Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Pamer Malam Hari dan Rahasia Amelia
Malam merayap semakin larut di sudut Kota Bandung. Setelah menyelesaikan sesi belajar bersama Aleta dan mandi dengan air hangat, Alisha duduk bersandar di kepala tempat tidurnya. Rambutnya yang setengah basah dibiarkan terurai. Ia baru saja hendak meraih buku novel cokelatnya untuk dibaca sebelum tidur ketika ponsel di atas nakas bergetar pendek.
Bzzzt.
Sebuah notifikasi pop-up WhatsApp muncul di layar. Alisha mengernyitkan dahi begitu melihat nama pengirimnya: Reyshaka.
Tanpa pikir panjang, Alisha membuka pesan tersebut. Shaka mengirimkan sebuah foto. Ketika di-klik, foto itu menampilkan sebuah buku tebal kompilasi soal latihan kalkulus dan mekanika tingkat lanjut. Di atas kertas kotak-kotak itu, deretan rumus-rumus rumit telah terisi penuh dengan tulisan tangan Shaka yang rapi dan tegas. Di bagian paling bawah halaman, cowok itu sengaja menuliskan angka 100/100 besar-besar menggunakan pulpen merah.
Tak lama, sebuah pesan teks menyusul di bawah foto tersebut.
Reyshaka:
Reyshaka: Baru beres tiga bab malam ini. Iseng aja sih, soalnya materinya terlalu gampang. Otak lo yang kemarin korslet udah bisa ngejar sampai bab ini belum?
Alisha mendengus kencang, menatap layar ponselnya dengan ekspresi tidak percaya. "Dih... apaan sih nih orang? Kurang kerjaan banget!" gerutu Alisha pelan pada kesunyian kamarnya.
Jempol Alisha dengan cepat mengetik balasan di papan ketik dengan penuh penekanan. Sifat kompetitifnya yang sempat padam kini langsung tersulut dalam sekejap gara-gara aksi pamer terselubung cowok menyebalkan itu.
Alisha: Ngapain lo pamer ke gue? Gak usah sok keras ya, Shak. Itu materi bab tiga kan cuma modal konsep turunan dasar. Anak tingkat satu juga bisa kalau cuma nyelesaiin itu.segitu aja udah bangga,dih"
Reyshaka: Gak pamer. Cuma mastiin partner olimpiade gue gak ketinggalan jauh di belakang. Udah tidur sana, besok jangan pasang muka zombi lagi di kelas.
Alisha memutar bola matanya malas, sengaja hanya membaca pesan terakhir Shaka tanpa berniat membalasnya lagi (read doang). "Gak jelas banget. Niatnya mau perhatian tapi kok jatuhnya malah bikin naik darah ya?" bisik Alisha menggeleng-gelengkan kepala.
Namun, anehnya, ada senyum tipis yang mendadak terukir di sudut bibirnya.
"Aneh banget orang kaku yang satu itu tuh, huaaaa waktunya Baca novel ini,dari pada ngeladenin orang kaya Shaka"
Belum sempat Alisha meletakkan kembali ponselnya, layar perangkatnya kembali berkedip heboh. Kali ini, panggilan masuk dari kontak bernama Amelia Bawel.
Alisha langsung menggeser tombol hijau ke atas. "Halo, Mel? Kenapa telpon malam-malam begini? Lo gak belajar buat kuis sejarah besok?"
"Alishaaa!!! Ya ampun, untung lo belum tidur!" Suara lengkingan nyaring Amelia langsung memenuhi speaker ponsel, membuat Alisha refleks menjauhkan benda itu beberapa sentimeter dari telinganya. "Aduh, boro-boro mikirin kuis sejarah, Sha! Otak gue dari tadi isinya lagi sejarah cinta gue yang gak kelar-kelar tahu gak!"
Alisha merebahkan tubuhnya, menarik selimut sebatas dada sambil tersenyum geli. "Sejarah cinta apa lagi sih? Siapa? Anak kelas sebelah lagi?"
"Bukan kelas sebelah, Alisha sayang... Tapi yang temen sebangkunya cowok super dingin peliharaan lo itu!" Amelia memekik tertahan di seberang telepon, terdengar suara kasur yang berkerit seolah gadis itu sedang berguling-guling salah tingkah. "Siapa lagi kalau bukan Raihan!"
Mendengar nama Raihan disebut, Alisha langsung menegakkan posisi duduknya. "Raihan? Lo beneran masih naksir sama dia?"
"Ih, bukan masih naksir lagi, tapi udah level akut!" adu Amelia dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi melow dan penuh drama.
. "Sha, lo tahu gak sih? Tadi pas jam pulang sekolah, pas lo lagi ngejar Shaka ke taman, si Raihan tuh gak sengaja papasan sama gue di parkiran. Terus masa dia senyum manis banget sambil nanya, 'Mel, gak pulang? Bareng yuk ke depan gerbang.' Demi apa pun, Sha, jantung gue rasanya mau copot, menggelinding ke selokan sekolah!"
Alisha tidak bisa menahan tawa renyahnya mendengar gaya curhat Amelia yang selalu hiperbola. Berbeda dengan sifatnya di sekolah yang terkadang merasa energinya terkuras karena kecerewetan Amelia, di momen-momen intim seperti malam ini, .
Alisha tidak bisa menahan tawa renyahnya mendengar gaya curhat Amelia yang selalu hiperbola. Berbeda dengan sifatnya di sekolah yang terkadang merasa energinya terkuras karena kecerewetan Amelia, di momen-momen intim seperti malam ini, Alisha adalah pendengar yang sangat baik.
Amelia selalu merasa Alisha adalah tempat paling aman dan nyaman di dunia untuk menumpahkan segala rahasia hatinya. Alisha tipe orang yang kaku dan cuek pada urusan orang lain, tapi justru karena itulah rahasia Amelia dijamin tidak akan pernah bocor ke telinga siapa pun, termasuk ke lingkaran pertemanan Ivanka yang hobi bergosip.
"Terus lo terima ajakan barengnya?" tanya Alisha, mencoba menanggapi curhatan sahabatnya dengan serius.
"Ya gue terima lah! Gila kali kalau gue tolak!" seru Amelia heboh. "Tapi sepanjang jalan ke gerbang, mulut gue mendadak terkunci, Sha. Gue yang biasanya bisa ngomong seribu kata per menit, di depan Raihan malah cuma bisa manggut-manggut kayak pajangan mobil. Malu-maluin banget gak sih gue?"
Alisha tersenyum hangat, menatap langit-langit kamarnya. "Enggak kok, Mel. Itu wajar namanya juga di depan crush. Tapi setahu gue, Raihan itu orangnya asyik dan gak kaku kayak Shaka. Dia pasti maklum kalau lo mendadak diam."
"Beneran ya, Sha? Duh, denger omongan lo bikin hati gue agak tenangan. Cuma lo emang sahabat terbaik gue yang gak bakal ngetawain kegilaan gue," ucap Amelia tulus, suaranya melembut. "Lo janji kan, Sha, jangan sampai bocor ke siapa-siapa? Apalagi ke si Shaka. Ntar kalau Shaka tahu, bisa berabe urusannya."
"Iya, Amelia. Rahasia lo aman di tangan gue. Gak bakal gue ceritain ke siapa-siapa, apalagi ke manusia menyebalkan kayak Shaka," janji Alisha tegas.
Mereka melanjutkan obrolan malam itu selama hampir setengah jam, membahas tingkah konyol Raihan di kelas hingga teori-teori buatan Amelia tentang cara menarik perhatian cowok berlesung pipit itu. Bagi Alisha, mendengarkan curhatan Amelia malam ini adalah penutup hari yang manis. Setelah seharian lelah dengan emosinya sendiri, obrolan ringan tentang cinta monyet masa SMA ini berhasil membuat pikirannya benar-benar rileks sebelum menjemput mimpi.