Setelah diperkosa secara massal oleh 10 warga desa dan diusir secara hina oleh suaminya sendiri akibat fitnah rekaman video, Ratri menempuh jalan kegelapan. Ia memasang susuk emas "Suanggi" dari seorang dukun di hutan Weling , di organ vitalnya.
Kini, ia kembali bukan untuk cinta, tapi untuk membalas pada kejantanan mereka dan nyawa siapa pun yang pernah menyakitinya.
Namun, kehadiran seorang Ustadz muda bernama Fatih membawa pilihan sulit , terus memupuk dendam yang memakan jiwanya, atau melepaskan iblis itu demi sebuah ampunan yang tak terduga dan hidup dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Agus datangi Ratri
Kemeriahan malam pertama hajatan Pak Haji Mansur masih menyisakan dengung musik orkes di telinga para tamu, namun bagi sang Juragan Tanah, yang memiliki pengaruh luas dan kekayaan yang tak habis tujuh turunan, hanya satu hal yang tertinggal di benaknya: sosok wanita bergaun beludru merah marun itu. Sepanjang malam, sang Juragan yang biasanya sibuk menyapa relasi bisnisnya, justru lebih banyak terdiam dengan mata yang tak lepas mengikuti setiap gerak-gerik Ratri.
Baginya, Ratri bukan sekadar wanita cantik. Ada aura kekuasaan dan kemisteriusan yang membuatnya merasa tertantang. Sebagai pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan dengan uang dan gertakan, sang Juragan merasa harus memiliki "permata" baru itu untuk menghiasi koleksi prestisenya.
Keesokan paginya, di teras rumah mewahnya yang luas, sang Juragan memanggil Agus. Agus, yang baru saja tiba dengan wajah bantal karena kurang tidur setelah berjaga di pesta, segera menghampiri dengan sikap membungkuk hormat.
"Gus," panggil sang Juragan sambil menghisap cerutu mahalnya. "Kamu lihat perempuan semalam? Yang pakai baju merah itu?"
Agus menelan ludah. Jantungnya berdegup tidak karuan. "I-iya, Bos. Saya lihat."
"Datangi rumah nya. Dan yang paling penting, buat janji temu. Aku ingin dia datang ke vila pribadiku di lereng bukit besok malam. Gunakan cara apa pun, uang bukan masalah. Mengerti?"
Agus tertegun. Ada rasa kesal yang bergejolak di dadanya. Ia tahu betul siapa wanita itu—Ratri, wanita yang pernah ia nistakan dan kini menjadi sosok yang sangat ia inginkan.
Namun, menolak perintah sang Juragan berarti kehilangan pekerjaan dan segala fasilitas mewah yang selama ini ia banggakan.
"Tapi Bos... sepertinya dia bukan wanita sembarangan..." Agus mencoba memberi alasan.
Sang Juragan tidak mau dengar. Ia mengambil sebuah amplop cokelat tebal dari atas meja dan melemparkannya ke arah Agus. Amplop itu mendarat dengan suara buk yang mantap, menandakan isinya yang sangat banyak.
"Itu uang jalanmu. Ambil sebagian untukmu, sisanya gunakan untuk 'membuka pintu' rumahnya. Aku tidak mau tahu, besok malam dia harus sudah ada di depanku," ucap sang Juragan dingin sebelum masuk ke dalam rumah.
Agus memandangi amplop itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, uang itu sangat menggiurkan, namun di sisi lain, ia teringat peringatan Eko di rumah sakit. Jangan main-main kalau ingin nyawamu selamat.
Namun, keserakahan akhirnya menang.Ia segera memacu motor besarnya menuju arah Sukomaju, menuju rumah mewah yang kini menjadi tempat tinggal sang mantan korban yang telah berubah menjadi algojo.
Sepanjang perjalanan, keringat dingin membasahi punggung Agus. Aroma melati seolah mulai tercium di udara meski ia masih berada di jalan raya. Sesampainya di depan gerbang tinggi rumah Ratri, Agus menarik napas panjang berkali-kali.
"Pasti dia mau. Siapa yang bisa menolak uang Bos?" gumam Agus mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Setelah melapor pada penjaga gerbang, Agus dipersilakan masuk. Ia dipandu menuju beranda samping yang asri, di mana Ratri sedang duduk santai sambil membaca sebuah buku tua. Ratri mengenakan daster sutra tipis berwarna krem yang membuatnya tampak sangat anggun dan rapuh, sebuah pemandangan yang kontras dengan kekuatan ghaib yang ia miliki.
"Wah, ada tamu jauh," ucap Ratri tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya. "Ada angin apa, Agus? Bukankah kamu seharusnya sibuk di hajatan itu?"
Agus berdehem, mencoba mengembalikan kewibawaannya. "Begini, Ratri... Saya ke sini membawa pesan dari Bos saya, sang Juragan Tanah. Beliau sangat terkesan dengan kehadiranmu semalam."
Ratri perlahan menutup bukunya dan menatap Agus. Tatapan itu begitu tajam, seolah sedang membedah isi kepala Agus. "Terkesan? Lalu?"
Agus meletakkan amplop cokelat dari bosnya di atas meja kecil di depan Ratri. "Bos ingin mengundangmu makan malam pribadi di vilanya besok malam. Beliau bilang, ini adalah bentuk apresiasi atas kedatanganmu. Di dalam amplop itu ada 'sedikit' tanda perkenalan. Jika kamu bersedia datang, Bos menjanjikan apa pun yang kamu minta."
Ratri melihat amplop tebal itu, lalu kembali menatap Agus. Sebuah ide licik mulai berputar di kepalanya. Ia tahu betul bahwa Agus sangat bergantung pada sang Juragan. Jika ia bisa menghancurkan sang Juragan melalui tangan Agus, atau sebaliknya, maka penderitaan Agus akan jauh lebih sempurna daripada sekadar mati.
Sebuah senyum licik tersungging di bibir Ratri. Bukan senyum ramah, melainkan senyum predator yang baru saja melihat mangsa masuk ke dalam jerat.
Jika Anda dekat dengan beliau, posisi Anda akan semakin kuat," Agus mulai berpromosi, merasa sedikit lega karena Ratri tidak tampak marah.
Ratri bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Agus hingga jarak mereka hanya beberapa senti. Aroma melati yang sangat kuat menyergap indra penciuman Agus, membuatnya merasa pening dan sedikit terhipnotis. Ratri mengelus pundak Agus dengan jarinya yang lentik, membuat Agus gemetar hebat.
"Baiklah, sampaikan pada Bosmu... aku akan datang. Tapi, aku ingin kamu yang menjemputku secara pribadi dengan mobil Bosmu. Aku tidak mau datang sendiri," bisik Ratri tepat di telinga Agus.
Agus menelan ludah. "S-saya yang menjemput?"
"Iya. Kamu. Bukankah kamu orang kepercayaannya? Aku ingin kamu yang mengantarku ke singgasana Bosmu itu. Katakan padanya, aku sangat terhormat atas undangannya," Ratri tertawa kecil, suara tawanya terdengar merdu namun mengandung nada ancaman yang kental.
Di dalam benaknya, Ratri sudah merancang skenario. Ia akan menggunakan sang Juragan sebagai alat untuk menyiksa Agus. Ia akan membuat sang Juragan terobsesi hingga kehilangan akal sehat, dan saat itu terjadi, ia akan menuntut "persembahan" yang melibatkan nyawa atau raga Agus sebagai tumbalnya. Ini adalah awal dari kehancuran sang Tuan Tanah, sekaligus babak baru dari siksaan bagi Agus yang merasa dirinya paling aman karena berada di balik ketiak orang kaya.
"Sampaikan itu, Agus. Jangan sampai ada yang salah," ucap Ratri sambil kembali duduk dan membuka bukunya, seolah Agus sudah tidak ada lagi di sana.
" Apakah nanti kita bisa bermain dulu sebelum kamu bertemu dengan Bos" tanya Agus.
"Tergantung kamu apakah bisa bermain cantik" jawab Ratri.
Agus segera berpamitan dengan langkah lega. Di satu sisi ia merasa lega karena misinya berhasil, namun di sisi lain, sentuhan tangan Ratri tadi terasa seperti es yang membeku di pundaknya. Ia tidak tahu bahwa dengan menjemputnya besok dan berniat bermain-bermain dulu itulah yang akan menjegal kehidupan nya nanti dengan nyawa nya.
Ratri menatap kepergian Agus dari balik jendela. Matanya berkilat merah sejenak. "Satu lagi yang masuk ke dalam jaring. Mari kita lihat, seberapa kuat Tuan Tanahmu itu melindungi mu atau malah memakanmu sendiri ."
kekejian apa yg bakal di hadiah kan Ratrii ke bayu
ciri khas nya kak othor
sebelum terjangkit suanggii
aku harap kisah nya happy ending
pikiran nya kotorr
keadaan apa yg membuat nya menikahi Lastri itu , thor
shahwatt muluu dahh
bayuu istri ke 2 mu binall sangatt
apes sekali hidupmu bayuu
di kibulii pak erte ke 2 kali
udah tahu watak nya buruk gtu
tebus dosa² mu dgn cara yang keji
cuma gantii cara km menjemput ajall
mau minta maaf ,
lepas dari pelaku yang bejadd macam eko ,
Eko tapii anak ke 2 ?
adik Darsono kann