NovelToon NovelToon
Dijodohkan Dengan Presdir Arogan

Dijodohkan Dengan Presdir Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Karina Dyah Pramesti, it-girl global sekaligus putri kandung Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, harus menelan pahitnya kehancuran karier di Korea Selatan akibat skandal politik yang menjebaknya.
-
Dipulangkan paksa ke tanah air, Karina tidak punya pilihan selain tunduk pada misi terakhir ayahnya: Pernikahan Politik.
Demi menyatukan kekuatan militer dan supremasi ekonomi, Karina dijodohkan dengan Darma Mangkuluhur, pewaris klan Cendana yang dingin dan ambisius. Di tengah kemewahan yang menyesakkan dan intrik kekuasaan antara dua keluarga raksasa, Karina harus memutuskan—menjadi bidak catur yang pasrah, atau bangkit menjadi penguasa baru untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan impiannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 34

***

Pagi itu, Menteng diselimuti kabut tipis yang seolah enggan beranjak, senada dengan suasana hati penghuni mansion nomor satu di kawasan tersebut. Karina terbangun dengan rasa mual yang jauh lebih hebat dari hari-hari sebelumnya. Begitu ia membuka mata, kekosongan di sisi ranjangnya kembali menyapa. Darma sudah pergi entah ke kantor, ke lapangan golf, atau ke mana pun asal tidak berada di ruangan yang sama dengannya.

"Huekk..."

Karina berlari ke kamar mandi, mencengkeram pinggiran wastafel marmer yang dingin. Ia memuntahkan sisa asam lambung karena perutnya benar-benar kosong. Tubuhnya bergetar, peluh dingin membasahi dahinya. Di rumah sebesar ini, dengan puluhan pelayan yang bersiaga, Karina merasa sangat sendirian.

Setelah merasa sedikit lebih baik, Karina menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya pucat, namun garis kecantikannya sebagai mantan global idol dan putri seorang Jenderal tidak hilang. Darah Old Money dan disiplin militer yang mengalir di tubuhnya memaksa Karina untuk tegak. Ia tidak boleh terlihat hancur hanya karena seorang pria yang menganggap rahimnya sebagai aset investasi.

"Aku butuh udara yang tidak berbau uang," gumamnya.

Ia memutuskan untuk pergi ke rumah Eyangnya, Amelia Yani. Rumah itu tidak jauh, namun atmosfernya adalah kutub yang berbeda dari rumah Darma.

Saat Karina keluar kamar dengan setelan dress katun premium berwarna pastel yang longgar, Sari, kepala pelayan, langsung menghampiri.

"Ibu, Pak Darma berpesan agar Ibu beristirahat di rumah hari ini. Dokter Iqbal bilang Ibu masih sangat lemah," ujar Sari dengan nada khawatir yang tulus.

Karina memperbaiki letak kacamata hitamnya, memberikan tatapan yang tenang namun tak terbantahkan warisan dari Jenderal Agus. "Katakan pada suamimu... maksudku, majikanmu itu, bahwa saya butuh vitamin bernama keluarga, bukan sekadar dokter. Siapkan supir sekarang."

Sari tidak berani membantah. Pukul sepuluh pagi, mobil mewah itu berhenti di depan sebuah rumah bergaya kolonial tahun 70-an yang sangat terawat. Pohon-pohon beringin dan pinus tua berdiri gagah di halaman yang luas. Inilah rumah Eyang Amelia Yani, sebuah kediaman yang menyimpan sejarah panjang militer dan kehormatan.

Begitu Karina turun, aroma tanah basah dan bunga melati menyambutnya. Ia menarik napas panjang, merasa beban di dadanya sedikit terangkat.

"Eyang!" panggil Karina saat memasuki ruang tamu yang dipenuhi foto-foto hitam putih para pahlawan dan perwira tinggi.

"Ayin?" Sebuah suara lembut menyahut.

Karina tertegun. Di sana, di sofa jati besar, duduk ibunya, Selvi istri Jenderal Agus Subiyanto, sekaligus putri dari Eyang Amelia. Nyonya Selvi tampak sedang memilah bunga melati untuk hiasan meja.

"Mamah? Kok Mamah di sini?" Karina langsung menghambur, memeluk ibunya dengan sangat erat. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang ibu, menghirup aroma bedak tabur dan parfum klasik yang selalu membuatnya tenang.

"Loh, kan ini rumah Ibu mamah, sayang. Mamah yang harusnya tanya, kenapa kamu datang sendirian? Darma mana?" tanya Nyonya Selvi sambil mengelus punggung putrinya. Insting seorang ibu tidak pernah salah ia merasakan tubuh Karina sedikit lebih kurus dan bergetar.

"Mas Darma sibuk, Mah. Banyak audit, banyak angka," sahut Karina mencoba terdengar santai, meski matanya mulai panas. "Ayin kangen Mamah, kangen Eyang. Mau manja-manja, boleh kan?"

"Ayin sudah datang? Sini, sayang," suara Eyang Amelia Yani terdengar dari arah ruang makan. Beliau tampak bugar, auranya sangat kuat sebagai sosok wanita yang kenyang akan asam garam dunia militer.

"Eyanggg..." Karina menghampiri dan mencium tangan Eyangnya dengan takzim.

"Kamu pucat sekali, Ayin. Kurang makan?" tanya Eyang Amelia sambil meneliti wajah cucu perempuannya itu.

"Ayin laper banget, Yang. Ayin kepingin banget makan masakan Mamah yang salad Jawa itu loh, yang pake sambal kacang melimpah. Terus ada kerupuknya," ucap Karina manja, kembali ke mode Ayin kecil yang ceria.

Di meja makan, Nyonya Selvi dan Eyang Amelia sibuk menyiapkan hidangan. Salad Jawa dengan sayuran segar dan saus kacang yang gurih tersaji di depan mata. Karina makan dengan lahap, sebuah pemandangan yang tidak pernah terlihat di Menteng.

Anehnya, rasa mual yang menyiksanya sejak pagi tadi hilang seketika saat ia mencicipi masakan rumah ini.

"Enak banget, Mah. Rasanya... beneran kayak pulang," bisik Karina sambil menyuap sayurannya.

Nyonya Selvi menatap putrinya dengan tatapan dalam. "Sayang... kamu dan suamimu lagi ada masalah?"

Karina menghentikan kunyahannya sejenak, lalu tersenyum manis. Senyum yang sudah terlatih untuk menutupi luka. "Enggak kok, Mah. Biasa lah, penyesuaian. Mas Darma kan orangnya memang kaku banget, kayak patung di depan Mabes."

Eyang Amelia meletakkan sendoknya, menatap Karina dengan bijak. "Ayin, dengarkan Eyang. Pernikahan itu bukan hal yang mudah, apalagi di keluarga seperti kita dan keluarga Hutomo. Pasti ada saja ujiannya, entah dari orang luar yang iri atau dari ego pasangan kita sendiri. Kamu harus lebih banyak memaafkan untuk tetap bisa bersama."

Nyonya Selvi meraih tangan Karina, mengelusnya dengan penuh kasih. "Mamah tahu pernikahan kamu dan Darma adalah perjodohan dari Papah. Papahmu punya ambisi, dan Darma punya kepentingan bisnis. Tapi Mamah selalu berdoa, Ayin... Mamah harap di balik semua angka dan strategi itu, kamu bisa menemukan seseorang yang menjagamu dengan tulus. Perlahan saja, ya. Jangan dipaksakan, tapi jangan juga menyerah."

Karina hanya mengangguk, menelan salivanya dengan susah payah. Ia ingin sekali berteriak, "Mah, Ayin hamil! Dan Mas Darma kasih Ayin sepuluh miliar seolah-olah Ayin ini hanya mesin produksi!"

Tapi ia tidak bisa. Ia tidak ingin menambah beban ayahnya yang sedang berjuang di Istana, atau membuat ibunya cemas. Ia memilih untuk tetap menjadi Karina yang cantik, yang kuat, dan yang bahagia setidaknya untuk hari ini.

"Iya Mah, Ayin ngerti kok. Mas Darma baik, dia cuma... butuh waktu buat belajar jadi manusia," ucap Karina diiringi tawa kecil yang terdengar gemas. "Eyang, Ayin mau nambah lagi saladnya ya?"

Di ruang makan yang penuh sejarah itu, Karina menyadari sesuatu. Di tubuhnya mengalir darah para pejuang. Eyangnya adalah saksi sejarah, ibunya adalah benteng bagi sang Jenderal. Ia tidak boleh kalah oleh kedinginan Darma.

Sambil makan, mereka berbincang tentang masa kecil Karina, tentang bagaimana Jenderal Agus dulu sangat protektif jika ada teman pria yang mendekati Karina. Suasana hangat, lucu, dan penuh tawa itu membuat Karina sejenak lupa akan sangkar emas di Menteng.

"Kamu cantik sekali hari ini, Ayin. Auranya beda," puji Nyonya Selvi. "Lebih... berisi dan bersinar."

Karina tersentak, tangannya refleks menyentuh perutnya yang masih rata di balik gaunnya. "Mungkin karena efek makan enak, Mah," jawabnya cepat.

Sore hari saat ia berpamitan, Eyang Amelia memeluknya lama. "Jaga kehormatan keluargamu, Ayin. Dan jaga dirimu sendiri. Kamu itu berlian, jangan biarkan siapa pun membuatmu merasa seperti batu kali."

Karina masuk ke dalam mobil dengan perasaan yang jauh lebih kuat. Ia menatap rumah tua itu saat mobil mulai menjauh. Ia membawa bekal salad Jawa dan kekuatan baru.

Darma boleh saja menjadi investor yang dingin, tapi ia adalah Karina Dyah Pramesti. Jika Darma ingin bermain kaku, maka Karina akan menunjukkan bagaimana cara putri seorang Jenderal menguasai medan pertempuran tanpa harus kehilangan senyumnya.

****

Bersambung...

1
aku
karina megang lengannya darma, tangan kanan darma melingkari pinggang karina. aku blm nemu gambarannya 😭😭
Tika maya Sari
kak update yg banyak* 🤣
Heresnanaa_: stay tune ya kak 😚❤️
total 1 replies
Nessa
sokooooooorrrrrrr
aku
makan tuh ego! 😌
aku
next 😁
Tika maya Sari
di tunggu kelanjutan nya kak
Nessa
👍🏻👍🏻
aku
udah pak gk usah puyeng. udh terkabul tuh mau mu.
mbk karin keren. pkirin diri sm calon debay aja mbk. yg lain biarin. 😁
olyv
jiaaaahhhhh.....otewe darma junior 😍
Nessa
wah setelah ini ayin pasti hamil 😄
Ivy
darma cembokur nih yee 🤭
Ivy
darma 😤😤😤
Ivy
😭😭😭🤣🤣🤣🤣nantangin
olyv
hareudang euy 🤭🤪
olyv
gaassslah ayin 🤭😂
Ivy
humm angel 🤔 ulet² Keket kah
Ivy
gemushhh bangett 🥰🥰🥰
olyv
astgaa kamu main api salah orang angel 😂
olyv
sukses darma bikin karina cemburu 😂😂
olyv
🤣 niceeeeeee.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!