap.

​Proses pencairan taruhan itu memakan waktu dua jam yang menegangkan. Bandar judi di sana hampir pingsan melihat Han Feng membawa kupon kemenangan dengan rasio 1:100. Mereka mencoba mencari alasan untuk menunda, namun saat Han Feng sedikit melepaskan tekanan Qi emasnya yang membuat meja kayu di sana retak, mereka segera bekerja secepat kilat.

​Gunung emas murni ditumpuk di ruang rahasia. Kilaunya cukup untuk membutakan mata siapa pun. Dengan satu lambaian tangan dan perintah mental, Han Feng mengaktifkan cincin penyimpanannya. Dalam sekejap, gunung emas itu tersedot ke dalam ruang hampa di dalam cincin tersebut.

​Kini, dengan kekayaan yang mampu membeli sebuah kota kecil, Han Feng merasa jauh lebih aman. Kekayaan adalah sumber daya, dan dengan sumber daya ini, ia bisa membeli tanaman herbal langka yang ia butuhkan untuk mencapai Ranah Pondasi Dasar.

​Di gerbang keluar kota, langkah Han Feng terhenti. Sebuah tekanan energi yang luar biasa turun dari langit. Kereta terbang yang ditarik oleh empat kuda sembrani mendarat dengan anggun di hadapannya.

​Utusan wanita tua dari Sekte Langit Abadi turun dengan langkah yang berat namun berwibawa. Di belakangnya, beberapa murid jenius sekte mengikuti, termasuk Long Chen yang menatap Han Feng dengan sorot mata penuh permusuhan.

​"Kau pemuda yang menghancurkan pedang di gerbang kemarin," ucap wanita tua itu. Matanya yang tajam seolah mencoba membedah tubuh Han Feng. "Kau memiliki efisiensi bertarung yang lumayan untuk ukuran seorang pelayan. Tapi ingatlah, dunia luar jauh lebih kejam daripada sekte kecil ini."

​Ia mengeluarkan sebuah kartu perak berbentuk awan dan melemparkannya. Han Feng menangkapnya dengan dua jari tanpa melihat.

​"Itu adalah kartu rekomendasi untuk mengikuti seleksi di Kota Seribu Awan. Jika kau cukup beruntung untuk sampai ke sana hidup-hidup melewati wilayah Keluarga Li, pergilah ke sana. Di sana kau akan bertemu dengan naga-naga sejati yang akan membuatmu menyadari betapa kotor dan kecilnya dirimu saat ini. Jenius seperti Long Chen di sini pun hanyalah ikan kecil di Kota Seribu Awan."

​Han Feng menatap kartu itu, lalu menatap wanita tua itu dengan senyum kecil yang sangat menyebalkan—tatapan yang seolah-olah ia sedang melihat seorang guru taman kanak-kanak yang mencoba menasihati seorang jenderal perang.

​"Kota Seribu Awan... tempat untuk melihat betapa kecilnya diriku?" Han Feng menggumam pelan. "Menarik. Aku selalu suka tempat yang penuh dengan orang-orang sombong. Itu membuat proses menjatuhkan mereka menjadi jauh lebih memuaskan."

​Wanita tua itu mengernyitkan dahi, merasa terhina oleh sikap Han Feng yang tidak memiliki rasa hormat sama sekali. Namun, ia tidak punya alasan untuk menyerang. Ia kembali ke keretanya dan terbang menjauh, meninggalkan debu yang mengepul.

​Han Feng berdiri sendirian di puncak bukit terakhir yang menghadap ke lembah Sekte Pedang Langit. Ia menatap ke belakang untuk terakhir kalinya, melihat bangunan sekte yang kini tampak seperti kotak mainan kecil dari kejauhan.

​Ia meludahi tanah ke arah sekte itu, lalu tertawa terbahak-bahak yang suaranya bergema di seluruh lembah, membuat burung-burung berterbangan ketakutan.

​"Naga emas telah lepas dari kandangnya! Mari kita lihat, siapa yang akan berlutut saat aku tiba di Kota Seribu Awan!"

​Dengan langkah lebar dan penuh percaya diri, Han Feng melangkah menuju matahari terbenam. Masa lalunya sebagai pelayan telah mati, dan hari ini, sang legenda baru saja lahir. Di depannya membentang dunia yang luas, penuh darah, intrik, dan puncak kekuasaan yang menanti untuk ditaklukkan.

1
dikoiku
Luar biasa
Danzo28: Terima kasih! Bagian mana yang menurutmu paling luar biasa di bab ini? Saya penasaran dengan sudut pandang pembaca."
total 1 replies
T28J
senior kuu
lia
menarik
Danzo28: "Selamat datang! Senang sekali kamu mampir. Semoga betah mengikuti perjalanan ini sampai akhir, ya!"
total 1 replies
lia
menarik
Manusia Ikan 🫪
aku tinggalin jejak dulu ya, nanti siang balik lagi, udah subuh soalnya😹
Danzo28: Terima kasih sudah mampir! Happy reading! ✨"
total 1 replies
Iwa Kakap
sepi pembaca agak nya ..
terlalu banyak kata2 mutiara thor hingga membuat cerita ini seakan jalan ditempat.🙏
Danzo28: Siap, terima kasih masukannya! Saya memang sedang bereksperimen dengan gaya narasi tertentu, tapi masukan ini sangat membantu saya untuk tahu mana yang perlu dikurangi supaya pembaca tidak bosan."
total 1 replies
T28J
cocok buat jadi koleksi 👍
T28J: iya thor, saya mampir terus kalau ada waktu..
kamu juga mampir ketempat saya ya, beri nilai novel pertama saya, kritik dan saran boleh kok👍
total 2 replies
Optimus prime
ga ush pakai bahasa inggris thor... cerita cukup bagus....
Danzo28: "Wah, makasih ya pujiannya! Mengenai bahasa Inggris, memang ada beberapa istilah yang sengaja saya pakai untuk menjaga vibes atau suasana ceritanya (misalnya istilah teknis atau gaya bahasa karakter). Tapi saya bakal coba kurangi pelan-pelan kalau dirasa terlalu mengganggu. Terima kasih sarannya!"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!