Lamaran Raditya di tolak oleh yuni calon ibu mertua nya karena tidak menyanggupi hantaran yang di minta. Yuni bahkan menghina Raditya dan mempengaruhi anak nya agar mencari laki laki yang kaya, karena anak nya Melinda adalah seorang sekretaris di perusahaan ibu nya. terpengaruh oleh ibu nya, Melinda sebagai kekasih Raditya akhir nya ikut merendah kan
karena emosional tiba tiba Raditya melamar seorang gadis yang bernama Dahlia, pembantu di rumah Melinda dengan cincin Berlian.
Namun siapa sangka, Raditya yang di kenal sebagai pegawai admistrasi di tempat Melinda bekerja, sebenar nya adalah anak sulung pewaris perusahaan itu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 11
"Ngomong ngomong ya Mel, Dahlia ini gampangan sekali. Begitu mudah nya dia di Bawa laki laki. kebayang kalau begitu, bisa saja kemaren juga dia habis jual yang lain" ucap Yuni.
"Tolong jangan bicara begitu nya. Semua nya tidak seperti yang kalian pikir kan" lirih Dahlia
"Jangan ngeles deh sayang. Kami sudah membuktikan kalau diri kamu itu sangat murah. Padahal kamu wanita berhijab loh. Bukti nya kamu mau di bawa laki-laki asing pas lihat mobil. kaget ya ada laki laki ganteng tiba tiba deketin kamu. Satu hal yang harus kamu ingat, meski Raditya bukan selevel dengan ku, tapi bukan berarti dia selevel sama kamu" ucap Melinda
Dahlia menggeleng, mata nya berkaca kaca
"Tidak seperti itu, kami kemaren hanya,,,"
"Kami kemarin hanya menentukan hari pertunangan" terdengar suara Raditya dari depan pintu rumah itu
Mata Melinda dan ibu nya melotot
"Raditya,, ngapain kamu kesini?" Melinda langsung bangun dari duduk nya.
"Mau jemput calon istri ku lah, pasti kamu yang menyuruh nya balik ke sini kan? Aku kan sudah suruh kamu pecat dia, ngapain juga dia harus kesini lagi?"
Belum siap Melinda menimpali, Radit sudah berada di depan Dahlia
"Lepas kan alat pel itu, dasar gadis bodoh! Apa kamu tuli, sudah aku bilang kalau kamu jangan bekerja di sini lagi. cepat ambil semua barang barang mu yang masih ada di sini jangan sampai ada yang tersisa, karena kamu tidak akan kembali kesini lagi!"
Dahlia menegak saliva nya perlahan, menahan rasa terkejut nya. Seperti di hipnotis, gadis itu langsung berbalik dan berjalan ke belakang.
"Heh, kamu gak punya sopan santun, datang ke rumah orang seperti ini! Tanpa salam tanpa izin, kamu gak berhak bawa dahlia! Dia sedang bekerja dan aku sebagai majikan nya tak akan mengizinkan nya!" seru Yuni sambil berkacak pinggang.
"Kan kemarin ibu sendiri yang pecat dia" sahut Radit tanpa rasa takut
"Iya, tapi dia sendiri yang datang lagi kesini" kata Yuni berbohong
"Lain kali usir aja dia kalau datang lagi kesini" kata Radit sambil melirik kearah lorong belakang
Pemuda itu sedang menunggu Dahlia kembali, waktu terasa lambat
"Kamu jangan lebay kayak gini dong mas! Bukan nya berusaha menikahi aku malah ngembat pembantu ku. kenapa selera mu rendah sekali sih mas,! Pikir pakai otak, jangan hanya karena emosi sesaat, jangan sampai menyesal nanti nya!' oceh Melinda tepat di depan wajah Radit
"Kamu sendiri yang saranin aku buat nikahin siapa saja. sekarang kamu jangan campuri urusan ku"
"Tapi bukan sama pembantu juga mas!" pekik Melinda
Radit sama sekali tidak peduli. Dia malah melangkah melewati Melinda, berniat menuju lorong tempat Dahlia menghilang. Namun tiba tiba gadis itu muncul dengan membawa plastik.
"Ehh,,, apa itu? Jangan sampai kamu membawa barang curian di rumah ini" ucap Yuni sambil mendekati Dahlia
Dahlia meletak kan kantong plastik berukuran sedang di depan Yuni. dengan ekspresi datar ia menuangkan isi nya. Ada mukena, perlengkapan mandi dan juga beberapa helai pakaian nya. Ia sudah empat tahun menjadi pembantu di rumah Yuni
Datang jam enam pagi, pulang nya sore. Yuni hanya mendengus melihat barang barang Dahlia yang tampak lusuh.
Dahlia berjongkok lalu memasukan kembali barang barang nya dalam plastik
"Tak perlu membayar gaji saya bulan ini, kalian sudah membayar nya dengan ucapan ucapan kalian yang tak berperasaan" ucap Dahlia dingin yang membuat Melinda dan ibu nya melongo
Dahlia bangun dan melangkah mendekati Radit yang berdiri
"Ayo mas kita pergi" ucap Dahlia suara nya terdengar tegas dan yakin
Dahlia melangkah selangkah demi selangkah lantai yang bertahun tahun sudah di rawat nya. Di tempat Itu dia memang menggantung kan nasib dan kehidupan keluarga nya. Bu Yuni memang selalu memberikan nya gaji tepat waktu meski sering di potong karena menurut nya pekerjaan Dahlia kurang bersih dan kurang cepat.
"Jangan nekad kamu Dahlia! ingat kamu dan keluarga mu tak akan bisa hidup tanpa menggantung kan gaji disini!" ucap Yuni sambil melotot
"Wanita sinting" umpat Melinda
Dahlia terus melangkah, di sini tempat nya menempa kesabaran. karakter Bu Yuni yang asal perintah dan memiliki Mulut tanpa saringan itu kerap kali membuat nya menahan air mata. di tambah lagi sikap melinda yang selalu memandang nya sebelah mata, membuat nya harus menambah stok kesabaran. Seharus nya gadis itu bisa lebih bersahabat dengan nya karena mereka seusia, tapi nyata nya tidak
Melinda mengejar dahlia dan mendorong bahu gadis itu hingga tersungkur ke depan.
"Kebelet banget kamu sama laki-laki! Sampai mau kabur tanpa seizin ku. meninggalkan pekerjaan yang bisa membuat mu dan keluarga mu tetap hidup. kamu itu definisi perempuan tak tahu diri dan tak tak tahu terimakasih!"
Dahlia menegak kan tubuh nya yang hampir saja terjatuh
"Kalau pun dia tak hadir. Batas kesabaran ku di rumah ini, di rumah orang orang yang tak punya hati seperti kalian sudah habis, Melinda."
"Kamu berani memanggil nama ku!" Melinda geram
"Lalu aku harus memanggil apa? Gadis sombong dan mulut berbisa?" sahut Dahlia
Tanpa pikir panjang lagi, melinda menarik hijab Dahlia dengan keras sampai Dahlia mendongak ke atas, meringis kesakitan karena rambut nya juga ikut di tarik.
Spontan Radit langsung menepis tangan Melinda hingga terlepas dari hijab Dahlia
"Cukup Mel,! Sebagai manusia yang beradab, kamu tak sepantasnya bersikap seperti ini. Sekarang aku merasa bersyukur tak jadi menikahi kamu. Terimakasih sudah membuka topeng mu!"
"Raditya!" pekik Melinda sambil meremas tangan nya
Dahlia memperbaiki jilbab nya yang melorot lalu pergi meninggalkan Melinda dan Radit yang masih berdebat. Gadis itu terus melangkah, menatap ke depan tak peduli
"Simpan energi mu itu untuk menerima kenyataan. Aku semula kagum pada mu, Mel. tapi sekarang aku kecewa."
Raditya berlari meningalkan Melinda yang mulut nya terbuka lebar seolah tak percaya. Melinda mengusap wajah nya kasar, mencoba menetralisir perasaan nya yang terkejut mendengar ucapan Raditya
Melinda kembali membuka mulut nya melihat Raditya mengejar dahlia. laki laki itu melewati Dahlia sambil menekan tombol kunci di tangan nya, hingga terlihat lampu mobil menyala
Kedua bola mata Melinda seakan mau keluar ketika ia mendekat dan melihat dengan jelas mobil seharga milyaran sedang dibukakan pintu nya untuk Dahlia. Tiba tiba terasa lemas lutut Melinda sehingga ia tak mampu menopang tubuh nya sendiri
"Ma,,, mama,,,mama" lirih Melinda
Yuni menangkap tubuh anak nya "Mel kamu kenapa?"
Melinda menunjuk ke arah mobil hitam yang perlahan meninggal kan rumah mereka. Yuni menguat kan pijakan nya karena Melinda benar benar lemas