Apakah kamu percaya cerita Cinderella?
Amina Arafat hanyalah seorang gadis yatim piatu, imigran dari Palestina dan tinggal bersama paman bibinya serta sepupunya di Brussels Belgia. Amina memiliki wajah cantik yang khas, membuat Akira Léopold, putra mahkota kerajaan Belgia, jatuh cinta pada pandangan pertama.
Amina yang merasa tidak pantas bersanding dengan seorang pangeran dan putra mahkota, mencoba menjauh dari Akira tapi dia salah. Akira adalah keturunan Léopold yang tidak akan menyerah begitu saja demi mendapatkan wanita yang sudah mencuri hatinya sejak bangku sekolah.
Generasi 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hasil Sidang
Akira masih mendengarkan ghibah dua orang mahasiswa yang dia perkirakan mereka teman kuliah Amina. Rasanya Akira ingin bilang bahwa Amina melakukannya sendiri tanpa bantuan dari keluarga Léopold. Kecuali uang bulanan yang diberikan Zinnia ke Bea.
"Padahal Akira Léopold itu bisa mendapatkan gadis yang lebih cantik kan ya?" celetuk gadis B.
Amina sudah cantik, tahu! - batin Akira sebal. Cantik luar dalam pula!
"Kira-kira si Arafat bisa lulus tidak ya? Atau cuma mengandalkan kecantikannya saja?" tanya gadis A.
Akira harus menahan emosinya mendengar gadisnya dihina sedemikian rupa. Dia tahu bagaimana Amina di kampus. Bea selalu menjadi pengawal bayangan Amina tanpa sepengetahuan gadis itu.
Berarti semua orang mengakui bahwa Amina cantik. Akira tersenyum smirk dari balik maskernya.
Akira tidak memperhatikan lagi karena dua gadis itu tidak membicarakan Amina lagi. Pria itu hanya melihat posisi adiknya yang kabur ke Amerika. Amira memang bandel seperti sepupunya, Brayden Carrington.
Dia melihat adiknya berada di hotel area Philadelphia. Akira berani bertaruh jika adiknya pasti tidur satu kamar dengan Grady. Atau Grady yang tidak mau kehilangan Amira. Akira tidak habis pikir, bagaimana Amira bisa main melarikan diri tanpa terdeteksi. Apa gara-gara waktu kecil hobinya nonton Naruto?
Suara pintu ruang sidang Amina terbuka dan Akira melihat gadisnya berjalan keluar dengan langkah pelan. Wajahnya tampak menahan emosi dan Akira tahu, Amina dibantai di dalam sana. Akira hendak berdiri tapi Amina memberikan kode untuk tetap duduk.
Akira duduk, menunggu Amina datang ke kursi sebelahnya. Matanya melirik ke arah dua gadis yang berghibah tadi dan tampak mereka saling bisik-bisik tidak jelas. Amina pun duduk di sebelah Akira dan dia menghembus nafas, pertanda dia cukup lelah.
"Bagaimana?" tanya Akira ke Amina.
Amina hanya tersenyum. "Tinggal menunggu hasilnya. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin."
Akira memeluk bahu Amina dan gadis itu meletakkan kepalanya di bahu pangeran Belgia. "Aku tahu kamu sudah berusaha keras dan yakinlah kamu akan mendapatkan hasil yang terbaik."
Amina hanya mengangguk tanpa memperhatikan dua gadis di sebelahnya melongo melihat dirinya dipeluk mesra oleh pria asing.
"Habis ini, kalau sudah keluar hasilnya, kita bersiap untuk kembali ke Belgia ya? Wisuda kamu kan masih November kan setahu aku," ucap Akira.
"Iya, November."
Akira mengusap lembut lengan Amina. "Kamu tahu, aku pernah nonton film Bollywood judulnya The Three Idiots. Dalam film itu ada banyak pelajaran. Tiga orang bersahabat dengan berbagai cerita. Ada yang jadi joki anak orang kaya demi bisa kuliah. Ada yang kuliah di teknik demi menjadi insinyur atas keinginan orang tua. Ada yang merasa tidak pintar dan sangat percaya superstitious ( percaya hal-hal ghaib ). Mereka memiliki tujuan yang sama tapi di tengah jalan ... Banyak hal yang terjadi. Satu hal yang pasti, masing-masing berhasil mewujudkan mimpinya. Seperti halnya kamu, Mina. Kamu ambil psikologi demi bisa menyelami murid-murid kamu kan?"
"Itu dan juga buat aku sendiri. Berusaha self counseling agar tidak insecure."
"Apakah bisa?" tanya Akira.
"Sedang aku usahakan." Amina mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah kanannya saat mendengar nama temannya dipanggil maju sidang. "Mereka dari tadi disitu?"
"Yep. Ghibah kamu," kekeh Akira.
Amina menatap Akira bingung. "Ngomongin aku? Soal apa?"
"Banyak hal dan yang jelas, mereka iri padamu karena bersamaku," senyum Akira.
"Mau gimana, Akira. Kamu, prince Sahran, prince Brayden, prince Nicholas, prince Andre, prince Marcell dan prince Alucard, itu semua pangeran yang diincar gadis-gadis Eropa," jawab Amina.
"Oh, semua yang kamu sebut itu kecuali Marcell of Sweden, adalah sepupuku."
Amina melongo. "Serius? Termasuk Prince Andre dan Prince Alucard of Denmark?"
"Yup! Mereka berdua sepupuku. Tante Rosemary adalah sepupu Daddy. Jadi ya ... Kami masih ada kekerabatan. Belum yang Emir Timur Tengah."
Amina memejamkan matanya. "Aku pusing ...."
Akira terbahak. "Itu belum seberapa Mina. Masih ada keluarga dari golongan hitam. Mafioso, Triad dan Yakuza. Golongan putih juga ada. Ada yang di FBI, NCIS dan Polri. Serius itu!"
Amina tampak bergidik. "Pantas kamu seperti tidak takut apapun, karena keluarga kamu seperti itu."
"Frau Amina Arafat."
Keduanya menoleh ketika salah satu asisten yang ada di dalam ruang sidang, memanggilnya.
"Yes?" jawab Amina.
"Anda dipersilahkan masuk."
"Baik." Amina pun berdiri.
"Ingat Mina ... All is well," bisik Akira membuat Amina menatap bingung.
"Apa itu?" tanyanya.
"Mantra," kekeh Akira. "Ucapkan saja karena bakalan ayem."
Amina menggeleng bingung tapi tak ayal, diam-diam dia mengucapakan tiga kata itu.
"All is well. All is well."
Akira menunggu dan sepuluh menit kemudian, Amina keluar dengan wajah sumringah sambil membawa berkas-berkasnya.
"Bagaimana?" tanya Akira.
"Lulus!" pekik Amina dan Akira langsung memeluk gadisnya bahkan menggendong memutar.
"Tunggu ... Kok aku macam adegan film Bollywood?" gumam Akira membuat Amina tertawa.
"Ayo, aku mau daftar wisuda!" Wajah Amina tampak berseri-seri. Akira pun langsung menggandeng tangan Amina setelah gadisnya menyimpan semua berkasnya di dalam tasnya.
Akira menemani Amina mendaftar wisuda, menyelesaikan semua administrasinya dan mereka pun kembali ke apartemen Amina.
***
"Bagaimana nona?" tanya Bea yang sudah membuat masakan enak-enak.
"Lulus Bea!" seru Amina dan Bea langsung memeluk gadis itu.
"Selamat Nona! Puji Tuhan! Saya ikut senang!"
Kedua gadis itu saling berpelukan heboh membuat Akira menggelengkan kepalanya.
"Oke kalian berdua. Mulai siap-siap membereskan barang-barangnya karena kita akan kembali ke Belgia. Kita akan kembali ke Zürich kalau Mina wisuda dan itu masih November. Masih ada sisa waktu tiga bulan. Alangkah baiknya jika bisa dicicil bukan?" senyum Akira.
***
Malam harinya, Akira mengajak Amina menanti film The Three Idiots di ruang tengah. Mereka nonton sambil makan popcorn dengan catatan Akira harus pulang menjelang jam sepuluh malam. Amina akhirnya tahu mengapa film The Three Idiots bisa mendapatkan banyak penghargaan karena semuanya adalah kisah slice of life.
Slice of life adalah genre dalam film, anime, komik, dan sastra yang menggambarkan cuplikan kehidupan sehari-hari secara realistis, sederhana, dan jujur. Fokus utamanya adalah karakter, interaksi sosial, dan emosi daripada plot dramatis atau konflik besar. Genre ini sering menonjolkan momen-momen kecil yang bermakna.
"Aku suka filmnya, Akira," ucap Amina usai film selesai.
"Bagus kan?" senyum Akira.
"Iya. Sekarang sudah pukul sembilan malam. Kamu tidak kembali ke hotel?" tanya Amina.
"Maunya tapi diluar hujan deras."
Amina melihat kaca jendela apartemennya. Perasaan ini sudah masuk September tapi kok masih hujan?
Musim hujan di Swiss biasanya terjadi pada musim panas, terutama pada bulan Juli dan Agustus. Hujan sering turun di sore atau malam hari, tetapi tidak menghalangi aktivitas wisata.
"Berarti semesta mendukung aku menginap disini, Mina," cengir Akira.
Amina hanya menatap tajam ke Akira.
***
Yuhuuu up malam Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
prince Akira seperti pria-pria keturunan Pratomo lainnya
coba kalo nggak pasti bukan hanya para sesepuh yang masih hidup, tapi Kanjeng Raden Ayu The God Mother dari dunia arwah terlebih Kanjeng Raden Mas Haryo Pratomo akan turun tangan
memang sih orang tuanya berjasa buat kamu tapi si hikmah nggak bisa menempatkan diri