Raisa Maureen ditinggal mati suaminya di dalam kondisi masih prawan, lalu ia melakukan hubungan satu malam dengan kakak iparnya karena pria itu mabuk berat dan kehilangan keperawanannya. setelah menikah dengan Evan ia baru mengetahui kenapa selama ini Aditya almarhum suaminya tidak pernah menyentuhnya. Apa yang sebenarnya terjadi? ikuti kelanjutan kisah nya hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keseriusan
Raisa memegang kepalanya, wajahnya pucat.
"Ya Tuhan… kenapa selama ini aku nggak sadar…?" suaranya bergetar. "Kalau ternyata Mas Aditya… seperti itu…"
Ia menutup wajahnya, mencoba menahan tangis.
Evan menatapnya, lalu berbicara pelan.
"Sekarang kamu sudah tahu semuanya, Sa…"
Raisa tidak menjawab.
Evan melanjutkan, suaranya lebih berat.
"Kalau kamu nggak mau lanjut sama mas… nggak apa-apa. Mas akan menjauh."
Raisa langsung menurunkan tangannya, menatap Evan dengan kesal dan terluka.
"Enak saja kamu ngomong begitu!" ucapnya. "Setelah kamu… mengambil keperawanan ku kamu mau pergi begitu saja?"
Evan terdiam.
Raisa menggigit bibirnya, matanya memerah.
"Kamu pikir ini hal kecil?" lanjutnya. "Aku sudah kehilangan banyak hal… dan sekarang kamu bilang mau pergi?"
Evan menghela napas, wajahnya serius.
"Mas nggak mau memaksa kamu, Sa…"
Raisa menggeleng.
"Tapi kamu juga nggak bisa lari dari tanggung jawab," ucapnya tegas.
Evan menatap Raisa, suaranya serius.
"Terus… kamu maunya apa, Sa?"
Raisa balas menatap tanpa ragu.
"Temuin orang tua aku."
Evan sedikit terkejut.
"Orang tua kamu?"
Raisa mengangguk tegas.
"Iya. Kalau kamu memang mau tanggung jawab… kita mulai dari situ."
Evan terdiam sejenak, lalu menghela napas.
"Kamu yakin?"
Raisa menjawab mantap.
"Aku nggak mau semua ini jadi main-main, mas. Aku mau semuanya jelas."
Evan mengangguk pelan.
"Baik… mas akan temuin orang tua kamu."
Raisa menatapnya, memastikan.
"Bukan cuma janji, ya."
Evan menatap balik.
"Bukan. Mas serius."
Marcelino menatap Evan dengan tajam, nada suaranya naik.
"Tunggu… Evan. Maksud kamu… kamu sudah mengambil kesucian Raisa?"
Evan tetap tenang, membalas tanpa ragu.
"Memangnya kenapa? Kami sama-sama mau. Nggak ada yang dipaksa."
Marcelino menggeleng tidak percaya.
"Gila… kuburan Aditya saja belum kering, kalian sudah sejauh itu?"
Raisa langsung menunduk, wajahnya memerah campur emosi.
Evan menatap dingin ke arah Marcelino.
"Kami berdua sudah sama-sama sendiri sekarang. Nggak ada yang salah."
Marcelino tertawa pahit.
"Kamu cepat sekali menggantikan posisi dia, ya…"
Evan menyipitkan mata.
"Setidaknya aku nggak menikah i dia karena menutupi kekurangan ku, tapi untuk menyempurnakan ibadah kita."
Raisa mengangkat wajahnya, menatap Marcelino dengan sorot tajam.
"Kenapa kamu terlihat kecewa?" tanyanya dingin.
Marcelino terdiam.
Raisa melangkah sedikit mendekat.
"Jangan-jangan… kamu sebenarnya juga menyukai Mas Evan?" ucapnya menusuk.
Marcelino langsung menatapnya, kaget.
"Apa yang kamu bilang?"
Raisa menyilangkan tangan.
"Kamu bereaksi berlebihan. Seolah-olah kamu punya hak atas dia juga."
Marcelino menatap Raisa dengan kaget, lalu suaranya meninggi.
"Apa yang kamu bilang? Aku cuma nggak habis pikir… Aditya sampai mati demi kamu, tapi kamu malah selingkuh sama kakaknya!"
Raisa langsung tersulut emosi.
"Selingkuh? Kamu bilang aku selingkuh?" balasnya tajam. "Justru kamu yang berhubungan dengan suami orang! Kenapa aku yang disalahkan?"
Marcelino menggeleng, rahangnya mengeras.
"Aku sudah bersama dia bertahun-tahun! Kamu yang datang dan merebut dia!"
Raisa tertawa pahit.
"Merebut?" ulangnya sinis. "Jangan playing victim deh. Aku bahkan nggak tahu dia punya hubungan sama kamu! Kalau aku tau dia hombreng aku gak akan mau menikah dengan dia. "
Ia menatap Marcelino tanpa gentar.
"Dan bukannya kamu sendiri yang setuju dia menikah denganku? Untuk nutupin semuanya?"
Marcelino terdiam sesaat.
Raisa melangkah maju, suaranya bergetar tapi tegas.
"Jadi jangan seolah-olah aku perusak hubungan kalian… dari awal aku cuma dijadikan alat."
Marcelino mengepalkan tangannya, emosinya ikut terpancing.
"Aku memang salah… tapi bukan berarti kamu bebas dari kesalahan!" suaranya meninggi. "Kamu tahu dia sudah meninggal… tapi kamu langsung bersama orang lain!"
Raisa tertawa pahit, air matanya jatuh lagi.
"Langsung?" balasnya tajam. "Kamu pikir aku nggak hancur setelah tahu semua ini?"
Ia menunjuk ke arah Marcelino.
"Kamu dan dia yang merencanakan semua ini dari awal! Aku cuma korban!"
Marcelino terdiam, napasnya memburu.
Evan akhirnya berdiri di antara mereka.
"Cukup!" suaranya tegas.
Raisa masih gemetar, dadanya naik turun.
Evan menatap Marcelino dingin.
"Kamu sudah menyampaikan semuanya. Nggak perlu memperkeruh lagi."
Marcelino menatap Raisa, kali ini lebih lemah.
"Aku… memang salah," ucapnya pelan. "Tapi perasaan aku ke Aditya itu nyata."
Raisa menggeleng, mundur selangkah.
"Perasaan kamu mungkin nyata… tapi yang kalian lakukan ke aku juga nyata," suaranya lirih.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.
"Aku kehilangan banyak hal… tanpa pernah tahu kebenarannya."
Evan memegang bahu Raisa dengan lembut.
"Ayo, Sa… kita pergi."
Raisa tetap berdiri di tempatnya, menatap Marcelino untuk terakhir kali. Tatapannya dingin, tapi matanya masih menyimpan luka.
"Nikmati saja hukumanmu," ucapnya pelan namun tegas. "Kalau kamu benar-benar cinta… kamu nggak mungkin membunuh orang yang kamu sayang sendiri."
Marcelino terdiam, kata-kata itu seolah menamparnya tanpa bisa dibalas.
Seorang petugas mendekat, suaranya tegas namun tetap sopan.
"Maaf, waktunya sudah habis. Mohon tidak bertengkar, jam besuk sudah selesai."
Evan mengangguk singkat.
"Baik, Pak."
Raisa akhirnya berbalik, langkahnya perlahan tapi pasti.
Mereka keluar dari lapas, udara terasa berbeda begitu Raisa melangkah keluar. Tanpa banyak bicara, ia langsung mendekat dan memeluk Evan erat.
"Mas… kenapa aku bodoh banget selama ini…" suaranya pecah.
Evan terkejut sejenak, lalu membalas pelukannya, mengusap punggungnya pelan.
"Kamu nggak bodoh, Sa…"
Raisa menggeleng di dadanya.
"Aku hidup sama dia berbulan-bulan… tapi nggak pernah benar-benar tahu siapa dia," ucapnya lirih.
Evan menariknya sedikit agar bisa melihat wajahnya.
"Itu bukan salah kamu. Kamu cuma percaya sama orang yang seharusnya jujur ke kamu."
Air mata Raisa jatuh lagi.
"Aku merasa dipermainkan… dijadikan alat…" katanya pelan.
Evan mengusap pipinya.
"Sekarang semuanya sudah jelas. Kamu nggak hidup dalam kebohongan lagi."
Raisa menatapnya, masih rapuh.
"Tapi sakitnya tetap ada, mas…"
Evan mengangguk pelan.
"Iya… dan itu wajar. Tapi kamu nggak sendiri sekarang."
Raisa kembali memeluknya, lebih erat.
"Jangan tinggalin aku…" bisiknya.
Evan memejamkan mata sejenak, lalu menjawab pelan,
"Nggak akan, Sa… mas di sini."
udah tau juga belang Aditya..
udah dengerin aja,jangan jadi orang yang sok tau gimana Aditya
udah di obok obok tiap hari msak gak mau dinikahi..
ada2 aja,kemana harga diri Mu Sa
pak David tukang kibul malah dikibulin...
anak sendiri pula pelakunya 🤣🤣🤣🤣
Cuma Raisa yang disini gak tau kelakuan Aditya