Mati di puncak gunung Goma justru terbangun di dasar neraka sebagai tengkorak rapuh tanpa daging. Demi kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan Goma mulai membantai iblis dan memangsa tubuh mereka. Setiap nyawa yang ia telan menumbuhkan otot serta kulit baru di atas tulangnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup namun tentang pendakian berdarah dari dasar jurang menuju singgasana para dewa yang telah menghina takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lumpur Yang Menghisap Jiwa
Episode 6
Udara di depan kami mulai berubah menjadi semakin lembap serta terasa sangat berat untuk dihirup. Aroma manis dari sumsum yang sebelumnya tercium samar kini berganti dengan bau logam berkarat bercampur dengan bau bangkai yang sudah sangat lama membusuk. Aku menghentikan langkahku sejenak di perbatasan antara Hutan Sumsum dan wilayah yang terlihat seperti hamparan lumpur hitam yang sangat luas. Di sana sini gelembung gelembung gas besar pecah dari permukaan lumpur mengeluarkan asap berwarna hijau kekuningan yang sangat pekat.
Rawa Sumsum. Tempat ini terlihat jauh lebih berbahaya daripada hutan tadi. Di gunung aku sangat benci mendaki di atas tanah yang gembur serta berlumpur karena pijakan akan sangat mudah bergeser serta menyeretmu jatuh.
Aku melihat ke arah kakiku yang kini sudah memiliki otot paha yang kuat. Namun di bagian betis ke bawah aku masih bisa melihat tulang tibia dan fibula yang putih kusam meskipun sudah mulai terbungkus oleh jaringan syaraf merah yang tipis. Aku mencoba menekan permukaan lumpur di depanku menggunakan ujung kaki tulangku.
Sret.
Lumpur itu langsung menghisap ujung kakiku dengan sangat kuat. Aku segera menariknya kembali dengan sentakan otot paha yang eksplosif. Rasanya sangat berat seolah olah ada ribuan tangan kecil di bawah sana yang mencoba menarik ku masuk ke dalam kegelapan.
"Hati hati Goma. Lumpur itu bukan lumpur biasa. Itu adalah kumpulan jaringan lemak iblis yang sudah mencair. Jika kau terperosok terlalu dalam maka tulang tulang ku akan terpisah satu sama lain karena daya hisapnya yang luar biasa."
Kharis terbang melayang di atasku dengan posisi yang lebih tinggi dari biasanya. Ia sepertinya juga sangat menghindari asap hijau yang mengepul dari permukaan rawa tersebut.
"Aku bisa merasakannya Kharis. Daya tariknya sangat kuat. Aku tidak bisa hanya berjalan dengan cara biasa di tempat seperti ini. Aku butuh traksi yang lebih besar agar tidak mudah tenggelam."
Aku melihat ke sekeliling mencari cara untuk menyeberang. Di antara hamparan lumpur hitam itu terdapat bongkahan bongkahan besar yang menyerupai tempurung kura kura namun terbuat dari bahan seperti kalsium padat. Beberapa di antaranya terlihat bergerak perlahan lahan menembus pekatnya lumpur.
[ SISTEM: MEMINDAI LINGKUNGAN SEKITAR ]
[ SISTEM: OBJEK TERDETEKSI: CANGKANG MATI DAN MAHLUK HIDUP TINGKAT RENDAH ]
[ SISTEM: PERINGATAN: KONSENTRASI ASAM PADA ASAP HIJAU MENCAPAI 40 % ]
[ SISTEM: SARAN: GUNAKAN TITIK TUMPU PADA CANGKANG UNTUK MEMINIMALISIR KONTAK DENGAN LUMPUR ]
Cangkang itu adalah kunci keselamatanku. Ini seperti teknik bouldering di mana aku harus berpindah dari satu bongkahan batu ke bongkahan batu lainnya tanpa menyentuh tanah.
"Kharis lihat bongkahan bongkahan itu. Apakah itu yang kau sebut sebagai Shell Crab Demon."
"Bukan Goma. Itu hanyalah mahluk kecil bernama Shell Crawler. Mereka hanyalah parasit yang hidup di punggung Shell Crab yang asli. Tapi kau bisa menggunakan punggung mereka sebagai jembatan jika kau cukup cepat."
Aku menarik napas imajiner yang dalam untuk menenangkan api biru di mataku. Aku mengatur distribusi berat badanku agar lebih condong ke arah otot otot pahaku. Dengan satu lompatan yang terukur aku meluncur ke arah cangkang terdekat yang berada sekitar dua meter dari pinggiran rawa.
Hup.
Aku mendarat dengan kedua kaki tulang ku di atas cangkang yang keras dan licin itu. Permukaannya terasa bergetar seolah olah mahluk di bawahnya merasa terganggu oleh kehadiranku. Aku segera menyeimbangkan tubuhku menggunakan otot otot inti di pinggangku yang meskipun masih tipis namun sudah mulai bekerja secara efisien.
"Tetap bergerak Goma. Jangan diam di satu tempat terlalu lama atau mereka akan menyelam ke bawah."
Aku melompat lagi ke cangkang berikutnya. Gerakanku sekarang jauh lebih lincah daripada saat aku pertama kali terbangun di Gehenna. Lengan berototku mengayun secara ritmis untuk menjaga keseimbangan udara. Setiap kali aku mendarat aku bisa merasakan tekstur cangkang itu melalui jaringan syaraf perasaku yang baru tumbuh.
Tiba tiba salah satu cangkang yang hendak kupijak meledak dari bawah lumpur. Muncul sesosok mahluk dengan capit raksasa yang berwarna hitam legam. Ia bukan Shell Crawler biasa melainkan penjaga wilayah rawa yang disebut Marsh Guardian.
"Sssshhhhrrrkkkk!"
Mahluk itu mengayunkan capitnya ke arah kakiku. Aku segera melakukan gerakan salto ke belakang di udara sebuah teknik yang dulu hanya bisa kulakukan dengan bantuan tali pengaman namun sekarang otot pahaku memberiku kekuatan pegas yang luar biasa.
"Mahluk ini sangat mengganggu Kharis."
[ SISTEM: ANALISIS MAHLUK TERDETEKSI ]
[ SISTEM: NAMA: MARSH GUARDIAN ]
[ SISTEM: TINGKAT BAHAYA: MENENGAH ]
[ SISTEM: TARGET MEMILIKI STRUKTUR OTOT PERUT YANG PADAT DI BALIK CELAH CANGKANG BAWAH ]
Otot perut yang padat. Itulah yang kucari selama ini.
Aku mendarat di atas sebuah dahan tulang pohon yang mencuat dari lumpur. Aku melihat ke arah mahluk itu. Ia memiliki tinggi sekitar dua meter dengan enam kaki yang sangat ramping namun terlihat sangat kuat untuk bergerak di dalam lumpur. Cangkangnya sangat tebal melindungi seluruh bagian punggung dan kepalanya.
"Kharis kau tahu apa yang harus dilakukan. Alihkan perhatiannya dari arah depan. Aku akan mencoba masuk ke bagian bawah tubuhnya."
"Kau gila Goma. Bagian bawahnya adalah tempat capit itu berasal. Jika kau terjepit maka tubuhmu akan terbelah dua."
"Percaya padaku. Aku sudah sering berada di antara celah batu yang sempit di pegunungan Himalaya. Aku tahu cara bergerak di ruang terbatas."
Kharis mendesah asap hitam kemudian terbang melesat ke depan wajah mahluk itu. Ia mulai mengeluarkan kilatan cahaya ungu dari matanya serta membuat suara suara gaduh yang memekakkan telinga. Marsh Guardian itu merasa terganggu dan mulai menyerang asap asap yang dibuat oleh Kharis menggunakan kedua capit besarnya.
Sekarang.
Aku meluncur dari dahan pohon tulang itu. Aku tidak melompat ke atas namun aku meluncur rendah di atas permukaan cangkang Shell Crawler yang ada di dekat sana. Aku menggunakan tangan kananku yang berotot untuk menarik diriku masuk ke bawah perut mahluk Marsh Guardian tersebut.
Keadaan di bawah sini sangat gelap serta penuh dengan lendir yang berbau busuk. Namun sistem analisisku benar. Di bagian perut mahluk ini terdapat lapisan jaringan otot yang sangat tebal serta berlapis-lapis untuk mendukung gerakan capitnya yang berat.
"Dapat kau."
Aku menusukkan belati kristalku ke arah jaringan otot perutnya yang sedang menegang.
Jleb.
Cairan merah pekat bercampur dengan sumsum hitam menyemprot keluar mengenai seluruh tulang rusukku yang masih terekspos. Mahluk itu menjerit dengan sangat keras hingga seluruh permukaan rawa bergetar hebat. Ia mencoba menginjakku menggunakan kaki kakinya yang tajam.
"Goma cepat keluar dari sana. Dia akan meledakkan kantong gas di perutnya."
Aku tidak segera keluar. Aku menggunakan kedua tangan berototku untuk merobek paksa bagian otot perut mahluk itu. Aku ingin mengambil esensi otot ini sebanyak mungkin sebelum mahluk ini mati sepenuhnya.
[ SISTEM: MENGEKSTRAKSI JARINGAN OTOT INTI TINGKAT TINGGI ]
[ SISTEM: ESENSI TERCAMPUR DENGAN ASAM RAWA ]
[ SISTEM: MEMULAI PROSES PENETRALAN DAN ASIMILASI ]
Aku merasakan sensasi terbakar yang luar biasa di bagian perutku yang tadinya kosong. Rasa sakitnya kali ini seribu kali lebih hebat daripada saat aku menumbuhkan lengan. Rasanya seolah olah ada besi panas yang sedang dipaksa masuk ke dalam rongga tubuhku untuk membentuk sebuah pilar baru.
"Aaakh. Sialan. Ini sakit sekali."
Aku segera berguling keluar dari bawah tubuh mahluk itu tepat sebelum ia meledak mengeluarkan gas hijau yang sangat beracun. Tubuh Marsh Guardian itu hancur berantakan menyisakan potongan potongan cangkang yang berhamburan ke dalam lumpur hitam.
Aku merangkak menuju sebuah bongkahan tulang yang cukup besar untuk bersandar. Aku memegang bagian perutku. Di sana di bawah tulang rusuk terakhir mulai tumbuh gumpalan otot yang sangat besar serta kuat. Otot itu tidak hanya menutupi bagian depan namun juga melingkar menuju ke arah tulang belakangku memberikan dukungan yang sangat luar biasa pada postur tubuhku.
[ SISTEM: EVOLUSI TAHAP 4 DIMULAI ]
[ SISTEM: PEMBENTUKAN OTOT ABDOMINAL DAN LUMBAR SELESAI ]
[ SISTEM: SINKRONISASI JIWA MENINGKAT 10 % ]
[ SISTEM: ANDA TELAH MEMPEROLEH KEKUATAN INTI (CORE STRENGTH) ]
Aku mencoba berdiri tegak. Rasanya sangat berbeda. Sekarang aku merasa memiliki kendali penuh atas bagian atas dan bawah tubuhku. Otot perut yang baru tumbuh ini bertindak sebagai jembatan yang menyatukan seluruh kekuatanku. Aku merasa jauh lebih stabil serta jauh lebih kuat daripada sebelumnya.
"Lihat Kharis. Aku tidak lagi membungkuk."
Kharis terbang mendekat kemudian menyentuh otot perutku yang baru. "Luar biasa Goma. Kau benar benar gila. Kau mengambil otot dari mahluk penjaga saat ia masih hidup. Aku tidak menyangka kau bisa selamat dari ledakan gas tadi."
Aku melihat ke arah tanganku. Kulit abu abuku sekarang sudah mulai merambat menutupi otot perutku yang baru. Warna kulitnya semakin gelap menunjukkan bahwa ketahanannya semakin meningkat. Aku merasa seolah olah aku mulai memiliki berat yang seharusnya dimiliki oleh mahluk hidup sejati.
Ibu Widya panti asuhan kita akan memiliki penjaga yang paling kuat. Aku sedang membangun tubuh yang tidak bisa dihancurkan oleh apa pun.
Aku menatap ke arah pusat rawa yang masih tertutup oleh kabut hijau yang tebal. Aku tahu bahwa di dalam sana masih banyak mahluk yang jauh lebih besar serta memiliki esensi yang lebih murni. Targetku selanjutnya adalah bagian betis dan telapak kaki agar aku bisa berlari dengan kecepatan penuh di atas permukaan apa pun.
"Ayo Kharis. Jangan biarkan gas ini merusak kulit baruku. Kita harus terus bergerak menuju ke area yang lebih dalam."
Aku mengambil kembali belati kristalku yang sekarang sudah sedikit retak akibat tekanan otot perut mahluk tadi. Goma sang pendaki kini telah memiliki "inti" yang kuat. Ia bukan lagi sekadar kerangka yang disambung sambung melainkan sebuah mesin tempur yang sedang merakit dirinya menuju kesempurnaan.
Langkahku di atas cangkang cangkang licin itu kini terasa sangat pasti. Setiap lompatan yang kuambil dilakukan dengan kepercayaan diri yang tinggi karena aku tahu otot inti tubuhku mampu menahan guncangan apa pun. Aku terus mendaki melewati rintangan lumpur ini menuju puncak kekuasaan yang sudah menantiku di kejauhan.
Dunia Gehenna mungkin mencoba untuk menelan jiwaku dengan lumpur hitamnya namun aku akan menggunakan lumpur ini sebagai pupuk untuk menumbuhkan daging baruku. Aku adalah Goma dan aku akan pulang ke Bumi sebagai mahluk yang paling kuat yang pernah ada.