Kurza adalah vampir terkuat dimasa lalu, entah apa yang ada dipikiranya sehingga dia memutuskan untuk beristirhat/tidur di dalam sebuah goa . sebelum Putri Kerajaan Alabas tanpa sengaja membangunkan Kurza dari tidurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arafi Arif Dwi Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22. Pesta Menyambut Kehadiran Khiya
Raja Hrolf menyeka air matanya dengan kasar, lalu berbalik ke arah aula yang luas dengan semangat yang seolah baru saja meledak kembali. Ia mengangkat kapak Winter-Bite milik Bjorn tinggi - tinggi ke udara. "RAKYAT UTARA! LIHATLAH!" suaranya menggelegar, memantul di dinding-dinding batu aula. "Siang ini, berdiri keturunan Bjorn ! Darah Pangeran Bjorn tidak padam; ia kembali dalam wujud putri yang cantik dan berani! Siang ini, kita tidak berduka, malam nanti kita berpesta!" Teriak Raja Hrolf dengan penuh semangat. Seketika, seluruh aula meledak dalam sorak - sorai yang mengguncang langit - langit.
Para prajurit menghantamkan kaki mereka ke lantai dengan irama yang serempak “BOOM! BOOM! BOOM!” Pelayan - pelayan mulai berlarian mempersiapkan jamuan pesta. Sementara itu Kurza mendekati Raja Hrolf, "Raja Hrolf,,, ijinkan Khiya untuk istirahat sejenak." Pinta Kurza dengan membungkukan sedikit badannya, menghormati Raja. dengan lambaian tangan Raja mengisyaratkan kepada salah satu pelayan agar mengantar Khiya kekamar. Khiya berjalan mengikuti pelayan diiukti Kurza dan Rin.
"Ayah, lelaki yang bersama Khiya sangat kuat. Saya menghadapi dia di depan pintu gerbang, lihat lah,,, dia tanpa luka dan sama sekali tidak membalas seranganku." bisik pelan Ube ke pada Raja. Raja tertegun mendengar pengakuan dari Ube, pasalnya di mata Raja Ube adalah petarung yang hebat, bahkan Bjorn pun kualahan jika nelawan Ube.
malam pun tiba, tong - tong besar berisi mead (madu fermentasi) yang aromanya manis dan kuat telah di siapkan. Meja - meja panjang dipenuhi dengan daging hasil buruan di hutan , roti gandum hangat, dan buah-buahan liar. Api di perapian raksasa dikobarkan lebih tinggi, memberikan kehangatan yang merata ke seluruh ruangan. Khiya duduk di samping kakeknya di meja utama. Di bawah cahaya obor yang meriah, Raja Hrolf terus memandangi cucunya dengan bangga, seolah takut jika ia berkedip, Khiya akan hilang seperti mimpi.
Sementara itu, Kurza tetap memilih berada di tempat yang sedikit remang di ikuti Rin yang duduk disamping Kurza, meski Raja Hrolf telah memberikannya tempat terhormat. Ia memperhatikan bagaimana bangsa Viking merayakan kehidupan dengan liar, nyanyian perang mulai berkumandang, dan para prajurit yang tadi menyerangnya kini mendekat untuk bersulang, tanda bahwa harga diri mereka telah pulih melalui pertarungan yang adil.
Ube mendekati Kurza dengan langkah berat yang membuat lantai kayu berderit. Ia tidak lagi membawa gada, melainkan dua cangkir tanduk besar berisi mead yang aromanya sangat tajam. Dengan satu sentakan, ia menyodorkan salah satunya ke dada Kurza. "Minumlah, Di Utara, hanya orang mati yang tidak merasa haus setelah bertarung," geram Ube, lalu ia meneguk minumannya hingga separuh. Ia menyandarkan punggung besarnya ke pilar kayu, matanya yang biru tajam menatap Kurza yang tetap bersikap waspada di sudut remang aula.
Ube terkekeh rendah, suara yang terdengar seperti gesekan batu gerinda. "Aku sudah melawan banyak prajurit kuat hingga tentara bayaran dari Selatan," ucap Ube dengan nada yang lebih serius. "Tadi itu... kau tidak benar-benar bertarung, kan? Kau bergerak seolah-olah sedang menari di sekitar seranganku. Setiap kali kau punya celah untuk merobek tenggorokanku, kau justru memilih untuk melumpuhkan sarafku."Ube memutar-mutar cangkirnya, menatap pantulan api di dalamnya. "Bagi bangsa Viking, itu adalah penghinaan... tapi sebagai seorang petarung sejati, aku tahu itu adalah pengendalian diri yang luar biasa. Katakan padaku siapa namamu? Apa yang membuat pria sepertimu; yang bisa menghancurkan satu pasukan dengan tangan kosong, memilih untuk menjadi pengawal diam bagi Khiya?" Tanya Ube dengan tangan yang masih memutarkan gelas tanduk.
Kurza hanya menatap cangkir di tangannya, membiarkan uap minuman itu naik ke wajahnya sebelum menjawab dengan suara rendah yang tenang. namun pikirannya melayang jauh ke balik tembok - tembok dingin Alabas. Suaranya rendah, nyaris tenggelam di antara hiruk - pikuk tawa para prajurit Viking. "Aku tidak mencari kemenangan atas dirimu, Ube," ucap Kurza tanpa menoleh. "Tugas yang kupikul jauh lebih berat daripada sekadar memenangkan pertarungan." Ia menarik napas panjang, bayangan Iris sejenak melintas di benaknya. "Aku telah mengikat sumpah di hadapan penguasa Alabas yang sebenarnya. Namaku Kurza, Aku adalah pelindung bagi darah murni kerajaan Alabas. Khiya, , dia adalah harapan terakhir dari sebuah janji yang gagal aku tepati. Darahnya adalah garis hidup Alabas yang tersisa." jawab Kurza dengan tatapanya beralih ke arah Khiya.
Ube terdiam, mendengarkan dengan seksama. Sifat kerasnya sedikit melunak mendengar kata "sumpah", sesuatu yang sangat sakral bagi bangsa Viking. "Pedangku, nyawaku, dan setiap kekuatanku telah kuserahkan sepenuhnya untuk memastikan dia (Khiya) baik - baik saja dan kembali hidup normal bersama kakeknya (Raja Zion)," lanjut Kurza, kini menatap langsung ke mata Ube. "Jika aku harus menghancurkan semua musuh - musuhku demi keselamatan Khiya, maka itulah yang akan kulakukan. Seorang pelindung tidak bertarung untuk kemuliaan pribadinya, tapi untuk kelangsungan hidup yang terpilih untuk di lindungi." Seru Kurza dengan tatapan yang sungguh - sungguh.
Ube mengangguk pelan, lalu menghantamkan cangkirnya ke cangkir Kurza dengan bunyi “CLINK” yang mantap. "Sumpah dan janji, emmm? Kami menghormati itu di sini. Jika kau sebegitu setianya pada keponakanku, maka kau adalah saudara bagiku; Skuul" Teriak Ube sembari mengajak bersulang.
Rin yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan obrolan tuanya, mendadak terkejut mendengar pernyataan dari Kurza, dia takut tanpa ada Miyuki disisi Kurza, Kurza amarahnya tidak terkendali dan benar - benar melepaskan seluruh kekuatannya yang bisa mengakibatkan bencana bagi kota yang ada disekitaran Kurza. Karena selama ini hanya Ratu Iris dan Miyuki yang dapat mereda amarah tuanya.
"Ube, aku titipkan Khiya bersamamu! Untuk sementara waktu dia aman disini, Esok aku akan kembali ke Alabas, masih banyak yang harus aku lakukan di Alabas" Pinta Kurza. Mata Ube membelalak mendengar pernyataan Kurza. Ia menurunkan cangkirnya, menatap Kurza dengan dahi berkerut dalam. Suasana pesta yang bising di sekitar mereka seolah meredup bagi kedua pria itu. "Kembali esok?" geram Ube rendah. "Kau baru saja sampai di sini, dan sekarang kau ingin kembali ke Alabas?" tanya Ube dengan heran. Kurza menoleh ke arah Khiya yang sedang tertawa kecil mendengarkan cerita kakeknya. Tatapan matanya melembut, namun penuh tekad. "Kel sedang bergerak mengumpulkan sisa - sisa pasukan yang masih setia. Aku harus memastikan tempat persembunyian kami benar - benar aman dari sergapan Zhit dan para iblinya. Khiya lebih aman disini, di bawah perlindunganmu." Lanjut Kurza.
Ube terdiam sejenak, lalu ia meletakkan tangan raksasanya di bahu Kurza, meremasnya dengan mantap. "Pergilah besok. Aku bersumpah demi nyawaku dan demi Dewa Zeus, akan aku jaga Khiya selama ia di sini." Kurza mengangguk pelan. Ia tahu waktu adalah segalanya. Kurza melihat ke arah Rin. "Rin, panggil Khiya!" perintah Kurza. Rin beranjak dari tempat duduknya dan melangkah ke arah Khiya. "Tuan Kurza memanggilmu nona Khiya," bisik Rin di telinga Khiya. Khiya pun berpamitan kepada kakaeknya, jika ia di panggil oleh Kurza.
"Khiya Besok pagi Aku dan Rin Kembali ke Alabas.." Seru Kurza.
Bersambung. . .