NovelToon NovelToon
Paman Andrew, Aku Mencintaimu!!

Paman Andrew, Aku Mencintaimu!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Indrie Lestari

Setelah berhasil melarikan diri dari siksaan Om dan Tantenya, Bella Claudia remaja (13 tahun) tidak sengaja bertemu dengan sosok Andrew Permana (25 tahun) saat wanita itu ingin mengakhiri hidupnya di usia muda. namun Andrew menghalangi dan menolong Bella pada saat itu, pertemuan di antara mereka tersebut membuat Bella jatuh cinta kepada Andrew saat pandang pertama. hingga beranjak dewasa, tepatnya saat usia Bella menginjak 23 tahun. perasaan itu tumbuh semakin besar untuk pria yang selama 10 tahun dia panggil dengan sebutan paman Andrew tersebut, di saat wanita itu ingin melupakan perasaannya kepada Andrew tiba-tiba sebuah insiden panas di antara mereka terjadi dan membuat mereka terpaksa menikah. semenjak menikah sikap Andrew berubah dingin dan galak kepada Bella, namun wanita itu tidak menyerah dia akan membuat pria itu berbalik mengejarnya dan mencintainya pula.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indrie Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 : Penyiksaan tiada henti

BRUK! Rudi langsung mendorong tubuh Bella kuat hingga tersungkur ke lantai.

Arggghttt sakit! Rintih Bella.

"Sakit kah? Itu belum seberapa, nanti akan aku berikan hukuman yang lebih menyakitkan lagi karena kamu telah berani mencuri kalung milik istri tercinta ku." Ucap Rudi menatap tajam ke arah Bella sembari berdecak pinggang.

"Gimana sudah di mulai belum?" Tanya Tiara ambigu saat memasuki gudang.

"Belum, anak mu lama sekali cuma ngambil gituan saja."

"Sudahlah gak perlu pake itu, aku sudah siap menghajar keponakan mu yang kurang ajar itu dengan kedua tangan ku sendiri."

"Terserah kamu saja sayang aku tidak peduli, yang penting kamu senang." Jawab Rudi yang memamerkan senyumnya saat ini.

"Hahahaha....baiklah akan aku mulai."

melihat sang tante berjalan ke arahnya Bella refleks langsung memundurkan tubuhnya kebelakang dengan ekspresi wajah penuh ketakutan.

"Maafin Bella Om Tante, Bella janji gak akan buat masalah lagi hiks hiks hiks ." mohon Bella.

"Sekali pencuri akan tetap menjadi pencuri!, jadi harus di beri pelajaran agar jera." Ucap Tiara sengit.

PLAK! PLAK! PLAK!

RASAKAN ITU ANAK SIALAN! PANTASAN SAJA IBU MU ITU TIDAK MENGIGINKAN MU DAN PERGI DENGAN PRIA LAIN!

dengan kekuatan yang dia miliki Tiara menampar wajah Bella sembari mencaci maki keponakannya itu yang hanya bisa diam dan pasrah saat di tampar olehnya.

DEG! bagaimana bagaikan menabur garam ke luka yang belum kering, ucapan Tiara begitu menyakitkan untuk di dengar anak seusia Bella yang baru beranjak dewasa.

PLAK! PLAK! PLAK!

Tiara terus menampar wajah Bella sebagai pelampiasan amarahnya. hingga tanpa sadar sudut bibir gadis itu terlihat robek dan mulai mengeluarkan darah segar.

"Ampun tante sakit, hiks hiks hiks!"

Sementara Clara yang baru saja masuk ke dalam gudang sambil membawa cambuk di tangannya terlihat memamerkan senyum puas setelah melihat sepupunya itu sedang di hajar oleh mamahnya sendiri.

"Rasain Lo langsung di hajar sama mamah gua, siapa suruh sok kecantikan sampai berani deket-deket sama Bisma."

"Lama banget ngambil kaya begituan aja." tegur Rudi kepada sang anak.

Clara terlihat memutar kedua bola matanya malas mendegar ocehan ayahnya itu.

"Gak sabaran banget jadi orang!"

Rudi terlihat menaikan pundaknya acuh dan mulai menerima cambuk yang di berikan oleh Clara.

"Udah stop mah, biar papah yang lanjutin ngasih pelajaran anak gak tau di untung itu pakai pecut ini." Ucap Rudi sembari memegang cambuk siap untuk menghukum Bella.

"Silahkan pah, mamah juga udah agak cape ini."

PLAK!

Argghhhtttt! suara rintihan Bella terdengar kembali saat satu cambukan mengenai tubuhnya.

PLAK! PLAK! PLAK!

ARGGHHHTTT SAKIT OM! AMPUN JANGAN CAMBUK LAGI, BELLA GAK KUAT SAKIT SEKALI HIKS HIKS HIKS!

teriakan Bella terdengar begitu pilu dan mengiris hati siapa saja yang mendengarnya, namun bagi Rudi beserta anak istrinya. suara tangis pilu gadis itu terdengar seperti melody musik yang indah di telinga mereka.

PLAK! PLAK! PLAK!

Hampir satu jam Rudi dan Tiara saling bergantian menyiksa tubuh Bella, hingga kini gadis itu telah terbaring lemah di atas lantai dengan wajah yang sudah babak belur dengan sudut bibir robek mengeluarkan berdarah segar. serta tubuh yang di penuhi oleh luka cambuk di sekujur tubuh nya.

Clara terlihat tersenyum senang melihat tubuh sepupunya itu telah terbaring lemah di atas lantai gudang. dengan luka cambukan hampir di sekujur tubuhnya.

"Sudah hentikan mah, kalo sampai Bella mati kita malahan yang repot  harus urus pemakaman dan mengeluarkan uang nantinya." Ucap Rudi begitu sadis seakan nyawa keponakannya itu tidak ada harganya karena tidak akan menghasilkan uang.

"Benar apa kata mu yang ada kita makin repot saja nantinya, ayo kita segera keluar sudah waktunya makan malam juga." Ucap Tiara begitu santai dan terlihat ceria karena ia tidak jadi kehilangan Kalung seharga 500 juta nya itu.

"Iya mah ayo kita segera pergi dari tempat bau dan kotor ini, Clara juga udah laper banget nih." Rengek Clara begitu manja.

"Iya ayo sayang kita segera pergi dari sini." Ucap Tiara.

Sementara di dalam gudang, terlihat Bella yang menatap nanar ke arah pintu yang baru saja tertutup.

Hiks...hiks...hiks ya tuhan sampai kapan aku harus seperti ini?

Saat ini Bella merasa tubuhnya terasa kelu dan tidak bisa di gerakan. Ia pun sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri, yang bisa ia lakukan saat ini hanya menangis hingga air matanya habis. tanpa sadar ia malahan tertidur sangking cape menangis.

******

BYURRRR!!! BANGUN DASAR PEMALAS!

Bella langsung membuka kedua matanya saat wajahnya terasa basah, mata Bella langsung menatap ke arah Clara yang kini sudah berdiri di depannya dengan begitu angkuh.

"Apakah sudah pagi?, apakah sebentar lagi aku akan segera keluar dari sini." batin Bella.

"Ini ada makanan sisa cepet di makan!"

Ucap Clara mulai mendorong piring yang berisikan makanan itu dengan sebelah kakinya seperti sedang memberi makan hewan.

Bella tidak menjawab ia hanya menatap Clara sendu. tubuhnya teras lemas dan sakit semua, rasanya sulit sekali bergerak seperti tubuhnya sudah mati rasa saat ini.

Setelah puas melihat keadaan Bella yang begitu menyedihkan, Clara berniat keluar dari gudang karena ia harus segera pergi ke sekolah.

Namun tiba-tiba saja langkah kakinya terhenti, kini ia mulai kembali berbalik badan dan menatap Bella kembali.

"Asal perlu Lo tahu saja yang menyimpan kalung berlian milik mamah di dalam lemari kamar Lo itu adalah gua, siapa suruh loe deket-deket sama Bisma. Gua puas banget lihat keadaan loe sekarang." Ucap Clara tanpa rasa bersalah sama sekali.

DEG! seketika Bella begitu terkejut setelah mendengar pengakuan Clara barusan, kini raut wajah gadis itu berubah marah dengan kedua tangan yang mengepal kuat.

"Upss... Kayanya ada yang marah nih, tapi sayang banget mau Lo aduin gua ke mamah papah pun mereka gak akan percaya. yang ada Lo  bakalan kena masalah karena di anggap fitnah gua." Timpal Clara dengan wajah mengejek.

"Kenapa....kenapa kamu benci banget sama aku?, Padahal aku gak pernah buat salah sama kamu hiks hiks hiks." Tanya Bella dengan wajah memelas.

"Kesalahan Lo itu cuma satu yaitu lahir ke dunia ini, kalo Lo gak pernah lahir mungkin hidup Lo gak akan semenderita ini hahahaha." Ucap Clara dengan di akhiri gelak tawa seakan mengejek.

Seakan bisu, Bella hanya diam tanpa membalas ucapan Clara. Karena memang ucapan Clara itu ada benarnya juga, jika dia tidak terlahir di dunia ini mungkin hidupnya tidak akan semenderita seperti sekarang.

Setelah puas mengucapkan kata-kata yang menyakitkan bagi Bella, Clara segera pergi dari gudang meninggalkan Bella seorang diri.

"Hiks hiks hiks... apakah aku tidak pantas hidup dan bahagia tuhan?"

Bella terus menangis seorang diri dengan suara yang begitu pilu, kini ia menyadari jika memang tidak ada seorang pun yang mengiginkan dirinya kecuali sang ayah.

*****

Pagi ini bi Sri berniat untuk melihat keadaan Bella, karena sepertinya hukuman untuk gadis itu telah selesai. karena barusan non Clara meminta makanan bekas sisa semalam dan membawa kunci di tangannya. bi Sri menduga sepertinya non Clara akan pergi ke gudang untuk memberikan makanan sisa tersebut kepada Bella.

Sedari tadi bi Sri sudah bersembunyi di balik tembok dekat lorong, menunggu anak majikannya itu keluar dari gudang. tak berselang lama Clara akhirnya terlihat keluar dari gudang dengan bersiul riang, detik berikutnya bi Sri dapat mendengar suara tangis pilu Bella di dalam gudang. sontak saja hal itu membuat bi Sri bingung sekaligus heran.

"Apa yang telah di perbuat oleh non Clara?, kenapa tiba-tiba terdengar suara tangis Bella." gumam bi Sri terlihat begitu khawatir.

Bi Sri segera masuk ke dalam gudang, ia begitu tidak tega melihat keadaan Bella saat ini. Ia berniat untuk membawa gadis itu keluar dan akan segera mengobati luka-lukanya.

"Bella, ini bi Sri. ayo kita segera pergi dari sini." Ucap bi Sri berusaha membantu Bella untuk bangun.

dengan sudah payah akhirnya posisi Bella sudah terduduk di lantai meskipun ia merasakan seluruh tubuhnya begitu sakit hanya sekedar untuk bergerak pelan saja.

"Ternyata yang menyimpan kalung milik Tante di dalam kamar kita adalah Clara hiks hiks hiks." Beritahu Bella dengan berlinang air mata.

Seketika kedua mata bi Sri membulat sempurna setelah mendengar ucapan Bea, dia tidak mungkin salah dengar karena pendengarnya masih berfungsi dengan baik.

"Bella tahu dari mana jika orang itu adalah non clara?" Tanya bi Sri memastikan.

"Clara sendiri yang bilang, dia mengakui sendiri perbuatanya itu di hadapan Bella barusan. alasan Clara melakukan hal itu karena memang sejak awal

Clara tidak pernah menyukai kehadiran Bella di rumah. ini hiks hiks hiks."

"Astaghfirullah kenapa non Clara begitu jahat seperti kedua orang tuanya." Ucap bi Sri langsung memeluk tubuh Bella berusaha menguatkan gadis itu.

"Kita harus segera beritahu tuan dan nyonya tentang non Clara."

Bella terlihat mengelengkan kepalanya kuat, tanda menolak usulan dari bi Sri untuk mengadukan Clara kepada om dan tantenya.

"Sudahlah bi, percuma saja kita beritahu mereka tentang perbuatan Clara. mereka tidak akan percaya dengan ucapan kita, yang ada kita berdua yang malahan akan mendapatkan masalah dan Bella gak mau hal itu terjadi." Ucap Bella menatap sendu ke arah bi Sri.

Bi Sri terlihat menghembuskan nafasnya kasar, karena benar apa yang di katakan Bella barusan. nika ia memaksa untuk melaporkan non Clara kepada kedua majikannya itu yang ada mereka yang malahan akan mendapatkan masalah.

"Iya sudah bi Sri terserah Bella saja, tapi mulai sekarang Bella harus berhati-hati dengan non Clara. bisa jadi dia akan berbuat jahat lagi."

"Iya bi, Bella akan lebih waspada lagi kedepannya." Ucap Bella berusaha tersenyum.

"Iya sudah ayo kita segera keluar dari gudang ini dan mulai obati luka Bella di dalam kamar. setelah itu Bella harus segera makan dan minum obat pereda rasa nyeri." ajak Bi Sri dengan tatapan sedih.

"Iya bi, terimakasih sudah baik sama Bella selama ini. Bella tidak akan pernah melupakan kebaikan bi Sri selama ini." Ucap Bella yang menatap sendu ke arah bi Sri.

"Sama-sama, bi Sri harap Bella bisa keluar dari penderitaan di dalam rumah ini dan hidup bahagia di luar sana. kalo sudah bahagia jangan lupa jemput bi Sri di sini hehehehe." Ucap bi Sri yang mulai menghapus air mata yang menetes di kedua pipinya dan berusaha tersenyum ke arah gadis itu.

Bella hanya tersenyum tipis setelah mendengar harapan bi Sri barusan, namun diam-diam ia terus memikirkan harapan bi Sri tersebut di dalam benaknya.

******

"Di mana si Bella kenapa gak kelihatan?" Tanya Tiara yang baru saja pulang jogging dan langsung menanyakan keberadaan keponakannya itu kepada Bu Sri

"Anu.... Nyonya, Bella lagi istirahat di dalam kamar. kasihan seluruh tubuhnya terluka parah dan terasa sakit." jawab bi Sri menundukan kepalanya takut.

SIAPA YANG SURUH DIA ISTIRAHAT DI DALAM KAMAR HAH?, AKU MENYURUH CLARA MEMBUKA KAN PINTU GUDANG, AGAR SI BELLA ITU KERJA BERES-BERES RUMAH BUKAN MALAH ISTIRAHAT DI DALAM KAMAR! teriak Tiara penuh emosi.

"Maaf nyonya, tapi sungguh keadaan bella tidak memungkinkan udah kerja beres-beres rumah. Saya mohon belas kasihan nyonya untuk Bella kali ini saja." Ucap bi Sri memelas.

SIAPA KAMU BERANI MELAWAN UCAPAN SAYA?! KAMU ITU HANYA SEORANG PEMBANTU, SEHARUSNYA KAMU ITU TAHU DIRI DAN TURUTIN SAJA PERINTAH SAYA. KALO KAMU GAK TEGA BUAT BANGUNIN ANAK SIALAN ITU BIAR SAYA SAJA, DENGAN CARA SAYA SENDIRI!

Tanpa berbasa-basi lagi Tiara segera memasuki rumah dengan ekspresi wajah begitu kesal.

Sementara di dalam kamar yang jauh dari kata layak dan nyaman itu, terlihat tubuh Bella yang sedang terbaring di atas kasur sangat tipis dan lusuh.

BRAK!! tiba-tiba saja pintu kamar Bella di banting dengan kuat dari luar, namun hal itu tidak membuat gadis itu terbangun dari tidur nya. karena mungkin efek obat pereda nyeri yang telah di minum oleh Bella setelah makan. membuat tidur gadis itu begitu terlelap, sehingga suara bantingan pintu pun tidak mengusik tidurnya sama sekali.

"Sialan nih bocah sialan bukanya bangun malah masih enak-enakan tidur!

HEI BANGUN PEMALAS! AYO SEGERA BANGUN!

Tiara menendang tubuh Bella yang tengah berbaring, berharap gadis itu akan segera bangun karena perbuatanya. namun ternyata Bella tidak bergeming sama sekali dan terlihat masih tertidur pulas tanpa merasa terganggu sedikit pun.

"Nih bocah sialan mati atau lagi tidur sih kenapa gak bangun-bangun!"

Namun kini tatapan mata Tiara kini tertuju ke arah segelas air yang terdapat di atas meja dekat tempat tidur. dengan cepat Tiara mengambil gelas yang berisikan air itu, ia berniat membangunkan Bella dengan segelas air ini.

"Kalo pake cara ini kaya nya sih ampun dan bakalan  langsung bangun." Gumam Tiara yang mengeluarkan senyum jahatnya.

BYURRRRR!!!!!

ARGGHTTHHHHH HUJAN, HUJAN !!! 

*****

1
한스Hans
mampir Thor 👍 semangat
Indrie Lestari: siap kak ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!