Revania Agatha, Ibu muda berusia 32 tahun yang sudah memiliki seorang putra. Terjebak dalam dilema antara bertahan atau pergi disaat rumah tangganya tak lagi membuatnya merasa diinginkan oleh suaminya sendiri.
Nathan Alexander, pria dewasa dan mapan yang masih betah melajang dan disibukkan dengan karir yang dibangunnya. Namun tanpa di duga dirinya justru tertarik pada wanita yang sudah bersuami.
Gimana ya kisahnya, yuk ikutin ceritanya. ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vennyrosmalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29
"Kamu tidak perlu repot menyewa tempat itu, Aku akan memberikannya jika Kamu mau."
Perkataan Nathan siang tadi terus saja terngiang di telinga Vania. Nathan hanya ingin Vania bisa membuka hatinya untuk Nathan.
"Bukankah ini terlalu cepat." Gumam Vania.
Kedekatan Mereka memang membuat Vania bisa melupakan kesedihan karena di khianati oleh Satria. Tapi Vania tidak mau secepat itu kembali menjalin hubungan dengan seseorang.
Vania takut jika perasaan ini hanya pelarian rasa sakit hatinya saja. Tidak adil rasanya jika kebaikan Nathan harus Vania balas dengan rasa pelarian saja.
Bergelut dengan pemikirannya sendiri, Vania sampai tertidur juga.
.
.
Irene sedang membantu Satria memakaikan dasi di lehernya. Irene mengerutkan dahi saat Suaminya terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Mas kenapa? Sepertinya Kamu sedang memikirkan sesuatu?" tanya Irene begitu selesai memasang dasi Satria.
"Makasih Sayang." Irene mengangguk dan menuntut jawaban atas pertanyaan yang belum dijawab oleh Satria.
Tapi Satria memberikan jawaban lain dengan apa yang sebenarnya sedang di pikirkan. Satria harus mencari tahu dulu apa yang dilihatnya kemarin adalah kebetulan atau ada rencana Nathan yang lain.
.
.
ALX Company.
"Bram, Kita bertemu dengan Daniel jam berapa?" tanya Nathan sambil menandatangani beberapa berkas yanh dibawa Bram.
"Setelah jam makan siang Bos." jawab Bram.
Kemudian Bram memberitahukan kedatangan Irene dan Satria kemarin di perusahaan. Nathan hanya mengangguk saja menanggapi hal itu. Entah kenapa Nathan masih belum terlalu mau untuk sering bertemu dengan Suami adiknya itu.
"Oh ya Bram, tolong Kamu hubungi notaris dan pengacara Kita untuk mengurus tempat yang ada di sebrang perusahaan." titah Nathan.
Nathan berencana untuk mengalihkan tempat itu menjadi atas nama Vania sendiri.
"Bos serius dengan Nona Vania?" tanya Bram saat tahu tujuan Nathan yang akan mengalihkan kepemilikan tempat itu.
"Aku tidak pernah melakukan hal yang tidak sesuai dengan keinginanku Bram, Kau tahu itu." jawab Nathan tegas.
"Baiklah Bos, saya akan segera mengurus hal itu."
"Good."
.
.
Jam makan siang Nathan berkunjung ke perusahaan Daniel. Ada beberapa hal yang perlu dibahas di proyek Mereka.
Setelah dua jam melakukan diskusi, Mereka memutuskan untuk menyudahi pembicaraan mengenai pekerjaan. Tapi untuk pembicaraan lain Daniel tentu tidak akan membiarkan Nathan pulang begitu saja.
"Kau benar-benar gila sampai mau memberikan tempatmu untuk wanita itu." seru Daniel.
Saat pembicaraan Mereka tadi, Bram menerima panggilan dari pengacara Nathan yang akan membuat janji temu esok hari.
Daniel tentu mencecar Bram agar memberikan informasi apa yang sampai berkaitan dengan pengacara dan notaris.
"Bos sepertinya sangat menyukai mantan istri adik iparnya." ledek Bram yang ikut dalam pembicaraan ini.
"Aku rasa Dia juga merasa bersalah pada wanita itu karena adiknya sudah merusak kehidupan rumah tangga wanita itu." ucap Daniel berpendapat.
Nathan menatap keduanya tanpa mau menanggapi ocehan Mereka. Sebab dua-duanya mengatakan hal yang benar.
Nathan sudah tertarik pada kecantikan Vania yang alami sejak Mereka bertemu di Bandara waktu itu. Dan seolah takdir berpihak padanya, Nathan kembali harus bertemu dengan Vania yang ternyata istri pertama dari suami adiknya.
"Dari pada Kalian meledekku seperti itu, lebih baik Kalian bantu Aku bagaimana caranya agar Vania tidak kecewa jika tahu Aku adalah Kakak Irene."
Nathan yang tidak pernah takut dengan hal apapun, kini justru takut jika Vania akan kecewa padanya. Bahkan Nathan takut jika Vania akn pergi darinya.
"Kamu ha mili saja Dia, jadi Dia tidak akan lari darimu Nat." usul Daniel yang membuat Bram juga Nathan melotot padanya.
"Kau sudah gila, yang ada Nona Vania akan semakin membenci Bos." seru Bram dengan berani menyebut Daniel gila.
"Hey Bram lancang sekali menyebutKu gila. Memang ada yang salah dengan ideKu?" Daniel rasa hal itu sudah lumrah terjadi di Negara Mereka.
"Yang di katakan Bram benar Daniel, Vania bukan wanita seperti itu." ucap Nathan.
Tapi Daniel tetap mengusulkan hal yang agresif pada Nathan agar Vania bisa luluh dengan Nathan selain perhatian dan kasih sayang juga.
"Come On Nat, wanita yang sudah pernah menikah tidak akan tahan dengan sentuhan yang membuaikan."
Nathan menatap Bram seolah berkata apa benar yang di usulkan oleh Daniel. Bram hanya mengangkat kedua bahunya, meskipun bisa di katakan benar usulan Daniel, tapi Nathan harus memikirkan jika Vania bukan wanita biasa.
.
.
......................