Rhea Celeste hanyalah mahasiswi jurusan pendidikan biasa yang malas, sampai sebuah panci listrik meledak dan merenggut nyawanya.
Saat membuka mata, ia terbangun di dunia fantasi sebagai Rhea Celeste lain.
Dia adalah seorang archmage berbakat dan guru sihir putra mahkota Kerajaan Sihir. Tanpa ingatan pemilik tubuh asli, Rhea harus berpura-pura kehilangan ingatan dan mencoba melanjutkan kariernya sebagai guru putra mahkota dengan baik untuk hidup damai.
Namun, kehidupan damainya hanyalah angan-angan setelah mengetahui identitas tersembunyi pemilik tubuh aslinya yang lain.
“Rhea-ku, sayang... Kenapa kau melupakanku? Kekasihmu?”
Seorang pria tampan dari kekaisaran suci mengaku sebagai kekasihnya dan menangis.
Sedangkan di sisi lain, muridnya yang keras kepala, merengek, mengajaknya tinggal.
“Guru! Ayo pulang! Buatkan aku kue ulang tahun!”
Lebih baik tidak ikut campur, atau kedua kekaisaran akan musnah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengulik lebih dalam semuanya
Suatu kali, Rhea merasa frustrasi karena tidak mendapat ingatan pemilik tubuh aslinya ketika pertama kali datang ke dunia ini.
Kali ini, ingatan yang datang tiba-tiba tanpa diduga membuat Rhea diam-diam bersyukur bahwa ingatan itu tidak muncul di awal kedatangannya.
Rhea menunduk untuk melihat buku-buku jarinya yang pucat gemetar hanya dengan bicara dengan Azz dan Chorna sebelumnya.
Ini adalah efek dari depresi yang dialami Rhea Celeste asli setelah pelecehan yang tak terhitung jumlahnya yang pernah ia alami dalam hidupnya.
Dia sangat waspada terhadap orang baru, namun sangat jujur ketika berada di dekat seseorang yang dikenalnya.
Rhea tertawa tak percaya.
Orang-orang kerajaan ini—Azz, Raja Norman, dan para pelayan, kemungkinan tidak tahu fakta bahwa sebelum kejadian pelecehan tak terduga dari Menteri Keuangan Ronan Jewell, Rhea Celeste sudah mengalaminya berkali-kali sebelumnya.
Kejadian terakhir hanyalah pemicu perasaannya yang selama ini terpendam, seperti air bah yang tertahan oleh bendungan kayu rapuh.
“Aku tidak menyangka kau sudah kehilangan mahkotamu di umur enam tahun. Aku tak tahu harus berkata apa...” gumam Rhea seolah berbicara pada jiwa pemilik aslinya yang mungkin sudah pergi.
Panti Asuhan Santo Celestius, tempat Rhea dan Lucy tumbuh di waktu kecil, ternyata bukanlah tempat amal untuk merawat anak yatim piatu seperti yang terlihat di permukaan.
Tempat itu ternyata hanyalah tempat hiburan bangsawan untuk memuaskan hasrat mereka pada makhluk-makhluk suci yang memiliki nama lain: anak-anak.
Sebagai anak yang sudah berada di sana sedari bayi, tentu Rhea sudah mendapat pesanan dari bangsawan. Apalagi dia memiliki rambut putih keperakan. Bangsawan tentu tahu hanya pendeta, paus, dan keturunan raja yang dapat memiliki warna rambut seperti itu. Dan entah gadis itu merupakan anak haram yang ditinggalkan atau hanya kebetulan memiliki rambut seperti itu, para bangsawan tidak memiliki rasa takut.
Setelah melepas mahkotanya pada umur enam tahun, Rhea yang polos kerap kali melayani bangsawan dengan niatan buruk karena tak bisa membantah perkataan pengasuh untuk menghormati dermawan mereka.
Pada akhirnya, dia terlepas dari jeratan melilit itu saat kakak perempuan terdekatnya, Lucy, mencapai usia dewasa dan membawanya keluar dari panti asuhan.
Karena sifat Lucy yang tomboy, dia tidak pernah dilirik oleh para bangsawan, sehingga kemungkinan dia tidak tahu keburukan tempatnya dibesarkan itu.
Lucy mungkin tidak tahu keputusan impulsifnya membawa Rhea keluar kali itu membuat hidup gadis tersebut sedikit lebih baik.
Begitu Rhea mengembangkan bakat sihirnya dan menggunakan mantra ilusi pertamanya untuk mengubah penampilan Lucy, beberapa bulan kemudian Lucy meninggalkannya ke negeri seberang untuk mengikuti seorang ksatria.
Di tengah kesendiriannya, dia bertemu William, pria berambut pirang yang berpenampilan lembut dan suka berkeliling untuk mencari hiburan.
Dan dari ingatannya, William adalah pria pertama yang membuat Rhea Celeste nyaman, tertawa dan mampu membuatnya membuka diri sepenuhnya.
Mengingat nama itu, Rhea turun dari tempat tidurnya dan mencari surat di meja riasnya.
Namun, pandangannya secara tidak sengaja melihat pantulan dirinya sendiri di cermin.
Keindahan itu memiliki rambut putih keperakan yang berkilau, terurai lembut hingga punggungnya. Sekilas, dalam ilusinya dia melihat tangan seorang pria berwajah buram menarik keras rambutnya dan berteriak ke arahnya dengan kata-kata kotor.
Mata biru Rhea sedikit bergetar di cermin, bibirnya mengerut, dan kulitnya langsung pucat. Tangannya secara refleks memukul cermin yang memantulkan sosoknya dengan keras.
Suara keras cermin pecah bergema di kamarnya yang sunyi.
Rhea menarik tangannya yang sedikit berdarah karena serpihan kaca, bernapas cepat.
Menemukan sisi meja untuk dijadikan pegangan, ia menutup matanya sambil menenangkan diri.
“Rasanya tidak enak, ini sangat mengganggu,” gumamnya pada dirinya sendiri.
Rhea menyembuhkan tangannya yang berdarah dan mengambil tumpukan surat yang tertata rapi di meja.
Saat ia hendak kembali ke tempat tidurnya, pandangannya menyapu cermin yang sudah dia rusak. Pecahan kaca berserakan di lantai.
Ia berhenti dan menunduk untuk memungut potongan-potongan itu sendiri.
Sambil menyelesaikan pekerjaannya, Rhea merenung, memikirkan kondisinya saat ini dan memutar otak untuk menemukan solusi.
Kejadian ini memperlihatkan fakta bahwa ingatannya dan ingatan Rhea Celeste asli sinkron dan sedikit memengaruhi tubuhnya secara tidak sadar.
Sekalipun Rhea bersikap acuh seolah tidak terpengaruh, tubuhnya yang lebih akrab dengan ingatan itu sudah mengeluarkan respons aktif terlebih dahulu.
Gemetar tidak nyaman, tatapan kosong, bersikap jauh pada orang di sekitarnya—jika itu saja, Rhea sebenarnya tidak mempersalahkannya.
Namun berbahaya jika sampai ia mengeluarkan sihirnya tanpa sadar untuk melukai seseorang.
Karena itu ia perlu membuat batasan yang jelas antara dirinya dan tubuh ini.
Ia harus menghujani pikirannya bahwa dia dan pemilik tubuh ini, meskipun sama-sama bernama Rhea Celeste, bukanlah orang yang sama.
Saat memungut serpihan kaca, Rhea menemukan buku tulis kosong dan sebuah pena yang tampak baru.
Mengambilnya dan menaruh tumpukan surat di atas buku itu, Rhea hendak menulis sambil berbaring ketika pintu kamarnya terbuka cukup kuat dari luar.
“Nyonya Ce-Celeste!”
John muncul di ambang pintu bersama Lily di belakangnya. Keduanya memanggil namanya dengan raut khawatir.
“Ka-kami mendengar suara kaca pecah dari dalam...”
Lily maju lebih dahulu sebelum menelusuri sudut kamar. Tatapannya berhenti pada tumpukan serpihan kaca pecah yang tersusun rapi di atas meja, seolah seseorang menyusunnya dengan tangan satu per satu.
John juga menemukan pecahan kaca dan hilangnya cermin di meja rias itu.
Dia bertanya dengan khawatir, “Nyo-nyonya Celeste, Anda tidak terluka, kan? A-apa saya panggilkan dokter?”
Rhea menjatuhkan buku di tangannya di atas selimut. Tanpa beranjak dari tempatnya, ia menjawab,
“Bisakah kalian membersihkan pecahan kaca itu? Aku tidak sengaja memecahkannya. Tidak ada yang terluka,” katanya tenang.
Namun tidak seperti biasanya, matanya tidak mau menatap wajah John.
Rhea mencoba mendongak untuk mengamati ekspresi john dan Lily, tetapi tubuhnya menolak keras dan bersikeras hanya melihat bagian bawah dan menghindar kontak mata.
Rasa frustasi muncul di hatinya.
Ia berhasil mengintip sebentar sebelum pandangannya jatuh ke tempat lain secara otomatis.
Ia menghela napas, untungnya John dan Lily tampak tidak menyadari keanehan dirinya dan mulai mengeluh tentang peristiwa semalam.
“Putra mahkota pasti mengira hanya dia yang mampu merawat Nyonya Celeste hingga mengusir kita dengan mata menusuk kemarin!"
“Benar, kami sebenarnya khawatir, tapi putra mahkota melarang semua orang untuk masuk! Untungnya Nyonya sudah sadar, kalau tidak, putra mahkota sendiri yang akan jatuh sakit karena kelelahan!"
Tanpa melihat ekspresinya langsung, Rhea merasakan betapa frustasi dan tak berdayanya mereka.
Rhea menimpali dengan hangat.“Putra mahkota memang bersikap tidak masuk akal kali ini," ia menambahkan sambil menghela napas, “Lain kali katakan saja pada yang mulia raja."
Dengusan kesal keluar dari Lily, “Itu tidak berhasil." timpalnya. “Tadi raja sudah memanggilnya tapi dia tidak bersikap patuh, tidak mau menemuinya."
“Lain kali aku harus memarahinya," balas Rhea dengan tak berdaya. Pura-pura berjanji.
Putra mahkota memang anak yang mempunyai tekat dan pemikiran kuatnya sendiri. Rhea tak yakin bisa membuatnya patuh mendengar nasihatnya apabila sang raja, sebagai ayahnya sendiri berhasil ia tutup mulutnya.
Percakapan setelahnya dipenuhi canda tawa. Rhea pun ikut sesekali menjawab dan mencoba mencairkan suasana.
Tiba-tiba John berhenti dan bertanya dengan gugup, “Nyonya Celeste, Apa benar sekarang ingatan anda kembali?"
Karena Rhea tidak menatap wajah John, ia menyadari rasa gugup dari suaranya yang gemetar.
Mengerucutkan bibirnya, ia menjawab dengan nada rendah. “Ya, aku ingat."
“Oh..!"
“Astaga!"
Suara keterkejutan yang menyedihkan keluar dari mulut keduanya. Rhea berhasil memaksa kepalanya untuk mendongak dan melihat ekspresi keduanya.
Selain John yang matanya berkeliaran melihat sekeliling, tampak cemas dan takut. Lily hanya menutup mulut dengan jarinya dan berseru kaget.
“Jangan khawatir," kata Rhea dengan nada lembut. “Tenang saja, aku tidak akan keterlaluan menggunakan sihir pada kalian seperti sebelumnya."
“Mungkin beberapa kebiasaan masih sama? Tidak perlu waspada, John." Rhea menekankan pada John.
“Aku tetaplah aku, jadi anggap saja aku yang sekarang sudah dewasa."
John tidak menjawab, hanya mengangguk dengan patuh. Melihat itu, Lily mendecak lidahnya dan menimpali perkataan Rhea.
“Tenang saja, Nyonya Celeste, kami baik-baik saja asalkan anda baik-baik saja!"
Rhea tersenyum lega, “Baguslah, perlakukan aku seperti biasa."
Setelah bertanya keberadaan putra mahkota dan Chorna pada John sekarang, Rhea tidak melanjutkan topik pembicaraan mereka lebih jauh.
“Mungkin saat makan siang, putra mahkota membawa Chorna kembali ke sini. Jadi anda bisa istirahat dulu."
Lily membawa sapu yang baru ia pakai untuk menghilangkan serpihan kaca yang tersisa.
“Saya dan John permisi dahulu, Nyonya."
Kembali sendiri di kamarnya, Rhea menfokuskan kembali perhatiannya pada kertas surat di atas selimut.
“Seminggu ini dia mengirim tujuh surat," Rhea bergumam.“Dia sepertinya khawatir karena aku tidak membalas suratnya terakhir kali."
Rhea mengambil surat paling terbaru di tumpukan. Melebarkannya di atas kasur, membacanya dengan hati-hati. Kali ini surat ini langsung berisi pertanyaan dan permintaan maafnya, tanpa salam dan basa basi.
Rhea, Kamu baik-baik saja, kan? Apa ada sesuatu yang terjadi? Tolong jika kamu masih membaca suratku dan bisa membalas, balas, ya?
Apa kamu marah? Kamu marah padaku? Bisakah kamu memaafkan aku kali ini? Kamu sudah bertemu kakakmu Lucy? Apa dia menyuruhmu untuk menjauhiku?
Kalau kamu marah karena memaksamu menerima permintaan ayahku untuk pergi kekaisaran Arcana, aku minta maaf, oke? Aku juga tidak ingin berpisah denganmu, tapi ini untuk kebaikanmu. Kekaisaran kita terlalu ketat dan kejam menerima seorang mage, apalagi mage wanita.
jika kamu tidak menjawab, aku anggap kita tidak berhubungan lagi dan kamu bahagia di sana. Karena itu, tidak perlu menyelesaikan tugas dari ayahku, hiduplah dan jadilah Arcmage kuat di sana.
Ia berhenti membaca, mengerutkan kening dengan bingung. Namun setelah beberapa saat ia akhirnya memahaminya.
“William sebenarnya tidak menyuruhku pergi ke kekaisaran Arcana karena alasan konyol seperti tebakanku sebelumnya..."
Dia hanya ingin menjauhkan Rhea dari dirinya sendiri karena suatu alasan.