NovelToon NovelToon
- Believe In Magic -

- Believe In Magic -

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Reinkarnasi
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: bidadari

Sihirnya tajam, hampir terlalu sempurna untuk usianya. Mantra yang lain pelajari selama bertahun-tahun, ia pahami hanya dalam hitungan detik. Namun, setiap kilau kekuatan yang ia tunjukkan justru menjadi bayangan yang menjauhkannya dari yang lain.

Mereka menyebutnya dingin.
Mereka menyebutnya sombong.

Padahal, yang tak pernah mereka lihat adalah badai sunyi yang ia peluk sendirian.

Evelyn tidak pernah memilih untuk menjadi berbeda. Tapi sihir di dalam dirinya… terasa seperti sesuatu yang hidup—berdenyut, berbisik, seolah menyimpan rahasia yang bahkan ia sendiri takut untuk sentuh.

Dan di balik tatapan tenangnya, tersembunyi pertanyaan yang terus mengendap:

Apakah ia mengendalikan sihir itu… atau justru sedang perlahan dikuasai olehnya?


- Believe in magic -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Mall

Pagi itu, cahaya matahari menembus jendela kamar, menyorot lantai marmer yang bersih dan mewah. Laura Roberts duduk di tepi ranjang, tubuhnya masih terasa kaku setelah hari-hari belajar menyesuaikan diri dengan dunia manusia. Setiap gerakan terasa berat, tetapi rasa penasaran mulai mengalahkan kelelahan.

Tiba-tiba, suara Nyonya Quenza terdengar dari pintu. “Laura, hari ini ikut Mommy ke mall, ya. Kita perlu membeli beberapa barang untuk rumah, dan beberapa hadiah kecil juga.”

Laura menatap wanita paruh baya itu, matanya melebar. “Mall… apa itu?”

Nyonya Quenza tersenyum hangat. “Mall? Ah, itu tempat besar di kota, penuh toko-toko, restoran, dan kadang ada tempat hiburan. Kamu bisa melihat banyak hal sekaligus. Hampir seperti pasar besar, tapi lebih nyaman dan modern.”

Laura mengerutkan dahi, mencoba membayangkan sesuatu yang asing ini. Di dunia sihir, pasar selalu sederhana—penjual yang bersuara lantang, pedagang menawar, semua terasa hidup tapi teratur. Konsep sebuah gedung raksasa dengan banyak toko di dalamnya… benar-benar asing.

Martin, yang duduk di kursi roda di samping meja, mencondongkan tubuh, matanya menatap Laura dengan sedikit heran. “Mall? Kamu belum pernah ke tempat seperti itu?”

Laura menggeleng. “Tidak pernah. Semua yang aku tahu… hanyalah dunia sihir. Tidak ada gedung seperti ini, tidak ada toko-toko, tidak ada manusia sibuk di satu tempat seperti ini.”

Martin mencebik, nada suaranya bercampur heran dan ringan. “Kamu benar-benar aneh. Bahkan untuk ukuran manusia biasa, tidak pernah ke mall itu… unik.”

Nyonya Quenza tertawa kecil. “Jangan dengarkan Martin terlalu serius. Kamu akan senang. Di sana ada banyak hal yang bisa kamu lihat, sentuh, dan rasakan. Belajar sesuatu yang baru itu menyenangkan, kan?”

Laura mengangguk pelan, rasa penasaran mengalahkan rasa canggungnya. “Kalau begitu… aku akan ikut. Tapi… apa yang harus aku pakai? Semua orang berpakaian seperti di rumah ini?”

Nyonya Quenza tersenyum lembut. “Oh tidak, tidak serumit itu. Kita akan pergi berpakaian santai. Mall itu tempat ramai, nyaman, tapi tetap bergaya. Mommy akan membantumu menyesuaikan diri.”

Laura menarik napas panjang. Harus menyesuaikan diri, berpakaian, pergi ke tempat baru, berinteraksi dengan manusia… semua terasa seperti ujian baru.

Di mobil, Laura duduk di samping Nyonya Quenza, matanya melebar melihat jalanan kota. Kendaraan lalu-lalang, orang-orang berjalan cepat, toko-toko memikat mata. Semuanya begitu asing, dan ia merasa cemas sekaligus kagum.

“Lihat, Laura,” kata Nyonya Quenza sambil menunjuk sebuah toko besar dengan jendela kaca memantul, “itu salah satu toko pakaian terbesar di kota. Orang-orang membeli pakaian di sini, dan kadang ada diskon besar.”

Laura menelan ludah. Di dunia sihir, pakaian bisa disesuaikan sendiri dengan sihir. Membeli pakaian dari orang lain, membayar dengan uang, melihat mereka memilih dengan tangan… terasa aneh.

Martin mencondongkan tubuh sedikit, matanya menatap Laura. “Tidak perlu memahami semuanya sekaligus. Perlahan saja. Lihat, rasakan, jangan panik.”

Laura mengangguk, matanya menatap sekeliling mall. Gedung besar itu penuh cahaya, suara, aroma makanan, dan manusia yang sibuk. Ia mencoba menyesuaikan diri, menarik napas dalam, dan merasakan sensasi baru ini perlahan.

Setelah beberapa menit berjalan, mereka berhenti di depan toko buku besar. Rak-rak tinggi, buku berwarna-warni, aroma kertas memenuhi udara. Laura tertegun. “Ini… seperti perpustakaan, tapi lebih besar dan ramai,” bisiknya pada diri sendiri.

Nyonya Quenza tersenyum. “Benar! Kamu bisa melihat-lihat di sini. Banyak hal yang bisa kamu pelajari, banyak dunia yang bisa kamu temui hanya melalui buku.”

Laura menelan ludah, kagum sekaligus bingung. Semua begitu berbeda dari dunia sihirnya yang terstruktur. Di sini, segala sesuatu hidup dengan cara sendiri, tanpa aturan sihir yang bisa menahan semuanya.

Martin mencebik lagi, setengah tersenyum. “Lihat saja, Laura. Kamu akan belajar banyak hal hari ini, mulai dari orang-orang, benda, hingga cara hidup mereka. Ini ujian baru untukmu sebagai manusia.”

Laura menatapnya, tersipu tipis. “Ujian… ya. Tapi aku ingin belajar. Aku ingin tahu dunia ini bekerja seperti apa.”

Nyonya Quenza menepuk punggungnya. “Itu semangat yang Mommy suka! Jangan takut. Dunia manusia memang membingungkan di awal, tapi juga penuh keajaiban.”

Laura menarik napas panjang. Setiap langkah di mall terasa seperti membuka halaman baru dalam buku kehidupan yang belum pernah ia baca. Ia masih asing, bingung, tapi rasa penasaran mengalahkan ketakutannya.

Ia sadar, menjadi manusia berarti belajar setiap saat—dari hal-hal kecil seperti berjalan di mall, melihat manusia lain, hingga memahami percakapan ringan yang sebelumnya tidak pernah ia alami. Semua itu terasa hidup, nyata, dan membingungkan.

Di lorong penuh cahaya itu, Laura melangkah perlahan, menatap ke sekeliling, merasakan semua sensasi baru. Ia mungkin lelah, bingung, dan sering tidak mengerti, tapi satu hal pasti: ia ingin belajar, menyesuaikan diri, dan memahami dunia yang begitu berbeda dari tempat asalnya.

Dan meski Nyonya Quenza dan Martin sama sekali tidak tahu bahwa Laura pernah menjadi penyihir, Laura tetap harus berhati-hati—menyembunyikan rahasianya dan belajar menyesuaikan diri dengan dunia manusia yang penuh kejutan ini.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!