NovelToon NovelToon
Rekah Rasa Di Ambang Senja

Rekah Rasa Di Ambang Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:136.5k
Nilai: 5
Nama Author: sinta amalia

Berulang kali patah hati oleh pemuda yang sama, membuat Lova berusaha melepas mimpinya menjadi kekasih Afnan, dan pasrah menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.

Namun siapa sangka, nyatanya lelaki pilihan mama dan papa adalah Afif sang guru mengaji yang juga putra dari teman papa. Bukan karena jarak usia mereka yang terpaut cukup jauh, namun sosok Afif yang terkenal anti perempuan apalagi jika perempuan itu termasuk ke dalam golongan manusia minus akhlak dan ilmu agama sepertinya yang membuat Lova berpikir lebih baik ia diciptakan menjadi sebuah debu saja.

***

Disaat ia sudah bisa menerima semua yang terjadi, justru sosok pemuda impiannya itu hadir kembali di kehidupan Lova.

Akankah Afnan mampu menggoyahkan hati Lova, bagaimana pula Afif membimbing Lova demi membawa bahtera rumah tangga keduanya hingga mampu menepi di jannahnya Allah?

~~~
"Kenapa mesti surat Ar-Rahman dan surat An-Nisa yang jadi mahar?"

"Terus kamu maunya apa? Yassin? Al Jinn?"
.
.
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 See you, Habibi

❤️ Mas Afif ❤️

Saya udah di depan gerbang, Va.

Gerombolan anak-anak dengan putih abu itu bagai riak air yang dikacaukan, membludak keluar, ramai, dan riuh.

Afif benar-benar menunggu di dekat gerbang sekolah bersama dengan para penjemput lain, angkutan umum, dan beberapa kendaraan online yang berjejer.

**Dealova** 💞

*Oke. Tapi aku ke toilet dulu ya, mas*.

Ada senyuman tipis, lalu...apa sekarang, ia merasa tak percaya diri? Hingga harus merapikan rambut yang tentu saja sudah rapi sebab ia membubuhi pomade agar tak ada rambut kering atau helaian Surai yang mencuat keluar membuatnya tak rapi.

Afif melongokan kepala dari jendela manakala melihat Afnan keluar bersama motornya dari gerbang, ia membunyikan klakson pada adiknya yang notice dengan kedatangannya, "mas..nunggu Lova?" ia Salim takzim.

"Iya. Udah keluar belum *mbakmu*?"

Sempat terdiam, Afnan menggeleng, "ngga liat."

"Udah coba di wa? Biasanya---" belum selesai Afnan bicara, Afif telah menyadari kehadiran Lova dari arah depan, "ah itu dia."

Ada kepala yang menoleh juga demi melihat gadis cantik itu, "Mas, lama engga nunggunya?" Lova mengulurkan tangannya ke arah Afif dari sisi yang sama dengan Afnan dan refleks mengulurkan tangannya pada Afnan juga, "apa?" tanya Afnan membeo cukup kaget juga dengan aksi Lova yang kemudian---"eh salah! Ahahahaha!"

Baik Afnan maupun Afif tak bisa untuk tak ikut tertawa kecil. Mungkin itu kali pertamanya ia bisa begitu, se-mencair itu dengan Afnan di depan Afif, begitupun sebaliknya, bersikap normal seperti tak pernah ada apa-apa diantara mereka sebelumnya.

"Mas yuk buruan yuk, aku telat ini...tadi Miss Eli bilang udah ada di tempat bimbel..."

"Oh ya udah masuk." Afif membuat gestur memintanya masuk.

"Mas, Lova, aku duluan kalo gitu..." melihat kini Lova yang sudah memusatkan atensinya pada Afif, begitupun Afif, Afnan merasa harus segera pamit daripada harus menjadi obat nyamuk.

"Hati-hati langsung pulang!" pinta Afif diangguki Afnan, sementara Lova langsung masuk ke dalam mobil.

"Biarin aja kek mas, aku tuh kalo di sekolah ngerasa kehidupan Afnan kok monoton ya..." maksudnya cowok baik-baik rumahan tak pernah nongkrong-nongkrong di luar, dan itu yang membuatnya suka selain dari kelebihan lainnya, dulu!

"Monoton gimana?" tanya Afif mulai melajukan kembali mobilnya menuju tempat bimbel Lova.

"Kayanya hidupnya cuma berbatas sekolah, rumah, masjid." Absen Lova, Afif menahan kedutan di bibirnya memperhatikan Lova sesekali, entahlah...sejak pagi harinya begitu cerah, ia juga merasa apapun yang Lova ceritakan, yang Lova lakukan adalah sebuah semangat baru dan hiburan untuknya, "ya bagus kan? Terkendali, ngga macam-macam."

Lova menggeleng, "justru karena itu. Kasian mas, masa muda, masa remajanya ngga asik..."

"Terus yang asik yang gimana?" lirik Afif.

"Dia ngga pernah pacaran ya?"

Ada lengkungan ragu, "ngga tau. Kamu di sekolah ngga pernah lihat dia deket sama cewek atau suka, disukain?"

Lova menelan salivanya sulit, mendadak seret tenggorokannya, senjata makan tuan. Lova menggeleng, oke kita sudahi topik tentang Afnan, "kalo mas sendiri, pernah pacaran? Atau----" Lova menggantung ucapannya di udara, sama juga kaya Afnan....ngerasa juga kalo cewek itu makhluk yang harus dihindari? Bukan mahram yang harus diusir jauh-jauh...

"Atau apa?" tanya Afif penasaran.

"Atau anti sama yang namanya pacaran." Lanjut Lova, yeah! Benar, padanan kalimat yang tepat menurutnya.

Afif menghela nafasnya, "pernah coba. Melakukan pendekatan, tapi sepertinya gagal...terus fokus belajar, mengejar karir dulu. Seiring dengan ilmu yang di dapat, akhirnya paham....bukan anti...tepatnya karena memang menjaga agar tidak zina mata. Saya bukan nabi, hanya manusia dengan kadar keimanan yang jauh, melihat sesuatu yang indah, apalagi perasaan itu anugrah dari Yang Maha Kuasa tidak saya pungkiri, ingin memiliki ingin menikmati. Tapi----" Afif membelokan stirnya terlebih dahulu ke arah jalanan menuju tempat bimbel.

"Ada baiknya sesuatu yang indah itu dihalalkan dulu, betul? Supaya, ketika kita menikmatinya, tidak menjadi dosa."

Lova tersenyum tipis, "mas pernah jatuh cinta?"

Afif mengangguk.

"Pernah nembak cewek?"

Dan aksi yang tak pernah diduga Lova adalah, Afif membuat gestur menembak jidat Lova, "dorr!" membuat gadis ini tergelak, "bukan begitu. Maksudnya nyatain perasaan."

"Pernah. Waktu jaman SMA, waktu kuliah. Tapi ceweknya baru dua minggu pacaran langsung kabur."

"Kenapa?" tanya Lova antusias setengah ayok tak percaya, menyayangkan saja, memancing Afif untuk melihat gemas reaksinya, "mungkin cara apel saya yang dirasa ngga lumrah."

"Emangnya gimana cara apelnya?"

"Apel Minggu pertama, diajakin mengupas tajwid bacaan."

Lova tergelak.

"Apel kedua diajakin ngisi TTS." Kembali Lova tergelak, "ya iyalah!! Ajakin cewek tuh makan, nonton gitu. Diajakin ngisi tts sama ngaji. Bikin pusing...kalo pacaran kan pengennya dimanja, sihh mas!"

"Manja maksudnya, sayang-sayangan?"

Lova mengangguk.

"Kaya begini?" Afif justru mengulurkan tangannya mencolek dagu Lova, lalu dengan gerakan kilatnya mengecup pipi Lova.

"Mas!" Lova menutup mulutnya, cukup syok dan dibuat melotot.

"Masih penjajakan udah berani colak-colek, kecap-kecup....nempel-nempel selayaknya suami--istri, waduh... malu." Jawab Afif.

"Ya di tempat sepi, kek. Di tempat tertutup." Masih saja debat Lova.

"Makhluk di bumi boleh ngga liat, tapi yang diatas...heyyy lagi pada ngapain hayoooh! Di kanan kiri malaikat yang nusuk-nusuk pake pulpen, dicatat nih ya! Afif....maling-maling kecupan. Nanti setan lewat, ngisi penglihatan sama hati. Yang awalnya zina mata, jadi zina yang lain. Bukannya sama-sama ibadah malah melangkah menuju maksiat berjamaah."

"Punya hubungan itu harus yang punya faedah, harus bermanfaat...bukan sama-sama melangkah ke jurang."

"Tapi berarti mas pernah dong pacaran? Pernah nyatain perasaan, pernah suka sama orang?"

Afif mengangguk, "pernah lah. Saya manusia biasa, yang Alhamdulillah mata masih berfungsi normal, hati juga masih berfungsi."

Dan mobil terhenti tepat di depan tempat bimbel Lova, namun Lova masih memandang Afif lekat-lekat.

Ia masih merasa harus terkagum-kagum pada sosok Afif yang nyatanya jauh dari penilaiannya dulu.

"Sampai, pulang jam berapa?" Tanya Afif sudah mendengus geli sadar akan Lova yang memandangnya intens.

"Ya?" Lova tersadar, "jam 3. Mas mau pulang dulu ngga apa-apa. Nanti---"

"Kamu mau saya ajak pacaran?"

Kedua alis Lova naik demi mencerna ucapan Afif, yang lagi-lagi membuatnya speechless, "ha?"

"Pacaran yang insyaallah halal, Va. Tidak usah takut ada setan diantara tempat gelap. yang tidak usah takut malaikat ngintip terus dicatat sebagai timbangan dosa, melainkan ibadah?"

Kembali hatinya telah bergetar untuk yang kesekian kali, "mau." Ucapnya membeo polos. Afif terkekeh tanpa suara, "kalau gitu..." Afif melirik arlojinya, "saya pulang dulu, terus jemput lagi kesini."

"Ngga apa-apa bolak-balik?" tanya Lova.

"Ngga apa-apa. Begitu kan urutan ngapel? Mandi, siap-siap...terus jalan."

Lova tertawa kecil mengangguk, tangannya meraih tangan Afif, kali ini bukan lagi salim takzim, melainkan sudah mengecupnya, "see you, habibi."

"See you." Afif kembali mendengus geli.

Lova turun dari mobil, sambil cekikikan merasa geli. Pacaran versi lelaki matang.

.

.

.

.

1
Icka Soesan
cukup bikin geregetan
Siti
good the best lah pokoknya
Ney Maniez
enknya pacaran halal...
jgn bikin ambyaaarrrr teh sin
pas Afif tau tentang Afnan
Ney Maniez
alhamdulilah,, bersyukur ya Va
Ney Maniez
ihhh soo sweett 🥰🫰
Ney Maniez
nahh gituuu va,,CPT move-on karna ad yg halal...
jujur kpn va tentang Afnan ny
Ney Maniez
KLO tau BKN buat Afif gmn,nyesekkk GK sihhh
Va bukan dibuang ajj sih kertas ny
Trituwani
asikk bener kalian nonton,berasa abg lagi ya mas...tp ya tahan nafas jg klo depan belakang samping kiri kanan ad yg slonong boy gitu berasa milik berdua..... berasa pengen bilang "woee halalin dululah sebelum kecap kecup kemat kemut"jiwa meronta ya va pengen nyakar 😅
Trituwani
cupidnya baru dateng dikala kamu patah, diwaktu yg tepat bgt va
Trituwani
yahhh bunga biasa va...q kira bunga bank sekalian va 😂😂
Trituwani
cieeeeeeeeeeeeee q nganan va ihh 😄
Trituwani
lebih lebihh mantabsnya va... lebihh yahudh pula
Trituwani
jatuh cinta berjuta rasanya...
Rita
Va aduhhh bs dilepas dulu ngga kertas minyaknya pgn romantis buyar gr2 kertas nempel di mukamu😂
Rita
berasa jadul😂
Rita
😂😂😂😂😂😂😂i fell u Va
Rita
😍😍😍
Rita
terAfif Afif skrg🥰
Rita
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Rita
wehh😂😂😂😂sklian praktek
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!