"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."
Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.
Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
...
..
Lantai marmer putih di penthouse lantai 50 itu biasanya memantulkan kemewahan yang tenang, namun pagi ini, ia menjadi saksi bisu sebuah pemberontakan berdarah. Cincin berlian satu miliar itu tergeletak tak berdaya di tengah ruangan, dikelilingi bercak merah pekat yang masih hangat. Kalea berdiri bersandar pada dinding kaca, membalut jarinya dengan sobekan gorden sutra krem yang kini ternoda. Matanya menatap lurus ke pintu baja yang terkunci, menunggu monster itu kembali untuk melihat bahwa hartanya telah dikembalikan dengan cara yang paling menyakitkan.
Di sisi lain kota, di kantor J-Media yang biasanya sibuk dengan tenggat waktu kreatif, suasana mendadak mencekam. Aruna, Ghea, dan Ziva berkumpul di depan satu layar komputer di pojok ruangan. Tangan Aruna gemetar saat ia menekan tombol play pada sebuah video yang baru saja diunggah oleh akun anonim dan menjadi viral dalam hitungan detik.
"Ini... ini suara kakeknya Liam Jionel?" bisik Ghea dengan wajah pucat pasi.
Di layar itu, sebuah rekaman audio tua terdengar serak namun jelas. Suara pria tua—Wijaya Jionel—sedang memberikan instruksi untuk menyuap hakim dan memalsukan bukti demi menjebloskan seorang jurnalis bernama Surya ke penjara. Alasannya sederhana: Surya memegang data limbah beracun perusahaan Jionel yang bisa menghancurkan dinasti mereka.
"Berarti... Ayah kandung Kalea dipenjara gara-gara keluarga Liam?" Ziva menutup mulutnya, air matanya tumpah. "Pantas saja Kalea hilang kabar. Dia bukan sedang jadi sosialita, dia sedang dikurung oleh keturunan orang yang menghancurkan hidupnya!"
Aruna langsung berdiri, menyambar tasnya. "Kita nggak bisa diam aja. Kita tahu Kalea. Dia nggak akan pernah menjual dirinya kalau nggak terdesak. Dan sekarang dia dalam bahaya besar. Gue punya akses ke sistem pelacakan GPS mobil operasional kantor, siapa tahu ada jejak pengawalan Liam semalam!"
Sementara itu, di The Obsidian, bar eksklusif tempat geng Liam biasa berkumpul, suasananya tidak kalah tegang. Kenzo, Ethan, dan Rayyan duduk mengelilingi meja dengan ekspresi yang sangat berbeda dari biasanya. Televisi di dinding menampilkan grafik saham Jionel Group yang terjun bebas, kehilangan nilai triliunan rupiah hanya dalam satu jam setelah flashdisk merah milik Surya meledak di media.
"Liam sudah gila," Ethan, sang pengacara, membanting berkas ke meja. "Dia mengunci gadis itu di penthouse pribadinya sementara polisi mulai mendatangi kantor pusat. Tuduhan penyekapan dan skandal masa lalu kakeknya adalah kombinasi mematikan. Gue nggak bisa bantu dia kalau dia terus-terusan bertindak impulsif begini."
Kenzo menyesap whisky-nya dengan kasar. "Dia bukan impulsif, Ethan. Dia sedang sakit. Dia melihat Kalea sebagai kesempatan kedua untuk menyelamatkan Andini. Tapi dia lupa, Kalea itu manusia, bukan penebus dosa. Kalau dia nggak ngelepasin Kalea sekarang, kita semua bakal terseret ke penjara."
Rayyan, yang selama ini paling diam, akhirnya bersuara. "Gue baru dapet info dari orang lapangan. Surya, ayah Kalea, dibawa ke gudang logistik Jionel. Liam berencana 'melenyapkannya' secara halus agar Kalea nggak punya pilihan selain bergantung padanya. Kita harus hentikan dia. Bukan cuma demi perusahaan, tapi demi sisa kemanusiaan yang mungkin masih ada di diri Liam."
Di penthouse, pintu baja itu akhirnya berdesing terbuka. Liam Jionel melangkah masuk. Jasnya sudah ditanggalkan, menyisakan kemeja putih yang sedikit terbuka kancing atasnya. Wajahnya tampak sangat kuyu, namun matanya langsung tertuju pada satu titik di tengah ruangan.
Langkah kaki Liam terhenti. Ia menatap cincin berlian yang berlumuran darah di lantai. Dunianya seolah berhenti berputar. Matanya beralih pada Kalea yang berdiri di sudut ruangan, dengan tangan kiri yang dibalut kain merah dan wajah yang seputih salju.
"Apa yang kau lakukan...?" suara Liam terdengar parau, nyaris seperti rintihan.
Kalea melangkah maju, kakinya yang tanpa alas menyentuh marmer yang dingin. "Kau ingin bukti kepemilikan, kan? Itu ambillah. Darahku ada di sana. Tapi jiwaku... jiwaku sudah tidak ada di ruangan ini, Liam. Kau hanya memiliki sebuah sangkar dengan bangkai di dalamnya."
Liam berlari menghampiri Kalea, mencoba meraih tangan gadis itu untuk memeriksa lukanya, namun Kalea menyentaknya dengan kebencian yang begitu murni hingga Liam terhuyung mundur.
"Jangan sentuh aku dengan tangan yang merenggut dua puluh tahun hidup ayahku!" teriak Kalea. "Kakekmu seorang pembunuh, dan kau... kau adalah sipir penjara yang lebih kejam darinya! Kau menggunakan kemiripanku dengan Andini untuk memuaskan rasa bersalahmu, sementara kau membiarkan ayahku membusuk?"
"Kalea, aku tidak tahu soal ayahmu sampai semalam! Itu rahasia kakekku, bukan aku!" Liam mencoba membela diri, namun suaranya terdengar lemah di telinganya sendiri.
"Tapi kau tetap mengurungku di sini saat tahu kebenarannya!" balas Kalea. "Kau tidak melepaskanku karena kau takut, kan? Kau takut kalau aku pergi, kau tidak punya lagi 'mainan' untuk kau mintai maaf setiap malam!"
Tiba-tiba, ponsel Liam bergetar hebat. Itu adalah panggilan dari Aris.
"Tuan... ini gawat. Teman-teman Nona Kalea dari J-Media berhasil membocorkan lokasi penthouse ke publik. Ada ratusan massa dan wartawan di lobi gedung sekarang. Dan... polisi sudah membawa surat perintah penggeledahan terkait hilangnya Bapak Surya."
Liam menatap Kalea dengan tatapan yang sangat kompleks—antara cinta yang terdistorsi dan ketakutan yang mendalam. Ia berjalan menuju jendela besar, melihat ke bawah di mana kerumunan orang tampak seperti semut yang marah.
"Mereka datang untukmu," bisik Liam.
"Bukan untukku, Liam. Mereka datang untuk keadilan yang kau kubur," sahut Kalea dingin. Ia mendekati Liam, berdiri tepat di sampingnya. "Buka pintunya, Liam. Biarkan ini berakhir. Jika kau mencintaiku—atau setidaknya mencintai bayangan Andini dalam diriku—jangan biarkan aku membencimu sampai ke liang lahat."
Liam terdiam sangat lama. Ia menatap pantulan wajah Kalea di kaca jendela. Wajah itu sangat mirip dengan Andini, namun matanya... matanya adalah milik Kalea. Mata yang penuh api, mata yang tidak akan pernah bisa dijinakkan.
Dengan tangan yang gemetar, Liam meraba sakunya, mengeluarkan ponselnya, dan menekan sebuah kode. Klik. Suara kunci pintu baja yang terbuka bergema di seluruh ruangan.
"Pergilah," ucap Liam pelan, memunggungi Kalea. "Bawa ayahmu. Aku sudah memerintahkan Aris untuk melepaskannya di depan gedung ini."
Kalea tidak menunggu dua kali. Ia berlari menuju pintu, mengabaikan rasa sakit di jarinya. Namun di ambang pintu, ia berhenti sejenak. Ia menoleh ke arah Liam yang berdiri mematung menatap kota yang sedang meruntuhkan kerajaannya.
"Satu miliar itu... sudah lunas dengan darahku hari ini," ucap Kalea sebelum menghilang di balik lorong.
Di lobi gedung, suasana pecah saat Kalea keluar dengan tangan terbebat kain berdarah. Aruna, Ghea, dan Ziva langsung berlari memeluknya, menangis histeris. Di tengah kerumunan itu, sebuah mobil polisi berhenti, dan Surya keluar dengan langkah pincang.
"Ayah!" Kalea menjerit, berlari ke pelukan pria tua itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kalea merasa ia tidak lagi sendirian di dunia yang kejam ini.
Namun, di lantai 50, Liam Jionel masih berdiri di posisi yang sama. Ia menunduk, mengambil cincin berdarah di lantai, dan menggenggamnya hingga berlian itu menusuk telapak tangannya sendiri. Ia melihat ke bawah, melihat Kalea yang semakin menjauh di tengah pelukan teman-temannya dan ayahnya.
Liam menyadari satu hal: Ia telah menyelamatkan Kalea, namun dalam prosesnya, ia telah benar-benar membunuh Andini di dalam kepalanya. Dan sekarang, ia harus menghadapi neraka yang ia ciptakan sendiri, tanpa bayangan siapa pun di sisinya.
"Perang belum berakhir, Kalea," gumam Liam pada ruangan yang hampa. "Karena jika aku tidak bisa memilikimu dalam cahaya, maka aku akan memastikan tidak ada orang lain yang bisa memilikimu dalam kegelapan."
Di kejauhan, sirine polisi semakin nyaring, dan Kerajaan Jionel mulai runtuh, menyisakan puing-puing obsesi yang masih membara