Sepasang mata berwarna coklat tampak menyorot tajam menatap seorang laki laki yang masih berdiri memaku tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya semula, seakan tatapn mata berwarna coklat itu mampu menelannya hidup hidup saat ini juga.
"apa kamu tidak ingin menjelaskan semuanya stave...?"
suara yang baru saja keluar dari laki laki tersebut terdengar seperti sebuah kilatan petir, membuat stave semakinn menundukkan kepalanya semakin dalam.
"apa yang harus aku katakan setelah kamu sudah melihat semuanya."
kepalan tangan dan tonjolan urat yang terlihat jelas saat steave memberanikan diri menatap kearah di mana tangan leon dia letakkan di atas meja, steave rasanya ingin segera menghilang dan berlari dari depan leo, dia tahu dan paham akan tabiat leon ketika marah seperti sekarang.
"jika kamu tidak ingn menjelaskan siapa dia, maka..."
Leon menghentikan ucapannya, terdengar bunyi deritan kursi yang bergeser. seketika steve memberanikan diri menatap ke arah leon, yang kini dekatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lupakan masa lalu mu…?
Bunyi suara siaran berita di layar led berukuran seratus inchi membuat Leon sangat fokus menatap layar berukuran besar tersebut, siaran berita dari dalam negri membuat fokus Leon tak bisa teralihkan.
Steve yang duduk di samping Leon membuat Leon tersadar jika ada orang tengah duduk di sampingnya, Leon hanya menoleh ke arah Steve sesaat, setelahnya dia kembali menatap layar televisi.
“Apa yang ingin kamu bicarakan…?” Tanya Steve dengan nada setengah sumbang.
Leon menoleh menatap Steve, dia dapat melihat wajah Steve yang terlihat sedih. Kebingungan mulai di rasakan Leon saat melihat Steve yang terlihat tidak baik baik saja, entah apa yang terjadi dengan Steve membuat Leon sangat penasaran.
“Hei… kamu kenapa…? Apa ada yang salah, atau kamu marah sama aku. Karena aku tidak membantumu…?”
Leon seakan membombardir Steve, dia merasa sangat bersalah dengan pemuda tampan yang kini diam dengan wajah sedihnya.
“Oh… enggak, aku hanya… aku hanya kangen sama mama.” Kilas Steve membuat Leon menatapnya tajam.
“Tante aura…? Apa terjadi sesuatu dengan tante aura…?” Tanya Leon penasaran dengan menatap Steve.
“Oh… enggak, mama baik baik saja. Kemarin dia baru saja menelponku.” Jawab Steve.
“Lalu… ada apa dengan wajah sedih mu yang kamu tunjukan saat ini…?”
Leon masih belum puas dengan jawaban Steve yang terlihat mengambang, Leon yang paham akan ucapan dan maksud lawan bicaranya hanya melihat dari tatapan dan cara bicaranya.
“Aku hanya…” Steve memutar otaknya menjawab pertanyaan Leon, dia ingat jika Leon tidak akan bisa di bohongi.
“Kamu sedang mencari jawaban dari pertanyaanku bukan…? Katakan atau aku yang harus mencari sendiri jawabannya, Steve…!!” Suara Leon terdengar menekan, Leon yang pandai membuat lawan bicaranya berkata jujur sukses membuat Steve merasa kalah.
Tatapan mata Leon terlihat tajam, dia sekaan ingin menerkam Steve saat itu juga. Leon yang merasa kesal dengan jawaban Steve merasa saat ini Steve sedang mempermainkannya.
“Oke, aku tidak akan memaksa kamu. Kita lupakan, dan jika ada sesuatu yang terjadi denganmu, maka jangan harap….”
Ucapan Leon terhenti saat Steve tiba tiba memotong ucap Leon tiba tiba.
“Aku lari dari kenyataan yang seharusnya aku terima, dan aku sengaja bersembunyi di sini.” Ucap Steve sambil memainkan kedua jari tangannya.
Leon menatap Steve, dia mencari kebenaran dari ucapan pemuda tampan di depannya. Leon dapat melihat kejujuran di wajah Steve, ucapan Steve yang lari dari kenyataan membuat rasa penasaran Leon semakin besar.
“Apa yang sebenarnya terjadi, jika boleh aku tahu. Atau jika kamu keberatan menceritakan semuanya, makan kamu berhak diam.” Ucap Leon dengan nada tegas.
“Aku… aku… sengaja bersembunyi dari seseorang di negara ini.”
Leon menatap Steve, dia menunggu ucapan Steve selanjutnya tanpa memotongnya.
“Hubungan toxic yang aku jalani dengan sahabatku dan orang yang aku cintai membuatku harus menolak kenyataan yang ada, rasa cinta yang aku rasakan membuatku harus merelakan orang yang sangat aku cintai.”
Steve terdiam, rasanya tenggorokan Steve tercekat. Dadanya terasa sesak menahan air mata yang akan keluar dari kedua kelopak matanya, Leon masih diam dia tidak ingin menyela atau bertanya apapun.
“Aku mencintai sahabatku, hubungan yang kami jalani sudah berjalan selama tiga tahun. Karena datangnya orang ketiga aku harus merelakan dia untuk bersama orang yang dia cintai, rasa cinta yang membuatku sakit karena perselingkuhan yang dia lakukan di belakangku membuat aku ….”
Steve terdiam, rasanya dia tidak kuat menahan tangisannya.
Leon segera menarik Steve untuk masuk kedalam peluk kan nya, Leon tahu yang di butuhkan Steve saat ini adalah ketenangan.
“Jika kamu ingin melupakan dia, aku akan membantumu melupakannya. Tapi ingat…! Sesudah kamu meluapakan tentang rasa sakitmu, maka jangan pernah berbalik menatapnya walau barang sedikitpun, lupakan dia, buang jauh kenangan bersamanya.” Leon mengelus perlahan punggung lemah steve.
Getaran punggung Steve menandakan dia tidak baik baik saja, Leon membiarkan punggung kekarnya basah karena air mata Steve menembus baju yang dia pakai. Mungkin saat ini Steve butuh seseorang yang bisa mengerti akan kesedihannya, rasanya Leon merasakan yang Steve rasakan.
“Menanggis lah Steve, aku akan selalu ada di sampingmu saat kamu membutuhkan ku.” Lirih Leon membuat Steve semakin tenang, terlihat dari suara sebukan Steve.
“Kak… boleh aku minta sesuatu sama kamu…?” Ucap Steve dengan suara tertahan.
“Katakanlah…?” Leon masih setia mengelus punggung lemah Steve, berharap kesedihannya hilang perlahan.
“Temani aku tidur malam ini.” Bisik Steve membuat Leon membelalakkan kedua matanya.
“Maksud kamu…?” Tanya Leon seakan tidka percaya mendengar keinginan Steve.
“Temani aku malam ini, rasanya aku butuh seseorang di sampingku. Aku butuh teman ngobrol malam ini, tapi jika kamu keberatan. Aku akan keluar dan menginap di tempat Niko.”
Leon mendengus kesal mendengar kata kata terlahir yang Steve ucapkan, seakan dia menjadi seorang kakak yang tidak berguna saat Steve memilih Niko karena keberatan menemani Steve malam ini.
“Oke… oke.. aku akan temani kami malam ini, heh… apa yang aku takutkan, kita sama sama laki laki juga kan…? Tidak ada salahnya kita tidur satu ranjang…?”
Leo tertawa sumbang, di dalam pikiran Leon terasa sangat kotor mencerna permintaan Steve. Sedangkan Steve rasanya tidak peduli dengan kata kata yang Leon ucapkan baru saja, dia saat ini hanya membutuhkan seseorang yang menemaninya.
Steve melepaskan pelukannya, rasa kehilangan seketika Leon rasakan saat pelukan Steve terlepas. Steve menatap Leon dengan tatapan sayu nya, mata sembab Steve masih terlihat jelas. Perlahan Steve berdiri dari tempat duduknya, dia menatap Leon dalam.
“Aku tunggu di dalam, aku ingin segera tidur.”
Steve melangkah menuju kamarnya, dia membiarkan pintu kamarnya terbuka lebar sengaja menunggu Leon untuk segera masuk kedalam.
Leon menggelengkan kepalanya berulang kali, Leon merasa jika pikiran kotornya mulai berkelana. Dia teringat akan tubuh Steve yang hanya mengenakan celana boxernya, dia juga mengingat akan kecupan yang dia berikan ke Steve.
Steve yang sudha berada di dalam, membuka lemari dan mengeluarkan beberapa selimuttebal untuk Leon tidur. Steve mengelar selimut tebal tersebut menjadi alas tidur yang terasa nyaman bagi Leon, tak lupa Steve mengambil bantal untuk bantalan kepala Leon nanti.
Sedangkan Leon yang masuk kedalam kamar segera mengganti bajunya dengan piyama tidur, sudah jadi kebiasaan Leon, jika tidur dia akan mengganti baju yang dia pakai dengan piyama berbahan satin yang lembut dan halus.
Piyama berwarna merah bata menjadi pilihan Leon malam ini, tubuh putih Leon tampak kontra dengan warna piyama yang Leon pakai. Tak lupa dia segera membersihkan wajah tampannya dengan skin care khusus di pakai malam hari.
“Akhirnya selesai juga, aku akan segera ke kamar Steve. Dia pasti sudha menungguku.” Batin Leon masih menatap wajah tampannya di depan kaca.
Bunyi suara pintu yang akan di tutup membuat Steve yang sedang bermain handphone mengalihkan pandagannya, dia tersenyum samar melihat Leon yang dengan perlahan menutup pintu kamarnya.
Melihat samping tempat tidur yang tampak kosong dengan perlahan Leon berjalan dan akan tidur di samping Steve, tapi sebelum Leon tidur di samping Steve gerakkannya terhenti mendengar ucapan steve.
“Kamu tidur di bawah, sudah aku siapkan alasa buat kamu tidur malam ini.”
Leon menatap di samping bawah tempat tidur Steve yang sudah tertata rapi, tumpukan selimut tebal membuat Steve mengernyitkan matanya.
“Aku tidur di situ…?” Tunjuk Steve dengan satu jemari tangannya.
“Iya, jika kamu keberatan aku akan meminta Niko menemaniku. Kebetulan dia ada di dekat sini.” Ucap Steve yang tadi sempat menghubungi Niko.
“Ha… tidak tidak, aku akan menemanimu. Aku juga tidak keberatan tidur di bawah.” Leon segera melangkahkan kakinya menuju tumpukan selimut yang di tata Steve.
Melihat Leon sudah rebahan di tempat yang Steve siapkan, dengan segera Steve berdiri. Dia menggambil piyama tidurnya, tanpa menunggu lama. Steve segera melepaskan baju yang dia pakai di depan Leon, dia mengganti baju dengan piyama yang sudha dia persiapkan.
Leon menelan ludahnya yang terasa mengganjal di tenggorokannya melihat tingkah Steve yang seakan sedang menggodanya, detak jantung Leon berdetak tak beraturan. Sampai Leon meraup wajah tampannya dengan kedua telapak tangannya, rasa frustasi merasakan sesuatu yang tiba tiba bangkit dari tubuhnya membuat Leon hampir putus asa.
“Sial, kenapa gue jadi tidak normal seperti ini, melihat Steve ganti baju di depan gue.” Batin Leon terasa frustasi.