Di balik senyumnya yang tenang, Arumi menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Pernikahannya dengan Ardi hanya tinggal formalitas. Demi puteri kecilnya, Kayla, Arumi bertahan.
Segalanya berubah ketika ia bertemu seorang psikiater muda, Dimas, yang baru saja bekerja di klinik psikiatri Dokter Arisa langganannya.
Dimas yang tenang dan hangat selalu membuat Arumi merasa didengar. Di ruang konsultasi yang seharusnya penuh batas, justru tumbuh perasaan yang tak diundang.
Tanpa Arumi sadari Kayla, puteri kecilnya yang cerdas, melihat semuanya. Ia tahu ibunya tidak bahagia. Ia juga tahu, ada cahaya berbeda di mata ibunya setiap kali pulang dari pertemuan dengan Mas Dokter —panggilan akrab Kayla pada Dimas.
Apakah perasaan Arumi pada Dimas yang tumbuh di ruang konsultasi hanya sebatas pelarian? Ataukah rumah yang selama ini Arumi rindukan?
Simak kisah selengkapnya dalam Mengejar Cinta Mas Dokter untuk Mama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Aneh
"Gimana pasien-pasien hari ini, Dim?" tanya Arisa pada Dimas.
"Aman, Mbak. Cuma satu dua yang agak rewel minta foto bareng. Jadi berasa artis," kata Dimas sambil nyengir.
"Ya gitu. Resiko jadi dokter ganteng," komentar Arisa.
"Mbak bisa aja,"
"Kamu mau langsung pulang?" tanya Arisa pada Dimas.
"Mmm... Iya keknya, Mbak. Besok pagi ada praktek di klinik papa," kata Dimas.
"Baru lulus udah kebanjiran job nih," puji Arisa.
"Cuma bantu-bantu klinik sodara aja, Mbak. Kan sama Mbak juga," kata Dimas.
"Eh, kamu tuh mau aku rekrut jadi dokter disini. Mau kan? Serius ini. Aku kewalahan kalo sendirian," tanya Arisa.
"Ehee~ gimana ya, Mbak?"
"Bayarannya oke. Dijamin!" bujuk Arisa.
"Coba ntar aku diskusi sama papa dulu. Kemarin katanya temen dokternya ada yang nawarin buat jadi dokter di poli psikiatri di rumah sakitnya," kata Dimas.
"Hmmm gitu. Padahal kalo disini kan lebih bebas. Kalo punya temen Om Didi kamu nggak bisa bebas ntar," kata Arisa mencoba membuat Dimas memilih kliniknya.
"Iya juga sih. Besok aku kabarin, Mbak," kata Dimas akhirnya.
"Oke deh. Kabarin yang baik ya," kata Arisa. Dimas hanya tersenyum lalu pamit pulang.
Dimas perlahan mengemudikan mobilnya. Di tengah perjalanan pulangnya, Dimas memutuskan mampir ke mini market untuk membeli kebutuhan hidupnya yang sudah hampir habis.
Senyum ramah dan ucapan selamat datang dari petugas kasir menyambut hangat, saat Dimas membuka pintu mini market. Pandangan Dimas langsung tertuju pada seorang gadis kecil yang berdiri sendirian di depan rak yang dipenuhi camilan. Dimas tersenyum.
"Adek kecil mau beli apa?" tanya Dimas sambil berjongkok di samping gadis kecil itu. Gadis kecil itu menoleh ke arah Dimas lalu menatapnya dengan penuh curiga.
"Mamaaaa," panggil gadis kecil itu sambil berjalan menyusuri lorong rak lalu belok kanan.
Dimas berdiri, berjalan mengikuti gadis kecil itu khawatir gadis itu akan mengira yang tidak-tidak akan sikapnya. Saat Dimas berbelok, Dimas menangkap sosok wanita yang dia kenal berdiri di samping gadis kecil itu. Namun, wanita itu terlihat menatap kosong jajaran gula yang tertata rapih di depannya sehingga dia tak memperhatikan puteri kecilnya tengah memanggil-manggil dirinya.
"Ma..."
"Bu Arumi," sapa Dimas saat dirinya sudah berdiri di samping Arumi. Arumi masih bergeming, menatap kosong rak gula di hadapannya. Kayla menatap Dimas lalu menatap mamanya.
"Mama..." panggil Kayla pelan. Dimas tersenyum melihat Kayla.
"Bu Arumi," panggil Dimas sekali lagi sambil menepuk pelan bahu Arumi. Arumi sedikit tersentak. Lalu menoleh ke arah Dimas.
"Dokter Dimas?" kata Arumi terkejut. Kayla masih terlihat menatap mamanya dan Dimas bergantian.
"Ada yang mengganggu pikiran Ibu?" tanya Dimas perlahan.
"Eh? Oh... Ah! Tidak, Dok. Hanya..." Arumi melirik ke arah Kayla.
"Itu... cuma bingung mau pilih gula yang mana," lanjut Arumi sambil tersenyum kikuk ke arah Dimas. Dimas tersenyum lembut pada Arumi. Arumi tertegun sejenak sebelum akhirnya Kayla menarik-narik ujung home dress Arumi.
"Kayla nggak jadi beli camilan?" tanya Arumi sambil berjongkok di depan Kayla.
"Kayla tadi baru milih pas tiba-tiba om-om ini deketin Kayla. Kayla takut," kata Kayla polos. Arumi tertawa kecil. Dimas tertegun menatap wajah tertawa Arumi.
'Cantik,'
"Kayla, ini Dokter Dimas, temen mama," kata Arumi memperkenalkan Dimas pada Kayla. Kayla menatap Dimas.
"Salim, Kay," pinta Arumi. Kayla menyalimi Dimas. Dimas tersenyum lalu berjongkok di sebelah Kayla.
"Kayla umur berapa?" tanya Dimas lembut.
"Lima taun,"
"Wah! Udah sekolah ya?"
Kayla mengangguk.
"Kereeen,"
"Om udah nikah belum?" tanya Kayla tiba-tiba. Dimas menaikkan kedua alisnya.
"Kay..." Arumi merasa sedikit malu dengan pertanyaan puterinya itu. Dimas tersenyum.
"Belum. Kenapa?" tanya Dimas lembut.
"Kalo belum nikah, Kayla panggil Mas aja, boleh?" tanya Kayla polos.
"Eh? Om aja nggak apa-apa, Cantik," kata Dimas, geli.
"Nggak. Kan belum nikah. Jadi, belum om-om," kata Kayla, membuat senyum Dimas melebar.
"Okelah," kata Dimas menyerah. Arumi tersenyum melihat interaksi puterinya dengan Dimas.
"Mama, Kayla ambil camilan dulu," kata Kayla lalu kembali ke bagian rak yang penuh dengan camilan. Arumi dan Dimas tersenyum.
"Anak itu, selalu lama kalo milih camilan," kata Arumi sambil kembali fokus menatap gula. Dimas menatap Arumi.
"Sepertinya ada yang mengganggu pikiran Bu Arumi," kata Dimas melihat wajah Arumi yang kembali mendung.
"Ibu bisa cerita ke saya," bujuk Dimas.
"Tenang saja, Bu. Diluar klinik tidak di pungut biaya," kata Dimas sambil tersenyum. Arumi ikut tersenyum. Arumi melongok ke tempat Kayla berdiri. Dimas tersenyum.
"Saya... hanya sedang berpikir... bagaimana waktu bisa mengubah seseorang," kata Arumi setelah memastikan Kayla masih lama memilih camilannya. Dimas mendengarkan dengan seksama.
"Dulu, saat saya lupa membeli gula, suami saya dengan sigap pergi membelinya," lanjut Arumi.
"Saya tadi sedang mengingat... kapan terakhir kali... suami saya membeli gula," kata Arumi. Dimas tersenyum prihatin.
"Mama, Kayla ambil marshmallow," kata Kayla sambil berjalan mendekati Arumi.
"Kalo gitu, ayo bayar," kata Arumi sambil tersenyum lalu mengambil satu bungkus gula.
"Mari, Dok," kata Arumi sambil tersenyum. Dokter Dimas mengangguk sambil tersenyum.
Dimas menatap punggung Arumi dan Kayla yang berjalan menuju kasir. Ada perasaan sedih saat melihat keduanya. Dimas dengan segera mengambil satu pak kopi susu sachet lalu ikut mengantre di belakang Arumi.
"Kayla naik apa kesini?" tanya Dimas dari belakang Kayla.
"Jalan kaki, Mas Dokter," jawab Kayla ceria.
"Jalan kaki? Nggak capek?" tanya Dimas sambil menaikkan kedua alisnya. Kayla menggeleng.
"Rumah Kayla cuma deket situ," kata Kayla sambil menunjuk gang di depan mini market dengan tangan mungilnya.
"Mmm..." Dimas manggut-manggut sambil tersenyum. Arumi tersenyum tipis.
"Mari, Dok," kata Arumi saat dirinya sudah selesai melakukan pembayaran.
"Oh, ya," kata Dimas ramah.
Sekali lagi, Dimas menatap Arumi dan Kayla yang berjalan bergandengan. Jalan raya di depan mini market cukup ramai saat itu.
"Totalnya empat belas ribu lima ratus rupiah," kata kasir sambil menyodorkan kopi yang dibeli Dimas.
"Ini, Mbak. Nggak usah kembali," kata Dimas sambil memberikan uangnya pada kasir lalu bergegas mengejar Arumi dan Kayla yang masih berdiri di pinggir jalan menunggu jalanan sepi untuk menyeberang.
Kayla terkejut saat tiba-tiba Dimas menggendongnya. Arumi ikut terkejut.
"Eh?"
"Saya anterin nyeberang," kata Dimas.
"Oh, makasih, Dok. Ngerepotin," kata Arumi sungkan. Dimas tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Tak berapa lama kemudian, Arumi berhasil menyeberang jalan dibantu Dimas. Dimas menurunkan Kayla saat sudah tiba di sisi jalan yang yang dituju.
"Makasih, Mas," ucap Kayla renyah. Dimas tertawa kecil mendengar Kayla terus memanggilnya 'Mas'.
"Makasih, Dok," kata Arumi.
"Sama-sama. Kalo gitu saya pulang dulu. Dah, Kayla," pamit Dimas sambil melambaikan tangan pada Kayla.
"Ati-ati, Mas Dokter," kata Kayla sambil melambaikan tangannya pada Dimas.
Arumi menatap punggung Dimas yang berlari menyeberang kembali ke area parkir mini market. Saat hendak membuka mobilnya, Dimas kembali menoleh ke arah Arumi, melambaikan tangan dan tersenyum. Arumi tertegun.
'Perasaan aneh apa ini?'