"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."
Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..
Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.
Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Dampak Domino
## **Bab 28: Dampak Domino**
Pagi hari di kediaman Wijaya tidak lagi diawali dengan aroma kopi Blue Mountain yang tenang atau suara siraman otomatis di taman yang luas. Pagi ini diawali dengan keheningan yang mencekam, disusul oleh suara deru mesin kendaraan di luar gerbang yang tidak menunjukkan tanda-tanda otorisasi tamu resmi.
Kenzi berdiri di balkon lantai dua, mengamati monitor pada pergelangan tangannya. Efek dari Protokol "Blackout" bekerja lebih cepat daripada yang diperkirakan oleh algoritma manapun. Kekaisaran Wijaya tidak hanya runtuh; ia sedang terbakar habis.
---
"Kenzi! Apa yang terjadi dengan koneksi internetnya? Dan kenapa kartu kreditku ditolak?" Alana muncul di koridor, suaranya mengandung campuran antara kemarahan dan ketakutan yang murni. Ia tidak lagi mengenakan gaun putihnya; ia memakai jeans dan jaket denim, seolah secara naluriah bersiap untuk pelarian.
Kenzi menoleh tanpa ekspresi. "Ayah Anda baru saja kehilangan kedaulatan finansialnya, Nona. Seluruh aset Wijaya Corp telah dibekukan atau dialihkan. Saat ini, fasilitas listrik dan air di rumah ini hanya beroperasi dengan cadangan generator karena tagihan utilitas korporat gagal dibayar secara otomatis."
"Kau gila... Kau benar-benar melakukannya," bisik Alana. Ia melangkah ke jendela dan melihat ke bawah. "Siapa mereka?"
Di depan gerbang utama, sekelompok pria berpakaian rapi namun tampak agresif mulai berdatangan. Mereka bukan pembunuh bayaran, melainkan para pemegang saham, kreditur, dan mitra bisnis yang merasa dikhianati. Tak lama kemudian, truk-truk logistik dan aparat penyita aset mulai memarkir kendaraan mereka di bahu jalan.
"Dampak domino," ujar Kenzi dingin. "Saat pemangsa kehilangan taringnya, hyena akan datang untuk mencabik sisa dagingnya."
---
Kenzi memeriksa magasin pistolnya. Secara teknis, misinya telah selesai. Wijaya telah hancur. Secara logis, ia seharusnya meninggalkan tempat ini sebelum tim pembersih organisasi datang untuk melenyapkan saksi. Namun, setiap kali ia menatap Alana, sebuah protokol yang tidak terdaftar dalam instruksi "The Erasers" aktif.
*Anomali Terdeteksi: Prioritas keselamatan aset Alana meningkat menjadi 98%. Alasan: Tidak ditentukan. Tindakan: Perlindungan berkelanjutan.*
Ia telah menyisihkan sejumlah dana di akun rahasia untuk Alana—tindakan yang merupakan vonis mati jika Vero mengetahuinya. Kenzi tetap di sisi Alana, bukan sebagai bodyguard yang dibayar, melainkan sebagai algojo yang merasa bertanggung jawab atas reruntuhan yang ia ciptakan.
"Kita harus pindah ke sayap barat," perintah Kenzi. "Staf keamanan lama, termasuk Bram, kemungkinan besar akan segera mengundurkan diri karena gaji mereka tidak akan masuk hari ini. Loyalitas yang dibeli akan hilang bersama uangnya."
---
Di ruang tamu yang megah, Tuan Wijaya tampak seperti hantu dari dirinya sendiri. Ia sedang mencoba menelepon rekan-rekan lamanya, namun satu per satu panggilan dialihkan ke pesan suara. Kekuasaan adalah zat yang sangat volatil; begitu hilang, tidak ada yang mau mendekat karena takut tertular kegagalan.
"Bram!" teriak Wijaya saat melihat kepala keamanannya masuk ke ruangan dengan wajah kaku. "Siapkan mobil. Kita pergi ke kantor pusat sekarang."
Bram menggeleng perlahan. "Maaf, Tuan Wijaya. Tim saya sudah berhenti. Logistik bahan bakar habis, dan sistem penggajian pusat sudah mati. Saya di sini hanya untuk mengambil barang-barang saya."
Wijaya ternganga. "Aku telah membayarmu jutaan dolar selama bertahun-tahun!"
"Itu dulu, Tuan. Sekarang, Anda hanyalah target bagi banyak orang yang Anda injak selama ini," Bram melirik ke arah Kenzi yang berdiri di tangga bersama Alana. "Saran saya, percayalah pada anak baru itu. Dia satu-satunya yang masih berdiri di sini tanpa bayaran."
Bram pergi tanpa menoleh lagi. Rumah mewah itu kini terasa kosong dan dingin, seperti makam yang belum digali.
---
Suara kaca pecah terdengar dari arah gerbang belakang. Alarm perimeter berbunyi singkat sebelum mati karena kehabisan daya.
"Mereka mulai masuk," ujar Kenzi datar. "Bukan profesional, tapi massa yang marah dan penagih hutang yang tidak sabar."
Kenzi mencengkeram lengan Alana. "Ikuti saya. Kita tidak bisa tetap di sini. Tuan Wijaya, jika Anda ingin hidup, turun ke rubanah sekarang. Pintu baja di sana masih memiliki sisa daya baterai untuk bertahan selama 48 jam."
"Kenapa kau masih membantuku, Kenzi?" Wijaya menatap Kenzi dengan mata yang merah. "Setelah kau yang menghancurkanku?"
Kenzi berhenti sejenak, bayangan orang tuanya melintas di benaknya. "Saya tidak membantu Anda, Wijaya. Saya hanya memastikan bahwa kematian Anda terjadi di tangan yang tepat, bukan di tangan massa yang tidak terorganisir. Dan saya melakukan ini untuk putri Anda."
Alana menatap Kenzi dengan tatapan yang sulit diartikan—antara benci yang mendalam dan ketergantungan yang menyakitkan. Ia menyadari bahwa pria yang menghancurkan dunianya adalah satu-satunya orang yang memegang kunci untuk keselamatannya di dunia yang baru ini.
Di luar, suara teriakan massa mulai mendekat ke pintu utama. Dampak domino telah mencapai puncaknya. Perlindungan fasilitas telah runtuh sepenuhnya, menyisakan Kenzi di tengah badai, bersiap menghadapi konsekuensi dari tindakannya sendiri.
---