NovelToon NovelToon
Monarch: The King Who Refused To Die

Monarch: The King Who Refused To Die

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Perperangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Sistem / Fantasi
Popularitas:224
Nilai: 5
Nama Author: Sughz

Ia pernah menjadi Monarch—penguasa yang berdiri di puncak segalanya. Namun pengkhianatan merenggut tahtanya, menghancurkan kerajaannya, dan memaksanya mati berulang kali dalam siklus reinkarnasi yang panjang. Selama ratusan kehidupan, ia menunggu. Menunggu para bawahannya yang tersebar, tertidur, atau tersesat di berbagai dunia. Di kehidupan terakhirnya, saat tubuhnya menua dan kematian kembali mendekat, sebuah system akhirnya terbangun—bukan ciptaan dewa, melainkan jelmaan dari salah satu rekan lamanya. Dengan kematian itu, sang raja kembali terlahir, kali ini di dunia yang sama… namun telah berubah drastis dalam beberapa ratus tahun.

Dunia yang ia kenal telah runtuh, kekaisaran bangkit dan jatuh, gereja menguasai kebenaran, dan para dewa mengawasi dari kejauhan. Dengan system yang setia di sisinya dan ingatan dari kehidupan-kehidupan sebelumnya, sang Monarch memulai perjalanannya sekali lagi: membangkitkan bawahan yang tersisa, membangun kekuatan dari bayang-bayang, dan menuntut balas atas pengkhianatan lama yang belum lunas. Ini bukan kisah pahlawan yang diselamatkan takdir—ini adalah kisah seorang raja yang menolak mati sebelum dunia membayar hutangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sughz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch.10. A Silent Departure (Arc 1 Selesai)

Di ruangan Regnar, terjadi ketegangan yang membuat ruangan hening.

Theo berdiri di hadapan Regnar yang duduk di kursinya, wajahnya tenang tapi tak ada yang bisa menebak isi pikirannya.

“Jadi kau sudah memutusakan?” tanya Regnar, suaranya tenang tapi berat.

“Ya,” jawab Theo cepat.

“Aku ingin mendengar alasanmu lebih dulu,” ucap Regnar.

Theo terdiam sebentar, dia mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan.

Mulai menatap Regnar.

“Aku ingin mempelajari seluruh dunia dengan mataku sendiri, aku juga ingin menjelajahi dunia yang belum bisa di lihat oleh siapa pun,” jelas Theo.

“Apa hanya itu?” tanya Regnar.

Theo menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak ingin terkurung di sini dan selalu berada di bawah bayangan ayah, dan...” Theo menggambil napasnya.

[TING]

“Bukankah anda terlalu dra...”

“...aku ingin menemukan rekan-rekanku,” sambung Theo. Matanya menatap Regnar dengan sorot penuh tekad.

Lily kembali dalam diam.

Regnar menatap Theo, lalu menghela napas beratnya.

“Jadi kau sudah membulatkan tekad seperti itu,” ucap Regnar.

“Tapi harus kau ketahui, hidup sebagai prajurit bayaran bukanlah hal yang mudah. Aturan mereka yang lemah akan di mangsa oleh yang kuat,” jelas Regnar.

“Apa kau cukup kuat untuk itu?” tanya Theo.

Theo terdiam.

“Kenapa kau tak menjawab, apa kau tak yakin?” tanya Regnar lagi.

“Tidak, aku yakin dengan kekuatan dan kejeniusanku,” jawan Theo, tersenyum dengan lebar.

Regnar sedikit kesal dengan itu.

“Dari siapa kau meniru kegialaan itu” ucap Regnar, menggelengkan kepalanya.

Theo masih tersenyum.

“Aku tahu aku belum terlalu kuat saat ini, tapi aku akan bertahan dan melampaui siapapun,” ucap Theo.

“Apa kau juga akan melampauiku?” tanya Regnar.

Theo mengangguk.

Regnar jadi bersemangat melihat itu, seperti tantangan perang untuknya.

“Baiklah, tapi satu hal yang perlu kau ingat. Saat menjadi prajurit bayaran kau harus menyembunyikan identitas aslimu” jelas Regnar.

Theo mengangguk lagi.

“Dan... selama kau menjadi prajurit bayaran, tidak akan ada perlindungan atau dukungan dari keluarga. Jadi kau harus bertahan dengan kekuatanmu sendiri,” wajah Regnar sangat serius saat mengatakan ini.

“Baik ayah,” jawab Theo.

“Satu lagi,” ucap Regnar. “Jangan pernah bersinggungan dengan gereja cahaya,”

“Memang kenap?” tanya Theo.

“Turuti saja, atau aku menarik iziinku.” balas Regnar.

“Baiklah ayaah,” jawab Theo pasrah.

“Kau boleh pergi sekarang, habiskan satu tahun untuk mempersiapkam keberangkatannmu.” ucap Regnar.

Theo hanya mengangguk dan memberi hormat lalu melangkah pergi.

Regnar bersandar di kursinya, melihat langit-langit ruangan.

“Semoga ini memang pilihan terbaik.” menutup matanya yang lelah.

.

.

.

Satu tahun berlalu dengan cepat, Theo menghabiskannya untuk mengumpulkan Mana dan mempelajari element magic lebih dalam.

Tak ada perubahan yang berarti pada tubuhnya, mungkin hanya tingginya yang melampaui anak seusianya.

Di malam yang tenang seperti biasa.

Theo sedang bersiap.

Hari ini adalah hari yang di tunggu, Theo tidak mengemasi barang apapun. Dia hanya pakaian biasa yang ditutupi jubah hitam dan pedang biasa tergantung di pinggangnya.

Theo berjalan keluar dari kamarnya, dia mengendap-endap agar tak terlihat oleh prajurit yang berpatroli.

“Aku sudah menyuruh semua prajurit di sini untuk pergi,” suara tiba-tiba itu mengagetkan Theo, dan membuatnya menarik pedang dari sarungnya.

Saat Theo mengarahkan pedangnya ke sumber suara, dia melihat sesorang pria berdiri di sana.

“Apa kau akan membunuh pamanmu?” ucap pria itu.

Theo sedikit terkejut mendengar itu, lalu mendengus pelan dan menyarungkan pedangnya.

“Ternyata paman, apa yang paman lakukan di sini?” tanya Theo.

“Apa kau tak akan berpamitan dengan pamanmu ini? Apa kau sudah melupakan pamanmu?” cecar Magnus.

Theo menggaruk kepalanya, tersenyum canggung. Sebenarnya dia juga lupa bahwa mempunyai seorang paman. “Bagaimana mungkin aku lupa, aku...”

“Hentikan basa-basi kosongmu itu,” potong cepat Magnus, membuat Theo kikuk.

“Bawa ini,” ucap Magnus melempar sebuah cincin, Theo menangkapnya dengan sigap.

“Cincin spasial?” ucap Theo, memperhatian cincin itu.

“Oh, ternyata kau tahu tentang itu. Itu adalah barang langka jadi jaga baik-baik... dan aku sudah memasukkan beberapa barang yang bisa membantumu di sana,” jelas Magnus.

Theo menatap cincin itu.

‘Barang langka? Bahkan cincin seperti ini berserakan di dunia atas’ ucap Theo membatin.

“Baiklah paman, aku akan menjaga ini," memasukkan cincin itu pada kantong celananya. "Terima kasih paman,” ucap Theo memberi hormat.

Magnus tersenyum melihat itu.

“Kau bisa keluar melalui gerbang belakang, disana sudah ada Edric yang menunggu,” ucap Magnus lalu melangkah pergi.

“Sehat-sehatlah paman.” ucap Theo saat melihat punggung Magnus.

Magnus hanya melambaikan tangannya tanpa berhenti.

.

.

Theo melangkah cepat ke arah gerbang belakang, tak lama dia bisa melihat gerbang yang sudah terbuka dan seseorang berdiri di dekatnya.

Theo melangkah dengan pelan saat mendekati gerbang, Edric memberi hormat.

“Salam tuan muda,” ucap Edric.

“Jadi kau akan mengantar kepergianku Edric,” ucap Theo.

“Hamba hanya melaksanakan perintah tuan muda,” jelas Edric.

Theo tersenyum kecil, lalu membungkuk memberi hormat.

“Terima kasih untuk pengajaranmu selama ini Edric,” ucap Theo.

Mendengar itu Edric merasakan sesuatu yang aneh pada hatinya. Tapi dia hanya bisa menahannya.

“Saya harap pejalanan anda menyenangkan tuan muda,” ucap Edric

“Sampai jumpa Edric,” ucap Theo, menutup kepalanya dan melangkah pergi.

Edric memperhatikan punggung Theo sampai benar-benar menghilang.

Di sisi lain, dua orang melihat kepergian Theo dengan wajah yang tenang. Mereka berdua menahan semua perasaan mereka dalam-dalam.

Semakin lama, Theo tak terlihat lagi.

Dan angin takdir sekali lagi berhembus kencang di seluruh benua.

.

.

Di bagian terdalam hutan yang gelap, hanya kunang-kunang yang menerangi. Di bawah pohon besar, seorang wanita yang kecantikannya bisa membuat siapapun tersihir sedang berdiri dengan tenang, matanya tertutup. Dia seperti peri dalam cerita dongeng

Mohon maaf mungkin banyak kesalahan dan typo yang membuat kalian semua tidak nyaman saat membaca.

Saya akan belajar untuk lebih baik lagin kedepan.

Sampai jumpa di Arc 2. Prajurit Bayaran (Bagian Awal)

Sughz

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!