Dikala aku sudah memulai hidup baruku tanpamu, kenapa kau kembali lagi. Beredar terus di sekitar, membuatku kesal.
Pergilah kau, pergi dari hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
"Dia berkata benar. Harus aku akui, kau memiliki ayah mertua yang hebat. Dan kau, menantu yang payah!" kata Tuan Budi segera setelah Luna dan keluarganya pergi.
"Aku tahu"
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Nyonya Aida.
"Mengirim kalian pulang dan aku akan menyelesaikan semuanya sendiri" jawab Arya lalu masuk ke dalam kamar.
"Dia mengusir kita"
"Bungsu tidak berubah. Dia belum bisa memahami perasaan orang lain. Dia pikir semua orang berpikir sepertinya"
"Biarkan saja dia"
"Tapi apa yang harus kita lakukan?" tanya Nyonya Aida tidak rela kehilangan menantu sebaik Luna. Dia akan berusaha membuat keduanya rujuk kembali sebelum dipaksa pulang.
Keesokan harinya, Nyonya Aida menunggu Luna di lobi. Belum bertemu yang dinanti, seorang wanita dengan suara sepatu mengetuk keras datang. Nyonya Aida mengenal wanita itu. Mantan sahabat Luna, sekaligus wanita yang diajak berselingkuh oleh Arya. Dia tidak mengerti kenapa bungsu memilih wanita seperti ini untuk mengkhianati Luna.
"Nyonya, bisakah kau minggir? Aku ingin naik" kata wanita itu mengambil tempat Nyonya Aida di depan lift. Belum sempat bergeser, seorang penjaga keamanan datang untuk menarik wanita itu pergi.
"Anda tidak boleh kemari lagi!"
"Aku hanya ingin mencari Arya. Sudah kukatakan aku ini calon istri pemilik gedung apartemen ini. Tuan Arya!"
"Anda bukan!!"
"Siapa kau berani bicara seperti itu?!"
Biasanya Nyonya Aida tidak ingin ikut campur dengan kejadian seperti ini. Tapi Nyonya Aida tidak tahan lagi mendengar klaim palsu mantan sahabat Luna itu.
"Nona, tolong jangan berkata sembarangan. Arya tidak mungkin memiliki calon istri sepertimu!" ucapnya menghentikan perlawanan wanita itu.
"Kau!! Apa maksudmu wanita sepertiku? Arya sangat mencintaiku!!"
"Tidak. Anda tidak mungkin calon istri yang dicintai oleh Arya"
Tak menyangka wajah wanita itu menjadi merah padam, menunjukkan kemarahan yang akan segera meledak setelah mendengar perkataan Nyonya Aida. Wanita itu mendekat ke arahnya lalu berteriak keras.
"Memangnya siapa kau berani bicara seperti itu padaku?!"
"Aku?! Aku bukan siapa-siapa. Tapi pria yang terus kau sebutkan itu tidak mungkin calon suamimu. Karena kau bahkan tidak tahu di lantai berapa dia tinggal"
"Apa? Beraninya seorang nenek tua sepertimu berkata seperti itu?! Arya hanya lupa mengatakan padaku!!"
"Tolong jangan permalukan dirimu lagi Nona. Kau sangat cantik. Apa pria di dunia ini hanya Arya saja? Masih banyak pria lain yang akan mencintaimu"
"Tidak. Hanya Arya yang bisa bersamaku. Dan hanya aku yang boleh bersamanya!"
Obsesi. Wanita ini begitu terobsesi pada putra bungsu Nyonya Aida. Padahal kejadian itu telah berlalu lama sekali. Bagaimana bisa wanita ini masih menyimpan harapan. Apa sebenarnya yang dikatakan Arya dulu?
"Sebenarnya apa yang dia janjikan sampai kau menjadi seperti ini?" tanya Nyonya Aida iba pada wanita yang berharap pada putra bungsunya.
"Apa? Apa urusanmu?!!" teriak wanita itu lalu pergi.
"Sifatnya memang seperti itu" kata seseorang yang telah dinanti oleh Nyonya Aida.
"Luna. Dia ... Aku tidak tahu dia bisa begitu marah"
"Salah satu penyebabnya adalah putra Anda. Entah apa yang dijanjikan Arya padanya dulu atau sekarang hingga membuat Marina tergila-gila"
"Luna, Arya bukan pria yang bermulut manis. Bungsu tidak akan pernah membuat janji seperti itu dengan wanita lain" kata Nyonya Aida berusaha membuat menantunya berpikir ulang tentang perceraian.
"Pria itu telah berjanji untuk setia. Tapi saya menemukannya berada di atas ranjang dengan Marina. Dan untuk alasan apapun dia menghilang selama tiga tahun. Dia telah meninggalkan, mengabaikan dan tidak menghargai perasaan saya. Bukannya saya tidak menghormati Anda dan Tuan Budi. Tapi saya harus memikirkan diri sendiri saat ini. Dan perceraian merupakan solusi yang paling tepat. Saya harap Anda tidak menghalangi saya"
Mendengar penuturan Luna pagi tadi membuat Nyonya Aida tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya bisa melihat menantunya pergi bekerja di tempatnya. Dan ketika kembali ke rumah putranya, Nyonya Aida tidak menahan diri.
"Tidak ada yang bisa kau lakukan lagi. Kau harus setuju dengan perceraian ini."
"Apa? Ibu, aku sudah katakan akan mengurusnya sendiri"
"Kau mengkhianati kepercayaan dan cinta yang Luna berikan secara tulus. Dan ketika kau meninggalkannya setelah bercumbu dengan wanita lain. Kau pikir dia akan memaafkanmu begitu saja hanya dengan muncul setelah tiga tahun?!"
Arya tidak bisa membalas dan Nyonya Aida memutuskan untuk melanjutkan
"Ibu tidak katakan kau harus menyerah pada Luna. Kau bisa memulai kembali, mencoba menjalin hubungan baru di atas hubungan yang telah hancur. Tapi jangan memaksa Luna untuk menerima apalagi mencoba untuk mengatur segala sesuatunya agar dia mau kembali. Karena kau tidak berhak melakukan itu. Sayang sekali kau telah kehilangan Luna. Ayah dan ibu akan kembali setelah kau bercerai dari Luna. Menjaganya agar tidak kau curangi dan sakiti lagi"
Arya hanya bisa terdiam ketika mendengar perkataan ibunya. Malam harinya, dia menunggu Luna menutup toko.
"Aku ingin bicara" pinta Arya begitu Luna melihatnya.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan"
"Aku mencintaimu"
"Aku tahu"
"Dan kau masih mencintaiku"
Luna terdiam, tidak menyangkal. Arya yang tadinya merasa gelisah kini mulai tenang.
"Tapi aku tidak bisa melupakan semuanya. Aku tidak bisa melupakan bagaimana kau tersenyum ketika mencium Marina. Tidak bisa melupakan suara-suara disaat kalian bercumbu. Dan semua waktu yang harus aku lalui sendiri dengan air mata. Aku tidak bisa melupakannya"
Arya mulai menerima semua kesalahan yang ditimpakan padanya. Hal ini memang salahnya. Apabila dia mengatakan semuanya dengan jujur pada Luna mulai dari awal, maka semua ini tidak akan pernah terjadi.
"Maafkan aku" katanya dengan sungguh-sungguh mengejutkan Luna.
"Kau benar-benar ... "
"Aku berbohong ... Banyak padamu. Hal itu seharusnya tidak boleh dilakukan olehku pada orang yang aku cintai. Tapi otakku tidak bisa memikirkan hal lain disaat itu. Aku minta maaf karena semua kebohonganku padamu. Juga menipumu dengan surat cerai palsu"
Dada Arya begitu sesak menyadari pernikahannya dengan Luna akan berakhir. Tapi hal ini adalah yang benar untuk dilakukan. Tidak ada cara lain untuk bisa bahagia dengan Luna setelah semua kebohongan dan tipuan yang dibuatnya.
"Lalu?"
"Lalu? Aku akan menceraikanmu secara resmi. Kali ini dengan proses yang seharusnya. Aku akan mengurus segalanya dan membebaskanmu dari pernikahan ini. Beserta semua hal yang seharusnya kau terima karena telah menerimaku apa adanya, mengajariku menjadi seorang pria yang bisa mencintai. Dan mempertahankan cinta itu sampai sekarang"
Luna hanya menatapnya dan Arya tak tahan untuk mendekat dan mencium istrinya. Kali ini lebih lembut, bertahan lama dan penuh dengan ketulusan. Sayangnya, Luna menyudahi ciuman itu dan Arya tak bisa memaksa untuk bertahan.
"Terima kasih" kata Luna mengakhiri segalanya.
Dan untuk terakhir kalinya, Arya berbisik di telinga istrinya.
"Aku mencintaimu"
Sebelum berbalik pergi dan melakukan semua janji yang baru diucapkannya tadi.
tahi