NovelToon NovelToon
Eksistensi Terlarang: Kenzi Sang Bodyguard

Eksistensi Terlarang: Kenzi Sang Bodyguard

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam
Popularitas:911
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."

Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..

Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.

Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Fakta Setengah Benar

## **Bab 23: Fakta Setengah Benar**

Pukul 02.00 dini hari. Aroma cerutu mahal memenuhi ruang kerja Tuan Wijaya yang luas, kontras dengan bau keringat dan darah yang baru saja ditinggalkan Kenzi di ruang interogasi rubanah. Tuan Wijaya duduk di balik meja kayu jati besarnya, siluetnya tampak megah namun menyimpan ancaman yang tak terlihat. Di hadapannya, Kenzi berdiri dengan postur militer yang sempurna, meski perban di bahu kirinya mulai merembeskan sedikit noda merah.

"Kau baru saja membersihkan kotoran di rumahku, Kenzi," suara Tuan Wijaya berat dan penuh otoritas. "Sari sudah bekerja lima tahun. Aku tidak menyangka dia punya nyali untuk berkhianat."

Kenzi tidak menjawab. Matanya terus memindai ruangan. *Analisis Strategis: Posisi duduk Wijaya terlindung oleh kaca antipeluru di belakangnya. Tiga kamera tersembunyi aktif. Ada senjata laras pendek di laci kanan meja.*

"Bram melaporkan metode interogasimu," Wijaya melanjutkan, mengembuskan asap cerutu ke udara. "Sangat efisien. Terlalu efisien untuk seorang pengawal lepasan. Kemampuan IT-mu, teknik bertarungmu di *ballroom*, dan caramu menangani Sari... kau adalah aset yang langka."

Wijaya mencondongkan tubuh ke depan, matanya menyipit. "Aku ingin menawarkan kontrak baru. Posisi permanen sebagai kepala tim keamanan pribadiku dan Alana. Gaji sepuluh kali lipat, akses ke fasilitas elit, dan yang paling penting... perlindungan hukum total dariku. Kau tidak perlu lagi bersembunyi di balik profil palsu."

---

*Analisis Logika: Penawaran ini adalah teknik 'Golden Handcuffs'. Wijaya merasa terancam sekaligus terkesan. Dia ingin menjinakkan variabel yang tidak dia pahami dengan cara membelinya.*

"Saya hanya melakukan tugas sesuai kontrak awal," jawab Kenzi datar. "Keamanan Nona Alana adalah prioritas utama."

Wijaya tertawa kecil, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam. "Jangan naif. Aku tahu kau mencari sesuatu di brankasku tempo hari. Dokumen lama? Kematian orang tuamu di proyek konstruksi dua puluh tahun lalu?"

Jantung Kenzi berdetak sedikit lebih cepat, namun wajahnya tetap seperti patung es.

"Dunia bisnis adalah medan perang, Kenzi," Wijaya berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap kota Jakarta yang basah. "Orang tuamu adalah korban dari ketidaksengajaan sistemik. Namun, aku bisa memberimu kompensasi yang tidak pernah diberikan sistem manapun. Loyalitasmu padaku akan membawamu pada kebenaran yang kau cari, namun kebenaran itu... seringkali hanya setengah dari fakta yang sebenarnya."

Kenzi menyadari betapa liciknya pria ini. Wijaya tahu siapa dia, atau setidaknya dia mengira dia tahu. Dengan memberikan 'fakta setengah benar' tentang masa lalu Kenzi, Wijaya mencoba membangun rasa utang budi sekaligus kontrol psikologis. Wijaya bertindak seolah-olah dia adalah penyelamat, padahal dialah arsitek dari penderitaan Kenzi.

---

"Bagaimana dengan Vero?" Kenzi mengalihkan pembicaraan, menghindari jebakan emosional Wijaya.

"Sopir baru itu? Bram sedang mengurusnya. Tapi aku tahu dia bukan sopir biasa. Dia dari organisasimu, bukan?" Wijaya berbalik, menatap Kenzi dengan tajam. "Kau dikirim untuk menghancurkanku, namun kau berakhir menyelamatkan putriku. Itu adalah anomali yang menarik."

Kenzi tetap diam. Konfrontasi ini jauh lebih berbahaya daripada baku tembak di apartemen. Wijaya sedang bermain catur dengan nyawa Alana sebagai bidaknya.

"Pikirkan tawaranku, Kenzi. Di luar sana, kau hanyalah angka yang bisa dihapus oleh organisasimu. Di sini, kau bisa menjadi tangan kanan seorang raja."

Wijaya memberi isyarat agar Kenzi keluar. Saat Kenzi berjalan menuju pintu, Wijaya menambahkan satu kalimat terakhir: "Dan ingat satu hal. Jangan biarkan Alana tahu tentang interogasi malam ini. Dia terlalu lembut untuk dunia yang kita tinggali. Biarkan dia tetap percaya bahwa pengawalnya adalah pahlawan, bukan monster."

---

Kenzi keluar dari ruangan dengan amarah yang ditekan secara sistematis. Ia berjalan menuju sayap kamar Alana. Ia tahu Alana belum tidur. Melalui sensor infra merah pada kacamata taktisnya, ia melihat siluet Alana yang sedang duduk di lantai di balik pintu kamarnya, mungkin sedang menangis atau merenung.

Kenzi berhenti di depan pintu kayu jati yang tebal itu. Ia teringat ucapan Wijaya: *Monster.*

Ya, dia adalah monster. Dia adalah orang yang meretas sistem keuangan Wijaya, yang memasukkan virus ke server Proyek Phoenix, dan yang baru saja menyiksa seorang pelayan di depan mata Alana. Namun, monster ini juga yang merasakan getaran aneh di dadanya setiap kali Alana menatapnya dengan harapan.

Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

*Vero sudah berada di dalam sistem. Eksekusi tahap 2 dimulai saat kencan palsu besok. Jangan gagal lagi, 097.*

Kenzi menyimpan ponselnya. Ia tidak akan menjadi tangan kanan Wijaya, tapi ia juga tidak bisa lagi sepenuhnya menjadi alat organisasi. Ia berada di zona abu-abu yang mematikan.

"Nona," Kenzi bicara pelan di depan pintu, tahu Alana bisa mendengarnya. "Besok kita akan ke taman hiburan. Siapkan diri Anda. Keamanan akan sangat ketat."

Tidak ada jawaban dari dalam kamar, hanya suara isak tangis yang tertahan. Kenzi berdiri di sana selama beberapa menit, menjaga pintu itu seolah-olah itu adalah satu-satunya hal berharga yang tersisa di dunia yang penuh dengan kebohongan ini.

---

1
Cut Founna
terimakasih😍
Dewa Naga 🐲🐉
awal yg menarik.....👍
Dewa Naga 🐲🐉
cerita yg menarik.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!