NovelToon NovelToon
What We Were Never Given

What We Were Never Given

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Oryelle

Nareya, anak sulung bermimpi meniti karir di dunia fashion, harus merelakannya demi menjadi tulang punggung keluarga. Terlahir untuk berjuang sejak dini membuat dia tidak tertarik soal pernikahan.

Tidak menikah, berkecukupan, dan bisa membahagiakan keluarganya adalah keinginan sederhana Nareya. Tapi siapa sangka, dia justru menyetujui perjanjian pernikahan dengan mantan Bosnya?

Kala terlahir berdarah campuran membuatnya dicap sebagai noda. Demi pengakuan para tetua, dia menyeret Nareya dalam sebuah perjanjian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Temani Minum Kopi

"Pesan tiga americano double shot–untuk disini. Tolong sampaikan supaya Nareya yang mengantar ke meja saya” ucap Kala kepada barista di caffe yang tak jauh dari kantor.

“Oke Baik Kak” jawab barista cafe

Barista itu dengan cekatan membuatkan pesanan Kala. 

“Nareya, tolong bawakan pesanan ini dulu, nomor meja 20 ya, di lantai dua” ucap barista itu ke Nareya yang masih berlatih membuat art latte di belakang. 

“Ah, oke.”

***

“Niat banget lo ngasih pesangon langsung. Pake segala ajak gue.” ucap Ardito.

“Lo duduk sebelah gue!” perintah Kala, Ardito langsung menurutinya. 

Nareya dengan memegang nampang dengan tiga kopi diatasnya. Rambutnya dikepang rapi ke belakang. Apron coklat, kemeja hitam, dan celana jeans yang dia kenakan tampak lebih santai dibanding tampilan dia saat di kantor. 

Wajah Nareya sempat tidak bisa menutupi rasa terkejut nya saat melihat Kala dan asistennya di meja 20. Bagaimana dia bisa tau? Sial. 

“Americano double shot, tiga. Ini pesanannya.” ucap Nareya, tanpa senyum, tanpa basa basi, hanya memastikan sudah meletakan cangkir kopi dengan benar. 

‘gue bukan lagi bawahan dia’

“Saya mau untuk ditemani minum. Cafe ini ada layanan untuk mendukung kesehatan mental para pekerja, betul?” Tanya Kala. 

‘Shit’

“Betul, kami ada layanan ‘Temani Minum Kopi’ sebagai bentuk kepedulian kami terhadap para pekerja. Pramusaji akan duduk menemani yang sifatnya pasif, jadi tidak ada kewajiban untuk berbincang. Jika sudah siap bisa saya aturkan.” jawab Nareya dengan intonasi profesional yang netral. 

Senyum tampak di kedua orang dihadapanya itu. Ah, meledek sekali. 

Ardito tidak tahan ikut drama mereka, “Iya kak, sudah siap saya” jawabnya cepat. Kala melirik tajam kearahnya. 

“Kenapa tidak ambil sendiri uang pesangon kamu?” tanya Kala. 

Nareya hanya menatap datar, duduk tenang tanpa berniat menjawab apapun. 

Ardito langsung meletakan amplop coklat diatas meja. 

“Ini ya, lengkap dengan surat-surat” ucap Ardito. 

“Pak Kadir per hari ini sudah diproses secara hukum…” ucapan Kala terhenti. 

Salah satu barista berdiri di samping meja dengan wajah pucat pasi. 

“Ada apa?” tanya Kala. 

“Mohon maaf mengganggu. Rombongan ibu-ibu berbuat keributan di luar, ingin bertemu rekan kami ini.” ucap barista itu

“Mohon diperkenankan untuk menyelesaikan urusan rekan kami terlebih dahulu” 

Tiba-tiba suara gaduh di lantai bawah menghentikan mereka. Semua pengunjung melihat ke sumber kegaduhan dari jendela, termasuk mereka.

“Penipu! Kembalikan uang kami!” ucap salah satu dari mereka. 

“Orang-orang kami sudah mengamankan ibu dan bapak kamu. Kamu berjanji mengganti uang kami, sekarang mana?! Kami butuh sekarang juga!” seru yang lain

“Iya kalau tidak ibu kamu kami perkarakan ke polisi!” sahut lainya. 

Akibat Ibu-ibu arisan teman Sundari bersuara keras, semua orang menatap Nareya. 

“Berapa semua totalnya?” tanya Kala. 

“Tujuh puluh lima juta. Pekerjaanya saja di cafe begini. Mana bisa nyicil bayar?!”jawabnya lagi keras. 

Kala menoleh ke Ardito. Tas hitam kecil di taruhnya di atas meja. Lalu Kala membuka di hadapan mereka. 

“Ini seratus juta, untuk menggantikan kerugian ibu semua. Lebihnya anggap saja sebagai permohonan maaf. Jadi mohon juga ibu-ibu minta maaf ke pengunjung dan pihak cafe sudah mengganggu.”

“Maaf semuanya, kami sudah mengganggu” ucap ibu-ibu itu. Tanpa basa basi lagi diambilnya tas hitam itu. 

“Terima kasih ya Nareya, jangan diulangi lagi, sampaikan ke Bu Sundari.”

Nareya tidak mampu mengucap sepatah kata pun. Dia paling anti, dipermalukan di depan orang banyak. Tapi kali ini dia benar-benar hanya diam

Ardito hanya menyeringai ke arah Kala. Terlalu banyak hal yang dia ketahui. Sehingga apa yang Kala lakukan disana justru terlihat mengerikan dibanding mengagumkan. 

Manager cafe segera mengkondisikan agar semua pengunjung tenang. Juga membawa rombongan ibu-ibu itu keluar. 

“Mau kemana kamu?” tanya Kala. 

Nareya hampir ikut turun ke bawah menemui managernya. Seketika menoleh dengan tatapan kosong. 

Sial, hutang budi dengan manusia itu. 

“Saya janji, pansti saya ganti. Kasih saya waktu untuk mencicil semua.” ucap Nareya. 

“Ibu-ibu tadi saja ragu sama kamu. Apalagi saya?” ucap Kala. 

“Iya, lalu bagaimana?” tanya Nareya. 

“Pertama, selesaikan pekerjaanmu. Temani saya minum kopi” 

“Ah, iya maaf” Nareya kembali duduk. 

“Ceritakan ke saya apa yang baru saja terjadi” perintah Kala. 

“Pertama terima kasih sudah dibantu. Tapi saya akan ganti walau menyicil. Kedua, bapak tidak bisa memerintah saya lagi dan saya tetap berhak menolak untuk menjelaskan apapun.”

“Woahhh!!!” seru Ardito. Tepuk tangan ringan menyertai seruanya. 

“Saya butuh uang itu segera kembali dalam waktu tiga hari.” ucap Kala tenang. 

“Baiklah.” ucap Nareya. 

Sudah cukup ditekan hari ini, dia memutuskan untuk memikirkan solusi lain dalam waktu tiga hari itu. 

“Tunggu saya selesai dengan kopi ini. Ini bukan soal hutang, tapi karena saya sudah membayar kopi ini. Dan saya akan menilai cafe ini berdasarkan pelayanan yang kamu berikan.” balas Kala. 

Ardito menahan tawanya “Pffth”

Tidak ada satupun bersuara lagi. Hanya menghabiskan kopi masing-masing perlahan. Nareya juga tidak ada pilihan untuk menghabiskan kopinya setelah digertak oleh Kala. 

Kala tanpa keraguan menatap Nareya dalam diamnya. Nareya pun tetap duduk tegak dengan pandangan ke cangkir kopi di depanya.

“Kopi bapak sudah habis. Saya harus segera ke pekerjaan saya lainya. Terima kasih sekali lagi” ucap Nareya. Dia segera meninggalkan Kala, tanpa menunggu jawaban. 

“Gilak lo parah sejauh mana rencana lo?”

“Sejauh mana lo pernah meragukan kemampuan gue mendapat informasi.”

“Oke gue akui lo parah. Lo sampai siapkan ibu-ibu itu?”

“Tidak sepenuhnya betul. Terkadang kita hanya perlu memanfaatkan hal yang sudah terjadi.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!