NovelToon NovelToon
Di Jodohin Sama Santri

Di Jodohin Sama Santri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / Romansa
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Celina adalah ratu clubbing yang hidupnya cuma soal hura-hura, alkohol, dan gonta-ganti cowok sesuka hati. Baginya, pakaian seksi adalah seragam wajib untuk menaklukkan malam. Dia nggak butuh aturan, apalagi komitmen.

Muak melihat kelakuan Celina yang makin liar, sang Mama akhirnya memberikan ultimatum keras: Menikah dengan seorang santri pilihan Mama, atau angkat kaki dari rumah tanpa sepeser pun uang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Keesokan harinya, suasana pesantren berubah total. Meskipun pernikahan ini berawal dari skandal yang menyakitkan, dekorasi tenda putih dan janur kuning tetap melengkung indah di depan gerbang utama. Resepsi dilaksanakan secara megah di aula besar, namun sifatnya tertutup; hanya dihadiri oleh ribuan santri dan keluarga besar kedua belah pihak.

Pagi itu, akad nikah resmi secara negara antara Zuhair dan Celina dilaksanakan terlebih dahulu kemudian di sambung resepsi.Celina tampil sangat cantik dengan kebaya putih modern, namun wajahnya tetap menunjukkan ekspresi "bodo amat". Di sisi lain, Zuhair tampak seperti mayat hidup; suaranya saat mengucapkan ijab kabul terdengar bergetar, menanggung beban malu dan rasa bersalah yang luar biasa.

Para santri yang hadir hanya bisa berbisik-bisik. Mereka melihat kemegahan itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi mereka kagum melihat Ning Celina yang ternyata sangat anggun, di sisi lain mereka menanti-nanti drama yang akan terjadi sore nanti.

Begitu acara resepsi megah selesai dan tamu undangan mulai berkurang, suasana berubah menjadi lebih privat dan tegang di ruang tengah Ndalem Agung. Tidak ada dekorasi mewah, tidak ada musik rebana. Hanya ada sebuah meja kayu kecil, beberapa saksi, seorang penghulu dan wali hakim yang sudah disiapkan.

Sarah duduk bersimpuh di samping Zuhair. Berbeda dengan Celina yang tadi pagi terlihat santai, Sarah justru tampil dengan gaya "korban" yang sempurna. Ia mengenakan gamis putih polos dan kerudung lebar, wajahnya dibuat sepucat mungkin dengan sisa-sisa air mata yang seolah belum kering.

Zuhair duduk mematung. Pikirannya kosong. Ia merasa harga dirinya sudah habis.

"Bagaimana, Zuhair? Sudah siap?" tanya Abi dengan suara yang sangat berat. Sebagai seorang ayah, hatinya hancur harus menikahkan putranya dengan cara seperti ini.

Zuhair melirik ke arah pintu. Di sana, Celina berdiri bersandar di bingkai pintu sambil bersedekap dada. Ia tidak pergi, ia justru ingin menonton "pertunjukan" itu dengan mata kepalanya sendiri. Senyum miring tidak lepas dari bibirnya.

"Silakan, Gus. Jangan lama-lama, keburu maghrib. Kasihan calon istri mudanya udah nungguin," celetuk Celina tanpa rasa berdosa, membuat seluruh orang di ruangan itu menoleh padanya dengan tatapan kaget.

Zuhair memejamkan mata rapat-rapat, lalu menjabat tangan. "Saya terima nikahnya Sarah binti... dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

"Sah?"

"Sah!"

Detik itu juga, Sarah resmi menjadi istri kedua Zuhair secara siri. Sarah langsung merunduk, mencium tangan Zuhair dengan takzim. Dalam sujudnya yang pura-pura khusyuk, ia tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya, Gus. Kamu jadi milikku, meskipun harus berbagi.

Celina yang melihat adegan cium tangan itu hanya bertepuk tangan pelan dengan sarkas.

"Selamat ya, Gus Zuhair! Akhirnya punya dua istri. Yang satu pinter dugem, yang satu pinter... 'aduh apaya? gatau deh. Seru nih kayaknya hidup kita ke depan," ucap Celina sambil berlalu pergi menuju kamarnya, meninggalkan suasana ruangan yang mendadak beku dan penuh ketegangan.

Malam pertama setelah hiruk-pikuk dua pernikahan itu benar-benar terasa menegangkan. Di meja makan panjang Ndalem Agung, keluarga besar berkumpul dalam keheningan yang menyesakkan. Celina duduk di hadapan Abi, Ummi, Ayah Roni, dan Bunda Siska dengan wajah tanpa beban, sementara Zuhair dan Sarah duduk berdampingan di ujung meja dengan suasana yang sangat kontras.

"Abi, Ummi, Ayah, Bunda..." Celina membuka suara sambil meletakkan sendoknya dengan bunyi denting yang cukup keras. "Gue—maksud saya, Celina minta pisah kamar sama Zuhair. Saya nggak mau sekamar, apalagi satu ranjang sama dia. Terserah dia mau tidur di mana, asal nggak sama saya."

Suasana seketika beku. Sarah diam-diam melirik ke arah Zuhair, sementara Ummi Cahya tampak mengusap dadanya.

Abi menghela napas panjang, wajahnya tampak sangat lelah. "Baiklah, Celina. Abi mengerti perasaanmu. Abi minta maaf atas kelakuan Zuhair, anak Abi, yang sudah mengecewakan kamu dan keluarga. Kalau kamu butuh waktu untuk sendiri, Abi izinkan kalian beda kamar."

Abi terdiam sejenak, lalu menatap Zuhair dan Celina bergantian dengan tatapan serius. "Tapi bagaimanapun, pernikahan ini sudah terjadi. Kalian harus meneruskan keturunan keluarga ini. Itu tanggung jawab kalian sebagai suami istri."

Mendengar kata "keturunan", Celina justru tertawa kencang hingga kepalanya mendongak. Tawa yang terdengar sangat meremehkan di tengah ruangan yang sakral itu.

"Apa? Keturunan? Gue mah ogah!" celetuk Celina sambil berdiri dari kursinya. Ia menunjuk ke arah Sarah dengan dagunya. "Biarin si Zuhair sama Sarah aja tuh yang bikin anak. Gue nggak minat jadi pabrik anak buat laki-laki kayak dia. Good luck ya buat kalian berdua!"

Tanpa pamit, Celina melenggang pergi meninggalkan ruang makan dengan gaya angkuhnya, meninggalkan kedua orang tuanya yang hanya bisa mengelus dada.

Zuhair tertunduk, tangannya mengepal di bawah meja. Rasa bersalah dan harga dirinya yang diinjak-jinjit oleh Celina membuatnya merasa tidak punya pilihan lagi.

"Zuhair," panggil Abi dengan nada memerintah. "Celina mungkin butuh waktu, tapi kamu tidak boleh membiarkan garis keturunan kita terputus karena masalah ini. Karena Sarah sekarang juga istrimu, dan dialah yang siap melayani kamu, maka penuhilah kewajibanmu."

Zuhair hanya bisa mengangguk pelan. "Baik, Abi."

Malam itu, di bawah tekanan dan desakan Abinya yang ingin segera ada kepastian soal keturunan demi menutupi aib pesantren, Zuhair akhirnya melangkah menuju omah-omahan atau kediaman Sarah.

Sarah mengantarnya dengan senyum yang sangat manis, kemenangan besar baginya. Di dalam kamar yang remang itu, Zuhair yang masih merasa linglung dan tertekan mencoba menjalankan "tugas"-nya. Ia lebih dulu menggauli Sarah, istri sirinya, dengan harapan Abinya segera terpenuhi dan ia bisa mendapatkan keturunan yang diinginkan keluarga besar, sementara di rumah utama, Celina tidur dengan sangat nyenyak tanpa peduli apa yang dilakukan suaminya di kamar sebelah.

Tengah malam yang seharusnya sunyi itu pecah oleh suara-suara dari arah omah-omahan Sarah. Celina yang sedang asyik rebahan di kamar pribadinya di Ndalem tentu saja bisa mendengar sayup-sayup suara gumulan antara Zuhair dan Sarah. Bukannya sedih atau cemburu, Celina justru tertawa geli sambil menggelengkan kepala.

"Gila, semangat bener ya si Sarah jadi pabrik keturunannya si Zuhair," gumam Celina sambil menyeringai. "Gus kaku kayak gitu ternyata bisa 'gerak' juga kalau dipaksa Abi."

Bosan mendengarkan suara yang menurutnya mengganggu itu, Celina meraih ponsel lamanya yang ia sembunyikan di bawah bantal. Ia mencari sebuah nama di kontak, lalu menekan tombol panggil.

"Halo, Raka?" ucap Celina saat sambungan tersambung. Ya, Raka, teman cowoknya dari Jakarta yang tempo hari meneleponnya pas lagi masak di dapur.

"Cel! Parah lo, jam segini baru telepon balik! Ada apa? Lo kangen gue?" suara Raka terdengar antusias di seberang sana.

"Kangen mata lo soak! Gue butuh bantuan," bisik Celina sambil melirik ke arah pintu, memastikan tidak ada Ummi atau pengurus yang lewat. "Gue butuh lo ada di sini. Lo bisa akting kan? Gue mau lo ke pesantren tempat gue sekarang. Nyamar jadi anak orang kaya yang tobat dan mau lanjutin pendidikan di sini."

"Hah? Gue? Jadi santri?" Raka tertawa ngakak. "Lo sehat, Cel? Tapi oke deh, demi lo, apa sih yang enggak. Kirimin lokasinya sekarang."

"Sip. Inget ya, besok lo harus dateng dengan gaya paling alim yang lo punya."

1
Ulfa 168
seru lanjut thor
Veronicacake: aaaaa maacie udah baca yaaaa, jan lupa like komennya yahhhh! aku update tiap hari kok ka💕💕
total 1 replies
ChaManda
😭😭
Veronicacake: kak😭😭
total 1 replies
Ntaaa___
Jangan lupa mampir di ceritaku kak🤭😇
Anonim
SUKAAAA, GA TAMPLATE NARASINYAAAA! SEMANGAT THOR DI TUNGGU UDATE💕💕💕💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!