Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."
Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Aroma yang Tertinggal di Dalam Mobil
BAB 1: Aroma yang Tertinggal di Dalam Mobil
Gemercik air hujan yang menghantam atap kaca kafe malam itu terdengar begitu bising. Luna Maharani berkali-kali melirik jam tangan digital murah di pergelangan tangannya. Sudah jam sembilan malam, dan hujan badai di luar sana sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda.
Luna menghela napas panjang. Gaun kerja sederhananya agak basah di bagian lengan karena tempias angin. Ojek online yang sejak tadi dia pesan selalu membatalkan orderan karena cuaca buruk.
"Kalau tahu begini, tadi aku nekat terobos saja pakai angkot," gumam Luna pelan pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil yang halus memecah suara hujan. Sebuah mobil sedan hitam mewah, jenis yang harganya bisa membelikan Luna sebuah rumah klaster, berhenti tepat di depan lobi kafe yang sepi.
Pintu kemudi terbuka. Seorang pria keluar tanpa payung, membiarkan beberapa tetes air hujan membasahi rambut hitamnya yang tertata rapi. Pria itu memakai kemeja navy dengan dua kancing atas yang terbuka, memamerkan garis rahangnya yang kokoh dan tegas.
Jantung Luna mendadak berhenti berdetak selama satu detik.
Mas Devano...
Napas Luna tercekat. Pria itu adalah Devano. Mantan iparnya. Pria yang enam bulan lalu masih berstatus sebagai suami dari kakak kandungnya, Siska. Pria yang sejak dulu, jauh sebelum pernikahan megah itu terjadi, diam-diam telah mencuri seluruh hati Luna dalam diam.
Devano tidak masuk ke dalam kafe. Langkah kakinya yang tegap langsung terhenti begitu matanya yang tajam dan kelam menangkap sosok Luna yang berdiri menyendiri di sudut kaca.
Selama beberapa saat, mereka hanya saling bertatapan di antara sekat kaca dan rintik hujan. Tatapan Devano malam itu terlihat berbeda—ada gurat kelelahan yang dalam, dan aroma alkohol samar tercium saat pria itu perlahan melangkah mendekat dan membuka pintu kafe.
"Luna?" Suara bariton Devano yang berat dan serak menggema, membuat bulu kuduk Luna meremang.
"M-mas Devano..." Luna terbata, refleks meremas tali tas sandangnya. "Sedang apa di sini?"
Devano tidak menjawab pertanyaan itu. Matanya menyapu tubuh Luna dari atas ke bawah, menilai gaunnya yang agak basah dan wajahnya yang pucat karena kedinginan.
"Belum pulang? Ini sudah malam," tanya Devano dingin, namun ada nada dominasi yang tidak bisa dibantah dalam suaranya.
"Iya, Mas. Susah dapat ojek karena badai."
Devano berbalik, lalu melirik mobilnya. "Ikut aku. Aku antar pulang."
"Eh, tidak usah, Mas! Nanti merepotkan—"
"Luna," potong Devano cepat. Pria itu membalikkan badan, melangkah satu kali hingga jarak mereka mengikis, menyisakan kehangatan tubuh Devano yang kontras dengan dinginnya AC kafe. "Aku tidak suka mengulang ucapan. Masuk ke mobil."
Aura intimidasi khas CEO dari Devano membuat lutut Luna mendadak lemas. Tanpa bisa menolak lagi, Luna hanya bisa mengangguk pasrah.
Saat melangkah ke luar kafe, Devano tiba-tiba menaruh telapak tangan besarnya di atas kepala Luna, melindunginya dari tetesan air hujan agar rambut gadis itu tidak basah. Sentuhan sederhana yang tak sengaja itu seperti menyetrum seluruh aliran darah Luna.
Blam.
Pintu mobil mewah itu tertutup rapat, seketika meredam suara badai di luar. Di dalam ruangan sekecil ini, Luna bisa mencium dengan jelas perpaduan aroma parfum maskulin mahal milik Devano yang bercampur dengan aroma alkohol tipis. Sangat memabukkan dan maskulin.
Devano masuk ke kursi kemudi. Bukannya langsung menyalakan mesin, pria itu justru menyandarkan punggungnya ke jok, memijat pangkal hidungnya dengan mata terpejam.
"Mas Devano... tidak apa-apa? Mas mabuk?" tanya Luna hati-hati, suaranya terdengar sangat lembut di antara keheningan mobil.
Devano membuka matanya. Dia menoleh ke samping, menatap lekat-lekat wajah Luna. Tatapan matanya malam ini begitu intens, seolah sedang mencari sesuatu atau... sedang meluapkan rasa frustrasi yang terpendam. Sudah enam bulan sejak Siska menceraikannya demi mengejar pria kaya lain di luar negeri, dan malam ini, kemiripan wajah Luna dengan kakaknya tampaknya memicu sesuatu di dalam diri Devano.
"Aku tidak mabuk, Luna. Pikiranku justru sedang sangat jernih," bisik Devano dengan suara yang mendadak merendah, terdengar begitu seksi namun berbahaya.
Tangan Devano bergerak pelan, menjangkau helai rambut Luna yang sedikit basah di dekat pipinya, lalu menyelipkannya ke belakang telinga Luna. Ibu jarinya yang hangat sempat mengusap kulit pipi Luna yang halus secara perlahan.
Luna menahan napasnya. Jantungnya berpacu begitu cepat hingga rasanya mau melompat keluar. "Mas..."
Devano mendekatkan wajahnya, membuat Luna bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu di permukaan kulitnya.
"Kau tahu, Luna? Kakakmu membuangku seperti sampah," bisik Devano, matanya menatap bibir Luna yang sedikit terbuka karena terkejut. "Tapi malam ini... melihatmu di sini, membuatku ingin merebut sesuatu yang berharga dari keluargamu."
Sebelum Luna sempat mencerna kalimat itu, Devano menghidupkan mesin mobil. Namun, bukannya melaju ke arah jalanan menuju kosan Luna, Devano justru memutar kemudi menuju kawasan perhotelan bintang lima yang terkenal di pusat kota.
"Mas Devano, kita mau ke mana? Ini bukan jalan ke kosanku!" Luna mulai panik, tangannya memegang sabuk pengaman dengan erat.
Devano hanya tersenyum tipis, senyuman dingin yang sarat akan maksud tersembunyi. Mobil itu berbelok masuk ke lobi hotel mewah. Devano menghentikan mobil, menatap Luna dengan sorot mata posesif yang mengunci seluruh pergerakan gadis itu.
"Temani aku malam ini, Luna. Jangan pulang," ucap Devano pelan, namun nadanya seperti sebuah perintah mutlak yang tak boleh dilanggar. "Anggap saja... ini bayaran awal untuk kesalahan yang dibuat kakakmu."
Apa yang akan terjadi pada Luna Guys?