NovelToon NovelToon
The Happy A Villain

The Happy A Villain

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / TimeTravel / Chicklit / Tamat
Popularitas:347.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sisi Miring Petagon

Halo semuanya...
Ini karya novel pertamaku.

Isekai biasanya tertabrak mobil atau truk sedangkan aku cuma ketiduran. Aku Lisa Aspasa harus mengalami isekai. Aku terbangun dalam sebuah novel dimana tubuh inilah tokoh villiannya. Seorang villian dipastikan akan berakhir kematian. Kematian yang mengerikan bagi siapapun yang melihatnya.
Akankah aku bisa menghindari takdir kematian?
Akankah aku mendapatkan kebahagiaan?

Pada pertengahan perjalan jiwa pemilik asli tubuh ini datang.. apa yang ia inginkan? akankah dia mau membantuku atau sebaliknya?

Berlahan tapi pasti sesuatu yang tidak terungkap dalam novel mulai muncul kepermukaan...
Apakah itu?
Penasaran... langsung baca saja

27 Oktober 2020

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Miring Petagon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

WARNING TYPO BERTEBARAN

***

Melisa POV

Suara nyayian burung bersautan terbang diangkasa yang luas. Tanganku menyematkan jepit rambut bergambar tengkorak dirambut panjangku. Aku memoles make up tipis kearea wajah. Aku mengambil tas berwarna hitam dipundakku.

Tanganku sibuk membalas chat yang masuk. Aku menatap datar isi pesan Elgartara yang memintaku bertemu ditaman selatan. Aku tidak membalas chat dari Elgartara. tanganku memasukkan ponsel hitamku kedalam saku.

Aku turun kebawah yang disambut kakek, ayah, paman Bekyunie, bi Surti dan pak Mamat. Mereka berada dimeja makan saling berbincang banyak hal. Aku menghampiri mereka sambil tanganku menarik kursi. Aku duduk disamping ayah dan kekek.

“ Bagaimana latihamu kemarin malam?” tanya paman Bekkyunie penasaran.

“ Menyenangkan” kataku aksited.

“ Kakek harus mengajariku lebih dari kemarin malam” kataku menantang.

“ Jangan mengeluh kalau kakek tambah latihannya” kata kakek santai.

“ Tidak akan” kataku percaya diri.

“ Melisa jangan memaksakan diri” kata ayah menasehatiku.

“ Ayah jangan khawatir” kataku yakin.

Aku tersenyum menyembunyikan tawa jahatku. Aku akan menjadi penonton setia perjuangan Melisa dalam berlatih bela diri.

“ Sekarang mari kita makan” kata ayah mempersilahkan seluruh orang yang berada dimeja untuk makan.

Aku mengunyah bubur ayam yang dibuat khusus untukku. Disamping makananku sudah tersedia obat yang sudah disiapkan oleh bibi Surti. Aku segera menghabiskan makananku dan meminum obat.

“ Ayah aku berangkat dulu” kataku berpamitan.

Aku berdiri mengecup ayah singkat kemudian pergi menyalakan mobilku. Aku mengendarai mobil merah menuju sekolah. Aku memasukki area sekolah menuju parkiran.

Aku memakirkan kendaraanku kemudian turun berlahan. Aku berjalan ketaman selatan dengan percaya diri. Aku melihat Elgartara berdiri melihat danau. Mataku sekilas melihat Olivia mengintip disalah satu pohon. Aku tidak memperdulikan keberadaan Olivia. Aku segera menghampiri Elgartara.

“ Mengapa kamu memintaku bertemu disini?” tanyaku to the point.

“ Apa maksud perkataanmu” kata Elgartara ambigu.

Pertanyaan Elgartara yang terdengar ambigu walaupun begitu otakku bisa menangkap jelas maksud perkataan Elgartara. Aku melirik ekspresi Elgartara datar dengan tatapan yang sulit diartikan. Aku menghelan nafas memandang danau yang sama.

“ Aku ingin kita akhiri pertunangan kita” kataku singkat.

“ Tidak bisa” kata Elgartara dingin.

“ Mengapa?” tanyaku

“ Karena dampak dari pembatalan pertunangan ini akan berakibat buruk bagi keluargaku dan keluargamu” kata Elgartara menjelaskan.

Aku memandang Elgartara yang membuat Elgartara menatapku. Aku melepaskan cincin pertunangan yang berada dijari manisku.

“ Aku tidak peduli” kataku sambil melempar cincin ke danau. Aku melihat Elgartara membulatkan kedua matanya. Aku menatapnya dengan ekspresi datar.

“ Pertunangan kita berakhir” kataku tegas.

Aku membalikan tubuhku berjalan menjauhi Elgartara. Aku melihat seluruh siswa melihat kami dengan tatapan terkejut. Aku melirik Olivia melalui ekor mataku. Olivia berekpresi bahagia dengan senyum kemenangan tercetak jelas diwajahnya. Aku mengendalikan diri untuk tidak merusak wajahnya.

BYURRR suara sesuatu masuk kedalam air. Aku memutar tubuhku untuk melihat benda apa yang jatuh. Aku melihat Elgartara masuk kedalam air yang tanpak mencari sesuatu. Aku menganggkat satu alisku memandang aneh sikap Elgartara. Aku mengembalikan tubuhku untuk pergi dari sana.

Aku berjalan menuju kekelas yang dihadang seorang anak osis yang meminta tolong untuk membantu memindahkan barang. Barang berada diruang penyimpanan dilantai 3. Barang itu akan dipindahkan ke laboratorium Ilmu pengetahuan alam II yang berada digedung sebelah.

Aku masuk kedalam ruangan penyimpanan yang berada dilantai 3. Aku melihat kotak yang tersusun rapi. ruangan yang penuh pencahayaan dengan dua jendela. Aku melihat banyak anak yang membawa kotak keluar dari ruang penyimpanan.

Aku mengambil kotak yang mudah diambil. Kotaknya tidak terlalu berat maupun ringan. Aku mempekirakan massa kotak sekitar 3 kg.

“ Apa ini untuk persiapan festival?” tanyaku kepada seseorang siswi.

“ Iya katanya ruangan itu akan dijadiakan tempat penyimpanan alat-alat panggung” kata siswi itu.

Kami pergi kegedung samping mengunakan lorong penghubung. Aku melihat Elgartara dari kejauhan sedang bersusah payah mencari cincin didalam danau. Aku merasa kasihan sekaligus senang melihatnya menderita.

“ Ini baru pembalasan awal dari apa yang sudah kamu lakukan pada Melisa” gumanku dingin.

Aku melanjutkan perjalanku yang dihadang cowok tampan dengan senyum cerah. Alex mengambil kotak yang berada ditanganku.

“ Orang sakit jangan mengangkat barang berat dulu” kata Alex.

“ Aku sudah sehat” kataku cemberut.

“ Sehat... kemarin saja bilang aku sedang sakit sekarang sok sok bilang sehat” kata Alex megejekku.

“Aouhh” rintihan Alex.

Aku kesal dengan Alex mencubit perut Alex. Alex merasa menjerit kesakitan dengan tatapan kasihan.

“ Rasakan salah siapa mengejekku” kataku dengan senyum kemenangan.

“ Aku takut deh... kalau gadis beruang marah” kata Alex pura-pura takut.

Aku melihat ekspresinya yang dibuat-buat membuatku mau muntah. Aku memandang Alex dengan tatapan datar.

“ Kalau kamu takut harusnya jangan membuatku marah” kataku tegas.

“ Sayangnya sudah menjadi hobiku” kata Alex santai.

“ Hobi...” kataku tak percaya.

Aku memandang Alex dengan mata membulat sempurna. Alex mengangguk dengan pasti.

“ Hobimu membuat orang marah memangnya kamu tidak pernah merasakan sebuah bogem” kataku mengacam.

“ Memangnya gadis beruang bisa memukul?” tanya Alex meragukan kemampuanku.

Alex mengalihkan pandangan dariku. Alex membuat gestur meremehkan dengan kedua bahu naik keatas.

“ Bukannya aku meragukan seorang perempuan tapi untuk ukuran Melisa anak orang kaya yang suka belanja yang tidak pernah masuk kegym. Bagaimana bisa memukul palingan menjabak itupun kalau punya tenaga?” kata Alex mengejek.

Tanganku mengepal kuat menahan keinginan untuk menonjok muka Alex. Aku menghirup nafas panjang kemudian mengelurkan secara berlahan. Aku melangkah lebih dekat dengan Alex.

“ Kamu ingin tahu pukulanku” kataku pelan yang diangguki Alex.

Aku memandang Alex dengan senyum licik. Kedua tanganku terngakat kearah perut. Aku mencubit Alex didaerah perut hingga Alex merenggek meminta berhenti.

“ Gadis beruang hentikan” kata Alex bergeliat seperti cacing.

“ Rasakan” kataku yang semangat mencubit Alex.

Ales terus bergerak mengeliat yang membuatku semangat mencubitnya. Kami tidak peduli menjadi bahan tontonan para murid. Mereka tertawa melihat tingkah kami seperti anak kecil. Anak kecil yang sedang bertarung merebutkan mainan.

“ MELISA” teriak seseorang dengan nada dingin.

Satu kata yang membuat kami menoleh kesumber suara. Aku berhenti mencubit Alex menatap Elgartara yang mendekati kami. Seragam Elgartara basah kuyup yang menampilkan perutnya yang six pack. Elgartara memandangku dengan tatapan tajam yang membunuh. Tangan Elgartara menarikku mendekat kepadanya.

“ Lepaskan” kataku berusaha melepaskan tangan kananku. Tangan Elgartara semakin erat memegang tanganku.

“ Lepaskan dia” kata Alex.

“ Diam kau” kata Elgartara menatap Alex tajam.

Alex dengan terpaksa menutup bibirnya. Elgartara memasangkan cincin kejari manisku secara paksa. Aku segera mengenggam tanganku agar cincinya tidak masuk. Sayangnya kekuatan pria jauh lebih kuat dibandingkan wanita. Aku menatap Elgartara tajam yang tidak mempan padanya.

“ Elgar...” pangil seseorang lembut.

Kami menoleh kearah suara menampilkan seseorang berwajah malaikat dengan tangan membawa handuk dan seragam. Olivia yang ditatap menundukkan kepalanya. Wajahnya menandakan malu yang sekilas menunjukan ekspresi kesal.

Aku menarik tanganku dari Elgartara yang membuatnya menolehku. Aku segera melepaskan cincin yang telah Elgartara temukan. Aku melihat amarah dan kecewa yang berasal dari sorot mata Elgartara.

“ Kamu tahu mengapa aku menyerah?” tanyaku lirih.

Aku memandang Elgartara dengan ekspresi terluka. Tanganku mengenggam cincin pertunangan.

“ Karena kesalahpaman diantara kita” kata Elgartara.

“ Salah paham” kata mengulangi perkataan Elgartara.

“ Kamu mengira kedekatanku dengan Olivia memiliki hubungan khusus” kata Elgartara menebak.

Aku tersenyum kecut sambil menundukkan kepala. Tangan kiriku mengambil ponsel dari sakuku. Aku mencari sesuatu didalam ponsel hitamku. Aku memperlihatkan foto-foto kebersamaan Elgartara dan Olivia yang tidak diketahui.

“ Selama ini aku diam karena aku yakin bahwa aku bisa mempertahankan hubungan kita namun aku sadar hatimu tidak pernah untukku” kataku lirih.

Sorot mataku memudar yang menujukkan keputusasaan.  Aku mengambil tangan kanan Elgartara. Aku memberikan cincin pertunangan kepada Elgartara.

“ Terimakasih atas semua perlakuanmu padaku” kataku datar.

Aku melangkah pergi meninggalkan Elgartara. Aku berhenti saat Elgartara menahan tanganku. Aku menoleh menatap datar kearah Elgartara yang menampilkan sorot kesedihan.

“ Lepaskan” kata dingin.

“ Aku mencintaimu” kata Elgartara bersungguh-sungguh.

Aku menarik sudut bibirku menyeringai membuat Elgartara waspada. Aku menyentak tangan Elgartara. Aku memandang Elgartara dengan angkuh.

“ Aku mencintaimu” kataku menirukan Elgartara.

“ Apa kamu pikir aku percaya?” tanyaku kepada Elgartara yang membuat Elgartara berwajah pucat.

“ Tidak” kataku tegas dengan nada dingin.

“ Tidak setelah kamu berselingkuh dengannya” kataku menunjuk Olivia.

Olivia terkejut saat aku menunjukan dengan tegas. Semua orang tidak percaya dengan apa yang didengar. Mereka saling berbisik membicarakan perkataanku. Aku melirik Alex yang berwajah datar seperti orang yang pasrah.

Aku berjalan mendekati Olivia yang sejak tadi diam menonton pertunjukkanku. Aku menatap Olivia dengan tatapan angkuh.

“ Aku pikir kamu adalah malaikat nyatanya kamu hanyalah seorang pelakor” kataku memandang

“ Olivia bukan seorang pelakor” kata seseorang yang pastinya fansnya Olivia.

Aku tersenyum mendengar pembelaan dari fans setianya. Aku senang melihat runtuhnya kepercayaan dari orang-orang yang mencintainya.

“ Kalau bukan pelakor lalu sebutan untuk orang yang diam-diam merayu seorang laki-laki yang sudah memiliki kekasih namanya apa?” tanyaku.

Aku menyebarkan sebuah vidio saat Olivia mengunakan trik murahan untuk dipeluk Elgartara. Selain itu ada foto-foto mengenai kedekatan Elgartara dan Olivia yang tidak diketahui publik.

Aku memandang Olivia dengan senyuman meremehkan. Olivia mengeluarkan air mata mendengar tuduhanku.

“ Tenang saja sekarang kau bisa mengambil bekasku” kataku kepada Olivia. Aku berjalan melewati Olivia. Sebelum itu aku membisikan sesuatu ditelinga Olivia.

“ Ini balasan sudah membuatku diskors” bisikku.

Aku melirik Olivia yang melotot menahan amarah. Tangannya mengepal kuat. Olivia menatapku tajam yang kubalas seringai kemenangan.

Aku berjalan kedepan dengan pandangan lurus kedepan. Mereka minggir memberikanku jalan. Sekilas aku mendengar kata kekecewaan kepada Olivia.

Aku berjalan menuju lantai atas sekolah. Ditangga sudah terdapat Cika dan kawan-kawan.

“ Giliran kalian” perintahku singkat.

“ Baik... ayo teman - teman kita bersenang-senang” kata Cika semangat.

Cika dan kawan-kawan turun kebawah dengan senyum kemenangan. Mereka sepertinya sangat bersemangat. Aku melanjutkan langkahku menuju lantai atas sekolah.

“ Kurasa hari ini akan menjadi hari terburukmu Olivia” gumanku dengan tatapan tajam.

Angin berhembus menerbangkan rambutku. Aku mendekati seseorang yang sudah menungguku. Aku meletakkan tanganku dipembatas.

“ Bagaimana Mel?” tanya Rini.

“ Semuanya sesuai rencana” kataku membalas pertanyaan Rini.

“ Itu bagus sekarang apa yang kita lakukan?” tanya Rini.

“ Aku sudah mengebarkan bendera perang menunggu Olivia menyerang” kataku.

“ Ini akan semakin menarik” kometar Rini.

“ Bagaimana dengan popularitas Olivia”

“ Seperti yang kita inginkan berlahan popularitasnya menurun. Banyak para fansnya yang berhenti mengikutinya. Mereka tidak terima dengan bukti ini. tapi aku sudah memberikan foto ini seratus persen valid” kata Rini menjelaskan yang kuangguki.

“ Rin... sembunyilah ada seseorang yang datang kemari” perintahku.

Rini yang mendengar perintahku segera bersembunyi. Aku membuat ekspresi sedih dengan air mata yang keluar sendiri. Aku menyatukan tanganku didadaku dengan nafas tak teratur.

Bunyi langkah kaki semakin mendekat. Sepatu berwarna hitam berhenti tepat disampingku.Tangannya yang besar mengusap punggungku. Berlahan tangannya memposisikan kepalaku didadanya.

“ Menangislah gadis beruang kalau itu membuatmu lega” kata Alex lirih.

Aku menghentikan tangisanku mendorong Alex berlahan. Aku menjauh satu langkah kebelakang. Aku mengusap air mataku dengan punggung tanganku yang dihentikan Alex.

Alex menghapus air mataku dengan kedua jempol tangannya. Alex menatapku sedu dengan senyuman tipis.

“ Aku mengerti perasaanmu saat ini” kata Alex.

“ Hatiku juga hancur mengetahui hubungan mereka sudah sejauh ini. Tidak heran jika kamu bisa masuk kerumah sakit” kata Alex sedih.

Aku tersenyum sangat tipis mendengar perkataan Alex. Aku senang Alex sudah masuk perangkapku. Aku tidak sabar membuat hari-hari Olivia seperti dineraka.

“ Sekarang apa yang harus aku lakukan” kataku frustasi.

Aku mengangkat kedua tangaku kemudian menjambak rambutku. Aku berekspresi seperti orang yang depresi. Air mata yang mengalir sebagai pelengkap sandiwara.

“ Lupakan Elgartara” kata Alex tegas.

“ Tapi... tapi... aku men..” kataku berhenti saat jati telunjuk Alex berada dibibir manisku.

“ Jangan katakan apapun dan mari kita mulai lembaran baru” kata Alex lembut.

“ Aku..” kataku terbata-bata.

“ Melisa kamu pasti bisa melakukan apapun yang kamu inginkan” kata Alex memberikan dukungan.

“ Apa yang aku inginkan” kataku lirih.

“ Iya sekarang katakan apa yang ingin kamu lakukan namun tidak bisa” kata Alex lembut.

“ Emm... aku ingin makan es krim” kataku lirih dengan wajah malu-malu.

Tanganku kebelakang menyembunyikan kode untuk Rini mengikuti Olivia. Kaki kananku bergerak membuat sebuah tanda untuk Rini. Aku bertingkah seperti gadis pemalu didepan orang yang disukainya.

“ Kalau begitu ayo aku tahu cafe es krim yang enak didekat sini” kata Alex menawarkan yang kuangguki.

Kami berjalan meninggalkan lantai atas sekolah bersama meninggalkan tanda untuk Rini. Aku melirik kebelakang melihat Rini yang sedang memahami perintahku. Aku memercayakan Rini sebagai mata-mataku saat Olivia berada disekolah.

Kami berjalan keluar area sekolah menuju kafe yang berada tidak jauh dari sekolah. Kakiku memasukki sebuah kafe yang menunjukkan berbagai menu es krim Aku mendekati kasir untuk memilih menu.

“ Pesanannya mbak dan mas” kata pelayan sopan.

“ Aku ingin es krim rasa strowberry dan mint” kataku kepada kasir.

“ Saya es krim chocolate” kata Alex singkat.

Kami menunggu tidak terlalu lama hingga es cream pesanan jadi. Aku mengambil es krim pesananku dengan kedua tangan. Aku tersenyum melihat cantiknya perpaduan warna merah dan putih.

Kami berjalan menuju tempat duduk untuk menikmati es krim. Aku merasakan manisnya strawberry dengan segarnya mint membuat lidahku meleleh. Aku merasa menjadi orang yang paing bahagia didunia ini.

“ Gadis beruang kamu makan seperti anak lima tahun” kata Alex mengejek.

Aku menoleh Alex dengan pelototan tajam membuat Alex terkekeh. Tangan Alex terangkat mendarat dibibirku. Alex mengusap bibirku dengan pelan.

Wajah Alex sangat dekat jadi aku memperhatikan semuanya. Mulai dari wajah yang mulus, bibir tipis, hidung mancung dan bulu mata lentik ‘benar-benar cogans on top’.

Alex berhenti mengusap bibirku kemudian mata kami bertemu. Kami saling terpana pada sorot mata yang dipancarkan yang mengandung makna. Aku melihat banyak orang ang melihat kami. Aku segera menjauhkan diri dari Alex. Gerakanku membuat Alex tersadar sehingga menjauhkan tangannya.

Wajahku memerah dengan detak jatung berdetak kencang. Aku tidak kuat berhadapan dengan cowok ganteng. Aku bisa pingsan ditempat bila lama-lama bersama cowok ganteng. Aku ingin menjerit sekuat tenaga mengeluarkan sifat fangirl.

‘KYAAAAAA ALEX GANTENG BANGETTT.... AKU GAK KUAT’ Teriakku dalam hati.

Aku berdehem mengembalikan kesadaran yang menghilang sekejap. Aku menghelan nafas ‘efek kelamaan jomblo membuatku semakin menjadi’.

“ Terimakasih” kataku malu-malu.

Alex menganguk dengan tangannya yang memakan es krim. Kami menikmati es krim tampa kata sampai Alex membuka mulut.

“ Bagaimana rasanya es krimnya?” tanya Alex.

“ Hmmm... enak banget.... perpaduan rasanya sangat pas” kataku memuji es cream yang kumakan.

“ Syukurlah kalau kamu suka

sebenarnya aku belum pernah kemari tapi temanku merekomendasikan” kata Alex

menjelaskan.

“ Temanmu memiliki banyak

pengetahuan dibidang kuliner ya?” tanyaku penasaran.

“ Kurang lebih juga begitu dia penyuka makanan” kata Alex menginggat temannya.

“ Kapan-kapan kenalkan kepadaku” kataku yang membuat Alex terdiam.

Aku memandang bertanya kearah Alex yang mendadak menjadi pendiam. Alex mengangkat sudut bibirnya untuk tersenyum dengan terpaksa.

“ Iya” kata Alex lirih.

Aku binggung dengan reaksi Alex ‘Apa omonganku salah?’pikirku. Aku mengalihakan perhatianku kearah sekolah. Aku melihat ada beberapa anak yang mengendok tas mereka.

“ Kurasa kita harus kembali ke sekolah” kataku kepada Alex.

Alex menoleh kearah yang sama denganku. Alex mengangguk membenarkan perkataanku.

“ Sepertinya sudah pada pulang” kata Alex berdiri.

“ Ayo gadis beruang” kata Alex mengulurkan tangan.

Aku tersenyum mengangkat tanganku keatas tangan Alex. Setelah mendekat aku menepuk tangan Alex seperti orang yang melakukan tos. Aku mendahului Alex membuat Alex menghelan nafas. Alex menyusulku untuk berjalan disampingku.

“ Gadis beruang sepertinya kamu sekarang bukan tuan putri” kata Alex memulai percakapan.

“ Apa katamu” kataku judes.

“ Kalau tuan putri itu lembut bukan bar-bar sepertimu” kata Alex mengejek.

“ Terimakasih atas pujiannya wahai pangeran” kataku sedikit menundukkan badan membuat Alex tertawa.

“ BWAHAAHAAHAA” tawa Alex puas.

Aku menatap Alex datar kearah Alex yang masih tertawa. Kami berjalan masuk kearea sekolah dengan saling mengejek satu sama lain.

Aku mengambil tas hitamku dikelas. Aku berjalan kearah parkiran melihat dari pertunjukan dari jauh. Aku tersenyum melihat Cika yang begitu menikmati membully Olivia didepan teman-temannya.

Sekarang banyak siswa yang semua berpihak pada Olivia berubah seketika menjadi haters Olivia. Banyak orang yang terhasut pada provokasi Cika dan Rini.

“ Olivia kamu memang pintar berekting untuk merebut hati manusia tapi sayangnya aku mendapatkan dua ratu gosip” gumanku menyeringai.

Aku memasukki mobil merahku dengan senyum kesenangan. DRETT sebuah pesan masuk kedalam ponselku. Aku tersenyum membaca ajakan kak Rayhan untuk mempersiapkan ulang tahun yang diadakan besok.

Aku membuka kalender senyumku tercetak jelas. Besok hari libur nasional aku segera membalas pesan kak Rayhan. Aku mengatakan akan pergi kerumahnya setelah selesai pemotretan. Jadwal pemotretanku pada pagi hari pastinya tidak membutuhkan waktu lama.

Aku keluar dari sekolah untuk mengistirahatkan tubuhku. Bekas tembakan masih terasa nyeri walau tidak separah kemarin. Selain itu pada malam hari tubuh ini digunakan Melisa untuk berlatih.

***

1
Ni Ketut Patmiari
Luar biasa
Hikam Sairi
mampir
Sulati Cus
bagus walaupun ada typo tp ak suka, sukses buat othor
Inonk_ordinary
wooooowww syukaaaaaa
Arshyla_17
Seru bgt deh... Semoga Slalu semangt ya author😊
est
suka
est
😭 aku sedih thor melisa ma cogan yg baik aja jgn ma di gara2 apa kek
Silvya Devy
Karyamu luarbiasa Thor. 😘😘😘😘
Fikayra
Sumpah ceritanya suka bikin nyesek tp aku suka banget alurnya. . aku bacanya smpe maraton 2hr dari awal sampe selesai sumpah banjir air mata, melisa bener2 wanita tangguh bahkan dy bisa jungkir balikin kehidupan elgartara dari yg gk paham akan kisah hidup melisa smpe sebuah kebenaran membuat penyesalan dihidup elgartara. .perjuangan elgartara dan melisa bener2 nguras emosi dan banjir air mata. .👍🏻👍🏻👍🏻
Hasan
maaf thor bukannya sewaktu sebelum menempati tubuh melisa tuh jiwa lisa lg mengambil s2 ya jd kok setelah menempati tubuh melisa yg seharusnya msh sekolah pinternya jd berkurang jauh ya? 🤔🤔
Ida Blado
org sakit hati yg stres itulah reyhan,,,kasihan kmu
Ida Blado
q pikir bkl bisa nampar reyhan dgn fakta,,,, ternyata mlh nangis bombay,,cemen
Ida Blado
lalu apa gunanya vidio yg tersebar itu kalau gk bisa jdi bujti,,, di sini keprofesionalnya si penulis di pertanyakan
Ida Blado
sukurin loe El,,, bahagia gue loe sakit hati 😂
Ida Blado
di sini mulai aneh,bagaimana bisa org udah mati masih menempati tubuhnya.melisa oke krn dia transmigrasi,,, lah melisa yg asli kn udah mati,kok masih nempatin tubuhnya,,,konyol
Ida Blado
cerita ini sebenernya bagus andai alurnya ttp stabil,,,,namun di part2 berikutnya sgt di sayangkan,dimana melisa yg di fitnah dn gk bisa m^nunjukan bukti alias banyak drama.terlebih jdi buronan dn perusahaan bpk'a bermasalah,,, nah di situpah alurnya amburadul jauh dri ekspektasi.
Eka Maulidia
p
Sri Rahayu
seruuu.....
Yaya Cici
seneng nya
Siti Nurain
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!