Takdir membuat wanita bernama Anna terlempar ke zaman sebelum abad pertengahan. Menuntut agar ia bisa mengubah sejarah dan takdir kelam seorang raja tirani.
Namun, alih-alih kekejaman seperti yang di katakan semua orang, yang ia temukan hanyalah sesosok jiwa rapuh yang selalu memperlakukan dirinya dengan penuh kepedulian. Dan perlahan, sebuah rasa mulai tumbuh bersama raga yang ia tempati, tapi, apakah itu pantas? Apakah takdir sudah mengizinkan?
Anna terus menahan perasaanya, sampai ketika ia melihat raja datang dengan darah yang menetes di tangannya, sebuah permintaan akhirnya tidak bisa lagi ia tahan. Jauh di dalam hatinya terucap sebuah permohonan.
"Tolong biarkan aku tetap di sisinya, biarkan aku tetap di tempat ini untuknya, biarkan aku mencintanya sampai
akhir."
Tepat setelah permohonan itu terucap, ia langsung berlari, melangkahkan kakinya menuju orang yang telah menjadi sebagian dari jiwanya.
Namun, mampukah ia bertaruh takdir tidak akan membuatnya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Borraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Asal dia tidak pergi
... Cahaya lilin yang terus bergoyang pelan karena terkena terpaan angin lembut menemani Leo yang tengah sibuk memeriksa catatan dan laporan dari berbagai wilayah di dalam kekuasaannya. Mungkin selama ia hidup, ini adalah kedua kalinya ia bisa merasakan kebahagiaan yang begitu nyata....
... Pikirannya terus mengingat kejadian kemarin malam, saat ucapan lembut yang meminta agar dirinya tidak pergi terucap dari mulut sang istri, dan saat sang istri memeluknya dengan begitu erat yang berhasil membawanya dalam kebahagiaan yang terasa begitu nyata. Sampai sebuah ketukan berhasil mengalihkan atensinya sejenak dari beberapa kertas di tangannya. Dan dengan satu kalimat ia membiarkan orang itu untuk memasuki ruangan kerjanya....
...Tepat ketika pintu besar itu terbuka,terlihat seorang pria yang begitu gagah dengan beberapa luka di wajahnya memasuki ruangan Raja. Bernhard, seorang pria hebat yang telah bersama Raja bahkan sebelum Raja mendapatkan gelarnya....
... " Apa yang sedang di lakukan ratu sekarang? " Itulah hal pertama yang selalu Raja tanyakan pada Jendral yang menjadi tangan kanannya itu setiap sang Jendral datang padanya....
...Hembusan napas kasar lolos begitu saja saat Bernhard mendengar pertanyaan yang sama setiap kalinya. " Tidak bisakah kau mengkhawatirkan dirimu dulu? Sekarang Kaisar telah berencana untuk menurunkanmu dari takhta."...
..." Bukankah dari dulu dia memang ingin menjatuhkanku? " jawab Raja santai seolah itu bukanlah masalah besar baginya. Bahkan ia masih terus membaca laporan yang ada di tangannya....
...Jelas Bernhard sama sekali tidak terkejut mendengar jawaban Raja yang terkesan meremehkan ucapannya. Karena dia tahu bahwa tidak ada lagi yang penting bagi Raja selain Ratu. Tanpa menunggu di perintah, Bernhard langsung menduduki kursi yang berada tepat di depan meja Raja. Tangannya terulur untuk mengambil beberapa laporan yang belum Raja selesaikan, membaca beberapa kalimat sebelum meletakkannya kembali. " Lihatlah, bahkan kekacauan yang terjadi di beberapa wilayah utara adalah peringatan dari Kaisar agar kau segera menyerahkan takhta ini "...
..." Agar bisa di pegang oleh anjing yang patuh dan tunduk padanya, kan?" sambung Raja, membuat Bernhard semakin kesal kenapa pemimpinnya itu seolah tetap tidak peduli pada hal penting seperti ini....
...Bernhard tidak bisa lagi berkata apa-apa karena ia tahu sebesar apapun usahanya agar Raja bertindak, jika itu di luar keinginannya, Raja sama sekali tidak akan peduli....
...Kini Raja menaruh kertas yang dari tadi ia baca, lalu memandang ke arah Bernhard dengan sedikit senyum tipis. " Tenanglah, aku tidak mungkin menyerahkan takhta ini begitu saja, aku bisa menyelesaikan masalah ini, bahkan jika Kaisar sendiri yang menyuruhku untuk turun takhta, aku bisa menghadapinya. " Terdengar suara helaan napas pelan sebelum Raja berbisik melanjutkan ucapanya. " Bagaimana mungkin aku membiarkan Ratuku hidup tanpa gelar. "...
...Akhirnya sebuah tawa keluar dari mulut Bernhard untuk menertawakan dirinya sendiri. " Kenapa aku bisa melupakan hal penting itu sampai harus mengingatkanmu? Kenapa aku bisa khawatir kau akan membiarkan Kaisar mengambil takhtamu? " Bernhard melirik sekilas menunjukkan rasa muaknya pada Raja....
... " Aku tidak pernah merasa sebodoh ini sebelumnya, bagus, kau memang harus mempertahankan takhta ini untuk Ratu, bahkan jika Ratu sangat membencimu. "...
... " Asal dia tidak pergi " jawab Raja setelah helaan napas lelah keluar dari mulutnya....
...Dari kata itu Bernhard tahu betapa besar kesedihan yang di rasakan oleh Raja, saat ia (Raja) harus terikat takdir dengan ramalan yang menyebutnya sebagai seorang monster, dan saat orang yang begitu ia cintai sangat membencinya....
..." Asal kau tahu, aku sangat ingin membenci Ratu, tapi dialah satu-satunya orang yang bisa membuatmu bertahan sampai sekarang, jadi meskipun aku tidak menyukainya, aku tidak pernah membencinya. " ungkap Bernhard....
...Raja tersenyum tenang. " Lebih baik kau memang tidak menyukainya. "...
... " Bodoh! " Bernhard menahan kekesalannya saat Raja menjawab dengan kata seperti itu....
...Dan tepat sedetik kemudian mereka tertawa bersama, sebuah tawa untuk sedikit menghilangkan kesedihan. Sebagai teman yang selalu berjuang bersama, Bernhard tahu betapa sulit dan melelahkannya kehidupan yang di alami Raja, bahkan ia bisa mengerti betapa pentingnya Ratu dalam hidup sahabatnya itu. Karena jika tidak ada Ratu, mungkin Raja sudah lama menyerah dengan hidupnya, saat sebuah ramalan telah membuatnya terlihat seperti monster di mata semua orang. Ramalan yang menyebutnya sebagai kutukan kehancuran dunia....
...Bernhard mengambil secangkir air dan langsung meneguknya saat tawa itu selesai. " Sudahlah, jangan terus berlagak menyedihkan, bukankah Ratu sudah sedikit berubah padamu? "...
..." Aku tahu itu semua hanyalah kebohongan Ratu, tapi tidak masalah, aku rela Ratu terus membohongiku asal dia tidak meninggalkanku. "...
..." Ya ya aku mengerti, asal Ratu tidak meninggalkanmu, baiklah aku masih harus melatih prajurit, cepat selesaikan pekerjaanmu agar bisa bertemu Ratu lebih awal. " Bernhard berdiri dan langsung melenggang pergi tanpa menunggu persetujuan dari Raja....
..." Hati-hati jangan sampai kau merusak senjatamu "...
..." Ya, aku tahu senjata itu lebih penting daripada sahabatmu ini, baiklah aku pergi "...
..." Tutup pintunya "...
..." Bukankah kau punya tangan dan kaki sendiri? " pungkas Bernhard sampai akhirnya ia benar-benar keluar dari ruangan Raja....
...Sikapnya yang semena-mena itu tidak pernah gagal membuat Raja tertawa, sebelum akhirnya pintu itu di tutup oleh penjaga yang berada di luar pintu....
...****************...
... Sekarang kita sebut saja Anna sebagai Anne, agar tidak terlalu membingungkan....
...Di dalam kamar yang masih tertutup rapat, Anne masih mencoba mengingat semua sejarah tentang kerajaan ini yang masih sangat abu-abu, tanpa ada yang memastikan kebenarannya. Bahkan sudah hampir seharian ia mencoba menganalisis semuanya, tapi tetap saja semua sejarah dan legenda yang masih simpang siur itu membuatnya semakin kebingungan....
...Dalam legenda yang beredar dan turun temurun telah di wariskan oleh orang-orang terdahulu menyebutkan bahwa, demi kekuasaan, Raja Leopold memaksa menikahi Anneliese karena ia telah mengetahui ramalan tentang wanita itu, ramalan yang berkata bahwa wanita itu adalah saintess yang hanya akan menjadi istri bagi seorang penguasa. Bahkan Raja Leopold sampai mengurung Anneliese agar tetap di sisinya. Namun, karena pernikahan mereka memang tidak di takdirkan, Anneliese akhirnya bertemu dengan sosok yang memang telah di ciptakan untuknya, Putra Mahkota Kekaisaran Aethelgard, Roland Kerschbaumer. Dan dari hubungan terlarang itu akhirnya Anneliese berhasil membunuh mimpi buruk seluruh dunia, orang yang terlahir dengan ramalan kutukan dunia, yaitu suaminya sendiri, Raja Leopold Alois. Dan sejak saat itu, Anneliese di kenal semua orang sebagai dewi penyelamat, namanya begitu di agungkan di seluruh Kekaisaran dan dengan ramalan yang menyebutnya sebagai saintess, akhirnya ia menikah dengan Putra Mahkota yang telah mewarisi takhta menjadi seorang Kaisar dan menjadi permaisuri. Namun saat sang Kaisar memberinya titah untuk menggugurkan keturunan Raja Leopold yang ada dalam kandungannya, Anneliese menentang dengan tegas dan mengancam jika anak yang di kandungnya harus digugurkan, maka ia akan ikut mati bersama janin itu. Singkatnya, titah di tarik kembali, keturunan Raja Leopold lahir namun tanpa gelar, dan tepat beberapa bulan setelah Permaisuri melahirkan, Kaisar mengangkat seorang wanita bernama Helena sebagai selir. Dari kedua pernikahan itu Kaisar memiliki beberapa keturunan, namun semuanya terlahir dari selir dan tidak ada satupun keturunannya yang terlahir dari permaisuri. Sampai sebuah mimpi buruk yang tidak pernah di pikirkan semua orang akhirnya terjadi. Saat Leon, putra Raja Leopold membunuh Kaisar dan membakar seluruh istana Kekaisaran dengan tangannya sendiri....
...Tiba-tiba telinga Anne berdenging saat memikirkan tentang sejarah itu, kepalanya terasa berat bahkan ia sampai menutup mata untuk menahan rasa sakit itu. Dan jauh di dalam pikirannya, ia melihat dirinya sedang berlari dengan seorang pria yang terlihat mirip seperti Raja Leopold, pria itu tersenyum sambil berkata ke arahnya. " Ibu, sekarang kita bebas, aku melakukan semua ini demi ibu, dan juga ayah. "...
...Anne membuka mata dengan pikiran yang kacau....
...𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘈𝘯𝘯𝘦𝘭𝘪𝘦𝘴𝘦 𝘪𝘣𝘶? 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘓𝘦𝘰𝘯? 𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘥𝘢𝘳𝘪 -𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘣𝘢𝘴? 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘒𝘢𝘪𝘴𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘰𝘥𝘰𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘬𝘥𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯?...