NovelToon NovelToon
SERABI LEMPIT

SERABI LEMPIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan seorang gadis cantik baru lulus dan sedang mencari kerja dan menemukan masalah karena orangtuanya berhutang dengan lintah darat namun ada bos muda yang membantunya namun bos itu jatuh hati kepadanya gadis cantik itu bernama Mira dan bos besar grup Nusantara itu Romano Kusuma dan ia menginginkan gadis cantik itu dan mengejaran dimulai ...... lanjutkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 18

Satu tahun kemudian, bukit di pinggiran Bogor itu telah berubah menjadi hamparan hijau yang produktif. Tidak ada lagi teknologi tinggi atau sensor genetik; yang ada hanyalah aroma kopi yang baru disangrai dan suara gemericik air dari mata air alami.

Mira berdiri di antara barisan pohon kopi, mengenakan topi caping dan sepatu bot yang berlumuran tanah. Ia sedang memangkas dahan yang layu saat Romano muncul dari balik gudang pengolahan, membawa sebuah kotak kayu berisi sampel biji kopi yang sudah kering sempurna.

"Pengiriman pertama untuk koperasi Sektor Tujuh sudah siap," ujar Romano. Ia tidak lagi terlihat seperti CEO yang dingin; kulitnya lebih gelap karena sinar matahari, dan otot-pundaknya tampak lebih rileks. "Ayahmu menelepon tadi pagi. Katanya, kedai kopi 'Rahayu' di pasar sedang ramai dikunjungi orang dari luar wilayah. Mereka tidak percaya kopi seenak ini datang dari kebun kecil kita."

Mira menyeka keringat di keningnya, menatap karung-karung kopi yang siap diangkut. "Mereka bukan hanya membeli kopi, Romano. Mereka membeli cerita tentang tanah yang sudah pulih."

Namun, saat mereka sedang duduk di teras rumah kayu menikmati hasil panen, sebuah mobil hitam legam berhenti di kaki bukit. Seorang pria dengan setelan rapi turun, membawa sebuah koper perak yang tampak sangat kontras dengan suasana pedesaan di sana.

Mira dan Romano saling berpandangan. Refleks lama mereka seketika aktif. Romano berdiri lebih dulu, menaruh cangkirnya dengan gerakan waspada.

"Siapa pun Anda, kami tidak sedang menerima tamu korporat," suara Romano terdengar tegas.

Pria itu mendekat, namun ia tidak menunjukkan tanda-tanda permusuhan. Ia meletakkan koper itu di meja kayu teras dan membukanya. Di dalamnya bukan uang, bukan juga senjata. Hanya ada sebuah dokumen resmi dengan segel negara dan sebuah medali perak tua.

"Nama saya utusan dari Dewan Etika Sains Nasional," ujar pria itu dengan nada hormat. "Kami telah meninjau seluruh data yang Anda unggah tahun lalu. Kami tidak datang untuk menangkap Anda, atau meminta Anda kembali ke Nusantara Group."

Mira menaikkan sebelah alisnya. "Lalu?"

"Dunia sedang mengalami krisis kepercayaan terhadap rekayasa genetika. Kasus Nusantara Group hampir menghancurkan moralitas sains global. Kami di sini untuk meminta satu hal: Kesaksian Anda. Bukan sebagai subjek Alpha, tapi sebagai manusia yang berhasil menetralkan sistem tersebut."

Mira menatap medali perak itu, lalu menatap tangannya yang kasar karena bekerja di kebun. Ia teringat betapa kerasnya ia berjuang untuk menjadi "normal".

"Kalian ingin aku menjadi wajah dari sebuah regulasi baru?" tanya Mira sinis.

"Kami ingin Anda menunjukkan bahwa kekuatan terbesar bukan terletak pada modifikasi DNA, melainkan pada kemauan untuk menolaknya," jawab pria itu. "Dunia butuh tahu bahwa Mira Rahayu memilih menjadi petani kopi daripada menjadi dewa."

Romano menatap Mira, memberikan ruang bagi istrinya untuk memutuskan. Ia tahu Mira benci kembali ke pusat perhatian, namun ia juga tahu Mira tidak pernah lari dari tanggung jawab moral.

Mira mengambil napas panjang, menghirup aroma tanah dan kopi yang menenangkan. Ia kemudian menatap pria itu dengan senyum miring yang khas.

"Saya akan memberikan kesaksian saya. Tapi dengan satu syarat," kata Mira tegas.

"Apa itu?"

"Kalian harus melegalkan seluruh wilayah Sektor Tujuh sebagai zona bebas intervensi korporasi selamanya. Jadikan itu preseden hukum bahwa manusia memiliki hak atas ketidaktahuan genetik mereka. Jika kalian setuju, saya akan bicara."

Pria itu mengangguk pelan, menyadari bahwa meskipun Mira sudah meletakkan mahkotanya, ia tetaplah seorang ratu yang tahu cara bernegosiasi.

Setelah utusan itu pergi, Romano merangkul bahu Mira. "Sepertinya masa pensiun tenang kita akan sedikit terganggu oleh perjalanan ke gedung parlemen."

"Hanya sebentar, Romano," Mira menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. "Setelah itu, kita kembali ke sini. Aku masih harus memastikan panen bulan depan tidak terganggu hama."

Di bawah langit Bogor yang mulai meredup, Mira menyadari bahwa perjuangannya untuk keadilan tidak akan pernah benar-benar selesai. Ia telah memenangkan kebebasannya, dan kini ia akan menggunakannya untuk memastikan orang lain tidak perlu mengalami apa yang ia lalui.

Gadis dari Sektor Tujuh itu telah melampaui takdir yang dituliskan di laboratorium, menciptakan takdirnya sendiri di atas tanah yang jujur.

Kesaksian itu berlangsung di sebuah aula besar yang hening, di hadapan para ilmuwan, politisi, dan kamera yang menyiarkan setiap kata ke seluruh penjuru dunia. Mira tidak mengenakan perhiasan mahal atau setelan desainer; ia berdiri di sana dengan kemeja flanel sederhana, tangannya yang masih memiliki bekas luka kerja di kebun memegang mikrofon dengan mantap.

"Kalian menyebut saya subjek Alpha," suara Mira terdengar tenang namun bergetar dengan kekuatan yang tak terbantahkan. "Kalian melihat saya sebagai puncak dari sebuah pencapaian teknologi. Tapi saya berdiri di sini untuk memberi tahu Anda bahwa saat-saat paling berharga dalam hidup saya bukanlah saat saya memiliki kekuatan fisik luar biasa atau kecerdasan yang dimanipulasi. Saat paling berharga adalah ketika saya pertama kali merasakan lelah yang jujur setelah mencangkul tanah."

Ia menjeda, menatap satu per satu wajah di depannya. "Eksperimen Nusantara Group bukan tentang kemajuan manusia. Itu tentang ketakutan. Ketakutan akan kematian, ketakutan akan kegagalan, dan ketakutan akan ketidakberdayaan. Mereka mencoba mencuri hak kita untuk menjadi cacat, untuk menjadi lemah, dan untuk menjadi manusia seutuhnya."

Di barisan depan, Romano menonton dengan bangga. Ia melihat wanita yang dicintainya itu meruntuhkan sisa-sisa ambisi gelap ayahnya dengan sebuah kejujuran yang telanjang.

Setelah sidang itu berakhir, dunia berubah. Sebuah undang-undang global baru yang dikenal sebagai Rahayu Accord disahkan, melarang segala bentuk modifikasi genetik rahasia dan memberikan hak kepada setiap individu untuk mengetahui sejarah biologis mereka secara transparan. Sektor Tujuh diakui secara internasional sebagai "Zona Warisan Kemanusiaan", sebuah tempat di mana kehidupan tidak bisa dibeli atau diprogram.

Mira dan Romano kembali ke bukit mereka di Bogor malam itu juga. Mereka tidak menunggu pesta perayaan atau wawancara lanjutan. Bagi mereka, tugas itu sudah selesai.

Bertahun-tahun kemudian, kebun kopi itu telah menjadi tempat perlindungan bagi para mantan ilmuwan yang ingin menebus dosa masa lalu mereka dengan meneliti cara-cara bertani yang berkelanjutan. Anak-anak dari Sektor Tujuh sering datang untuk berkemah di sana, belajar tentang sejarah tanpa harus merasa terbebani olehnya.

Suatu sore, Mira duduk di bangku kayu favoritnya, melihat matahari terbenam bersama seorang cucu perempuan yang bertanya tentang medali perak yang tersimpan di dalam laci meja riasnya.

"Itu hanya pengingat, Sayang," bisik Mira sambil mengusap rambut anak kecil itu.

"Pengingat tentang apa, Nek?"

Mira menatap ke arah lembah, di mana Romano terlihat sedang berjalan mendaki bukit sambil membawa keranjang buah, melambaikan tangan ke arah mereka.

"Pengingat bahwa tidak peduli seberapa keras orang mencoba mengubahmu menjadi sesuatu yang lain, hatimu akan selalu tahu jalan untuk pulang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!