Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.
Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.
Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.
Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Carisa menekan tombol lift. Ia berdiri tegak. Map proposal dipegang rapat di depan dada, postur seseorang yang sudah selesai dengan urusannya dan siap pulang. Ia tidak terlihat goyah sedikitpun meskipun baru saja duduk empat puluh menit di seberang lelaki yang pernah menghancurkan hidupnya.
Pintu lift terbuka. Ia masuk. Memencet tombol lantai dasar. Berdiri menghadap pintu yang menutup perlahan dan dalam pantulan samar di permukaan pintu besi itu, ia melihat bayangannya sendiri. Rambut rapi. Blazer tanpa kerutan. Wajah yang tidak menunjukkan apa-apa.
Bagus, batinnya. Tepat seperti itu. Tahan jangan sampai menangis.
Pintu hampir tertutup, tepat di saat seseorang menyusup masuk.
Carisa tidak menoleh. Tubuhnya sudah tahu lebih dulu dari kepalanya, ada sesuatu yang berubah di udara dalam kotak kecil itu. Seperti kehadiran yang pernah sangat ia kenal, yang pernah sangat ia rindukan, yang sekarang berdiri di sampingnya seolah lima tahun lalu tidak pernah terjadi.
Ia menatap lurus ke depan. Di pantulan pintu lift, ia bisa melihat Reynanda berdiri di sisi kirinya. Kemeja abu-abu. Tangan yang terlipat di depan. Wajah yang tenang, terlalu tenang, seperti seseorang yang sudah bertahun-tahun berlatih untuk tidak menunjukkan apa yang ada di dalamnya.
Lift bergerak turun. Tidak ada yang bersuara.
Tapi keheningan di antara mereka bukan keheningan yang kosong. Ini keheningan yang penuh sesak oleh semua yang tidak diucapkan, oleh lima tahun yang menggantung tanpa penjelasan, oleh pertemuan empat puluh menit tadi yang mereka jalani seperti dua orang asing padahal keduanya tahu, tidak ada yang benar-benar asing di antara mereka.
"Ada keperluan lain?" Carisa akhirnya bersuara. Datar. Matanya tidak bergerak dari panel angka di depannya.
"Tidak." Reynanda menjawab pelan. "Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja."
Carisa hampir tersenyum, tapi bukan senyum yang menyenangkan.
Baik-baik saja. Pertanyaan yang paling mudah diucapkan dan paling sulit dijawab dengan jujur. Ia sudah baik-baik saja selama lima tahun atau setidaknya ia sudah sangat pandai terlihat seperti itu.
"Aku baik," jawabnya singkat.
Reynanda tidak membalas. Menerima jawaban itu tapi tidak mempercayainya, Carisa bisa merasakannya dari cara lelaki itu tidak langsung mengangguk dan mengalihkan pandangan.
"Kenapa kamu terima proyek ini?" Pertanyaan itu keluar sebelum Carisa sempat mempertimbangkannya. Pelan, tapi langsung ke intinya. "Kamu bisa menolak waktu tahu namaku di proposal itu."
Hening sebentar.
"Karena aku tidak tahu harus menghindarimu sampai kapan, Carisa."
Jawaban itu jatuh tepat ketika angka di panel menunjukkan angka satu dan Carisa merasakan sesuatu di dadanya bergeser, pelan, seperti sesuatu yang sudah lama bersandar di dinding yang salah dan baru sekarang mulai retak.
Ting.
Pintu terbuka.
Lobi yang ramai. Orang-orang yang tidak tahu apa-apa. Suara sepatu di lantai marmer, suara telepon di meja resepsionis, suara AC yang menderu pelan di langit-langit tinggi.
Carisa melangkah keluar. Reynanda menahan pintu lift agar tidak menutup.
"Carisa."
Langkahnya berhenti. Ia tidak menoleh. Punggungnya membelakangi Reynanda, menghadap lobi yang ramai dan di antara semua suara itu, suaranya yang pelan justru terdengar paling keras.
"Aku minta maaf."
Hanya tiga kata tapi beratnya seperti lima tahun yang runtuh sekaligus ke lantai marmer yang dingin itu. Carisa berdiri diam. Tidak bergerak. Orang-orang lalu lalang di sekitarnya, tidak ada yang tahu bahwa perempuan yang berdiri di depan lift itu sedang menahan sesuatu yang sangat besar di balik penampilannya rapinya.
Maaf.
Ia sudah membayangkan kata itu berkali-kali di malam-malam ketika ia tidak bisa tidur, di pagi-pagi ketika ia terbangun dan sedetik pertama masih lupa bahwa Nanda sudah tidak ada, di hari ketika ia terbaring di ranjang rumah sakit dengan tangan yang lemah dan perut yang kosong. Ia sudah membayangkan bagaimana rasanya mendengar kata itu langsung dari mulutnya.
Ternyata tidak semenarik yang ia bayangkan. Ternyata maaf tidak otomatis mengisi lubang yang sudah terlanjur ada.
Carisa menoleh. Pelan. Menatap Reynanda satu kali dengan sorot yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya, tapi juga tidak cukup ia biarkan terbaca sampai habis.
Lalu ia tersenyum. Tipis. Sopan. Senyum yang sama yang selalu ia pakai ketika bertemu klien baru.
"Saya permisi, Pak Reynanda."
Ia berbalik. Berjalan keluar melewati pintu kaca otomatis yang terbuka lebar, ke bawah langit yang mendung, ke udara yang terasa lebih dingin dari biasanya, ke arah mobilnya di parkiran.
Ia tidak menoleh lagi. Tapi setiap langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Dan ketika tangannya akhirnya menyentuh gagang pintu mobil, jari-jarinya gemetar.
Di luar, langit mulai melepaskan hujan saat Carisa sudah duduk di depan kemudinya, lalu semakin deras, seperti sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan dan akhirnya tidak bisa lagi berpura-pura baik-baik saja.
Carisa menatap kaca depan yang mulai dipenuhi butiran air.
Aku minta maaf.
Ia memejamkan matanya, mengingat kata itu.
Terlambat, Nanda. Kamu terlambat lima tahun.
Tapi yang tidak bisa ia akui bahkan pada dirinya sendiri adalah bahwa mendengar kata itu tadi, meski terlambat, meski tidak cukup, meski tidak menjawab satu pun dari semua pertanyaan yang selama ini mengendap di dadanya.Tetap saja menyentuh sesuatu yang ia kira sudah lama mati. Dan itu yang paling menyakitkan dari semuanya.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak