NovelToon NovelToon
Owned By The Cold CEO

Owned By The Cold CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jee Jee

"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."

Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.

Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

..

..

  Pagi di pinggiran Jakarta selalu diawali dengan suara kokok ayam tetangga dan deru mesin motor para pekerja yang berangkat subuh. Bagi Kalea, suara-suara itu biasanya menjadi alarm alami yang memberinya semangat untuk memulai hari sebagai wanita bebas. Namun, sudah hampir dua minggu ini, setiap kali ia membuka mata, dunia seolah berputar lebih cepat dari biasanya. Langit-langit kamarnya yang bercat putih kusam tampak meliuk-liuk, memaksanya untuk tetap memejamkan mata lebih lama.

Kalea mencoba bangkit, menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur kayu yang dingin. Kepalanya berdenyut, sebuah denyutan tumpul yang menjalar hingga ke pangkal leher. Ia memijat pelipisnya perlahan, mencoba mengingat-ingat apakah semalam ia kurang tidur karena terlalu lama menatap layar laptop untuk menyelesaikan naskah editornya.

"Mungkin cuma efek cuaca," gumamnya parau. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri—lebih berat dan serak.

Ia melangkah gontai menuju dapur. Bau aroma kopi yang sedang diseduh Surya di ruang tengah mendadak menusuk indra penciumannya. Biasanya, aroma kopi tubruk adalah wangi favoritnya, wangi yang mengingatkannya pada rumah. Tapi pagi ini, wangi itu terasa seperti serangan. Perutnya mendadak bergejolak, sebuah rasa mual yang hebat naik hingga ke kerongkongan.

Kalea berlari ke kamar mandi, membanting pintunya, dan membungkuk di depan wastafel. Ia terbatuk-batuk, namun tidak ada yang keluar selain cairan bening yang pahit. Tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin mulai membasahi dahi dan tengkuknya.

"Kalea? Kamu nggak apa-apa, Nak?" suara Surya terdengar cemas dari balik pintu. "Ayah denger kamu batuk-batuk dari tadi."

Kalea membasuh wajahnya dengan air dingin, menatap pantulan dirinya di cermin yang sedikit retak. Wajahnya pucat pasi, matanya yang cokelat tampak kuyu dengan lingkaran hitam yang semakin nyata. Ia terlihat seperti hantu dari masa lalunya sendiri.

"Enggak apa-apa, Yah. Cuma masuk angin biasa. Kayaknya kecapekan lembur semalam," jawab Kalea setelah berhasil mengatur napasnya.

Ia keluar dari kamar mandi dan melihat Surya berdiri di sana dengan raut wajah yang tidak bisa dibohongi. Ayahnya itu memegang segelas teh hangat. "Minum ini dulu. Kamu itu kerja keras terus, Kal. Jangan mentang-mentang sudah bebas dari... pria itu, kamu jadi lupa jaga diri."

Kalea tersenyum tipis, menerima gelas itu. "Aku cuma pengen produktif, Yah. Biar pikiran nggak lari ke mana-mana."

Namun, di dalam hatinya, Kalea merasa ada yang salah. Bukan cuma rasa mual, tapi payudaranya terasa sangat sensitif dan nyeri setiap kali tersentuh kain bajunya. Pinggangnya juga sering terasa pegal, seolah-olah ia baru saja melakukan perjalanan jauh dengan berjalan kaki. Ia sempat berpikir ini adalah gejala datang bulan, tapi ia mencoba mengingat kembali kapan terakhir kali siklus itu datang.

Sejak kebakaran mansion dan rentetan kejadian di rumah sakit, siklus menstruasinya memang berantakan. Ia menganggap stres berat dan trauma adalah penyebab utamanya. Ia tidak pernah terpikirkan kemungkinan lain. Baginya, rahimnya adalah wilayah yang sudah mati rasa sejak malam-malam kelam di bawah dominasi Liam Jionel.

Siang harinya, Aruna, Ghea, dan Ziva datang berkunjung ke rumah Kalea. Mereka membawa sekantong besar buah-buahan dan camilan. Mereka duduk di teras, menikmati angin sepoi-sepoi di bawah pohon mangga.

"Kal, lo pucat banget sih," Ghea berkomentar sambil mengupas jeruk. "Makan nih, biar ada vitaminnya."

Kalea mengambil potongan jeruk itu, tapi baru saja aromanya tercium, ia kembali merasa mual. Ia meletakkan jeruk itu kembali. "Aduh, Gue kayaknya beneran masuk angin deh. Bau jeruk aja bikin enek."

Aruna menatap Kalea dengan intens. Sebagai sahabat yang paling peka, ia menyadari ada perubahan pada cara Kalea duduk dan bagaimana ia berkali-kali mengusap perut bagian bawahnya. "Kal, udah berapa lama lo ngerasa begini?"

"Dua mingguan lah, Run. Kenapa?"

"Lo... lo udah cek ke dokter?" tanya Aruna hati-hati.

Kalea tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar dipaksakan. "Dokter buat apa? Paling cuma disuruh minum vitamin sama istirahat. Gue nggak punya duit buat cek kesehatan yang nggak penting-penting banget."

Ziva yang sedang asyik makan keripik mendadak berhenti. "Eh, tapi Kal, lo tau nggak? Katanya kalau orang stresnya udah lewat, badan emang suka rebound. Semua capeknya keluar sekaligus. Mungkin itu yang lo rasain."

Kalea mengangguk setuju, mencoba mempercayai teori Ziva. Namun, perasaan aneh itu tidak kunjung hilang. Sore itu, saat teman-temannya sudah pulang, Kalea mencoba merapikan tumpukan majalah lama di kamarnya. Tiba-tiba, pandangannya menggelap. Kepalanya terasa sangat ringan, seolah-olah gravitasi di sekitarnya menghilang.

Ia jatuh terduduk di lantai, napasnya tersengal. Tangannya secara refleks memegang perutnya. Sesuatu di sana terasa... hangat. Bukan rasa sakit yang tajam, tapi sebuah denyutan halus yang asing.

Di belahan kota yang lain, di dalam sebuah sel yang sempit namun sangat bersih, Liam Jionel sedang duduk di lantai semen, bersandar pada dinding yang dingin. Di tangannya ada sebuah buku, namun matanya tidak membaca satu kata pun. Pikirannya melayang jauh ke sebuah rumah kecil di pinggiran kota.

Setiap hari, Aris mengirimkan laporan singkat. Liam tahu apa yang Kalea makan, jam berapa Kalea bangun, hingga siapa saja yang datang berkunjung. Namun, laporan hari ini membuatnya gelisah.

“Nona Kalea terlihat kurang sehat beberapa hari terakhir. Beliau sering tampak lemas dan wajahnya pucat.”

Liam meremas buku di tangannya hingga kertasnya robek. Ia ingin berteriak, ia ingin mendobrak pintu besi ini dan berlari ke arah Kalea. Namun ia tahu, kehadirannya hanya akan membuat kondisi Kalea semakin buruk.

"Apa yang terjadi padamu, Kalea?" bisik Liam pada kegelapan.

  Kalea memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mengusir pikiran gila yang mulai menghantuinya. Namun, tubuhnya tidak bisa berbohong. Setiap kali ia mencoba menarik napas panjang, ada rasa sesak yang asing, seolah oksigen di paru-parunya kini harus berbagi dengan kehidupan lain. Ia teringat bagaimana Liam menatapnya di malam terakhir itu—tatapan yang bukan lagi sekadar nafsu, tapi pemaksaan kehendak untuk menanamkan akarnya di dalam diri Kalea sedalam mungkin.

"Kau tidak akan pernah bisa lepas dariku, Kalea. Bahkan jika kau lari ke ujung dunia sekalipun," bisikan Liam malam itu seolah bergema kembali di dinding kamarnya yang sunyi.

Kalea meremas ujung sprei tempat tidurnya hingga buku jarinya memutih. Rasa mual itu kembali naik, kali ini bercampur dengan rasa pahit di pangkal lidahnya—pahitnya kenyataan bahwa rahimnya mungkin telah menjadi tempat persembunyian bagi benih sang iblis. Ia membenci setiap inci sel di tubuhnya yang kini terasa "berkhianat". Bagaimana bisa tubuhnya memberi ruang bagi seseorang yang telah menghancurkan harga dirinya?

Di luar, rintik hujan mulai turun membasahi bumi, menciptakan aroma tanah yang biasanya menenangkan, namun kini justru membuat mualnya semakin menjadi-jadi. Kalea meringkuk di atas lantai, memeluk perutnya sendiri dengan perasaan benci yang amat sangat, namun di saat yang sama, ada ketakutan yang luar biasa besar. Ia takut jika benar ada nyawa di sana, ia tidak akan sanggup melihat wajah bayinya nanti tanpa teringat pada mata elang Liam yang menghancurkannya.

"Tolong... jangan biarkan ini nyata," isaknya lirih, suaranya tenggelam di balik suara guntur yang menggelegar di langit Jakarta. Malam itu, di bawah atap rumah ibunya yang rapuh, Kalea menyadari bahwa kebebasan yang ia damba-dambakan hanyalah sebuah ilusi. Liam Jionel mungkin berada di balik jeruji besi, namun pengaruhnya, darahnya, dan obsesinya telah menyatu dengan detak jantung Kalea sendiri. Perang ini baru saja memasuki babak yang paling mengerikan, di mana musuh terbesarnya tidak lagi berada di luar, melainkan tumbuh di dalam dirinya sendiri.

1
lia juliati
semoga hatinya selalu hangat oleh kalea
arilias
thor kpn cerita nya di lanjut?
arilias
masyaalloh cerita nya bagus bgt. awal awal bikin aku gregetan. dan sekarang cerita nya bikin aku penasaran sama bab selanjutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!