NovelToon NovelToon
Talak Tiga Di Malam Pertama

Talak Tiga Di Malam Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Salwa Azzahra, gadis berusia 22 tahun, menikah dengan orang yang sangat dia cintai , dan berharap Salwa bisa keluar dari rumah yang membuathya terluka . namun harapannya hancur seketika di malam pertama pernikahan .

Baru saja akad dilaksanakan, Yogie, suaminya, langsung menjatuhkan talak tiga tepat di malam itu juga, tanpa penjelasan yang masuk akal. Ia mengembalikan Salwa ke rumah orang tuanya seolah gadis itu barang yang tidak berguna. Salwa hancur, merasa harga dirinya diinjak-injak, dan kini harus menanggung malu serta fitnah masyarakat yang menuduhnya bersalah hingga diceraikan secepat itu.

Di balik sikap dingin Yogie, ternyata ada rahasia besar dan alasan tersembunyi yang membuatnya terpaksa melakukan hal menyakitkan itu, meski sebenarnya ia menyimpan rasa peduli. Takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian, saat luka keduanya belum sembuh , apakah Salwa akan kembali pada Yogie?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Tenyata Pria misterius itu

 "Silakan, Nona. Ini kamar Anda mulai sekarang. Segala keperluan ada di sini. Airnya hangat, sabun dan sampo sudah tersedia, dan di dalam lemari juga sudah disediakan beberapa setel pakaian yang ukurannya kira-kira pas untuk Anda," jelas Rini sambil tersenyum ramah.

"Semua ini... untuk saya?" tanya Salwa lirih, masih tak percaya.

"Benar, Nona. Perintah Tuan tidak pernah salah. Silakan mandi dan bersihkan diri. Saya akan menunggu di luar pintu sampai Anda selesai. Nanti setelah siap, saya akan antar Anda menemui Tuan di ruang kerjanya," jawab Rini, lalu ia pun pamit keluar dan menutup pintu pelan-pelan, meninggalkan Salwa sendirian di ruangan mewah itu.

Salwa melangkah perlahan masuk ke kamar mandi. Ia melihat pantulan dirinya di cermin besar di sana. Wajahnya pucat pasi, bengkak karena menangis, rambutnya kusut basah dan kotor terkena lumpur, serta gaun pengantin putihnya kini sudah berubah warna menjadi abu-abu dan cokelat, penuh noda air hujan dan tanah. Ia terlihat sangat menyedihkan.

Air mata kembali menetes di pelupuk matanya, namun kali ini ia buru-buru menghapusnya dengan kasar. Cukup menangis, batinnya keras. Air matamu sudah terlalu banyak tumpah untuk mereka. Mulai sekarang, air mata ini hanya akan ada untuk membasuh luka, bukan lagi untuk memohon belas kasihan.

Salwa pun membuka keran air hangat. Ia melepas satu per satu pakaian yang melekat di tubuhnya gaun yang seharusnya menjadi simbol kebahagiaan, namun justru menjadi saksi kehancuran hidupnya. Ia menggosok sekuat tenaga, seolah berusaha menghapus tidak hanya kotoran di kulitnya, tapi juga rasa sakit, rasa malu, dan rasa jijik yang ia rasakan akibat perlakuan Yogie dan keluarganya sendiri. Ia ingin bersih. Ia ingin menjadi orang baru.

Setelah merasa cukup bersih, Salwa keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah segar dan hangat. Ia mengeringkan rambutnya sekenanya, lalu membuka lemari besar yang disiapkan untuknya. Di sana tergantung rapi beberapa gaun sederhana namun terbuat dari kain yang sangat halus dan nyaman, serta perlengkapan lain. Salwa memilih satu setel pakaian berwarna hitam polos warna yang kini terasa paling cocok dengan hatinya yang penuh duka dan dendam.

Ia mengenakan pakaian itu dengan rapi, menyisir rambutnya hingga terlihat tertata, dan berdiri tegak di depan cermin. Wajahnya masih muda dan cantik, meski ada garis kesedihan yang mendalam di sana. Namun, sorot matanya kini berbeda. Tak ada lagi ketakutan atau kepolosan. Yang ada hanyalah ketegasan dan tekad yang mengerikan.

Salwa pun melangkah ke pintu dan membukanya. Rini yang sudah menunggu di sana langsung tersenyum melihat perubahan penampilan Salwa. Gadis itu kini tampak jauh lebih tenang, lebih dewasa, dan lebih berwibawa meski pakaiannya sederhana.

"Sudah siap, Nona?" tanya Rini lembut.

Salwa mengangguk mantap. "Ya. Antarkan aku ke ruang kerja Tuan itu. Aku ingin tahu siapa dia, dan apa sebenarnya yang dia inginkan dariku."

Rini kembali berjalan di depan memandu langkah Salwa. Mereka menuruni tangga, melewati koridor-koridor panjang yang hening, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna cokelat tua di lantai dasar. Di sana terasa suasana yang lebih serius dan berat.

"Ini ruang kerja Tuan," bisik Rini pelan. "Silakan masuk saja, Nona. Tuan sudah menunggu Anda."

Rini membukakan pintu itu perlahan, lalu memberi isyarat agar Salwa masuk sendirian. Salwa menarik napas panjang, menguatkan hatinya sekuat tenaga, lalu melangkah masuk melewati ambang pintu itu.

Di dalam ruangan yang luas, beraroma kayu dan buku itu, pria misterius itu duduk tegak di balik meja kerja besar yang terbuat dari kayu mahoni. Ia sedang menatap berkas di tangannya, namun saat mendengar langkah kaki Salwa masuk, ia perlahan meletakkan berkas itu dan mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu.

Di bawah cahaya lampu ruang kerja yang hangat namun redup itu, untuk pertama kalinya Salwa menatap pria itu dengan pandangan yang setara. Tak lagi sebagai gadis malang yang terbuang, melainkan sebagai wanita yang siap menerima tawaran apa pun, asalkan bisa menuntaskan rasa sakit hatinya.

Pria itu tersenyum lagi , senyum dingin yang selalu sama lalu memberi isyarat agar Salwa duduk di kursi di hadapannya.

"Masuklah, Salwa. Duduklah. Sekarang... saatnya kau tahu segalanya."

Salwa menarik napas panjang, lalu melangkah mantap mendekati kursi yang ditunjuk. Ia duduk dengan tegak, kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan, berusaha menahan gemetar yang masih tersisa, meski hatinya kini dipenuhi rasa penasaran yang membara. Di hadapannya, pria misterius itu masih menatapnya tajam, seolah sedang meneliti setiap inci ekspresi wajah gadis itu. Ruangan itu hening, hanya terdengar detak jam dinding yang berat dan teratur.

"Kau pasti bertanya-tanya, siapa aku, kenapa aku tahu namamu, dan kenapa aku rela menolong mu yang saat ini bahkan tidak memiliki apa-apa dan dianggap sampah oleh semua orang," buka pria itu perlahan, suaranya rendah namun jelas menggema di ruangan luas itu.

Salwa mengangguk pelan. "Benar. Saya tidak mengerti apa-apa. Saya tidak pernah bertemu anda sebelumnya seumur hidup saya. Lalu kenapa? Apa kepentingan anda dengan saya?"

Pria itu tersenyum tipis, namun kali ini senyumnya bukan lagi senyum dingin seperti sebelumnya. Ada nada kepahitan dan kesedihan yang tersembunyi di baliknya. Ia bangkit berdiri, berjalan perlahan menuju jendela besar yang tertutup tirai, memunggungi Salwa sejenak sebelum kembali berbicara.

"Namaku Ardiansyah. Tapi orang-orang seumuran dengan orang tuamu dulu lebih mengenalku dengan panggilan Ardi."

Nama itu... Ardi. Sesuatu berdenyut samar di ingatan Salwa. Ia merasa pernah mendengar nama itu, namun ingatannya terlalu kabur. Ia mengerutkan kening, berusaha mengingat.

"Ardi..." gumamnya pelan. "Nama itu... sepertinya pernah saya dengar Ibu menyebutkannya dulu. Dulu sekali, saat saya masih kecil. Tapi saya lupa kapan dan dalam konteks apa."

Ardiansyah berbalik badan, menatap lurus ke manik mata Salwa dengan pandangan yang dalam dan menyakitkan.

"Tentu saja dia menyebutkannya. Karena dulu... aku adalah satu-satunya laki-laki yang dicintai ibumu, Ratna . Dan aku adalah orang yang seharusnya menjadi suaminya, serta menjadi ayahmu, Salwa."

Kalimat itu menghantam dada Salwa sekeras batu besar. Matanya membelalak tak percaya, mulutnya terbuka sedikit karena kaget.

"Apa... maksud anda , tuan ?" suaranya keluar berbisik parau.

"Dengar baik-baik, Salwa. Aku akan menceritakan semuanya, rahasia yang selama ini dikubur dalam-dalam oleh ibumu dan laki-laki yang kau sebut ayah tiri itu. Rahasia yang menjadi akar dari semua penderitaanmu sampai hari ini."

Ardiansyah kembali duduk di kursinya, menyandarkan punggungnya, lalu mulai menuturkan kisah masa lalu itu dengan nada yang berat dan penuh kepahitan.

"Dua puluh tahun yang lalu, aku dan ibumu saling mencintai. Kami sudah berjanji sehidup semati, rencana pernikahan pun sudah disusun. Saat itu, aku adalah anak seorang pengusaha sukses, meski belum sebesar sekarang, dan ibumu hanyalah gadis desa yang cantik namun miskin. Keluargaku menentang keras hubungan kami karena perbedaan latar belakang, tapi aku bersikeras, aku rela meninggalkan segalanya demi Ratih."

Ardiansyah berhenti sejenak, menelan ludah seolah ada rasa pahit yang tersangkut di tenggorokannya.

"Tapi sebelum kami bisa bersatu, datanglah laki-laki itu saudara jauh ibumu . Dia yang kini kau sebut ayah tiri. Namanya, laki - laki Joko. Dia tahu aku memiliki aset warisan yang cukup besar saat itu. Dia merencanakan sesuatu yang kejam. Dia mendekati ibumu, memutarbalikkan fakta, menuduhku berselingkuh dan tidak serius, sementara dia sendiri yang justru menginginkan ibumu demi status dan harta yang aku miliki."

Salwa tertegun. Ia tidak pernah tahu sisi gelap dari keluarganya itu. Ia selalu mengira ayah tirinya adalah orang baik yang menerima ibunya apa adanya.

"Ibu... percaya pada penipuan itu?" tanya Salwa lirih.

 bersambung,,,

1
Alit Liet
ceritanya bagus tidak berbelit2
Alit Liet
bab 23 nya mana
Jetva
Yogie..kamu sayang tp kamu talak 3...jelas kamu tak bisa lagi kembali padanya...lelaki koq otaknya kecil..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!