Sebuah kesaksian hidup yang di angkat dari kisah nyata yang pernah terjadi di kota Manado di tahun1998,tentang keterlibatan seorang gadis bernama Laura dalam kelompok penyembah iblis/ Satanic Church,sebuah perjanjian lama dan satu nyawa sebagai taruhan.
Bagi Laura,kebebasan adalah segalanya.namun,ia tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia dapat dari kebebasannya harus ia bayar dengan potongan jiwanya sendiri.
Dalam pelarian mencekam antara logika dan mistis,Laura harus mencari cara untuk membatalkan dan memutuskan kontrak darahnya dengan Lucifer.
Bisakah ia lepas dari cengkraman Lucifer sebelum fajar terakhir menyapa? ataukah ia akan menjadi penghuni abadi dalam kegelapan tak berujung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gans March, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Simphoni Lembang,pelarian dua jiwa
Kereta api eksekutif itu melambat, roda-roda besinya memekik saat beradu dengan rel sebelum akhirnya berhenti sempurna di bawah atap peron Stasiun Bandung yang bergaya kolonial. Jarum jam besar di peron menunjukkan pukul 16:45 sore. Udara Bandung tahun 1998 terasa jauh lebih sejuk dan bersih, belum sesak oleh polusi, memberikan kesegaran instan begitu pintu gerbong terbuka.
Steven melangkah turun lebih dulu, memberikan tangannya untuk membantu Laura. Di tengah hiruk-pikuk penumpang yang membawa koper-koper besar dan keranjang anyaman, mereka tampak mencolok dengan pakaian yang terlalu rapi dan aura yang terlalu gelap untuk pelancong.
Mereka melangkah menuju ruang tunggu utama yang langit-langitnya tinggi. Di sana, di antara bangku-bangku kayu jati yang kokoh, berdiri seorang pria paruh baya mengenakan safari berwarna cokelat tua. Rambutnya disisir klimis ke belakang, dan sorot matanya tajam, memindai setiap orang yang keluar dari pintu kedatangan.
Begitu melihat Steven, pria itu segera melangkah maju.
Pria itu mengulurkan tangan dengan sikap hormat yang kaku.
"Selamat datang di Kota Kembang, Pak Steven. Bagaimana perjalanan dari Gambir lancar?"
Steven menyalami pria itu dengan jabat tangan yang singkat namun kuat.
"Lancar, Hendra. Jakarta mulai memanas dengan demonstrasi, tapi di atas rel semuanya terkendali."
Steven kemudian menoleh ke arah Laura, memperkenalkan sosok pria itu tanpa menyebutkan jabatan aslinya dalam organisasi.
"Laura, ini Hendra. Dia yang akan memastikan logistik dan keamanan kita selama di sini. Hendra, ini adalah 'Laura' yang dikirim dari kota Manado utusan daerah itu.
Hendra menunduk hormat, menatap Laura dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara pemujaan dan rasa takut.
Hendra memandu mereka menuju area parkir di mana sebuah mobil sedan mewah keluaran terbaru tahun itu sudah menunggu.
"Kita akan langsung menuju hotel, Pak. Sesuai instruksi, saya memilihkan tempat yang cukup jauh dari pusat kota. Di daerah pegunungan yang terisolasi. Jaraknya sekitar satu jam perjalanan dari sini, jauh dari kebisingan kota dan pantauan pihak-pihak yang tidak diinginkan."
"Bagus. Dalam situasi politik tahun '98 yang tidak stabil ini, kita butuh tempat di mana kita bisa merasa sepenuhnya aman."
Mobil itu mulai bergerak meninggalkan stasiun, melewati Jalan Braga yang ikonik dengan arsitektur Belandanya, lalu perlahan mulai menanjak menuju daerah yang lebih tinggi.
Laura duduk di kursi belakang bersama Steven. Ia menatap keluar jendela, melihat spanduk-spanduk reformasi yang mulai bermunculan di sudut-sudut jalan Bandung. Ia menyadari bahwa sementara rakyat sedang berteriak meminta perubahan di jalanan, organisasinya sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar dan gelap di sebuah hotel terpencil di atas bukit.
"Dunia di luar sana sedang kacau, tapi di dalam mobil ini, semuanya terasa begitu teratur. Seolah-olah kekacauan itu memang sengaja dibiarkan agar kita bisa membangun dunia baru di atas reruntuhannya."
Tangan Steven meraih jemari Laura, meremasnya pelan seolah memberikan sinyal bahwa pertunjukan sesungguhnya baru saja dimulai.
Pintu kayu jati berukir berat itu terbuka dengan suara klik yang halus. Hendra membungkuk hormat sebelum melangkah mundur, membiarkan Laura dan Steven memasuki Royal Suite yang terletak di lantai tertinggi hotel tua peninggalan Belanda tersebut.
Lantai marmer dingin menyambut langkah kaki Laura, namun matanya langsung tertuju pada tirai beludru gelap yang menutupi jendela besar dari lantai hingga langit-langit. Dengan langkah pelan, ia mendekat dan menyibakkan kain tebal itu.
Seketika, pemandangan luar biasa terhampar di depannya. Karena hotel ini terletak di dataran tinggi yang terisolasi, Laura seolah berdiri di atas awan, memandang rendah ke arah cekungan Bandung.
Di bawah sana, Kota Kembang tampak seperti hamparan permata yang berserakan. Lampu-lampu jalanan kuning temaram dan kerlip cahaya dari bangunan-bangunan kolonial menciptakan kontras yang indah dengan kegelapan pekat pegunungan di sekitarnya. Udara dingin Lembang yang merayap masuk dari celah jendela yang sedikit terbuka terasa segar di wajahnya.
"Dunia ini tampak begitu tenang dari sini. Tak ada yang tahu bahwa di balik keindahan lampu-lampu itu, jaring merah Steven sedang menjerat setiap sudutnya."
Saat ia terpaku menatap cakrawala, Laura merasakan kehadiran Steven di belakangnya. Pria itu tidak menyentuhnya, namun ia bisa merasakan radiasi panas dari tubuh Steven yang berdiri cukup dekat.
Secara refleks, tangan Laura naik ke dadanya, meraba permukaan liontin hati pemberian Steven yang tersembunyi di balik gaun tidurnya. Emas itu terasa hangat, seolah menyerap panas tubuhnya dan memberikannya kembali sebagai ketenangan.
dengan suaranya yang berat, bergema pelan di ruangan yang luas itu.
"Cantik, bukan? Dari ketinggian ini, manusia tampak seperti titik-titik kecil yang tak berarti. Itulah perspektif yang dimiliki Tamu Besar kita. Dia tidak melihat individu, dia melihat pola."
"Dan pola apa yang kau lihat malam ini, Steven?"
Steven melangkah maju hingga ia berdiri tepat di samping Laura, menatap pantulan wajah gadis itu di kaca jendela.
"Aku melihat sebuah dunia yang sedang menunggu untuk ditaklukkan. Dan aku melihatmu... satu-satunya hal yang nyata di tengah semua abstraksi kekuasaan ini."
Laura terdiam. Di kejauhan, ia melihat siluet Gunung Tangkuban Perahu yang berdiri angkuh dalam kegelapan. Ia menyadari bahwa ia tidak lagi berada di dunia yang sama dengan anak-anak pengemis di pinggir rel tadi siang. Ia berada di puncak, di tempat di mana nasib jutaan orang diputuskan lewat bisikan-bisikan di ruangan mewah seperti ini.
"Kota ini tampak begitu rapuh dari sini."
"Memang. Karena itu tugas kita untuk memberikan 'kerangka' yang kuat agar ia tidak hancur oleh kekacauannya sendiri. Beristirahatlah, Laura. Besok, kota ini akan menjadi saksi sejarah yang tidak akan pernah dicatat dalam buku pelajaran sekolah manapun."
Steven berbalik dan berjalan menuju pintu penghubung, meninggalkan Laura sendirian dengan pemandangan megah dan kalung emas yang terus berdenyut di nadinya.
Angin pegunungan Lembang menderu halus di balik kaca jendela besar, menciptakan melodi alam yang kontras dengan keheningan di dalam suite mewah tersebut. Di kejauhan, lampu-lampu kota Bandung berkelip seperti hamparan berlian di atas beludru hitam.
Laura masih berdiri terpaku di depan jendela, tangannya perlahan naik menyentuh liontin hati di balik gaun tidurnya. Kehangatan emas itu seolah menjadi satu-satunya jangkar di tengah samudra konspirasi gelap yang baru saja ia masuki.
tak lama kemudian,
Langkah kaki Steven terdengar pelan di atas karpet tebal, namun auranya yang kuat memenuhi ruangan sebelum ia benar-benar mendekat. Ia berhenti tepat di belakang Laura, membiarkan aroma maskulin miliknya menyatu dengan wangi mawar dari rambut Laura.
dengan suara rendah, nyaris berbisik di dekat telinga Laura. "Kau tampak seperti bagian dari pemandangan ini, Laura. Dingin di luar, namun menyimpan api di dalamnya."
Laura tidak berbalik, namun ia bisa merasakan napas hangat Steven di tengkuknya. Perlahan, Steven memberanikan diri meletakkan kedua tangannya di pundak Laura. Sentuhan itu tidak kasar seperti perintah organisasi; itu adalah sentuhan seorang pria yang sedang berjuang melawan logikanya sendiri.
Laura suaranya bergetar halus."Apa yang sedang kita lakukan, Steven? Kita di sini untuk sebuah misi yang akan mengubah dunia... bukan untuk ini."
Steven memutar tubuh Laura dengan lembut agar menghadapnya. Dalam remang cahaya lampu dinding yang temaram, mata Steven yang biasanya tajam dan manipulatif kini tampak lunak, penuh dengan kerentanan yang ia sembunyikan dari seluruh dunia.
"Dunia bisa menunggu, Laura. Malam ini, jaring merah itu tidak ada. Protokol itu tidak berlaku. Di ruangan ini, aku hanya seorang pria yang merasa takut setiap kali memikirkan bahwa besok... kau akan menjadi milik 'Tamu Besar' itu."
Steven meraih tangan Laura, menuntun jemari gadis itu ke dadanya sendiri. Laura bisa merasakan detak jantung Steven yang berpacu kencang—sebuah bukti bahwa pria ini memiliki hati yang hidup, bukan mesin dingin seperti yang ia bayangkan.
"Aku membangun sistem ini untuk mengontrol segalanya, tapi aku gagal mengontrol detak jantungku sendiri saat melihatmu berdiri di sini."
Laura menatap mata Steven, mencari kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanyalah pemujaan yang tulus. Ia melepaskan sejenak beban sebagai "Pusaka" dan membiarkan dirinya menjadi wanita biasa. Laura menyandarkan kepalanya di dada bidang Steven, menghirup aroma keberanian dan rahasia yang melekat pada pria itu.
Steven membalas dengan pelukan yang erat, seolah ingin melindungi Laura dari badai yang akan datang esok hari. Ia mengecup puncak kepala Laura dengan penuh perasaan.
"Tetaplah bersamaku malam ini. Biarkan kabut Bandung menyembunyikan kita dari mata-mata organisasi. Hanya untuk beberapa jam... biarkan aku menjadi milikmu, dan kau menjadi milikku."
Di luar sana, sejarah sedang bersiap untuk ditulis dengan tinta hitam. Namun di dalam kamar itu, di bawah perlindungan liontin hati yang tersembunyi, dua jiwa yang seharusnya menjadi alat organisasi justru menemukan pelarian dalam cinta yang terlarang.