NovelToon NovelToon
KEY

KEY

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: DAN DM

AKU ADALAH KEY.
AKU HIDUP BERSAMA TUKANG KAYU DARI PENJAG KUIL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DAN DM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SIMBOL DI BAWAH KAKI

Siang itu, matahari bersinar terik namun tidak menyengat. Cahayanya menembus celah-celah dedaunan pohon raksasa yang mengelilingi kompleks kuil berbentuk lingkaran itu, menciptakan pola-pola bayangan yang menari-nari di atas tanah yang tertutup lumut. Angin berhembus pelan namun terasa sejuk, menyapu debu-debu halus dan membawa aroma tanah basah serta kayu tua yang khas. Suasana hening, hanya terdengar suara gesekan daun dan... krak! krak! suara kapak yang menghantam kayu keras.

Di sisi barat reruntuhan, tepat di depan gubuk kecil mereka, Kakek Genpo sedang bekerja. Tubuhnya yang sudah berusia 88 tahun itu ternyata masih sangat bertenaga. Otot-otot lengannya menonjol saat ia mengayunkan kapak tajam ke batang pohon yang dikenal memiliki kayu paling keras di kawasan itu.

"Aduh... keras sekali kayu ini!" gerutu Kakek Genpo sambil mengusap keringat di dahi dengan punggung tangan. "Dipukul puluhan kali pun cuma baret dikit. Seolah-olah pohon ini punya nyawa sendiri yang menolak untuk ditebang."

Deon Key duduk santai di atas sebuah balok batu besar yang datar, tidak jauh dari sana. Ia menyandarkan punggungnya ke tiang penyangga gubuk, memegang sebuah buku catatan tebal namun wajahnya tertuju pada sosok kakeknya. Mendengar keluhan itu, Deon tidak bisa menahan tawa.

"Hahaha... Kakek ini mah," Deon tertawa renyah, bahunya terguncang. "Sudah kubilang, kayu pohon Iron-Wood ini memang begitu. Seratnya padat seperti besi tuang. Kalau cara memukulnya sembarangan, kapaknya yang bisa tumpul duluan, Kek."

"Ah, dasar anak pintar mulut!" Genpo membalas dengan nada bercanda, namun tangannya tak berhenti. Ia memukul lagi. Byur! Kapak menancap dalam kali ini. "Tapi kau benar, Deon. Kayu ini keras, tapi kalau kita tahu titik lemahnya dan punya kesabaran, ia akan tunduk juga. Sama seperti hidup."

Deon tersenyum tipis. Ia selalu suka cara kakeknya berbicara, penuh dengan kiasan yang sederhana tapi dalam.

Angin berhembus sedikit lebih kencang, membuat jubah lusuh yang dikenakan Deon berkibar pelan. Matanya mengelilingi area itu, menatap dinding-dinding batu yang tinggi, pilar-pilar megah yang sebagian sudah retak, dan patung-patung besar yang kehilangan kepalanya. Rasa penasaran yang selama ini mengendap di hatinya perlahan muncul ke permukaan.

"Kek..." panggil Deon pelan.

"Hmm? Apa?" jawab Genpo sambil terus mengerjakan tugasnya, napasnya sedikit terengah namun tetap stabil.

"Tempat ini... kuil ini," Deon menunjuk sekeliling dengan dagunya. "Sudah berapa lama kita di sini? Bertahun-tahun aku tinggal di sini, tapi aku baru sadar... aku tidak pernah tahu nama tempat ini. Apa nama kuil ini, Kek? Dan siapa yang sebenarnya membangunnya dulu?"

Suasana menjadi hening sejenak, hanya suara angin yang menjawab. Kakek Genpo berhenti mengayunkan kapaknya. Ia meletakkan alat itu di tanah, lalu berbalik menghadap cucunya. Wajah tua itu tampak berpikir keras, kerutan di dahinya semakin dalam.

"Nama?" Genpo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hmm... Kuil rusak ini tidak punya nama, Deon. Setidaknya tidak ada yang tertulis atau yang kakek dengar selama merawat tempat ini. Orang-orang sekitar juga cuma menyebutnya 'Tempat Tua' atau 'Benteng Batu'."

"Lalu... apa tidak ada lambang atau simbolnya? Tempat sebesar ini pasti punya simbol atau totem sendiri," desak Deon, rasa ingin tahunya makin memuncak. Sebagai seorang jenius, ketidaktahuan adalah sesuatu yang mengganggunya.

Genpo tersenyum kecil, lalu ia menunduk menunjuk ke arah kaki Deon.

"Simbol ada. Kalau kau cari simbol dari tempat ini... lihatlah tepat di bawahmu itu."

Deon terkejut. Ia segera melompat turun dari batu datar tempat ia duduk. Di sana, sedikit menonjol dari permukaan tanah yang tertutup rumput tipis, terdapat sebuah batu ukiran yang halus. Bentuknya bulat dan di atasnya terpahat gambar sebuah pohon besar dengan akar yang menjalar kuat ke bawah serta ranting yang melebar ke atas.

"Itu..." mata Deon membelalak. "Pohon Beringin?"

"Betul," kata Genpo sambil berjalan mendekat dan berjongkok di samping batu itu. Ia mengusap permukaan batu itu dengan lembut. "Simbolnya adalah Beringin. Pohon yang tak pernah mati, yang akarnya kuat memegang bumi, dan naungannya luas melindungi. Itulah makna dari tempat ini. Tempat perlindungan dan akar sejarah."

Deon meneliti ukiran itu dengan saksama. Jari-jarinya menelusuri garis-garis pahatan yang tajam meski sudah tertutup debu waktu. "Simbol Beringin... Jadi ini adalah Kuil Beringin?" gumamnya pada diri sendiri.

"Kalau soal sejarah..." Genpo menghela napas panjang, ia berdiri kembali dan memijat pinggangnya yang sedikit pegal. Ia kembali ke pohon tadi, mencoba melepaskan dahan yang sudah hampir putus. Tangannya bekerja sementara otaknya bekerja.

Deon tidak menyerah. Ia mengikuti kakeknya dari belakang. "Terus sejarahnya bagaimana Kek? Dari mana asalnya? Kapan dibangunnya? Kenapa bisa hancur begini?"

Pertanyaan demi pertanyaan meluncur deras seperti air terjun. Genpo tertawa kecil melihat antusiasme cucunya itu.

"Sabar, sabar... Mulutmu lebih cepat daripada kapak ini," canda Genpo. Ia memukul sekali lagi dengan kuat, dan akhirnya dahan besar itu tumbang dengan suara gemuruh yang memantul di dinding-dinding kuil. DUMMM!

Setelah memastikan dahan itu aman, Genpo bersandar pada batang pohon, menyeka keringat lagi.

"Jujur Deon... Kakek juga tidak tahu banyak. Kakek kan cuma penjaga yang kebetulan menemukan tempat ini 15 tahun lalu. Tapi..." Genpo berhenti sejenak, matanya menatap jauh ke langit biru, seolah sedang mengorek ingatan lama.

"Tapi apa Kek?"

"Dulu, sekitar beberapa tahun setelah kita tinggal di sini, kakek pernah menemukan sebuah buku tua. Buku itu aneh, kulitnya keras seperti kulit kayu tapi halus, tulisannya pakai tinta emas yang sudah pudar. Isinya gambar-gambar aneh dan tulisan huruf-huruf kuno yang tidak kakek mengerti."

Mata Deon berbinar terang. "Buku? Buku apa Kek? Dimana sekarang? Ayo kita cari! Itu pasti kuncinya!" Deon mulai bersemangat ingin mencari ke segala arah.

"Wahai anakku, tenanglah..." Genpo menahan bahu cucunya dengan tangan yang kokoh. "Sayangnya... kepala kakek sudah tidak segar dulu. Otak sudah mulai berkarat seperti besi yang lama tidak dipakai."

Genpo tersenyum malu-malu. "Kakek lupa menaruhnya di mana. Entah terselip di tumpukan barang di gubuk, atau terkubur di salah satu ruangan bawah tanah yang runtuh, atau mungkin kakek taruh di pojok sana dan tertutup tanah..."

Deon langsung menghempaskan tubuhnya kembali ke batu tadi, kali ini dengan ekspresi kecewa bercampur gemas. "Aduh Kakek... Benda penting begitu kok hilang sih. Padahal itu pasti sejarah asli tempat ini."

"Hahaha, maafkan kakek ya. Tapi tenang saja," Genpo menepuk pundak Deon. "Buku mungkin hilang, tapi batu-batu ini tidak akan kemana-mana. Sejarah tidak hanya tertulis di kertas, Deon. Ia tertanam di tanah, terukir di batu, dan berhembus bersama angin ini. Kalau kau memang jenius seperti yang kakek tahu... kau pasti bisa membacanya tanpa perlu buku."

Angin kembali berhembus kencang, seolah menyetujui kata-kata Genpo. Deon menatap sekelilingnya lagi. Reruntuhan ini bukan sekadar tumpukan batu. Ia adalah sebuah teka-teki raksasa yang menunggu untuk dipecahkan. Dan batu beringin di bawah kakinya tadi... adalah petunjuk pertama.

"Baiklah Kek," Deon tersenyum penuh tekad. "Kalau buku hilang, kita cari lagi. Dan kalau tidak ketemu... aku akan tulis sejarahnya sendiri mulai dari sekarang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!