NovelToon NovelToon
CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Restoran mewah di puncak gedung pencakar langit itu memiliki dinding kaca setinggi langit-langit, namun bagi Dinda, udara di dalamnya terasa lebih tipis dan menyesakkan daripada di gang sempit kontrakannya. Ia melangkah di samping Alan, jemarinya yang dingin bertautan dengan lengan kekar pria itu—sebuah persentuhan yang membuatnya ingin menarik diri, namun ia tahu kamera pengintai dan mata-mata keluarga Ryuga ada di mana-mana.

Di meja bundar paling sudut, seorang wanita paruh baya dengan aura kebangsawanan yang kental duduk menanti. Nyonya Sofia Ryuga. Perhiasan berlian di lehernya berkilauan tertimpa cahaya lampu kristal, senada dengan tatapan matanya yang tajam dan menyelidik.

"Duduklah, Alan. Mama pikir kamu akan terlambat lagi karena alasan 'pekerjaan'," suara Sofia terdengar halus namun mengandung sindiran tajam. Matanya beralih ke sosok Dinda, memindai dari ujung rambut hingga sepatu hak tinggi yang dipasangkan Alan padanya pagi tadi.

Alan menarik kursi untuk Dinda dengan gerakan protektif. "Ma, perkenalkan. Ini Adinda. Wanita yang aku ceritakan kemarin."

Dinda memaksakan sebuah senyum, senyum yang terasa kaku dan perih di wajahnya. "Selamat siang, Nyonya Sofia. Saya Adinda."

Sofia tidak membalas uluran tangan Dinda. Ia justru menyesap tehnya perlahan, membiarkan keheningan yang menghina menyelimuti meja itu selama beberapa detik. "Adinda. Nama yang manis. Alan bilang kamu bukan dari kalangan mitra bisnis kami. Jadi, siapa orang tuamu? Perusahaan apa yang mereka kelola?"

Dinda menelan ludah. Ia melirik Alan sejenak sebelum menjawab dengan suara yang diusahakan tetap tenang. "Orang tua saya sudah tiada, Nyonya. Saya bekerja di Ryuga Corp. Saat ini saya menjabat sebagai sekretaris pribadi Tuan Alan di kantor pusat."

Alis Sofia terangkat tinggi. Sebuah tawa kecil yang meremehkan lolos dari bibirnya. "Sekretaris? Jadi Alan mengencani karyawannya sendiri? Benar-benar klise, Alan. Mama pikir seleramu lebih tinggi dari sekadar 'romansa perkantoran' dengan gadis kalangan menengah."

"Ma, jaga ucapan Mama," potong Alan, suaranya mulai merendah dengan nada peringatan. "Dinda bukan sekadar sekretaris. Dia wanita yang paling aku percaya untuk menangani urusan pribadiku."

"Percaya?" Sofia meletakkan cangkir tehnya dengan bunyi denting yang keras. "Alan, Ryuga Corp butuh aliansi, bukan sekretaris yang cantik. Carissa Wardhana bisa memberimu saham dan koneksi internasional. Apa yang bisa diberikan gadis ini selain jadwal rapat yang rapi?"

Dinda mengepalkan tangannya di bawah meja, kukunya menancap di telapak tangan. Rasa hina itu membakar dadanya. Ia ingin berteriak bahwa ia tidak menginginkan posisi ini, bahwa ia membenci putranya, namun ia teringat wajah Dita yang pucat di ruang ICU.

"Saya mungkin tidak memiliki saham, Nona Sofia," ucap Dinda memberanikan diri, matanya menatap langsung ke mata Sofia. "Tapi saya memiliki dedikasi. Saya tahu cara kerja Ryuga Corp dari dasar, dan saya tahu bagaimana menjaga rahasia Tuan Alan lebih baik dari siapa pun."

Sofia menyipitkan mata. "Dedikasi? Kalanganmu selalu bicara soal dedikasi saat yang kalian inginkan sebenarnya adalah tiket emas menuju kemewahan. Jangan pikir baju mahal yang kamu pakai itu bisa menutupi asal-usulmu yang biasa saja."

***

Suasana semakin memanas. Alan menyadari napas Dinda mulai tidak teratur. Ia tahu Dinda sedang berada di ambang batas kesabarannya. Tanpa aba-aba, Alan berdiri dan menarik tangan Dinda.

"Cukup, Ma. Makan siang ini selesai. Aku membawa Dinda ke sini untuk mengenalkannya, bukan untuk membiarkannya diinterogasi seperti tersangka kriminal."

"Alan! Duduk kembali! Mama belum selesai bicara!" perintah Sofia dengan nada tinggi yang membuat beberapa pengunjung restoran menoleh.

"Aku punya jadwal lain, Ma. Dan Dinda harus kembali ke tanggung jawabnya," sahut Alan dingin. Ia merangkul pinggang Dinda dengan posesif, menuntunnya keluar dari restoran tanpa menoleh lagi ke arah ibunya yang berwajah merah padam.

Setelah sampai di dalam lift yang bergerak turun, Dinda langsung melepaskan tangan Alan dari pinggangnya. Ia bersandar di dinding lift, memejamkan mata dengan napas tersengal.

"Tuan puas sekarang? Ibu Tuan memandang saya seperti sampah," desis Dinda.

"Dia memang seperti itu pada siapa pun yang tidak menguntungkan bisnisnya. Jangan dimasukkan ke hati," jawab Alan, mencoba mendekat namun Dinda memberikan isyarat tangan agar ia menjauh.

"Jangan sentuh saya. Urusan ini sudah selesai, kan? Tuan sudah memamerkan saya. Sekarang tolong, antarkan saya kembali ke rumah sakit. Dita jauh lebih penting daripada drama keluarga Tuan."

**

Di restoran, Sofia Ryuga masih duduk mematung. Kemarahannya telah berubah menjadi kecurigaan yang dingin. Ia memanggil asisten pribadinya yang sedari tadi berdiri tak jauh dari meja.

"Cari tahu siapa gadis itu sebenarnya," perintah Sofia, suaranya sedingin es.

"Bukankah Tuan Alan bilang dia sekretaris pusat, Nyonya?" tanya sang asisten ragu.

"Jangan bodoh. Gadis itu punya cara bicara yang terlalu... 'membumi'. Cari tahu riwayat hidupnya. Di mana dia tinggal, di mana dia bekerja sebelumnya. Aku tidak percaya Alan jatuh cinta pada sekretaris biasa. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan anakku."

"Baik, Nyonya. Saya akan segera mencari datanya di departemen SDM Ryuga Corp."

"Jangan hanya di kantor pusat. Cek semua cabang. Pabrik, gudang, semuanya. Aku mencium bau kemiskinan dari caranya menatap perhiasanku tadi. Dan jika dia punya kelemahan... aku ingin tahu secepatnya."

**

Di dalam mobil yang melaju menuju rumah sakit, Dinda hanya diam menatap jendela. Ia merasa seperti pelakon dalam panggung sandiwara yang naskahnya ditulis dengan darah dan air mata. Pakaian indah yang ia kenakan kini terasa seperti kostum yang menyesakkan.

"Dinda, soal ucapan Mamaku tadi..." Alan memulai pembicaraan, suaranya terdengar lebih lembut.

"Tidak perlu dijelaskan, Tuan. Saya sadar posisi saya. Saya memang bukan siapa-siapa," potong Dinda tanpa menoleh. "Yang saya inginkan sekarang hanya satu. Biarkan saya menemani Dita malam ini. Dan tolong, pastikan Dika tidak melihat mobil ini saat kita sampai."

Alan menghela napas panjang. Ia ingin mengatakan sesuatu untuk menenangkan hati Dinda, namun ia sadar bahwa kata-katanya tidak akan pernah cukup untuk menghapus luka yang ia buat sendiri.

"Aku akan menurunkanmu di gerbang samping rumah sakit. Leo akan mengawasi dari jauh jika kau butuh sesuatu," ucap Alan.

Dinda hanya mengangguk pasrah. Di dalam hatinya, ia hanya memikirkan Dita dan Dika. Ia tidak tahu bahwa saat ini, badai baru sedang bergerak menuju ke arahnya. Rahasianya sebagai buruh pabrik yang pernah "mengalami kecelakaan" dengan sang CEO sedang berada di ambang pintu untuk terbongkar oleh Sofia Ryuga.

Sesampainya di rumah sakit, Dinda langsung melepas sepatu hak tingginya yang menyiksa dan menggantinya dengan sandal sederhana yang ia bawa di tas. Ia melangkah keluar dari mobil mewah itu tanpa mengucapkan terima kasih. Baginya, setiap detik bersama Alan adalah pengingat akan kehancurannya.

"Dinda!" panggil Alan saat Dinda hendak menutup pintu mobil.

Dinda berhenti, namun tetap tidak menoleh.

"Aku akan menjamin Dita mendapatkan jadwal ujian di ruang rawatnya besok pagi. Pengawasnya sudah aku urus. Fokuslah pada adikmu," ucap Alan.

Dinda tertegun sejenak. Ada rasa syukur yang muncul di tengah kebenciannya. "Terima kasih... untuk yang satu itu," bisiknya pelan sebelum akhirnya berlari masuk ke dalam gedung rumah sakit, meninggalkan Alan yang terpaku menatap punggungnya dengan penuh kerinduan yang menyakitkan.

***

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!