NovelToon NovelToon
The Lunar Secret

The Lunar Secret

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: Miarosa

Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.

Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.

Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Selena melangkah mengikuti Riven memasuki kegelapan hutan, namun pikirannya tertinggal jauh di belakang pada sebuah kabin kayu kecil di hutan. Wajah Joan tiba-tiba muncul di benaknya.

​Joan adalah manusia serigala pertama yang ia temui, sosok yang menghancurkan seluruh realitas normalnya namun juga satu-satunya yang memperlakukannya dengan kelembutan sebelum kekacauan ini pecah.

Selena teringat bagaimana Joan berdiri di ambang pintu kabin malam itu, luka cakar menganga di bahunya, namun matanya hanya menatap Selena dengan kekhawatiran yang mendalam.

​"Apakah dia masih hidup?" bisik Selena tanpa sadar.

​Riven menghentikan langkahnya dan menoleh, alisnya bertaut. "Siapa?"

​"Joan." Dia yang menyelamatkanku dan saat aku dibawa Lucian, aku meninggalkannya sendirian."

​Riven terdiam sejenak, menatap Selena dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Dia akan baik-baik saja. Dia seorang Alpha."

​Selena menggeleng cepat, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Dia adalah orang pertama yang membuatku merasa bahwa aku tidak sendirian menghadapi kegilaan ini. Aku hanya aku berharap dia baik-baik saja. Aku tidak ingin darah ini menjadi alasan orang-orang yang baik padaku harus mati."

​Ia menyentuh bekas cahaya perak yang masih samar di kulit lengannya. Jika benar ia adalah harapan, maka harapan ini terasa sangat berat dan berdarah.

"Bagaimana kamu tahu Joan adalah Alpha?"

"Karena aku juga mengenalnya. Dia bisa menjaga dirinya sendiri. Kita tidak punya waktu untuk meratapi masa lalu, Selena," ucap Riven, suaranya sedikit melunak namun tetap tegas. "Jika kamu berhasil mendapatkan Breaker mungkin kamu bisa mengakhiri semua perburuan."

​Selena menghapus air matanya dengan kasar dan mengangguk pelan. Ia menoleh sekali lagi ke arah belakang, membayangkan Joan di suatu tempat di sana, entah sedang berjuang untuk hidup atau sudah menjadi bagian dari tanah.

​"Aku akan bertahan hidup, Joan, untukmu dan untuk semua orang yang kamu ingin aku lindungi," janji Selena dalam hati.

​Dengan tekad baru yang menyakitkan, Selena mempercepat langkahnya, menembus kabut hutan hitam mengikuti punggung Riven menuju pegunungan utara yang dingin.

Hutan semakin lebat dan udara malam yang tadinya segar berubah menjadi pekat, membawa bau lumut yang membusuk dan tanah yang lembap. Riven bergerak dengan ketangkasan yang mengagumkan bagi seseorang yang baru saja bebas dari kurungan, sementara Selena berusaha keras menjaga napasnya agar tidak memburu.

​Setelah menempuh perjalanan selama satu jam dalam keheningan, Riven tiba-tiba berhenti di sebuah celah sempit di antara dua tebing batu yang menjulang tinggi.

​"Kita akan beristirahat di sini sebentar," kata Riven tanpa menoleh. "Tubuhmu belum terbiasa dengan perjalanan seperti ini, Selena. Aku bisa mendengar detak jantungmu dari jarak lima meter."

​Selena menyandarkan punggungnya pada dinding batu yang dingin, dadanya naik turun.

"Aku tidak menyangka dunia kalian sesunyi ini. Di dunia manusia selalu ada suara mobil atau lampu jalan. Di sini rasanya seperti hutan ini sedang mengawasiku."

​Riven duduk bersila di atas tanah dan matanya terus menyapu kegelapan di sekitar mereka.

"Hutan ini memang mengawasimu. Bagi alam, kamu adalah anomali. Darah Bulan bukan sekadar gelar. itu adalah getaran energi. Pohon-pohon ini bisa merasakannya."

​Selena memeluk lututnya, lalu menatap Riven dengan penuh selidik.

"Kenapa Lucian memilihmu, Riven? Dari puluhan tawanan di sana, kenapa kamu yang dibebaskan untuk menuntunku? Lucian memang sudah bilang kamu akan jadi pemanduku menuju lokasi Breakers dan kamu tahu jejak senjata itu."

​Riven terdiam cukup lama, tangannya memainkan tanah kering di depannya.

"Karena aku adalah satu-satunya yang tersisa dari kawanan North-Bound yang pernah menginjakkan kaki di Lembah Pembuangan. Aku tahu medannya dan Lucian tahu, aku membenci Dewan lebih dari aku membenci dirinya."

​Ia menatap Selena dengan tatapan perak yang tajam.

"Kamu tahu, Selena? Joan, Alpha yang kamu cemaskan itu, dia mungkin satu-satunya alasan kenapa Dewan belum meratakan hutan ini sepenuhnya. Mereka takut pada Alpha yang tidak memiliki wilayah tetap, karena itu artinya mereka tidak punya titik lemah untuk diserang."

​Selena teringat sorot mata Joan yang selalu waspada namun menenangkan. "Dia tidak pernah menceritakan siapa dia sebenarnya. Joan hanya memberitahumu, kalau ibunya juga dulu darah bulan."

​"Itu benar. Ibunya Joan dibunuh oleh Dewan. Jika kita sampai ke Lembah Pembuangan dan kamu tidak bisa memanggil kekuatan Breaker, kita berdua tidak akan keluar dari sana hidup-hidup. Senjata itu memiliki mekanisme pertahanan yang mematikan."

​Baru saja Selena hendak membalas, sebuah suara patahan ranting terdengar dari kejauhan. Riven berdiri dalam sekejap, telinganya bergerak-gerak.

​"Apa itu?" bisik Selena, rasa takut kembali merayap di tenggorokannya.

​"Bukan manusia," jawab Riven, suaranya berubah menjadi geraman rendah. "Dan bukan pasukan Lucian. Mereka adalah Stalkers, makhluk peliharaan Dewan yang diciptakan khusus untuk melacak aroma Darah Bulan."

​Riven menarik sebuah pisau belati dari balik pakaiannya dan memberikannya kepada Selena. Pisau itu terasa sangat berat dan dingin.

​"Gunakan ini jika mereka mendekat. Jangan ragu! Di dunia ini, Selena, hanya ada pemangsa dan mangsa Dan malam ini, kita harus menjadi pemangsa."

​Selena menggenggam hulu belati itu erat-erat. Cahaya perak di kulitnya kembali berpendar, lebih terang dari sebelumnya seolah merespons ancaman yang mendekat. Ia tidak tahu apakah ia bisa membunuh, tapi bayangan wajah Joan yang terluka dan tatapan penuh harap para tawanan di sel tadi memberinya kekuatan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

Kegelapan di depan mereka seolah bernapas. Selena bisa merasakan getaran di bawah telapak kakinya, sebuah gerakan ritmis yang menandakan sesuatu yang besar sedang mendekat dengan kecepatan yang tidak wajar.

​"Tetap di belakangku," bisik Riven.

Tubuhnya mulai berubah tulang-tulangnya berderak pelan dan bahunya melebar saat otot-ototnya menegang dalam persiapan transformasi parsial. Mata peraknya kini menyala terang, membelah kegelapan.

​Tiba-tiba dari balik kabut, tiga sosok muncul. Mereka tidak seperti serigala yang pernah dibayangkan Selena.

Tubuh mereka kurus kering dengan kulit pucat yang membungkus tulang, namun kaki mereka panjang dan diakhiri dengan cakar hitam yang tajam. Wajah mereka hampir rata tanpa hidung hanya menyisakan lubang telinga yang besar dan mata merah yang cekung.

​Salah satu makhluk itu mengeluarkan lengkingan tinggi yang memekakkan telinga. Ia meloncat dan menerjang ke arah mereka dengan gerakan yang menyerupai bayangan.

​"Sekarang!" teriak Riven.

​Riven melesat maju, menghantam makhluk pertama dengan tinjunya yang sekarang telah berubah menjadi cakar serigala. Benturan itu menghasilkan suara debuman keras, namun dua makhluk lainnya tidak membuang waktu. Mereka memutar, mengincar Selena yang berdiri gemetar dengan belati di tangannya.

​Selena melihat makhluk itu mendekat. Wajah mengerikan itu hanya berjarak beberapa meter darinya. Dalam kepanikan, Selena teringat Joan. Ia teringat bagaimana Joan tetap berdiri tegak meski darah mengucur dari bahunya.

​"Pergi!" teriak Selena dan secara naluriah ia mengayunkan tangannya yang memegang belati.

​Kejadian selanjutnya berlangsung dalam gerakan lambat. Saat ia mengayunkan belati, cahaya perak yang berpendar di kulitnya mengalir masuk ke dalam bilah besi tersebut. Belati yang tadinya kusam mendadak bersinar putih menyilaukan. Ketika mata pisau itu menyentuh kulit sang Stalker, makhluk itu tidak hanya terluka, ia meledak dalam serpihan cahaya hitam seolah-olah bilah itu adalah racun bagi keberadaannya.

​Makhluk itu meraung kesakitan sebelum akhirnya hancur menjadi abu di depan kaki Selena. Riven yang sedang bergulat dengan Stalker terakhir menoleh dengan mata membelalak.

"Kau menyalurkan energi Darah Bulan ke senjata itu?"

​Selena terengah-engah dan tangannya yang memegang belati masih bergetar hebat. Ia tidak tahu bagaimana ia melakukannya, tetapi rasa hangat yang menjalar di nadinya terasa benar.

​"Aku tidak tahu itu terjadi begitu saja," bisik Selena sambil menatap abu yang tersisa dari makhluk tadi.

​Riven dengan cepat menghabisi lawan terakhirnya dan mematahkan leher makhluk itu sebelum berdiri tegak kembali. Ia menatap Selena dengan tatapan baru bukan lagi sebagai beban yang harus dilindungi, tapi sebagai kekuatan yang mulai terbangun.

​"Lucian tidak salah," gumam Riven, menyeka darah hitam dari lengannya. "Tapi ini juga berarti Dewan akan mengirimkan sesuatu yang jauh lebih buruk dari Stalkers setelah mereka merasakan ledakan energimu tadi. Kita tidak bisa lagi beristirahat. Kita harus mendaki gunung ini sekarang juga."

​Selena mengangguk dan menyimpan belati yang masih terasa hangat di pinggangnya.

1
Astiana 💕
aku dah kirim bunga kak, semangat ya💪
Miarosa: terima kasih 😊
total 1 replies
Astiana 💕
aku mampir ya kak, baru awal baca seperti nya menarik, semangat 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!