NovelToon NovelToon
Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / Trauma masa lalu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Malam harinya, suasana di sekitar pasar kota perlahan mulai mereda, menyisakan keheningan malam yang menenangkan di dalam rumah baru mereka.

Humairah yang sudah merasa jauh lebih segar setelah beristirahat sejak siang, melangkah keluar kamar menuju ruang tengah. Namun, tepat saat mereka baru saja akan bersiap untuk makan malam bersama, keheningan rumah itu dikejutkan dengan kedatangan serombongan tamu yang mengetuk pintu pagar depan dengan riuh.

Tok... Tok... Tok...

"Assalamualaikum, Ustadz! Ustadzah!" suara sayup-sayup kekanakan terdengar dari balik pagar.

Fathan yang sedang berada di dekat ruang tamu segera melangkah keluar untuk memeriksa.

Begitu pintu depan dibuka, senyum hangat langsung terbit di wajah Fathan saat melihat belasan santri dan santriwati kecil—anak-anak pesantren yang selama ini diajar mengaji dan menghafal Al-Qur'an oleh Humairah—berdiri berjejer dengan wajah-wajah yang ceria.

Tanpa ragu, Fathan menyuruh mereka semua masuk ke dalam rumah.

"Waalaikumsalam. Eh, anak-anak... mari masuk, mari duduk di dalam," sambut Fathan ramah, membimbing mereka menuju ruang keluarga yang beralaskan karpet tebal di dekat kolam ikan.

Mendengar suara gaduh yang familier, Humairah berjalan mendekat.

Begitu melihat sosok guru kesayangan mereka muncul dengan khimar instannya, anak-anak itu langsung menyerbu dan mengerumuni Humairah.

Beberapa santriwati tampak membawa bungkusan kertas berisi jajanan tradisional dan buah-buahan yang mereka beli dari uang saku sendiri.

"Ustadzah! Ini untuk Ustadzah, kami patungan beli ini," ucap salah satu santriwati bertubuh gempal sambil menyodorkan bungkusannya dengan penuh semangat.

"Ayo Ustadzah, kapan masuk mengajar lagi? Kami sudah rindu belajar bersama Ustadzah. Kapan kami bisa setoran hafalan lagi?"

Mendengar celotehan polos dan antusiasme dari murid-muridnya yang begitu tulus menyayanginya, dada Humairah bergetar haru.

Matanya berkaca-kaca. Di saat ibu mertuanya sendiri menganggapnya sebagai wanita pembawa sial, anak-anak ini justru menganggap keberadaannya begitu berharga.

Fathan yang berdiri tidak jauh dari sana memperhatikan interaksi itu dengan perasaan bersyukur yang mendalam.

Ia berjalan mendekat lalu tertawa kecil, berusaha menengahi agar istrinya yang baru sembuh tidak kewalahan dikerumuni.

"Biarkan Ustadzah ini istirahat dulu ya, sampai betul-betul sehat walafiat. Nanti kalau sudah kuat, pasti Ustadzah akan kembali mengajar kalian," ucap Fathan dengan nada jenaka namun lembut, membela ketenangan sang istri.

Anak-anak itu serempak menganggukkan kepala mereka dengan patuh.

"Iya, Ustadz!" jawab mereka koor dengan kompak.

Melihat ramainya suasana di ruang tengah, Bibi Ningsih dengan sigap datang dari arah dapur membawa nampan besar.

Bibi menyuguhkan sepiring penuh kue-kue basah tradisional dan gelas-gelas berisi susu coklat hangat untuk mereka semua.

Kehadiran anak-anak itu seketika mengubah rumah baru yang awalnya terasa sunyi menjadi penuh dengan kehangatan dan tawa, seolah menjadi pertanda baik bahwa lembaran baru yang dianyam Fathan dan Humairah di tempat ini diridhai oleh semesta.

Setelah hampir satu jam memenuhi ruang tengah dengan canda tawa dan cerita polos mereka, malam yang kian larut akhirnya menyadarkan anak-anak itu untuk menyudahi kunjungan mereka.

Satu per satu santri dan santriwati kecil itu bangkit dari karpet, mencium punggung tangan Fathan dan Humairah secara bergantian dengan takzim.

"Kami pulang dulu ya, Ustadz, Ustadzah. Assalamualaikum!" pamit mereka serempak sebelum melangkah riang keluar melewati pintu pagar yang dibukakan oleh Fathan.

"Waalaikumsalam, hati-hati di jalan ya," balas Fathan sambil melambaikan tangan hingga sosok-sosok kecil itu hilang di kelokan jalan yang menuju asrama luar pesantren.

Fathan kembali masuk dan mengunci pintu

depan.

Di ruang keluarga, ia mendapati Humairah sedang duduk bersimpuh di atas karpet, dikelilingi oleh bungkusan-bungkusan kado bersahaja yang ditinggalkan oleh murid-muridnya tadi.

Tangan lembut Humairah dengan hati-hati membuka salah satu kado terbungkus kertas koran yang diikat pita rafia merah.

Begitu bungkusan itu terbuka, selembar hijab segi empat berwarna merah muda lembut dengan sulaman manik-manik kecil di tepinya terhampar di pangkuan Humairah.

Sebuah kartu ucapan tulisan Aisyah terselip di dalamnya: 'Cepat sembuh Ustadzah Humairah sayang'.

"Masya Allah, bagus sekali hijab ini," ucap Humairah lirih, jemarinya mengelus permukaan kain yang murah namun sarat akan ketulusan itu.

Sudut bibirnya terangkat, menciptakan lengkungan senyum paling tulus yang Fathan lihat sejak berhari-hari lalu.

Fathan berjalan mendekat, lalu duduk berlutut di samping istrinya.

Ia memandangi wajah berseri Humairah dengan tatapan teduh. Namun, mendengar suara keroncongan halus yang tiba-tiba terdengar dari arah perut istrinya, Fathan langsung teringat akan agenda utama mereka yang sempat terganggu.

"Hijabnya memang sangat cocok untukmu, Humairah. Nanti bisa kamu pakai saat mengajar lagi," ujar Fathan lembut.

"Tapi sekarang, setelah drama panjang ini, kita harus menyelesaikan urusan yang tertunda. Ayo, kita makan malam dulu. Perutmu sudah memberi kode sejak tadi."

Fathan mengajak dan membimbing istrinya menuju meja makan yang terletak di dekat area dapur bersih.

Di atas meja, Bibi Ningsih ternyata sudah menyiapkan hidangan makan malam yang luar biasa menggugah selera sejak sore tadi. Aroma rempah yang pekat seketika menyambut indra penciuman mereka.

Mengetahui kondisi fisik pasangan suami istri itu berbeda, Bibi Ningsih dengan cerdas memasak gulai kambing yang kental dan gurih khusus untuk Fathan untuk memulihkan tenaganya setelah berhari-hari terjaga di rumah sakit.

Sementara itu, untuk Humairah yang pencernaannya masih harus dijaga pasca sembuh dari tifus, Bibi menyajikan semangkuk besar sop buntut dengan kuah kaldu bening yang hangat, lengkap dengan potongan wortel dan kentang yang lembut.

Fathan menarikkan kursi untuk Humairah, mempersilakan istrinya duduk dengan ratu sebelum ia sendiri mengambil posisi di sebelahnya, siap menikmati momen makan malam pertama mereka di rumah baru yang penuh ketenangan ini.

Makan malam yang hangat dan tenang itu akhirnya usai.

Setelah membersihkan meja makan dibantu oleh Bibi Ningsih, Fathan dan Humairah berjalan beriringan melintasi koridor dalam rumah menuju kamar utama mereka.

Suasana malam kian larut, menyisakan suara jangkrik dan gemercik air kolam ikan yang menembus kaca jendela.

Begitu pintu kamar tertutup, Fathan menatap Humairah yang tampak mulai mengantuk.

Ia berjalan ke sisi ranjang, memastikan guling pembatas yang ia letakkan siang tadi masih membujur kokoh di tengah-tengah kasur.

"Istirahatlah," ucap Fathan dengan nada suara yang sangat lembut, memberikan ruang bagi istrinya untuk merasa aman.

Humairah menganggukkan kepalanya pelan. Ia naik ke atas ranjang, memosisikan tubuhnya di sisi sebelah kiri, lalu menarik selimut hingga sebatas dada. Fathan sendiri kemudian mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur yang temaram, sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya di sisi kanan, terpisah oleh sekat guling yang tinggi.

Namun, keheningan malam itu tidak membawa ketenangan bagi Fathan.

Hampir dua jam berlalu sejak lampu dipadamkan, Humairah sama sekali belum bisa memejamkan mata.

Bukan karena kasur yang tidak nyaman, melainkan karena ia terus-menerus mendengar deru napas Fathan yang memburu dan berat.

Humairah membalikkan tubuhnya menghadap guling pembatas, dan melalui keremangan cahaya lampu tidur, ia melihat suaminya yang gelisah.

Fathan terus membolak-balikkan badannya, menyeka keringat yang menetes di pelipisnya, dan sesekali mengerang halus seolah sedang menahan rasa tidak nyaman yang teramat sangat di sekujur tubuhnya.

Merasa khawatir dengan kondisi suaminya yang tidak wajar, Humairah akhirnya bersuara.

"Mas, kenapa?"

Fathan tersentak mendengar suara lirih istrinya. Ia menoleh dengan tatapan mata yang tampak sayu namun menyala aneh.

"T-tidak apa-apa, Humairah. Tidurlah," jawab Fathan, suaranya terdengar serak, berat, dan tertahan di tenggorokan.

Ia menarik selimutnya tinggi-tinggi seolah sedang menahan hawa dingin, padahal tubuhnya justru memancarkan hawa panas.

Melihat respons Fathan yang mencurigakan, rasa cemas Humairah kian memuncak.

Ia tidak bisa tinggal diam. Humairah bangkit dari tempat tidurnya sambil membawa ponselnya yang tergeletak di atas nakas.

Ia menatap Fathan sejenak dengan dilingkupi rasa sungkan.

"Mas, aku minta izin untuk keluar sebentar ke depan," pamit Humairah lirih.

Fathan hanya mengangguk lemah tanpa mampu banyak bicara.

Humairah segera melangkah keluar kamar, menutup pintu dengan rapat, lalu berjalan menuju ruang tengah yang sunyi di dekat kolam ikan.

Mengikuti intuisi batinnya, Humairah segera mencari sebuah nama di kontak ponselnya.

Tanpa membuang waktu, Humairah menghubungi Abi Sasongko.

Hanya dalam tiga kali nada sambung, panggilan fajar itu langsung diangkat di seberang sana.

"Assalamualaikum, Humairah. Ada apa, putriku? Apa ada masalah lagi?" suara Abi Sasongko terdengar terjaga dan dipenuhi nada khawatir, mengira putrinya kembali mendapat perlakuan buruk.

"Waalaikumsalam, Abi. Bukan ada masalah seperti itu, Abi," sahut Humairah dengan cepat agar sang ayah tidak salah paham.

"Humairah hanya mau bertanya soal Mas Fathan. Sejak masuk kamar tadi, Mas Fathan tidak bisa tidur. Tubuhnya seperti gelisah, terus berkeringat, dan napasnya sangat berat seperti orang menahan sakit. Humairah bingung harus berbuat apa."

Di seberang telepon, Abi Sasongko terdiam sejenak sebelum melayangkan pertanyaan menyelidik.

"Humairah, coba ingat-ingat. Apa yang dimakan Fathan saat makan malam tadi?"

"Gulai kambing, Abi. Bibi Ningsih memasakkan gulai kambing yang cukup kental untuk Mas Fathan," jawab Humairah jujur.

Mendengar jawaban itu, terdengar suara tawa kecil yang khas dari Abi Sasongko di ujung telepon, memecah ketegangan di dada Humairah.

"Masya Allah, tentu saja begitu, sayang," ucap Abi Sasongko dengan nada geli yang tertahan.

"Tubuh suamimu sekarang sedang sangat panas karena efek gulai kambing itu, Humairah. Dan dalam syariat serta kodrat pernikahan, hanya kamu yang bisa mendinginkannya malam ini."

Humairah mengerutkan keningnya, pipinya mendadak terasa hangat meskipun ia berada di ruangan yang sejuk.

"Maksud Abi, bagaimana ?" tanya Humairah polos, menuntut kejelasan karena otaknya yang alimah belum sepenuhnya menangkap arah pembicaraan dewasa sang ayah.

Abi Sasongko menghela napas panjang, lalu mulai menjelaskan pelan-pelan kepada putrinya tentang hakikat biologis seorang pria dewasa, pengaruh makanan berenergi tinggi seperti daging kambing terhadap syahwat seorang suami, serta bagaimana tugas seorang istri untuk menjadi ladang penyejuk di saat suaminya sedang berjuang melawan gejolak fitrahnya sendiri.

Penjelasan yang lugas namun tetap santun dari sang ayah seketika membuat wajah Humairah merah padam sempurna hingga ke lehernya.

Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.

Setelah terdiam cukup lama dengan dada yang bergemuruh, Humairah akhirnya menggigit bibir bawahnya.

"Baik, Abi. Humairah mengerti. Humairah akan melakukan apa yang menjadi kewajiban Humairah," jawabnya dengan suara yang nyaris tak terdengar karena rasa malu yang teramat sangat.

"Bagus, anakku. Ambil pahala murnimu malam ini. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam, Abi."

Humairah menutup ponselnya dengan tangan yang gemetar hebat.

Ia berdiri terpaku di tepi kolam ikan selama beberapa saat, mencoba menata detak jantungnya dan membuang sisa-sisa keraguan serta ketakutan masa lalu.

Fathan telah membuktikannya hari ini dengan mengorbankan segalanya demi melindunginya; kini gilirannya untuk menurunkan ego.

Dengan langkah yang perlahan namun mantap, Humairah melangkah kembali ke kamar, membuka pintu kayu itu, dan bersiap untuk meruntuhkan sendiri guling pembatas yang memisahkan jiwa mereka.

1
Mundri Astuti
gitu dong kyai tegas jadi laki, jangan diem bae bininya dzolim, lagian y umimu ga tau terimakasih sama Humairah dah ditolongin anaknya
Dede Dedeh
tah kitu atuh abah tegas,, dasar mak lampir rasakn......
Mundri Astuti
lagian udah nikah masih nyampur bae sama ortu Fathan, palagi sama modelan umimu
Fitra Sari
lanjut KK doubel upp 🙏
Mundri Astuti
kyai Umar juga ga bisa ngedidik istrinya ... bukan anak"nya doang yg salah
Fitra Sari
lanjut KK
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
keynara
update lagi thor makin seru 🙏
keynara
update lagi thor🙏
keynara
nah akhirnya Humairah tegas nyesal nggak tu ustadz Fathan..
Yensi Juniarti
nah begitulah harusnya kau bersikap Humairah...
gak usah toleh lagi laki modelan begitu...
kau berhak bahagia....
Yensi Juniarti
penyesalan mu tak berguna Fatan... udah kalau aku JD Humairah ya mending pisah Ajja...
dari pada dari pada..
Yensi Juniarti
kasih karma instan aja si laki modelan begitu ya...
Yensi Juniarti
tinggal minggat Ajja neng laki modelan begitu mah buang Ajja ke pemambunagn sampah
keynara
aduh nyai sihir udah menyiapkan rencana semoga hati humaira lebih kuat lg💪😭
keynara
nyai sihir sama ustadz Fathan mulutnya pengin tak gosok pake cabe🤣🤣
lanjut thor🙏
Yensi Juniarti
kena azab instan Ajja si laki modelan begitu...
keynara
nyai Latifah seorang istri kyai sukanya menghina Jan tak patut tak patut
apalagi anaknya sifatnya sama tidak jauh dari Mak lampir
ayo humaira kabur aja jangan tahan dipenjara sok suci ini
Yensi Juniarti
ya Allah...
melawan si..
bantah sesekali Maklampir....
dan tinggalin Ajja si laki yg model begituan... GK adahatinya sama sekali...
sempah akubacanya sambil nangis 😭😭😭
Yensi Juniarti: saya selalu sabar dan selalu standby 🤭🤭🤭
total 2 replies
Arga Putri Kediri
bagus
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Himna Mohamad
sdh mampir baca kk
my name is pho: Terima kasih kak🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!