Anindya Wijaya, seorang mahasiswi lanjutan jurusan kebidanan. Anak yatim piatu yang harus bekerja keras demi kebutuhan hidupnya. Semua pekerjaan rela dia lakukan termasuk menjadi pacar ataupun tunangan bayaran. Pekerjaan itulah yang membuatnya bertemu dengan Bagas Ardhitama, seorang tentara pasukan khusus yang dikejar deadline oleh orang tuanya untuk membawa pacarnya ke rumah.
Apakah ini awal yang baik untuk memulai sebuah hubungan?
Akankah kebohongan mereka menjadi petaka? Ataukah akan bahagia?
Akankah pekerjaan Bagas sebagai tentara pasukan khusus membuat hidup Anindya terancam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mak Nyak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengakui Kebohongan
Bagas melajukan motornya meninggalkan rumah. Tari memilih untuk mandi terlebih dahulu sebelum Anin. Ibu membereskan ruang tamu dan disana Ayah sedang membaca koran. Anin menghampiri orang tua Bagas.
"Em, Yah, Bu, Anin mau bicara sebentar" Anin masih berdiri di depan Ayah dan Ibu.
"Masalah apa Nin?" Ayah heran dengan apa yang akan Anin utarakan.
"Duduk dulu sayang. Apa yang kamu ingin bicarakan?" Ibu menghentikan aktifitasnya dan duduk di samping Ayah
Anin duduk di depan Ayah dan Ibu. Tangannya terasa dingin. Gugup, itulah yang dirasakannya.
"Em, se sebelumnya Anin mau minta maaf karena... karena Anin dan mas Bagas bohong sama Ayah dan Ibu" Anin berbicara sedikit cepat. Nafasnya tersengal sengal.
Ibu dan Ayah semakin yakin kalau Anin dan Bagas memang berbohong. Ajudan ayahnya Bagas gagal mendapatkan informasi karena hanya sedikit data yang didapatkannya dan itupun tidak ada kaitannya dengan hubungan nya dan Bagas.
"Mmm, sebenarnya, selama 3 minggu ini kami hanya terikat kontrak. Mas Bagas minta tolong ke Anin supaya mau jadi tunangan bayarannya. Dan saat itu Anin yang butuh uang untuk bayar kuliah mengiyakan tawaran mas Bagas. Tolong jangan marahi mas Bagas yah, bu. Uang yang Anin terima akan Anin kembalikan" jelas Anin panjang kali lebar.
"Oke, terus sekarang kenapa kamu jujur kepada kami?" tanya ibu
"Waktu itu memang kami pura pura. Tapi sekarang kami sedang mencoba untuk mencintai Yah, Bu. Mas Bagas pernah bilang ibu paling benci kalo ada yang bohong. Anin takut kalo ibu sampai benci sama Anin" Anin sedikit menyungging kan senyumnya
"Ibu hargai kejujuran kamu Nak, Ibu seneng akhirnya kalian bisa belajar menerima satu sama lain"
"Ayah sih pengennya kamu yang tetap jadi mantu ayah"
"Ayah sama ibu gak gimana gitu sama Anin? Gak marah? Gak pengen ngusir Anin gitu?"
"Hahaha, emang perlu kayak begitu? Orang jujur itu harus dihargai, karena belum tentu semua orang bisa melakukannya, iya kan bu?"
"Iya, ibu setuju sama ayah. Udah, mending kamu persiapan mau ke kampus kan?"
"Ya sudah, Anin sekali lagi minta maaf sama Ayah dan Ibu. Dan terima kasih masih ngasih Anin kesempatan" Anin tersenyum lega setelah mengakui kebohongannya.
.
Tari melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Saat akan memasuki gerbang kampus Anin dan Tari melihat Adit. Tari mencari parkiran kosong dan memarkirkan mobilnya disana. Mereka hendak menuju kelas, tapi seseorang memanggil mereka.
"Ri, gue mau ngomong bentar bisa?" Adit berdiri di belakang Tari
"Gak ada waktu" Tari meninggalkan Anin dan Adit
"Nin, bisa bantuin gue buat ngomong sama Tari gak?"
"Kakak mau ngomong soal apa? Kakak dan tante Nam tau kan kalo perbuatan kalian itu bener bener kelewatan. Maaf kak, Anin gak bisa bantu. Tari gak bunuh diri aja itu mukjizat buat kalian. Jadi tolong beri waktu buat Tari tenangin dirinya. Tolong bilangin itu juga ke tante Nam" Anin meninggalkan Adit
Pengumuman yudisium telah usai. Tari sedari tadi diam membisu.
"Ri, makan yuk. Laper nih"
"Gue males makan, lo sendiri aja ya. Lo pulang sendiri dulu ya. Gue butuh sendiri"
"Gak, lo gak boleh sendiri. Gue ikut. Gak ada penolakan! Titik!"
"Nin, gue janji gue gak bakalan bunuh diri. Gue mau nemuin nyokap biar cepet kelar urusannya"
"Janji ya? Awas aja kalo lo sampai nglakuin itu lagi"
"Iya bawel ah"
"Telpon ayang beb dulu minta jemput"
"Ah elah, pulang sendiri biasanya juga bisa. Sekarang manja banget minta antar jemput. Terserah lo deh, gue pamit dulu"
Anin mengetik pesan
Mas, lagi sibuk gak? Jemput aku bisa?
bibirnya lebih gentle yaa 😂👍
Sedangkan klo tari lagi sedih anin selalu ada di sampingnya 😏
Klo cuma tristan mah gak cukup kan lagi ada misi merebut hati papanya tari tristan nya 😁