NovelToon NovelToon
Return Apocalypse Zombie

Return Apocalypse Zombie

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Time Travel / Hari Kiamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Alu feed

Rian seorang pemuda yang bertahan hidup di kiamat zombie di khianati oleh temannya yang selalu dia percayai , ketika tiba-tiba dia kembali ke masalalu.

dengan kekuatan dan pengetahuan dari masa depan ,aku ,akan membalas perlakuan semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alu feed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TEMAN SEKELAS JADI ZOMBIE?

Rian dan yang lainnya masih terjebak dan bersembunyi di sekolah yang dipenuhi zombie.

Tidak ada suara. Semuanya sunyi.

Sampai dua puluh menit kemudian...

"Tolong... tolong aku... Apa di sini ada orang?"

Sebuah suara perempuan terdengar dari seseorang yang sedang menaiki tangga menuju lantai atas.

Suaranya terdengar begitu putus asa, tetapi tidak ada seorang pun di kelas 3A yang berani keluar untuk menolongnya.

"Tidak... Monster itu akan datang ke sini! Aku tidak mau mati!"

Suara perempuan itu terdengar gugup. Jika dia sedang berakting, maka dia layak mendapatkan Piala Oscar.

Kretek! Kretek!

Suara tulang yang patah namun dipaksa bergerak terdengar menggema di koridor.

Seekor monster yang menyerupai mayat hidup sedang mengejar seseorang yang berlari menyelamatkan diri.

"Tidak... Monster itu datang lagi!"

Perempuan itu berteriak keras sambil berlari secepat mungkin menuju rooftop.

Zombie tersebut terus mengejarnya sambil mengeluarkan suara mengerikan.

Dari dalam kelas, mereka hanya bisa mendengarkan langkah kaki perempuan itu yang berlari ketakutan.

Langkah kaki itu melewati kelas 3B, lalu kelas 3A.

Semua orang menahan napas ketika suara itu terdengar tepat berada di depan kelas mereka.

Untungnya, suara tersebut hanya lewat dan tidak berhenti di depan pintu.

Rian mendengarkan dengan saksama hingga langkah kaki zombie itu menghilang.

Barulah semua orang menghela napas lega.

Namun beberapa saat kemudian...

TRING! TRING!

Sebuah nada dering yang sangat keras tiba-tiba memecah keheningan.

Suara itu berasal dari ponsel seorang siswi bernama Nian.

Nian duduk di bangku kelima, sementara Rian berada di bangku ketiga.

Budi yang duduk di bangku keempat langsung berdiri dan menghampiri Nian. Dengan cepat, ia merebut ponselnya lalu mengaktifkan mode pesawat agar nada dering itu berhenti.

"Kamu gila, ya? Kalau zombie itu datang dan memaksa masuk bagaimana? Kamu mau bertanggung jawab, hah?!"

Seorang siswi yang duduk di sebelah Nian berbicara dengan nada tinggi.

Baginya, tindakan Nian sama saja dengan bunuh diri.

"Sudah, sudah. Jangan ribut. Nian, lain kali tolong kecilkan volume ponselmu."

Budi meletakkan ponsel itu di atas meja.

Ia melihat mata Nian yang tampak berkaca-kaca, seolah ingin menangis tetapi berusaha menahannya.

Hal itu wajar.

Dunia sedang berada dalam kekacauan.

Jika bukan karena arahan Rian sejak awal, mungkin kelas ini sudah lama diterobos oleh para zombie.

Budi kemudian menghampiri Rian.

"Apakah ada cara lain agar kita lebih aman?"

"Ada. Apa kamu melihat itu? Pintu gudang di belakang bangku keenam, tepat di belakang Nian."

Budi mengikuti arah pandangan Rian.

Di pojok ruangan tampak sebuah pintu besi tua yang dipenuhi debu.

"Kalau kita punya kunci pintu itu, semuanya akan jauh lebih aman."

Seorang siswi berkacamata yang terlihat seperti kutu buku tiba-tiba menghampiri mereka.

Sepertinya dia mendengar percakapan tersebut.

"Maaf... apakah kamu sedang mencari kunci gudang? Kebetulan aku memilikinya."

Rian langsung mengingat sesuatu.

Di kehidupan sebelumnya, ketika kelas ini diterobos zombie, tubuhnya sempat terpental ke belakang.

Saat itulah ia menemukan sebuah kunci yang terlempar di dekatnya.

Sekilas ia melihat kunci itu jatuh dari saku ketua kelas, Indah Permatasari.

Sebelum kelas ini hancur pada kehidupan sebelumnya, ia sempat berkenalan dengannya.

Rian menatap wajah gadis itu.

"Apakah kamu Indah Permatasari?"

Indah terkejut.

Dia sama sekali tidak ingat pernah memberi tahu nama lengkapnya kepada Rian.

Apalagi mereka tidak terlalu dekat.

Bahkan ini adalah pertama kalinya dia berbicara cukup lama dengan seorang laki-laki.

"Terima kasih, Indah. Kali ini pun kamu yang menolongku."

Rian menerima kunci tersebut sambil tersenyum.

Setelah itu, ia berjalan menuju pintu gudang.

Klik.

Pintu besi itu terbuka.

Hawa pengap dan gelap langsung menyambut mereka.

Namun saat itu juga terdengar suara perempuan dari dalam.

"Aku tak ingin mati..."

Budi langsung merinding.

"R-Rian... apa kamu dengar suara itu? Jangan bilang kelas ini berhantu?"

Long Zheng, Xuan Long, Andreas, dan Rian langsung menatap Budi dari atas sampai bawah.

"Badannya saja yang besar, ternyata takut hantu."

Long Zheng berkata sambil menyeringai.

Teman-teman yang lain langsung tertawa.

Mereka semua tahu Budi selalu mengaku tidak takut hantu.

Kini kebohongannya terbongkar.

"Aku tak ingin mati..."

Suara itu terdengar lagi.

Kali ini lebih jelas.

Lebih dekat.

Sedikit demi sedikit.

Nian perlahan berdiri dari bangkunya.

Tanpa suara, dia berjalan menuju Rian.

Rian merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

Ia langsung membalikkan tubuhnya.

Matanya membelalak.

Nian berdiri tepat di belakangnya dengan kepala tertunduk.

Saat itulah Rian menyadari bahwa sumber suara tadi adalah Nian.

"Oh, jadi kamu yang membuat suara itu, Nian. Kamu berhasil menakuti temanku."

Rian tersenyum tipis.

Namun tiba-tiba tangan kanan Nian terangkat dan mengarah ke wajahnya.

Refleks, Rian langsung menangkap pergelangan tangan gadis itu.

Saat itulah ia melihat keanehan.

Wajah Nian tampak semakin pucat.

Kulitnya mulai retak.

Kuku-kukunya memanjang secara tidak normal.

Tanpa ragu, Rian menendang perut Nian.

Brak!

Tubuh Nian terlempar ke depan dan jatuh ke lantai.

"Hei! Rian! Kamu tidak bisa seenaknya begitu! Hanya karena Nian menyentuhmu, bukan berarti kamu boleh menendangnya!"

Seorang murid yang berada dekat pintu langsung berteriak.

Dari sudut pandangnya, Rian baru saja menyerang seorang gadis yang terlihat lemah.

"Apa yang kamu lakukan, Rian? Cepat minta maaf kepada Nian!"

Pak Kim segera menghampiri Nian yang sedang meringkuk di lantai.

"Stop, Pak Kim! Jangan sentuh dia!"

teriak Rian.

Keadaan langsung menjadi ricuh.

Semua orang mulai berbisik-bisik.

Tatapan mereka dipenuhi ketidakpercayaan.

Namun Rian sama sekali tidak peduli.

"Apa yang kamu bicarakan, Rian?"

Pak Kim memegang tangan Nian.

Seketika wajahnya berubah.

Tangannya dingin.

Sangat dingin.

Seperti mayat.

"Lihat baik-baik tangan yang sedang Bapak pegang."

Karena perkataan Rian, Pak Kim memperhatikan tangan Nian lebih saksama.

Warnanya tampak kebiruan.

Tidak seperti kulit manusia normal.

Lebih mirip tubuh seseorang yang baru saja meninggal.

Tiba-tiba...

Nian bangkit.

Dengan kecepatan yang mengejutkan, dia mencengkeram leher Pak Kim.

Brak!

Tubuh Pak Kim menghantam papan tulis.

"Aku tak ingin mati..."

Suara itu keluar dari mulut Nian yang dipenuhi busa.

Air liurnya menetes ke lantai.

Tenaganya begitu besar hingga Pak Kim yang bertubuh dewasa tidak mampu melepaskan cengkeramannya.

Rian langsung bergerak.

Ia berlari, memutar tubuhnya, lalu melancarkan tendangan ke kepala Nian.

Brak!

Kepala Nian terpental ke samping.

Cengkeramannya pun langsung terlepas.

Rian segera menopang tubuh Pak Kim.

"Pak, Anda tidak apa-apa? Coba tarik napas perlahan."

Namun pikiran Rian dipenuhi kebingungan.

Ada sesuatu yang tidak sesuai dengan ingatannya.

Di kehidupan sebelumnya, Nian tidak pernah berubah menjadi zombie.

Setidaknya, tidak pada saat ini.

Lalu kenapa sekarang semuanya berbeda?

Apakah ini akibat efek kupu-kupu?

Apakah perubahan kecil yang ia lakukan setelah beregresi telah mengubah jalannya takdir?

1
Yofu
pendek banget babnya
Alu feed: tapi bagusan di panjangin apa nggak kak , kasih aku saran 😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!