Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.
Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.
Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.
Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.
Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.
Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?
Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 : Kebenaran Yang Tidak Bisa Disembunyikan
Langit kota Asterism mulai menggelap.
Namun bukan karena malam—melainkan karena perhatian seluruh warga sedang terarah ke satu hal.
Layar cahaya.
Di berbagai sudut kota—kristal sihir melayang di udara.
Memancarkan cahaya kebiruan. Lalu—membentuk layar hologram besar. Gambar mulai muncul. Suara mulai terdengar. Dan untuk pertama kalinya—kebenaran ditampilkan tanpa bisa ditutupi.
Guild Petualang
Suasana di dalam guild yang biasanya riuh—mendadak hening.
Beberapa petualang yang sedang minum—menghentikan gerakan mereka. Gelas berhenti di udara. Mata mereka terpaku pada layar.
“Oi… itu…”
“Bukannya itu Duke Albrecht?”
Di layar—terlihat jelas sosok Duke Albrecht. Berjalan di dalam ruangan gelap. Berbicara dengan beberapa bawahannya. Suara terdengar jernih. Tanpa distorsi.
“Biarkan mereka berpikir Asterism yang bersalah.”
Seorang petualang langsung berdiri. “Apa-apaan ini…!?”
Yang lain mengerutkan alis. “Tunggu… dengarkan dulu…”
Di layar—Albrecht tersenyum tipis.
“Api kecil itu hanya umpan.”
“Yang penting adalah ketidakpercayaan.”
Hening.
Lalu—seorang petualang membanting mejanya.
“Jadi selama ini—”
“Dia yang melakukan semuanya!?”
Seorang wanita di sudut ruangan menggertakkan gigi. “Kita hampir saling bunuh gara-gara ini…”
Seorang pria tua menghela napas panjang. “Kita dipermainkan.”
Suasana mulai memanas. Namun bukan karena kebencian antar ras—melainkan karena satu hal. Pengkhianatan.
Guild Pedagang
Di distrik perdagangan—suasana jauh lebih tegang. Para pedagang berkumpul di depan layar. Wajah mereka serius. Perhitungan. Namun perlahan—emosi mulai muncul.
Di layar—terlihat percakapan lain.
“Pastikan suplai makanan terganggu.”
“Buat mereka panik.”
Seorang pedagang memukul meja. “Brengsek…!”
Yang lain menatap tajam.
“Dia sengaja merusak jalur distribusi…!”
Seorang wanita berbisik pelan. “Dan kita hampir menyalahkan Phino…”
Nama itu membuat beberapa orang terdiam. Mereka saling pandang. Rasa bersalah muncul perlahan.
“Padahal dia… terus membagikan makanan…”
“Tanpa henti…”
Seorang pedagang tua mengangguk pelan. “Dia menyelamatkan kita.”
Hening sejenak.
Lalu—suasana berubah. Bukan lagi penuh kecurigaan. Namun—rasa malu. Dan juga—rasa hormat yang baru.
Alun-Alun Kota
Tempat paling ramai. Tempat di mana manusia dan beastman berkumpul. Tempat yang sebelumnya hampir menjadi titik konflik.
Kini—dipenuhi oleh satu hal.
Keheningan.
Layar besar melayang di tengah. Semua mata menatapnya. Tanpa terkecuali.
Anak-anak.
Orang tua.
Manusia.
Beastman.
Semua melihat hal yang sama.
Di layar—Duke Albrecht berbicara.
“Selama mereka saling membenci, kita yang akan menang.”
Seorang beastman menggertakkan giginya. “Jadi selama ini…”
Seorang manusia di sebelahnya menunduk. “Aku hampir menyerangmu kemarin.”
Beastman itu melirik.
Hening sejenak.
Lalu—ia menghela napas. “Aku juga.”
Seorang anak kecil menarik tangan ibunya. “Ibu… itu orang jahat ya?”
Ibunya terdiam. Lalu mengangguk pelan. “Iya…”
Seorang pria berteriak. “Lihat itu! Dia bahkan tidak menyesal!”
Suara-suara mulai muncul .Namun bukan teriakan marah tanpa arah. Melainkan—kesadaran yang sama.
“Yang Mulia Ferisu…”
“Dia mencoba menyatukan kita…”
“Dan kita malah hampir hancur sendiri…”
Seorang wanita beastman menutup mulutnya.
Matanya berkaca-kaca. “Aku salah…”
Seorang pria manusia menunduk dalam. “Kita semua salah…”
Hening kembali turun.
Namun kali ini—berbeda. Tidak lagi penuh ketegangan. Melainkan—pemahaman. Dan perlahan—seorang anak kecil melangkah maju. Ia menggenggam tangan anak beastman di sebelahnya.
Tanpa ragu.
Tanpa takut.
Orang-orang melihat itu.
Dan sesuatu—perlahan berubah.
Di Balik Layar
Di tempat tersembunyi—tiga sosok berdiri dalam bayangan. Mata mereka fokus. Satu dari mereka memegang kristal kecil. Menjaga siaran tetap stabil.
“Target berbicara lebih dari yang diperkirakan.”
“Rekaman berhasil.”
“Semua titik penyiaran aktif.”
Suara mereka pelan. Tenang. Profesional.
Di kejauhan—Phino berdiri dengan tangan di saku.
Wajahnya santai seperti biasa.
Namun matanya tajam.
“Nah loh.” Ia tersenyum kecil.
“Sekali-sekali badut juga bisa bikin panggung, kan?”
Di belakangnya—Lyra berdiri diam. Risa menyilangkan tangan.
“Sekarang tinggal lihat reaksinya.”
Phino mengangguk. Namun senyumnya perlahan memudar. “Ini baru langkah pertama.”
Di seluruh kota—layar masih menyala. Suara Duke Albrecht terus terdengar. Tidak bisa disangkal. Tidak bisa diputarbalikkan. Dan untuk pertama kalinya—kebenaran berdiri di depan semua orang. Tanpa topeng. Tanpa manipulasi.
Namun—di balik semua itu—sebuah pertanyaan mulai muncul. Jika Duke sudah terbuka—lalu… apa langkah selanjutnya?
...----------------...
Di wilayah timur—di dalam ruangan yang sama seperti di rekaman—Duke Albrecht berdiri. Menatap kristal sihir di depannya. Yang menampilkan—dirinya sendiri. Disiarkan ke seluruh kota.
Hening.
Lalu—ia tersenyum. Pelan. “Jadi kalian memilih cara ini.”
Ia mengangkat tangannya. Menghancurkan kristal di depannya.
CRASH.
“Baiklah.” Matanya menjadi dingin. Sangat dingin.
“Kalau begitu… kita hentikan permainan kecil ini.”
Ia menoleh ke arah luar jendela. Ke arah kota.
Di kejauhan—
Langit wilayah timur dipenuhi awan gelap.
Angin bertiup kencang, membawa debu dan ketegangan yang belum pernah terasa sebelumnya.
Namun kali ini—bukan ketakutan yang memenuhi udara.
Melainkan—tekad.
Kota yang Tidak Lagi Terpecah
Di alun-alun kota—manusia dan beastman berdiri berdampingan. Tidak ada lagi jarak. Tidak ada lagi tatapan curiga. Seorang pria manusia mengangkat tombaknya.
“Kita sudah lihat sendiri kebenarannya!”
Di sebelahnya, seorang beastman mengangguk kuat.
“Kali ini… kita lawan bersama!”
Sorakan mulai terdengar.
“Lawan Duke Albrecht!”
“Lindungi Asterism!”
“Untuk Yang Mulia Ferisu!”
Suara itu menggema.
Menyebar ke seluruh kota.
Di guild petualang—para petualang bersiap.
Pedang diasah.
Armor dikenakan.
Seorang petualang tersenyum lebar.
“Udah lama gak dapet quest segila ini.”
Yang lain tertawa.
“Tapi kali ini… ini bukan soal uang.”
Di guild pedagang—kereta-kereta disiapkan.
Persediaan makanan dimuat dengan cepat.
Seorang pedagang tua berkata tegas.
“Kita jaga suplai!”
“Jangan biarkan pasukan kita kelaparan!”
Semua bergerak.
Tanpa perintah.
Tanpa paksaan.
Mereka bergerak—karena memilih.
Di gerbang wilayah timur—pasukan Asterism sudah berkumpul.
Kesatria berbaris rapi.
Di belakang mereka—para warga juga berdiri.
Bukan sebagai penonton. Namun sebagai bagian dari pertempuran.
Mereka menatap ke depan. Ke arah benteng wilayah Duke Albrecht.
Di Dalam Benteng. Duke Albrecht berdiri di balkon tinggi. Matanya menatap ke arah pasukan yang datang. Namun yang ia lihat—bukan hanya kesatria.
Namun juga—rakyat.
Manusia.
Beastman.
Berdiri bersama.
Tidak terpecah. Tidak saling membenci.
Ia terdiam beberapa detik.
Lalu—tertawa kecil.
“Jadi seperti ini akhirnya.”
Ia menghela napas. Matanya menjadi dingin.
“Aku sudah mencoba memberi mereka alasan untuk saling membunuh.”
“Tapi mereka justru bersatu.”
Ia tersenyum tipis.
Namun kali ini—tidak ada kepuasan.
Hanya penerimaan.
“Ferisu.”
.
.
.
Gerbang benteng dihancurkan.
BOOOOM!!
Pasukan Asterism masuk.
Pertempuran pecah.
Namun berbeda dari sebelumnya.
Tidak ada kekacauan.
Tidak ada kebingungan.
Setiap orang—bergerak dengan tujuan yang sama.
Para kesatria bertarung.
Para petualang membantu.
Para warga mendukung dari belakang.
Ini bukan lagi pertempuran kerajaan.
Ini adalah—pertempuran seluruh rakyat.
...----------------...
Di aula utama—pintu terbuka perlahan.
Ferisu melangkah masuk.
Langkahnya tenang.
Matanya tajam.
Di depannya—Duke Albrecht berdiri sendiri.
Tanpa pasukan.
Tanpa perlindungan.
Hanya dirinya.
“Jadi kau datang,” ucap Albrecht.
Ferisu berhenti beberapa langkah darinya.
“Ini sudah selesai.”
Albrecht tersenyum kecil.
“Ya...”
Ia menatap Ferisu.
“Luar biasa.”
“Aku mencoba menghancurkan mereka dari dalam.”
“Namun kau…”
Ia menghela napas.
“Justru menyatukan mereka.”
Ferisu tidak menjawab.
Albrecht menutup matanya sejenak.
Lalu membukanya lagi.
“Kalau begitu—” Ia menjatuhkan senjatanya.
CLANG.
“Aku kalah.”
Sunyi.
Tidak ada drama.
Tidak ada perlawanan terakhir.
Hanya—pengakuan.
Ferisu menatapnya.
Lama.
“Kau memilih jalan ini sendiri.”
Albrecht tersenyum tipis.
“Ya.”
Penjaga masuk.
Memborgolnya.
Namun Albrecht tidak melawan.
Saat ia dibawa pergi—ia berhenti sejenak.
Dan berkata pelan.
“Hati-hati, Ferisu.”
Ferisu sedikit menyipitkan mata.
Albrecht tersenyum.
“Kau sudah menarik perhatian… sesuatu yang lebih besar.”
Lalu—ia pergi.
Langit mulai cerah.
Awan gelap perlahan menghilang.
Di kota—sorakan kemenangan terdengar.
Namun bukan kemenangan atas musuh.
Melainkan—kemenangan atas diri mereka sendiri.
Manusia dan beastman berdiri berdampingan.
Tidak lagi terpisah.
Tidak lagi terpecah.
Ferisu berdiri di balkon istana.
Menatap kota itu.
Tenang.
Namun dalam hatinya—ia tahu.
Ini belum akhir.
Karena di luar sana—sesuatu sedang menunggu.
Di tempat yang jauh.
Sangat jauh.
Retakan kecil kembali muncul di langit.
Dan dari dalamnya—suara itu terdengar lagi.
“Target… telah berkembang.”
“Persiapan fase berikutnya.”
Dan perlahan—sesuatu mulai bergerak.
Menuju dunia ini.
Menuju—Ferisu.
...END OF ARC — DUKE ALBRECHT...