NovelToon NovelToon
Nyaris Jadi Kita

Nyaris Jadi Kita

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

​"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Genta

Kesunyian di ruang rapat privat itu terasa begitu padat, seolah-olah udara telah berubah menjadi semen yang mengeras di sekelilingku. Suara langkah kaki Nadine yang menjauh di lorong kantor terdengar seperti detak loncat maut yang menghitung sisa waktu keberagamanku. Aku masih terpaku di kursi, menatap fotokopi dokumen di atas meja marmer putih. Tanda tangan Prasetyo Adhitama di sana tampak begitu nyata, tinta hitamnya seolah merembes keluar dan menodai tanganku yang gemetar.

​Aku adalah seorang analis. Hidupku adalah tentang angka, probabilitas, dan logika. Namun, di hadapan dokumen ini, logika seolah lumpuh. Sepuluh tahun lalu, sebuah aliran dana ilegal untuk melancarkan izin gedung ini. Jika ini bocor, Bastian bukan hanya kehilangan kantornya; ia akan kehilangan ayahnya, reputasinya, dan seluruh kerajaan yang telah ia bangun dengan tetesan keringat.

​Aku memejamkan mata, menghirup aroma sisa parfum Nadine yang masih tertinggal—aroma melati yang kini terasa busuk di hidungku.

​"Tidak," bisikku pada kesunyian. "Aku tidak akan membiarkanmu menang, Nadine. Tidak kali ini."

​Aku menyambar ponselku. Pesan dari Maya di Jakarta baru saja masuk.

​Maya: "Rel, ini gila. Nadine terbang ke Paris menggunakan jet carteran yang dibayar oleh 'Aristhoteles Global Singapore'. Konfirmasimu benar, Elena di balik ini semua. Dan satu lagi, aku baru saja mengirimkan kontak 'Genta' ke email pribadimu. Dia adalah kepala tim intelijen siber pribadi Bastian. Dia tidak tercatat di struktur Adhitama. Gunakan kode 'Sandyakala' saat menghubunginya."

​Genta. Nama itu terdengar seperti lonceng peringatan. Aku segera membuka emailku, menyalin nomor tersebut, dan meneleponnya melalui aplikasi komunikasi terenkripsi.

​"Sandyakala," ucapku begitu sambungan terhubung. Suaraku kini tidak lagi bergetar. Dingin dan tajam, seperti pisau bedah.

​"Kami sudah menunggumu, Nona Arelia," suara di seberang sana sangat datar, hampir tidak manusiawi. "Tuan Bastian sudah memberi kami instruksi bahwa jika suatu saat Anda menghubungi kami, kami harus memberikan akses penuh. Apa yang Anda butuhkan?"

​"Aku butuh pembersihan digital. Seorang wanita bernama Nadine, saat ini berada di Paris. Dia memiliki dokumen fisik dan digital yang dilindungi oleh 'dead-man switch' milik Elena Aristhoteles. Aku butuh kalian melacak koordinat server switch tersebut dan melumpuhkannya sebelum pukul delapan malam ini."

​"Risikonya sangat tinggi, Nona. Jika switch itu mendeteksi gangguan, data akan terkirim secara otomatis ke daftar distribusi media yang sudah ditentukan."

​"Maka jangan biarkan dia mendeteksi gangguan," balasku tanpa ragu. "Gunakan protokol isolasi frekuensi. Aku akan menemui Nadine di Place de la Concorde jam delapan. Aku butuh kalian berada dalam jarak lima puluh meter dariku untuk memblokir seluruh sinyal keluar dari perangkatnya saat aku memberikan sinyal."

​"Dimengerti. Kami akan bergerak."

​Pukul tujuh malam. Paris telah sepenuhnya menyerah pada kegelapan musim gugur. Lampu-lampu jalanan mulai menyala, menciptakan jalur-jalur emas di atas trotoar yang masih basah sisa hujan sore tadi. Menara Eiffel di kejauhan berkelap-kelip, tampak begitu agung sekaligus mengintimidasi.

​Aku berdiri di depan cermin besar di apartemenku. Gaun marun pemberian Bastian melekat sempurna di tubuhku, namun malam ini, gaun itu terasa seperti baju besi. Aku memoles gincu merah yang lebih gelap dari biasanya, memberikan kesan wanita yang sangat tegas. Aku menyembunyikan sebuah alat perekam kecil di balik korset gaunku.

​Bastian akan menjemputku sebentar lagi untuk makan malam di Le Meurice. Hatiku terasa sakit memikirkan bahwa aku harus membohonginya malam ini. Ia ingin merayakan kemenangan kami di Marseille, sementara aku bersiap untuk masuk ke dalam liang singa.

​Klakson mobil di bawah gedung menyentakkan lamunanku. Bastian sudah sampai.

​Di dalam mobil, Bastian terlihat sangat tampan dengan tuksedo hitam. Ia meraih tanganku dan menciumnya. "Kamu terlihat sangat cantik malam ini, Arelia. Tapi ada yang aneh dengan matamu. Kamu sedang memikirkan sesuatu yang berat?"

​"Hanya... sedikit gugup soal ekspansi ke Lyon minggu depan, Bastian," bohongku untuk kesekian kalinya. Setiap kata bohong yang keluar dari bibirku terasa seperti belati yang menusuk jiwaku sendiri.

​"Lyon bisa menunggu esok hari. Malam ini, dunia hanya milik kita," Bastian tersenyum, senyum yang begitu tulus hingga aku harus membuang muka ke arah jendela agar ia tidak melihat air mata yang mulai menggenang.

​Restoran Le Meurice adalah puncak kemewahan Paris. Langit-langitnya yang dilukis dengan indah, lampu kristal yang menggantung rendah, dan pelayan yang bergerak dengan keanggunan seorang penari balet. Namun, bagiku, kemewahan ini terasa menyesakkan.

​Di tengah makan malam, Bastian meletakkan garpunya. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil. Jantungku seolah berhenti berdetak.

​"Arelia," ucapnya, suaranya rendah dan penuh emosi. "Aku membawamu ke Paris bukan hanya karena kamu adalah analis terbaikku. Aku membawamu ke sini karena aku ingin kamu melihat dunia yang aku miliki, dan aku ingin kamu menjadi bagian tetap dari dunia itu."

​Ia membuka kotak tersebut. Sebuah cincin berlian dengan potongan emerald yang sangat indah berkilau di bawah cahaya lilin.

​"Aku tidak ingin ada lagi kata 'nyaris' di antara kita. Aku ingin kepastian. Maukah kamu berjalan di sampingku selamanya? Bukan sebagai mitra strategis, tapi sebagai istriku?"

​Duniaku runtuh saat itu juga. Di saat aku sedang menyembunyikan skandal yang bisa menghancurkan keluarganya, pria ini justru memberikan hatinya sepenuhnya padaku. Air mataku jatuh tanpa bisa ditahan.

​"Bastian... aku..." suaraku tercekat.

​"Jangan jawab sekarang jika kamu belum siap," Bastian tersenyum lembut, mengusap air mataku dengan ibu jarinya. "Pakailah cincin ini sebagai tanda bahwa aku milikmu. Kita akan bicarakan masa depan setelah semua kekacauan dengan Elena selesai."

​Aku melihat jam di pergelangan tanganku. Pukul 19.45. Aku hanya punya waktu lima belas menit sebelum genta kematian itu berbunyi.

​"Bastian, maafkan aku. Aku... aku harus ke toilet sebentar. Perasaanku mendadak tidak enak," kataku sambil berdiri dengan terburu-buru.

​"Perlu aku panggilkan dokter?"

​"Tidak, aku hanya butuh udara segar. Tunggu aku di sini, ya?"

​Aku berjalan cepat keluar dari restoran, mengabaikan tatapan bingung para pelayan. Begitu sampai di luar, aku tidak menuju toilet. Aku langsung berlari menuju area parkir dan memesan taksi.

​"Ke Place de la Concorde. Cepat!" perintahku pada supir taksi.

​Place de la Concorde malam itu tampak sangat luas dan mencekam. Monumen obelisk Mesir berdiri tegak di tengah alun-alun, dikelilingi oleh air mancur yang memantulkan cahaya lampu kota. Angin malam bertiup sangat kencang, menerbangkan helai rambutku yang tadi tertata rapi.

​Aku turun dari taksi dan berjalan menuju area air mancur. Di sana, di balik bayangan salah satu patung megah, seorang wanita bermantel merah sedang berdiri sambil memegang ponselnya. Nadine.

​Ponselku bergetar. Pesan dari Genta.

​Genta: "Kami sudah dalam posisi. Sinyal blokade aktif dalam tiga... dua... satu... Sekarang."

​Aku merasakan telingaku sedikit berdengung, tanda bahwa pemblokir sinyal frekuensi tinggi sedang bekerja di area ini. Aku melangkah maju mendekati Nadine.

​"Kamu tepat waktu, Arelia," Nadine berbalik, senyum kemenangannya masih ada di sana. "Mana uangnya? Aku tidak melihat kamu membawa tas besar."

​"Tidak ada uang, Nadine," kataku, suaraku sedingin es musim dingin Paris.

​Nadine tertawa hambar. "Kamu bercanda? Kamu ingin aku menekan tombol ini sekarang juga? Elena sudah menungguku di seberang telepon."

​"Silakan tekan," tantangku. "Tekan saja. Lihat apakah sinyalmu bisa menembus udara malam ini."

​Nadine mengerutkan kening. Ia menatap layar ponselnya. Ia menekan tombol berulang kali, namun wajahnya perlahan berubah menjadi pucat saat ia menyadari bahwa ponselnya tidak memiliki koneksi sama sekali—bahkan tidak bisa melakukan panggilan darurat.

​"Apa yang kamu lakukan?!" teriaknya panik.

​"Aku melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang analis: aku melumpuhkan variabel yang tidak diinginkan," aku melangkah lebih dekat, mengintimidasi posisinya. "Tim intelijen Bastian sudah melacak server Elena. Saat ini, mereka sedang melakukan penghapusan data secara permanen di seluruh pusat switch miliknya. Dokumen yang kamu pegang sekarang hanyalah kertas sampah."

​"Kamu bohong! Elena bilang ini tidak bisa ditembus!" Nadine mencoba berlari, namun dua pria berpakaian hitam—tim Genta—muncul dari kegelapan dan mencekal lengannya dengan sangat kuat.

​"Lepaskan aku! Arelia, kamu akan menyesal!"

​Aku mengambil amplop cokelat dari tangan Nadine yang gemetar. Aku membukanya, melihat dokumen korupsi itu untuk terakhir kalinya, lalu menyalakan pemantik api kecil yang kubawa. Aku membakar dokumen itu tepat di depan matanya. Abu hitamnya terbang tertiup angin Paris, hilang ditelan kegelapan.

​"Kenangan dari Jakarta sudah berakhir malam ini, Nadine," kataku. "Genta, bawa dia ke bandara. Pastikan dia naik pesawat pertama kembali ke Indonesia dan pastikan paspornya dicekal untuk masuk ke wilayah Uni Eropa selamanya."

​"Baik, Nona."

​Nadine diseret pergi, teriakan histerisnya tenggelam oleh suara air mancur. Aku berdiri sendirian di tengah alun-alun yang luas itu, napasku memburu. Aku telah menyelamatkan Bastian. Aku telah menyelamatkan keluarganya. Namun, di jariku, cincin berlian itu terasa sangat berat.

​Aku telah membohonginya. Aku telah bergerak di belakang punggungnya.

​Tiba-tiba, sebuah mobil berhenti di pinggir jalan. Bastian keluar dari mobil dengan wajah yang sangat panik. Ia berlari ke arahku.

​"Arelia! Apa yang kamu lakukan di sini? Pelayan bilang kamu naik taksi!" ia memegang bahuku, menatapku dengan tatapan penuh kecemasan.

​Aku menatapnya, air mata kembali jatuh. "Bastian... aku hanya ingin menyelesaikan sesuatu yang tertinggal."

​Ia melihat sisa-sisa kertas yang terbakar di lantai marmer. Ia melihat dua pria berbaju hitam yang menghilang di kejauhan. Bastian adalah pria yang cerdas; ia tidak butuh penjelasan panjang untuk mengerti apa yang baru saja terjadi.

​"Kamu menghubungi Genta?" tanyanya, suaranya terdengar sangat kecewa.

​"Aku harus melakukannya, Bastian. Nadine... dia mengancam ayahmu. Aku tidak punya pilihan lain."

​Bastian terdiam. Ia melepaskan pegangannya dari bahuku. Ia menatap monumen obelisk itu dengan pandangan kosong.

​"Aku memberikan cincin itu padamu karena aku ingin kamu percaya padaku, Arelia. Aku ingin kita menghadapi badai bersama. Tapi kamu... kamu memilih untuk bergerak sendiri. Kamu memperlakukan hubungan ini seperti transaksi data."

​"Aku melindungimu, Bastian!" tangisku pecah.

​"Dengan cara berbohong padaku di meja makan? Dengan cara meragukan kemampuanku untuk membereskan masalah ayahku sendiri?" Bastian menggeleng pelan. "Malam ini seharusnya menjadi fajar bagi kita, Arelia. Tapi kamu justru membunyikan genta perpisahan sebelum kita sempat memulai."

​Ia berbalik, berjalan menuju mobilnya tanpa menoleh lagi.

​Aku mematung di bawah guyuran angin malam Place de la Concorde. Cincin berlian di jariku berkilau menyakitkan di bawah lampu jalan. Aku telah memenangkan perang melawan Nadine dan Elena, namun aku baru saja kehilangan hati pria yang paling kucintai.

​Genta peringatan itu telah berbunyi. Dan kali ini, suaranya sangat memekakkan telinga.

​Nyaris jadi kita?

​Mungkin kutukan itu memang nyata. Kami nyaris sampai pada kebahagiaan yang sempurna, namun rahasia dan ketidakpercayaan baru saja membangun tembok yang jauh lebih tinggi daripada Menara Eiffel.

​Aku berlutut di atas marmer yang dingin, terisak di tengah kemegahan Paris yang kini terasa seperti penjara yang paling sunyi di dunia.

1
sukensri hardiati
ini kaivan sama nadine kok ngrusuh terus sih...
Misterios_Man: lah gatau... kok tanya saya😄
total 1 replies
Kinanda Husnancandra
hufhhhhjhhhh...
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain
Misterios_Man: sampai kapan kak nafasnya ditarik?? saya udah ga kuat!!/Puke/
total 1 replies
Lili Inggrid
bagus
Indah
Tarus bangkit menjadi wanita kuat
Indah
Masih memantau
Quinza Azalea
bener benar puas baca ceritamu thor
Quinza Azalea
lanjut thor💪💪💪
Quinza Azalea
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!