Black Rose julukannya, ada tatto mawar hitam di punggungnya. Dia agen rahasia XpostOne 06 yang paling ditakuti. Sepak terjangnya terdengar sampai belahan dunia. menyamar sebagai jurnalis dan presenter hot news di sebuah televisi swasta milik ayahnya.
Kini ia ditugaskan untuk menangkap seorang pemb*nuh bayaran yang lari ke luar negeri. Konon pemb*nuh ini sangat licik dan dilindungi oleh sindikat bawah tanah.
Mampukah dia menangkap pemb*nuh itu atau dia malah terb*nuh?
*****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.30. SUNDAY NIGHT MARKET
Seorang pria lokal mendekati Qai serta merayunya di depan umum. Qai berusaha tenang dan itu hal biasa disini pada saat Sunday Night Market. Pasar malam yang sangat meriah dan disini segalanya ada.
Ternyata malam ini ada pertunjukan nyanyi dan aktivitas lukis. Kebetulan saat itu tampil penyanyi lokal yang sangat cantik dengan suara merdu. Semua mata tertuju padanya jalanan yang sudah padat makin sesak dan sulit ditembus oleh orang yang mau lewat.
Malam semakin pekat, lampu-lampu pasar malam berpendar kian terang. Riuh rendah teriakan penjual dan pembeli bersahut-sahutan di udara.
Ada bisnis ganja sangat transparan. Tidak ada larangan, tapi tidak boleh merokok atau mengisap g*nja di tempat itu, kalau ingin silahkan keluar.
Suasana pasar malam yang sesak membuat turis jadi cepat haus. Tak perlu takut digetok harga, semua harga makanan dan minuman dipajang langsung di depan jualan. Jujur.
"Berapa satu botol air mineral?" tanya Qai sambil mejentikan jarinya. Itu kode keras kalau Qai minta informasi. Pak Anurak sudah mengerti, informasi darinya tidak begitu mahal.
"Harga satu botol air adalah 10 Baht, untuk nona dikali 100 saja. Lama tidak bertemu... nona." ucap penjual itu sambil menyerahkan sehelai kertas yang berisi alamat target.
Qai cepat keluar dari tempat itu, semakin malam suasana semakin rame dan penuh sesak. Ada dua alamat di berikan, salah satunya dekat di Myawaddy.
Saat Qai beranjak pergi, seorang pria dewasa membuntutinya. Qai sengaja berjalan pelan sehingga pria itu berhenti.
"Pretty, smart, proposional, body shape lady that I ever knew....stay humble, nice to other people...just keep it that way dear....." pujian atau rayuan, pria itu minta berkenalan. Mereka sudah berada diluar pasar malam. Lepas dari kerumuman orang.
"Who are you really? I have no wings, only one hope. That in the future there will be someone who will lend me a shoulder to lean on. I am not affected by your seduction." jawab Qai tersenyum tipis. Itu hanya basa basi.
Seperti pada umumnya perkenalan disini singkat, tujuan akhirnya ke r*njang. Tapi kali ini tidak, Qai mengajak orang itu ikut melipir dan duduk di sebuah bangku taman pinggir jalan, tidak jauh dari pasar malam.
"Sepertinya kau bukan orang Thailand. Apa orang Indo?" tanya Qai memandang laki-laki itu.
"Tebakan mu benar, biasanya mata ku jeli menandai orang, tapi khusus untuk mu aku kelewatan. Apakah kau orang baru?"
"Aku turis biasa, sebenarnya hanya ingin berteman, saat begini butuh teman satu negara supaya berimbang."
"Sepertinya kau suka basa basi, bukankah kau Black Rose?" pria itu menodongkan pistol, gerakannya cepat. Sebuah serbet menutupi pistol yang berjarak dekat.
"Apa maumu?" tanya Qai dingin, is mencoba mengulur waktu supaya Agung tahu keberadaannya.
"Sebuah kerja sama, kita saling menguntungkan.Lepaskan Pang Long."
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan dan tidak kenal orang yang kau maksud."
"Jangan pura-pura!"
Selembar foto dilempar ke atas meja. Disitu aku jelas terlihat menodongkan pistol kepada Pang Long, gembong penjual organ tubuh.
"Hemm...urusanku selesai disitu polisi membawanya pergi. Itu sudah seharusnya apa lagi yang kau pikirkan. Kalau kau minta supaya dia di bebaskan aku angkat tangan."
"Black Rose, kau jangan berkilah. Pang long, kau tidak serahkan ke polisi tapi kau bunuh."
Qai sedikit kaget karena ia tidak ada membunuhnya. Sepertinya ada orang ketiga memancing di air keruh, mengadu domba.
Waktu menangkap Pang Long tidak ada orang lain, hanya ada polisi. Qai tidak mau menduga-duga yang bisa membahayakan dirinya.
"Aku tidak ada membunuhnya, itu tugas yang harus aku jalani. Jika kau ingin tahu pelakunya tanya saja kepada polisi."
"Aku akan membunuhmu!"
Tangan Qai yang ada dibawah meja dengan cepat mendorong meja sampai berbalik. Bersamaan dengan letupan pistol dari pria itu yang hampir mengenai bahunya.
Meja bundar itu terlempar. Pria itu jatuh dari kursi, Qai cepat bertindak menginjak tangan pria itu dan pistolnya terlepas.
Pria itu berguling dan berdiri, tapi kalah cepat dengan Qai yang menodongkan pistolnya.
"Katakan markasmu!"
Pria itu diam tanpa reaksi, Qai memakai sepatunya untuk menendang lutut pria itu. Suara mengaduh yang tertahan keluar dari bibir pria itu.
"Katakan markasmu, atau aku ambil organ tubuh mu secara paksa." ancam Qai.
*****