Maheer Arasyid terjebak dalam wasiat yang terasa seperti kutukan. Kepergian Muzammil, sang kakak yang tewas demi melindunginya dari maut di parkiran rumah sakit, meninggalkan duka sekaligus beban berat: Assel Salsabila.
Bagi Maheer, Assel bukanlah sekadar janda kakaknya, melainkan musuh bebuyutan sejak masa sekolah yang sangat ia benci. Alasan Maheer melarikan diri ke luar negeri bertahun-tahun hanyalah satu: menghindari fakta bahwa wanita "berbisa" itu telah menjadi bagian dari keluarganya.
Kini, demi menunaikan janji terakhir Muzammil dan menjaga senyum kecil Razka Arasyid, Maheer terpaksa mengikat janji suci dengan wanita yang paling ia hindari. Di balik benci yang membara, tersimpan rahasia masa lalu dan luka yang belum sembuh. Bisakah pernikahan yang dibangun di atas rasa bersalah ini berubah menjadi cinta, ataukah dendam lama justru akan menghancurkan segalanya?
Temukan jawabannya dalam kisah pengabdian dan benci yang berujung cinta ini. Dan jangan lupa berikan dukungannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SERPIHAN MASA LALU YANG TERCECER.
Perjalanan kembali menuju ibu kota terasa sunyi dan dingin, meski pemanas mobil sudah dinyalakan. Hans fokus mengemudi di balik kemudi, sementara Maheer duduk di kursi belakang, tepat di samping Assel yang memeluk Razka. Jarak di antara mereka terasa seperti jurang yang tak berujung.
Maheer sesekali mencuri pandang melalui kaca spion tengah. Matanya tertuju pada sosok wanita di sampingnya. Ia harus mengakui dalam hati, Assel yang sekarang terlihat jauh lebih anggun. Hijab yang dikenakannya memberikan kesan teduh yang selama ini tidak pernah Maheer sadari. Saat mobil melaju stabil menembus jalanan Jawa Tengah, kepala Assel perlahan terkulai ke sandaran kursi. Ia tertidur karena kelelahan yang amat sangat.
Dalam lelapnya, wajah Assel tampak begitu damai namun menyimpan sisa kesedihan. Maheer terpaku menatap wajah itu. Tanpa sadar, pikirannya ditarik kembali ke masa tujuh tahun yang lalu. Masa di mana kebencian ini belum mendarah daging.
Flashback On
Taman sekolah SMA Merpati putih menjadi saksi bisu betapa akrabnya mereka dulu. Sebagai teman sejak SD, Maheer selalu menjadikan Assel prioritas utamanya. Jika Assel lapar, Maheer adalah orang pertama yang membawakan makanan. Jika Assel sedih, Maheer adalah orang pertama yang membuat lelucon.
"Kau tidak boleh dekat-dekat dengan cowok lain, Sel. Mereka itu serigala," ujar Maheer suatu sore di kelas tiga SMA.
Assel tertawa kecil saat itu. "Termasuk kau?"
"Aku pengecualian. Aku pelindungmu," jawab Maheer bangga.
Namun, kedekatan mereka memicu api iri di hati para siswi, dan rasa tidak suka di hati teman-teman geng Maheer. Mereka merasa Assel yang hanya anak dari keluarga sederhana tidak pantas berada di lingkaran mereka.
"Kita harus pisahkan mereka. Assel itu benalu," bisik salah satu teman Maheer di belakang kelas.
Rencana pun disusun. Suatu siang, Assel dipanggil ke taman belakang dengan alasan Maheer menunggunya di sana. Namun, yang ia temukan justru Rudi, siswa dari kelas lain yang sudah dibayar oleh teman-teman Maheer. Tanpa aba-aba, Rudi langsung menarik dan memeluk Assel dengan paksa.
"Lepaskan! Apa-apaan kau ini!" Assel berontak, ia menampar Rudi dengan keras hingga pria itu tersungkur.
Namun, kamera ponsel dari balik semak-semak sudah mengabadikan momen itu. Foto yang diambil sengaja dari sudut tertentu agar terlihat seperti mereka sedang berpelukan mesra. Foto itu sampai ke tangan Maheer hari itu juga.
Maheer merasakan dunianya runtuh. Dadanya sesak melihat foto "pelindung" lain yang memeluk Assel. Namun, ia tidak langsung menegur. Sikapnya hanya berubah menjadi dingin dan kaku. Teman-temannya yang melihat Maheer masih mau jalan bareng dengan Assel merasa rencana mereka belum sempurna.
Mereka pun menjalankan tahap kedua. Tika, teman Assel yang selalu menyimpan dengki, mendekati Assel saat Maheer sedang bersembunyi di balik dinding koridor atas suruhan teman-temannya.
"Sel, kau menyukai Rudi, ya? Foto kalian sudah tersebar," tanya Tika memancing.
Assel yang masih merasa trauma dan jijik atas kejadian di taman langsung menjawab dengan emosi meledak. "Menyukai dia? Aku bahkan jijik menyentuh tubuhnya! Aku benci pria itu! Melihatnya saja aku ingin meludah ke tanah!"
Assel meludah ke tanah dengan wajah penuh kemuakan. Namun, Maheer yang hanya mendengar percakapan itu dari kejauhan diberitahu oleh teman-temannya bahwa kata-kata "jijik" dan "benci" itu ditujukan untuk dirinya.
"Dengar itu, Maheer? Dia bilang dia jijik padamu selama ini, Dia bahkan sangat membencimu," bisik temannya memprovokasi.
Sejak saat itulah, Maheer berubah menjadi monster bagi Assel. Ia mulai melontarkan kata-kata kasar setiap kali bertemu. Assel yang bingung mencoba menjelaskan berkali-kali, namun Maheer selalu memotongnya dengan hinaan.
"Jangan pernah bicara padaku lagi, wanita bermuka dua! Karena Aku juga merasa jijik padamu!" bentak Maheer di lorong sekolah sebelum kelulusan.
Permusuhan itu memuncak hingga hari keberangkatan Maheer ke luar negeri untuk kuliah. Muzammil yang curiga melihat perubahan drastis adiknya mulai menelusuri kebenaran. Ia memeriksa rekaman CCTV sekolah di hari kejadian taman dan menemukan fakta bahwa Assel dijebak dan di fitnah. Namun, saat ia ingin memberitahu Maheer, adiknya itu sudah menutup telinga.
"Aku tidak butuh penjelasan siapa pun! Aku benci dia, Kak!" teriak Maheer sebelum berangkat ke bandara.
Assel sempat mengejar ke bandara dengan air mata mengalir deras, namun pesawat Maheer sudah lepas landas. Di saat yang sama, ponsel Assel bergetar. Suara Muzammil di seberang sana terdengar panik mengabarkan bahwa orang tua Assel mengalami kecelakaan hebat.
Assel berlari ke rumah sakit dalam keadaan hancur. Di sana, di depan ruang ICU, Muzammil sudah menunggu. Di saat-saat terakhirnya, ibu Assel menggenggam tangan Muzammil.
"Tolong... jaga Assel. Dia sendirian di dunia ini," bisik ibunya dengan napas tersengal.
"Menikahlah dengan Assel, Nak. saya mohon," tambah sang Ayah sebelum kesadarannya hilang.
Tanpa sempat meminta persetujuan siapa pun, Muzammil yang merasa bertanggung jawab atas kehancuran hubungan adiknya dan ingin melindungi Assel, ia pun menyetujui permintaan itu. Di hari yang sama, akad nikah sederhana dilakukan di ruang rumah sakit. Sesaat setelah Muzammil mengucapkan ijab qobul, kedua orang tua Assel mengembuskan napas terakhir dengan tenang.
Flashback Off
Maheer menghela napas panjang, bayangan bayangan perkataannya Assel di masa lalu itu membuatnya merasa sesak. Ia menatap Assel yang mulai bergerak dalam tidurnya.
"Kau benar-benar membenciku saat itukan, Sel? Atau aku yang terlalu buta karena cemburu?" gumam Maheer sangat pelan, hampir tak terdengar oleh Hans.
Tiba-tiba, Razka terbangun dan mulai merengek. "Mama... haus."
Assel tersentak bangun, matanya yang sembab segera mencari botol minum di tasnya. Ia memberikan minum kepada putranya dengan penuh kasih sayang. Saat ia mendongak, matanya bertemu dengan Maheer di spion tengah. Maheer segera membuang muka.
"Berapa lama lagi kita sampai?" tanya Assel dengan nada datar.
"Tiga jam lagi jika tidak macet," jawab Maheer tanpa menoleh.
"Kenapa kau setuju dengan syarat Ustadz Khairul? Bukankah kau sangat ingin menyiksaku?" Assel bertanya tiba-tiba, membuat suasana di dalam mobil semakin tegang.
Maheer terdiam sejenak sebelum menjawab, "Aku menjalankan wasiat Kak Muzammil. Dan aku bukan pria yang akan melanggar janji di depan ustadz."
Assel tersenyum sinis, senyuman yang penuh dengan kepahitan. "Kau menikahiku karena wasiat, tapi kau membenciku karena fitnah yang kau percayai tujuh tahun lalu. Tidakkah kau merasa lucu, Maheer?"
"Diamlah, Assel. Jangan memancing kemarahanku sekarang," tegur Maheer dingin.
"Aku tidak takut lagi padamu. Kau sudah mengambil semuanya dariku. Kebebasanku, suamiku, dan sekarang kau ingin mengambil peranku sebagai ibu?"
"Aku tidak mengambil peranmu sebagai ibu! Aku hanya memastikan Razka tumbuh di keluarga yang seharusnya!" bentak Maheer sambil menoleh ke samping.
Razka yang ketakutan langsung memeluk ibunya erat. Melihat itu, Maheer kembali berbalik ke depan, mencoba mengatur napasnya yang memburu.
"Dengar, Assel. Kita akan tinggal di rumah yang sama, tapi jangan harap ada kehangatan di sana. Kau hanya janda kakakku yang terpaksa kupelihara," ucap Maheer dengan kalimat yang begitu menyakitkan.
Assel memejamkan mata, menahan air mata yang hampir jatuh. "Aku tahu. Dan aku akan pastikan, suatu hari nanti kau akan memohon ampun padaku atas semua kata-katamu ini."
Mobil terus melaju menembus kegelapan malam. Di dalam sana, dua hati yang pernah begitu dekat kini saling melukai dengan pedang kata-kata. Masa lalu yang penuh fitnah dan masa depan yang penuh keterpaksaan kini menyatu dalam perjalanan yang melelahkan ini. Apakah Maheer tidak akan pernah tahu kebenaran tentang foto itu, ataukah ia akan terus menjadi hakim yang kejam bagi istri yang baru saja ia nikahi?
---
Terus dukung Author ya, dan jangan lupa berikan penyemangatnya yaitu, Like, Bintang, Hadiah dan Votenya oke, agar Author rajin update. Terimakasih.
bagus minta cerai aja males punya suami ada demit masa lalu apa lagi hidup di luar kebanyakan jadi teh celup suka keluar masuk lobang lendir
apa aku yg kurang paham agama atau gimana ini??
karena setauku gitu nunggu massa iddah dulu baru menikah